Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan Dan Rencana Besar
Malam semakin larut, merayap perlahan menuju dini hari, dan cahaya bulan purnama yang lembut menyelinap masuk melalui celah tirai jendela menjadi satu-satunya penerang di dalam kamar Rania yang remang itu. Di atas tempat tidurnya yang empuk namun terasa begitu luas dan sepi, Rania terus berjalan ke sana kemari, langkah kakinya tak tenang, seakan lantai kamar itu tak mampu lagi menampung kegelisahan yang memenuhi dadanya dan merambat ke setiap sudut ruangan.
Sesekali ia berhenti di dekat jendela, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat pepohonan yang tertidur di bawah sinar bulan, tanpa melihat jalanan yang sepi, tanpa melihat apa pun selain bayangan yang terus berputar di kepalanya sendiri. Lalu ia berbalik perlahan, berjalan kembali ke arah pintu, lalu berputar lagi mondar-mandir tanpa henti, tanpa arah, tanpa ketenangan, seakan dengan berjalan terus ia bisa meninggalkan perasaan yang mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Pikirannya tak bisa lepas sedetik pun dari sosok gadis yang dilihatnya siang tadi. Wajah itu terus muncul kembali, begitu jelas, begitu terang, setiap kali ia memejamkan mata senyum yang cerah dan tak dipalsukan, rambut hitam yang jatuh indah di bahu, pakaian yang rapi dan anggun, serta cara berjalannya yang begitu yakin di samping Dimas. Setiap gerakan mereka terulang kembali di benaknya, berputar berulang-ulang seperti rekaman yang tak bisa dihentikan, tak bisa dihapus, tak bisa diubah.
"Siapa dia?" tanyanya berulang kali dalam hati, pertanyaan yang sama, tak pernah mendapat jawaban. "Siapa sebenarnya gadis itu? Mengapa ia begitu dekat dengan Kak Dimas?"
Ia mencoba mengingat-ingat, menyisir ingatannya satu per satu, berusaha mencari jejak nama atau wajah itu di antara semua cerita yang pernah didengarnya, di antara semua orang yang pernah disebut-sebut. Apakah kerabat jauh? Sahabat masa kecil? Teman dari kampus? Atau... seseorang yang sudah ada di hati Dimas jauh sebelum ia mengenalnya, jauh sebelum ia mulai menyadari perasaannya sendiri?
"Cantik sekali..." gumamnya pelan, suaranya bergetar di keheningan kamar yang dingin, "Tampak begitu muda, begitu anggun... dan begitu dekat dengannya. Seakan tidak ada ruang untuk orang lain di antara mereka."
Setiap kata yang terucap dari bibirnya terasa pahit, menetes perlahan seperti tetesan air hujan yang menembus atap, merembes perlahan hingga membasahi lantai hatinya. Ia teringat bagaimana gadis itu mencondongkan badan sedikit ke arah Dimas, bagaimana ia berbicara dengan nada yang begitu akrab dan manja, bagaimana Dimas tidak menjauh, tidak menolak, tidak menarik diri seperti biasanya, ia hanya mendengarkan, berjalan di samping gadis itu, dan sesekali tersenyum tipis. Senyum yang belum pernah Rania lihat sebelumnya. Senyum yang lembut, tenang, seakan kehadiran gadis itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini.
Apakah selama ini Dimas sudah memiliki seseorang? Apakah semua kebaikan yang ditunjukkannya, semua perhatian yang ia rasakan, hanyalah keramahan semata, sementara hatinya sudah menjadi milik orang lain sejak lama? Apakah ia hanya salah paham selama ini? Apakah ia membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada?
Rania duduk perlahan di tepi kasur, kedua tangannya meremas ujung selimut dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin marah, ingin kesal, ingin menumpahkan segala amarah yang membara di dadanya namun pada siapa? Ia belum memiliki apa pun dari Dimas. Tak ada janji, tak ada pengakuan, tak ada satu hal pun yang bisa ia jadikan alasan untuk merasa dikhianati. Ia hanya... berharap. Hanya menyimpan rasa dalam diam, menumbuhkan harapan di tempat yang mungkin tak pernah ditujukan untuknya. Dan itulah yang paling menyakitkan, menyadari bahwa ia tidak berhak menuntut apa pun, tidak berhak bertanya, tidak berhak merasa cemburu.
"Tapi mengapa..." bisiknya, matanya berkaca-kaca menatap lantai yang remang, "mengapa terlihat begitu akrab? Seakan mereka sudah bersama sejak lama sekali, seakan semua orang tahu hubungan mereka... kecuali aku."
Bayangan wajah gadis itu kembali muncul, begitu hidup, begitu nyata rambut hitam yang berkilau, senyum yang percaya diri, tatapan yang penuh kepemilikan seakan Dimas adalah miliknya. Gadis itu tampak begitu yakin, begitu tenang di samping Dimas, seakan tahu bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Rania berdiri kembali, tak sanggup duduk diam lebih lama. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, langkahnya terasa berat seakan ada beban di pundaknya. Ia mengambil ponselnya, menyalakan layar yang redup, membuka daftar kontak perlahan, menatap nama Dimas yang tertulis di sana, nama yang sudah berkali-kali ia ketik pesannya, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya, namun tak pernah dikirimkan. Jemarinya melayang di atas layar, ingin sekali menanyakan, ingin sekali memastikan, ingin sekali mendengar jawaban langsung dari pria itu, namun jari-jarinya terasa berat, tak sanggup menekan tombol kirim.
