Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokumen di ruang kerja
Didorong oleh kemarahan besar atas tindakan kejam Om Hensa terhadap keluarga Gilang, Nindi memutuskan untuk mulai mencari bukti konkret mengenai kecurigaan yang selama ini berkembang dalam benaknya, mengenai motif tersembunyi di balik seluruh rencana perjodohan dan berbagai tindakan licik yang dilakukan pamannya tersebut. Meski masih dalam pengawasan ketat, dia mencari kesempatan ketika Broto dan Om Hensa sedang menghadiri pertemuan bisnis di luar kota, meninggalkan ruang kerja rumah tersebut kosong untuk sementara waktu.
"Rin, aku butuh bantuan kamu. Aku mau coba cari dokumen-dokumen mencurigakan di ruang kerja Papa," bisik Nindi kepada Karin melalui pertemuan singkat yang berhasil mereka atur di bawah pengawasan yang sedikit lebih longgar tersebut.
"Kamu yakin, Nin? Ini berisiko banget kalau sampai ketauan," ujar Karin dengan nada khawatir, meski dia juga menyadari pentingnya langkah tersebut untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan.
"Aku harus coba, Rin. Demi Gilang dan keluarganya yang udah jadi korban kekejaman Om Hensa," jawab Nindi dengan tekad bulat, memanfaatkan waktu ketika Broto dan Om Hensa sedang tidak berada di rumah untuk menyelinap masuk ke ruang kerja yang biasanya selalu terkunci rapat tersebut.
Dengan bantuan kunci cadangan yang berhasil dia dapatkan dari Bi Inah yang juga mulai bersimpati terhadap perjuangan Nindi, gadis tersebut berhasil masuk ke ruang kerja Broto, mulai memeriksa berbagai berkas dan dokumen yang tersimpan rapi di lemari arsip tersebut.
Setelah beberapa waktu mencari dengan penuh kehati-hatian, Nindi menemukan sebuah map berisi berbagai laporan keuangan yang terlihat mencurigakan, menunjukkan sejumlah transaksi besar yang tidak tercatat dalam pembukuan resmi perusahaan. Beberapa dokumen tersebut menunjukkan aliran dana yang mengarah ke rekening pribadi Om Hensa, dengan jumlah yang begitu signifikan hingga menimbulkan kecurigaan besar mengenai legalitas transaksi tersebut.
"Rin, aku nemu sesuatu. Ada laporan keuangan yang aneh banget, kayak ada dana yang dialihkan ke rekening pribadi Om Hensa," ujar Nindi dengan suara yang bergetar, memotret dokumen tersebut menggunakan ponsel Karin yang sengaja dia pinjam untuk keperluan tersebut, mengingat ponselnya sendiri masih disita oleh Broto.
Karin, yang melihat foto dokumen tersebut, merasakan keterkejutan yang sama besarnya. "Astaga, Nin, ini serius banget. Kayaknya ini bukti penggelapan dana yang udah lama dilakuin Om Hensa."
Namun sebelum mereka bisa menggali lebih dalam mengenai temuan tersebut, suara langkah kaki yang mendekat membuat Nindi dan Karin panik, segera mengembalikan dokumen tersebut ke tempatnya semula dan buru-buru keluar dari ruang kerja tersebut sebelum akhirnya bertemu dengan Bi Inah yang memberi isyarat bahwa Broto telah kembali lebih cepat dari perkiraan.
"Nindi, kamu ngapain di deket ruang kerja Papa?" tanya Broto dengan nada curiga, mendapati putrinya berjalan keluar dari arah ruangan tersebut dengan raut wajah yang sedikit gugup.
"Nggak ada apa-apa, Pa. Aku cuma lewat doang," jawab Nindi berusaha bersikap setenang mungkin, meski jantungnya berdebar kencang khawatir kebohongannya tersebut akan terbongkar.
Broto menatap putrinya dengan tatapan penuh selidik sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak mempermasalahkan lebih lanjut, meski kecurigaannya terhadap sikap aneh Nindi belakangan ini semakin bertambah. Setelah ayahnya berlalu, Nindi menghela napas lega, menyadari betapa berisikonya tindakan yang baru saja dia lakukan tersebut.
Malam itu, sendirian di kamarnya, Nindi merenungi kembali dokumen-dokumen yang baru saja dia temukan tersebut, mencoba menyusun kepingan-kepingan informasi menjadi gambaran yang lebih utuh. Jumlah dana yang dialihkan ke rekening pribadi Om Hensa tersebut ternyata cukup besar, terjadi secara bertahap selama beberapa tahun terakhir, sebuah pola yang menunjukkan bahwa penggelapan tersebut telah direncanakan dengan begitu sistematis dan hati-hati agar tidak mudah terdeteksi.
Dia juga teringat kembali pada pengakuan Rafael beberapa waktu lalu mengenai janji saham yang diberikan Om Hensa kepada keluarga Wicaksana, sebuah informasi yang kini mulai masuk akal jika dikaitkan dengan kemungkinan bahwa Om Hensa membutuhkan merger tersebut untuk menutupi jejak penggelapan dana yang telah dia lakukan sebelum audit tahunan perusahaan dimulai.
Melalui surat yang dititipkan kepada Karin, Nindi menceritakan seluruh temuan mengejutkan tersebut kepada Gilang, berharap bisa mendapatkan pandangan dari pemuda tersebut mengenai langkah selanjutnya yang harus mereka ambil untuk mengungkap kebenaran yang bisa mengubah segalanya bagi keluarga Prameswari, sekaligus menyelamatkan hubungan mereka dari cengkeraman licik Om Hensa yang selama ini terus berusaha memisahkan mereka berdua dengan berbagai cara yang begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Gilang, yang membaca surat tersebut dengan penuh perhatian, menyadari bahwa penemuan Nindi tersebut bisa menjadi kunci penting untuk mengakhiri seluruh penderitaan yang mereka alami, namun juga membawa risiko besar yang harus mereka pertimbangkan dengan sangat hati-hati sebelum mengambil langkah selanjutnya, mengingat kekuasaan dan pengaruh besar yang masih dimiliki Om Hensa dalam struktur bisnis keluarga Prameswari tersebut.