Meca Aprillian menyukai tetangganya yang bernama Alvero miller dari dulu semenjak mereka masih kecil sampai ia dewasa,
Yang lebih konyol nya Meca sudah menganggap Vero sebagai tunangannya sejak dari kecil, itu berawal dari permainan pernikahan pernikahan yang mereka mainkan di waktu dulu
Meca tau jika Vero tidak menyukainya dan menbencinya tapi Meca yakin suatu saat Vero akan membalas cintanya
Namun,ada saat Meca berhenti dan menyerah untuk memperjuangkan Vero bahkan Meca rela pergi jauh dari tempat yang dia tinggali sedari kecil hanya untuk mengubur rasa yang di milikinya untuk tunangannya.
Ketika Meca pergi dalam beberapa tahun dan tak kembali, Kenapa Vero justru merasa kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30Tertarik
Meca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Tapi sebelum sampai di Cafe dia menepikan Mobilnya di depan perbelanjaan mini dekat Rumah sakit yang menjulang tinggi. Dia mampir membeli minum dan sekalian mengganti baju Formal nya menjadi pakaian Kasual khas seorang gadis muda pada umumnya.
Setelah keluar dari mini market, Dia berjalan dengan Tangan dan tatapan mata nya fokus di layar pipih itu tanpa memperdulikan jalan di depannya.
"Ah sorry, ucap meca karena sudah menabrak seseorang , Meca mendongak dan ingin menjauh tapi beberapa helai rambutnya menyangkut di kancing kemeja orang itu.
"Auw"Ringis meca kesakitan menjauhkan kepalanya dari kemaja orang itu.Tapi bukannya terlepas malah semakin erat rambutnya tersangkut.
"Jangan bergerak Nona,semakin kau menarik paksa maka rambutmu akan semakin terbelit di kemejaku."kata laki laki itu
Meca hanya mengangguk, dan laki laki itu memberi kode untuk duduk di kursi depan toko.
"Nona rambutmu harum, kalau boleh tau siapa Namamu?" ucap lelaki itu mencoba mencairkan suasana, sembari tangannya mencoba melepaskan rambut Meca.
"Kayaknya ini bukan waktu tepat untuk berkenalan tuan. Trus jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." seru Meca masih setia menunduk
Laki laki itu terkekeh, "Jadi kapan waktu tepat itu untuk bisa berkenalan denganmu Nona?"
"kapan kapan jika memang seharusnya kita harus saling kenal." kata Meca datar
"Akan kutunggu waktu itu Nona"
"eum, Tuan apa masih lama? kepalaku sudah mulai pegal sedari tadi menunduk."
"sabarlah Nona! jika Nona sudah pegal bagaimana kalau kita minta tolong seseorang untuk membawakan gunting." ide lelaki itu membuat Meca tiba tiba mendongak, seketika tatapan mereka beradu
"Deg,kenapa Tatapannya membuat jantungku nggak karuan gini, Matanya sangat indah" batin lelaki itu
"Jangan bilang kau akan menggunting rambut indahku yang selama ini aku rawat tuan." Tebak Meca yang mendengar kata gunting.
"Wah Nona anda sangat benar!" lelaki itu terkekeh membenarkan tebakan Meca
"Jangan coba coba tuan, Bagaimana kalau kemeja tuan saja yang di gunting dan Aku akan menggantinya, Walaupun kelihatannya kemeja anda sangat mahal,Mungkin gajiku 2 bulan baru cukup untuk menggantinya."Ucap Meca memberi saran.
lelaki itu tersenyum manis membuat Meca salah tingkah sampai sampai pertanyaan konyol pun di lontarkannya
"Tuan! parfum apa yang sekarang anda gunakan? baunya sangat harum dan nyaman, juga sangat memabukkan di hidungku."
"Apakah ini waktu pas untuk membahas parfum Nona? Goda lelaki itu sambil tersenyum geli
Meca terdiam membuang muka,Malu. sudah melontarkan pertanyaan konyol, dia pun menggurutu kesal dengan dirinya sendiri,Bisa bisa nya otaknya tak bekerja di situasi seperti ini.
"Nona, sepertinya rambutmu menginginkan kita terikat, Ucap lelaki itu berbisik di telinga Meca.
Meca bergidik geli dengan apa yang di lakukan lelaki itu, Meca pun sadar jika lelaki itu mulai menggombalinya.Dan mencari ide untuk menghindarinya
"Tapi sayangnya, Hati ku sudah ada yang ngikat tuan dan bahkan aku sudah mempunyai 2 orang anak." kata Meca berbohong yang dalam hatinya merasa geli dengan ucapannya sendiri.
lelaki itu terkejut seketika mendengar ucapan Meca, bahkan senyumannya mulai memudar.
"Sudah selesai" ucapnya dan mendorong lembut bahu Meca untuk mundur.
"Syukurlah! kalau begitu saya duluan Tuan, Maaf sekali lagi." pamit Meca sopan sembari tersenyum manis.
Lelaki itu mengangguk dan berkata "Semoga kita bertemu lagi Nona"
Meca tak mengindahkan ucapan orang itu,Dia langsung bergegas pergi menuju Cafe miliknya.
"Sangat menarik" batin lelaki itu (Kemal)