Jika ia memang punya seseorang di hatinya, apa gunanya aku bertanya? pikirnya perih, dada terasa sesak. Aku hanya akan terlihat bodoh, memaksa masuk ke dunia yang bukan milikku.
Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan gerakan cepat, membuang wajah ke samping agar tidak tergoda lagi. Langkah kakinya kembali bergerak, mondar-mandir, sama seperti sebelumnya, pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan ada yang masuk akal, ada yang menyakitkan, ada yang membuatnya ingin bersembunyi dan tidak pernah keluar lagi.
Mungkin gadis itu adiknya? Tapi Dimas tidak pernah menyebutkan punya saudara perempuan. Mungkin sepupu? Tapi sikap mereka terasa lebih dari sekadar kerabat, lebih dari sekadar kasih sayang keluarga. Atau... mungkin tunangannya?
Pikiran itu menyergapnya tiba-tiba, tajam dan dingin, membuat napasnya tercekat di kerongkongan. Ia berpegangan pada tepi meja dengan tangan gemetar, menahan tubuhnya yang terasa lemas seketika. Apakah itu sebabnya Dimas selalu menjaga jarak? Apakah itu sebabnya ia selalu sopan namun tak pernah melangkah lebih dekat? Apakah hatinya sudah dijanjikan kepada orang lain jauh sebelum mereka bertemu?
"Kalau begitu..." suaranya pecah pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya, "lalu apa arti semua perhatiannya padaku? Mengapa ia selalu hadir saat aku membutuhkannya? Mengapa ia terlihat begitu peduli... jika hatinya sudah milik orang lain?"
Tak ada jawaban. Hanya keheningan malam yang menyelimuti ruangan itu, dingin dan tak memihak. Rania menyandarkan punggungnya ke dinding, menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis yang hampir meledak. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, mengetahui Dimas mencintai orang lain, atau menyadari bahwa selama ini ia sendirian yang berharap lebih, sendirian yang membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada.
Pikirannya kembali melayang ke wajah gadis itu. Ada sesuatu yang mengganggunya sesuatu yang tak bisa ia letakkan jari. Wajah itu... terasa sedikit asing namun sekaligus akrab, seakan pernah dilihatnya sekilas di suatu tempat, di masa lalu yang tak diingatnya. Di mana ia pernah melihatnya? Atau mungkin hanya karena gadis itu mengingatkannya pada seseorang yang lain?
Rania menggeleng pelan, mencoba mengusir semua bayangan itu. Tidak, ia belum pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Itu pertemuan pertama mereka, ia yakin. Namun kenapa hatinya terasa begitu berat, seakan ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa kehadiran gadis itu akan mengubah segalanya, akan mengubah arah hidupnya selamanya?
Ia berjalan kembali ke tepi tempat tidur, duduk perlahan, menatap lurus ke depan tanpa melihat apa-apa. Malam itu terasa begitu panjang, begitu sunyi, begitu penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab dan ketakutan yang tak bernama.
"Aku harus tahu..." ucapnya pelan, tegas namun bergetar, menyeka air mata yang jatuh di pipinya, "Siapa dia dan apa hubungannya dengan Kak Dimas. Aku tidak bisa terus seperti ini."
Ia tidak bisa terus berdiam diri, membiarkan keraguan memakan dirinya perlahan-lahan. Besok, ia akan mencari tahu. Entah bagaimana, entah dari siapa, ia akan menemukan jawabannya.
Angin malam bertiup pelan, menggerakkan tirai jendela pelan-pelan. Rania menarik selimutnya, berbaring perlahan, namun matanya tak kunjung terpejam. Bayangan gadis itu tetap ada, berdiri di antara ia dan tidurnya, tersenyum tenang seakan menantangnya untuk mencoba masuk ke dunia yang sudah ada pemiliknya.
Sementara itu, di tempat lain, jauh dari keramaian dan kegelisahan yang menyelimuti hati Rania, di sebuah kediaman megah yang berdiri tenang di atas bukit yang tenang, Rina duduk sendirian di ruang kerja yang luas dan sunyi. Di rumah besar Wijaya itu, suasana malam terasa begitu hening, hanya terdengar detik jam dinding kuno yang berirama tenang, seakan mengikuti alur pikirannya yang terus berputar tanpa henti.
Cahaya lampu meja yang lembut menyinari wajahnya, menampakkan kerutan halus di dahi yang tak biasanya ada. Ia bersandar di sofa empuk berwarna abu-abu, menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang membiarkan cahaya remang bulan masuk menyinari ruangan itu, menampakkan bayangan-bayangan lembut di lantai yang mengilap.
