Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.Ketahuan sama mama.
Risa malah tersenyum pada suaminya, lalu ia memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Anak mama, katakan gadis itu siapa?" Tanya Risa, disela-sela pelukannya.
"Gadis, maksud mama?" Danis terkejut, lalu ia melepaskan pelukan mamanya dari tubuhnya.
Risa senyam-senyum, ia tahu anaknya pasti sedang menyembunyikan sesuatu dan dia malu mengakuinya.
Risa mengarahkan tangannya, lalu memegang kedua pipi anaknya dengan kedua tangannya.
"Nak, jujurlah pada mama! Mama tadi melihatnya. Kamu merangkul gadis cantik dibawa sana dan kalian sangat mesra." Risa memegang gemas pipi anak kesayangannya itu.
Danis sekarang paham, apa yang dimaksud oleh mamanya?
"Anin, mamaku sudah melihat kita dan aku juga harus siap mengakui kebohongan terbesarku padamu." Batin Danis dalam hatinya.
"Mama, lepaskan pipiku! Iya akan aku beritahu. Siapa gadis itu?" Danis mengambil kedua tangan mamanya yang menempel dipipi mulusnya.
Risa tersenyum, ia begitu semangat dan jika itu memang kekasih anaknya Risa akan bahagia karena pada akhirnya tanggung jawabnya akan digantikan oleh istri Danis nanti.
"Cepat katakan nak!" Risa tidak sabar.
"Dia adalah Anindiya, dia teman kerja Danis di cafe...." Kata-kata Danis terpotong.
"Apa sungguh hanya teman? Tapi kalian begitu mesra mama lihat." Risa memotong kata-kata Danis.
Denis hanya diam, sambil melipat kedua tangannya ke dada. Dalam hatinya biarkan mereka ribut apa saja yang mereka mau ributkan karena Denis juga tidak paham apa yang anak dan istrinya sedang ributkan.
"Siapa gadis itu, siapa gadis itu? Aku pusing mendengarnya." Batin Denis dalam hatinya.
"Mama, dengarkan aku bicara dulu! Aku belum selesai bicara." Kata Danis dengan nada lembut.
Risa diam dan tidak bawel lagi, ia sungguh-sungguh mendengarkan penjelasan dari anak kesayangannya itu.
"Mama, gadis itu adalah kekasihku dan aku baru jadian dengannya tadi di tempat kerja." Jelas Danis, sambil senyam-senyum.
Risa memasang raut wajah tidak percaya, kali ini ia benar-benar senang.
"Anak mama sudah punya kekasih, katakan pada mama! Kapan kalian akan menikah nak?" Risa begitu antusias, ia terus menatap anak dengan tatapan bahagia.
Danis menundukkan kepalanya, sungguh ia bingung bagaimana cara dia menjelaskan pada mamanya. Kalau gadis yang saat ini menjadi kekasihnya itu tidak tertarik dengan laki-laki kaya.
"Mama, kita baru pacaran tadi pagi jadi tunggu beberapa lama lagi ya ma. Masih ada satu yang harus aku urus ma," Danis melihat mamanya dengan tatapan lembut.
"Ma, biarkan mereka saling kenal dulu. Sekarang sudah malam, ayo kita pulang!" Ajak Denis, ia melihat istrinya dengan tatapan genit Danis melihat orang tuanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar, mama dan papa itu sudah tua sudah mau punya menantu masih saja genit-genitan seperti itu." Batin Danis dalam hatinya.
Risa memanyunkan bibirnya, baru bertemu dengan anaknya sebentar tapi suaminya sudah mengajak dirinya pulang.
"Nak, mama pulang dulu. Oh iya nak mama bawakan kamu banyak makanan kamu makan ya! Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus telpon mama," Risa memeluk anaknya dengan erat, ia enggan melepaskannya karena masih kangen. Tapi suaminya sudah memasang sorot tajam seolah-olah ia cemburu dengan anaknya itu.
"Iya ma, pasti nanti aku makan ma." Jawab Danis disela-sela pelukannya.
Risa melepaskan anaknya dari pelukannya, ia memegang kedua pipi anaknya.
"Kenalkan gadis itu pada mama ya nak!" Risa tersenyum penuh harap, sorot matanya menunjukkan sungguh ia ingin bertemu dengan kekasih anak kesayangannya itu.
Danis menganggukkan kepalanya, lalu ia mengantar kedua orang tuanya sampai di depan mobilnya.
Sesampainya di mobil, Denis dan Risa menaiki mobilnya. Melihat mobil yang dikendarai oleh orang tuanya sudah tidak terlihat Danis kembali masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Danis mengambil handuk dan langsung pergi menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia berganti pakaian, setelah berganti pakaian ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Aish, mama sudah tahu semuanya dan dia ingin bertemu dengan Anin. Tapi bagaimana caraku mengenalkan Anin pada mama? Anin tidak tertarik dengan laki-laki kaya sedangkan aku sebenarnya berasal dari keluarga kaya." Danis terus berbicara pada dirinya sendiri, ia menatap satu lampu yang ada diatasnya tanpa berkedip.
Pikiran Danis semakin kalut, karena dibalik cintanya pada Anin masih tersimpan kebohongan besar dan pasti itu akan membuat Anin kecewa suatu saat nanti.
Malam semakin larut, Danis terus berguling-guling karena tidak bisa tidur.
.
.
Dirumah Anin.
Anin baru saja selesai mandi, ia terus tersenyum bahagia karena setelah sekian lama ia menutup hatinya dan akhirnya bisa membukanya kembali.
Kini Anin duduk dikursi meja rias, ia bercermin sambil memakai masker wajah untuk menyegarkan wajah cantiknya.
"Aku tidak tahu, ini semua adalah takdir dan aku berharap Danis tidak seperti laki-laki di masa laluku." Kata Anin penuh harap, setelah selesai dengan kegiatan malam yang biasa lakukan ia pergi ke tempat tidur untuk segera istirahat.
Anin merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Ia mulai memejamkan matanya, tapi tiba-tiba ia teringat dengan Danis.
"Dia, sedang apa ya?" Anin mengambil ponselnya, dan berniat menelpon Danis.
Tiba-tiba ia merasa kesal, sungguh ia merasa dirinya itu bodoh.
"Anin, bagaimana kamu mau menelpon laki-laki mesum itu? Jelas-jelas kamu tidak punya no ponselnya. Apa aku harus mengetuk pintu rumahnya hanya untuk meminta no ponselnya?" Gumam Anin.
Karena merasa kesal, ia berguling-guling tidak jelas diatas kasur. Sungguh ia ingin sekali menelpon sang kekasih tapi apalah daya ia tidak punya no ponsel kekasihnya sendiri.
"Besok, aku akan meminta no ponsel dia." Batin Anin dalam hatinya.
Malam semakin larut, akhirnya Anin tertidur pulas.
.
.
.
Dirumah Aqila.
Aqila sedang melihat layar ponselnya, iya dia sedang melakukan video call dengan Dafa.
"Kenapa jam segini belum tidur?" Tanya Dafa, ia melihat Aqila sedang asik membaca novel.
"Aku, sedang membaca novel. Ini ceritanya sangat bagus sekali." Jawab Aqila, ia menutup buku novelnya, lalu pandangan beralih ke Dafa yang sedang sibuk dimeja kerjanya yang ada dikamarnya.
"Jam segini, apa kamu masih harus berkerja?" Tanya Aqila, ia mengembangkan pipinya membuat Dafa melihatnya dengan gemas.
"Tentu, selama kakak kamu masih dihukum semua kerjaan kantor aku yang mengurusnya, jadi ya kalau tidak selesei dikantor. Aku pasti akan menyelesaikannya dirumah," Jawab Dafa, sambil tersenyum manis pada Aqila.
"Baiklah, apakah kalau kita sudah menikah, aku juga harus terus melihatmu sibuk kerja seperti ini? Biarpun kamu sudah dirumah?" Aqila memanyunkan bibirnya.
"Andai saja dekat, pasti udah aku cium itu bibir, manyun mulu dari tadi." Batin Dafa dalam hatinya.
"Iya sayang, sekarang sudah malam kamu tidurlah! Dan biarkan aku melanjutkan pekerjaanku yang masih menumpuk ini," Dafa tersenyum, tapi Aqila malah manyun sambil mematikan saluran teleponnya.
Biasanya kerja tidak ada yang menganggu, sekarang setelah punya kekasih Dafa tidak bisa kerja dengan tenang, karena Aqila bisa setiap beberapa menit menelponnya.
Visual Aqila
Visual Dafa.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Mudah-mudahan suka dengan visual Dafa dan Aqila 🙏😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...