Pikirannya tak lepas sedetik pun dari satu hal, Rania adiknya. Gadis yang ia sayangi lebih dari apa pun, yang ia lindungi sejak kecil, yang kebahagiaannya menjadi prioritas utama baginya namun yang tak bisa ia dekati secara terang-terangan, tak bisa ia bantu secara langsung.
Rina menghela napas panjang, tangannya meremas pelan ujung kain gaunnya yang halus. Ia sudah menyusun rencana ini sejak lama, memikirkannya berkali-kali di setiap kesempatan, menimbang setiap langkah, setiap kemungkinan, setiap risiko yang mungkin muncul. Tujuannya satu agar Rania bisa melanjutkan pendidikannya, agar gadis itu bisa meraih mimpinya, agar ia memiliki masa depan yang cerah dan luas, agar ia tidak terjebak dalam keterbatasan yang selama ini mengurungnya. Namun ada satu hal yang harus dijaga dengan sangat hati-hati Ibu sambungnya Laras.
"Ibu tidak boleh tahu.. Sedikit pun tidak.
Rina tahu betul sifat ibunya. Laras adalah wanita yang teguh pada pendiriannya, yang punya pandangan sendiri tentang kehidupan, tentang masa depan anak-anaknya, tentang apa yang pantas dan apa yang tidak, tentang siapa yang berhak mendapat kesempatan dan siapa yang tidak. Jika Laras mencium ada campur tangan darinya, jika ia menyadari bahwa Rina lah yang mengatur segalanya demi Rania, segala rencana itu bisa hancur seketika.
Ibu mungkin akan menolak, akan melarang, akan mencari cara untuk membatalkan semuanya bukan karena tidak sayang, bukan karena tidak peduli, tapi karena caranya sendiri, karena keinginannya untuk mengatur segala sesuatu sesuai kehendaknya, sesuai pandangannya tentang apa yang terbaik menurutnya
"Masa depan Rania..." gumamnya pelan, suaranya berbisik di keheningan ruangan, "harus tercapai, tanpa ada yang tahu bahwa aku yang melakukannya. Semuanya harus terlihat seperti kebetulan, seperti pemberian takdir, bukan pemberianku."
Ia menutup matanya sejenak, menyusun kembali potongan-potongan rencana di kepalanya, memastikan tidak ada celah yang terlewat. Setiap langkah harus tampak kebetulan. Setiap bantuan harus datang dari pihak lain, dari orang yang tidak di ketahui Laras, dari arah yang tak disangka-sangka. Tidak boleh ada jejak yang mengarah kepadanya. Semuanya harus terlihat seakan-akan takdir sendiri yang mengirimkan jalan itu, seakan keberuntungan yang datang begitu saja, tanpa ada yang menyusunnya di balik layar.
Rina tersenyum tipis, namun senyum itu penuh keteguhan sekaligus kesedihan. Ia terbiasa menyusun strategi, merencanakan segala sesuatu dengan matang, memikirkan langkah ke depan sekaligus langkah mundur, menyiapkan jalan keluar jika sesuatu berjalan tak sesuai rencana. Kali ini pun ia akan melakukan hal yang sama hanya saja bukan untuk keuntungannya sendiri, bukan untuk kemajuan kariernya, bukan untuk namanya melainkan untuk kebahagiaan orang yang paling ia cintai di dunia ini.
"Tenanglah, Ran..." bisiknya pelan menembus kegelapan, seakan suaranya bisa sampai ke telinga adiknya yang jauh di sana, "Aku akan pastikan kamu bisa melanjutkan kuliahmu. Ibu tidak akan mengetahuinya. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kamu hanya perlu menerima kesempatan itu, tanpa perlu bertanya dari mana asalnya."
Ia kembali menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang pekat namun penuh bintang yang bersinar lembut. Di tempat yang sama, di bawah langit yang sama, Rania mungkin sedang cemas, mungkin sedang bingung, mungkin sedang menangis sendirian namun Rania belum tahu bahwa seseorang sedang berjuang untuknya, menyusun jalan keluar dengan sangat hati-hati, menyembunyikan kasih sayang yang mendalam di balik strategi yang tak terlihat oleh siapa pun.
Dan Laras... Ibu sambung mereka, yang belum tahu apa-apa, yang masih memegang kendali dengan tangannya yang tegas ia pun akan terkejut nanti, melihat bagaimana jalan terbuka sendiri, melihat bagaimana kesempatan datang begitu saja, begitu tepat waktu, begitu masuk akal, tanpa menyadari bahwa di balik semuanya itu ada kasih sayang kakak yang tak boleh dikatakan, ada pengorbanan yang tak boleh diketahui.
Rina berdiri perlahan, menarik napas dalam-dalam, meneguhkan hatinya yang sesekali goyah karena rasa bersalah menyembunyikan kebenaran. Rencana sudah disusun hingga ke detail terkecil. Langkah pertama akan segera diambil besok pagi. Dan tak ada yang boleh mengetahuinya. Demi Rania, demi masa depannya, ia akan menyimpan rahasia ini sendirian.
Bersambung…