wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 ~ Rahasia Selena
Aku menatap gadis yang sedang terbaring lemah itu. Jadi, dia adalah adik Serena. "Kau mengenalnya, Serena?" tanya Lilyana penasaran. "Ya," jawab Serena pelan. "Dia adalah adikku, Selena."
Aku kembali menatap gadis di depanku. "Apa yang terjadi padanya?" tanyaku. "Dia sudah sakit-sakitan sejak kami masih kecil," jawab Serena sambil menggenggam tangan adiknya. Pandanganku beralih ke pergelangan tangan Selena. "Lalu... apa yang terjadi dengan tangannya?" Begitu kutanyakan hal itu, ekspresi Selena berubah. Ia segera menarik tangannya dan menutupinya. Suasana ruangan mendadak sunyi. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan.
Sebelum aku sempat bertanya lagi, pintu UKS terbuka. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Seorang siswa masuk sambil membawa obat-obatan dan makanan. "Kami hanya mengunjungi teman kami," jawab Lilyana. Siswa itu menatap kami dingin. "Kalian hanya mengganggunya." Aku menatapnya kesal. "Jika kau memang menganggap kami mengganggunya, bukankah kau juga mengganggunya? Biarkan dia beristirahat." "Ck, aku petugas UKS hari ini," balasnya dengan wajah tidak menyenangkan. Kami pun pergi dan kemudian diundang ke kamar Serena sebelum kembali ke kamar masing-masing.
"Hei, Celes. Kau tadi bertanya apa yang terjadi dengan pergelangan tangan Selena, bukan?" tanya Serena. "Benar." "Di pergelangan tangannya terdapat simbol samar. Simbol itu muncul saat dia berumur lima tahun. Sejak saat itu, dia mulai bertingkah aneh dan sering sakit-sakitan. Laki-laki yang berada di UKS tadi juga selalu berkunjung dan mengajak Selena pergi." Aku terdiam sejenak sebelum berkata, "Serena, simbol yang kau sebut tanda itu adalah simbol kehancuran. Di dalam tubuh adikmu ada kegelapan yang disegel. Saat roh itu tidak tersegel, ia akan menguasai tubuh Selena. Saat ini, roh itu disegel oleh Selena sendiri sehingga mananya terus tersedot. Jika mananya habis, roh itu akan kembali mengambil alih tubuh adikmu."
"Hal itu tidak mungkin terjadi," ucap Serena dengan mata memerah. Aku tahu betapa terpukulnya dia. Selena adalah satu-satunya orang yang selalu mendukungnya belajar pedang. Serena Varniora Zoravelle, putri pertama Count Zoravelle, berasal dari keluarga yang terkenal membenci beban. Serena sendiri dianggap sebagai beban karena terlahir tanpa mana. Bahkan ada rumor bahwa Nyonya Zoravelle dibunuh karena melahirkan anak tanpa mana.
"Serena, kau sebenarnya sudah tahu, bukan? Jika ada roh yang disegel di tubuh adikmu?" tanyaku. "Ya, aku tahu." "Lalu kenapa?" "Aku sudah memberitahu orang tuaku. Mereka memanggil tabib terkenal, dan laki-laki tadi adalah anak dari tabib itu," jawab Serena dengan air mata yang mulai jatuh. "Lalu tabib itu bilang kalau adikmu tidak apa-apa, bukan?" tebakku. Serena hanya mengangguk. "Jangan khawatir," ucap Chloe pelan sambil memeluknya. Aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal, tetapi melihat kondisinya, lebih baik aku mencari tahu sendiri.
"Huhu... kenapa, Celes?" Rupanya tangisan Serena membuat Lilyana ikut terbawa suasana. Ia langsung memelukku erat. "Putri Lilyana, aku tidak bisa bernapas," ucapku dengan wajah mulai membiru. "Ah, maaf. Jangan panggil aku Putri Lilyana lagi, panggil aku Lily saja." Setelah keadaan cukup tenang, kami kembali ke kamar masing-masing untuk memberi Serena ruang.
Hari itu aku pergi berjalan-jalan di taman akademi. Namun, dari sebuah lorong, aku mendengar suara hinaan. "Pergi sana! Kamu itu cuma putri busuk. Kau miskin, badanmu bau." Sepertinya di sana ada Chloe, Mia, dan Alia. "Kau sangat menyedihkan. Kau bahkan tidak memiliki kelebihan." Aku langsung menghampiri mereka. "Apa yang kalian lakukan?" tanyaku setelah melihat Chloe dihina. Mia menoleh kepadaku. "Kau hanya gadis manja yang selalu berdiri di balik punggung keluargamu, sama sepertinya." Alia ikut menambahkan, "Tapi kini keluarganya mati. Dia hanya bisa menerima siksaan tanpa bisa melawan."
Aku menatap mereka dengan tenang. "Fincola Mutus Aljate." Setelah mantra itu terucap, tubuh Mia langsung tidak bisa bergerak. "Apa yang kau lakukan pada tubuhku? Kenapa aku tidak bisa bergerak?" teriaknya ketakutan. Aku berjalan menghampiri Chloe yang hampir tidak sadarkan diri. "Temanku yang lucu, kau dibuat babak belur." Aku segera menggunakan sihir penyembuh "Perfect Heal" hingga luka-luka Chloe perlahan menghilang. Alia menatapku panik. "Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa lukanya hilang begitu saja?" "Kemana kau saat pelajaran dimulai, Alia? Itu hanya sihir penyembuh biasa" tanyaku. "Alia, gadis kecil yang bahkan tidak bersedia menikahi kakak tercintaku." "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya terkejut. "Tentu saja aku tahu semua tentang keluargamu.ah tidak,bukan hanya keluargamu tapi...seluruh dunia."
Aku tersenyum kecil. "Aku berniat mengampunimu karena kau adalah kakak dari kakak iparku. Tapi tidak dengan gadis lucu ini." Mia mulai panik. "Apa yang ingin kau lakukan? Jika kau membunuhku, itu akan menyebabkan perang dua negara!" Aku menatapnya dingin. "Kau pikir siapa dirimu? Kau hanya putri Count dari negara tetangga,kau bukan putri negara,sadar lah posisimu..." Aku mendekat ke telinganya. "Kau tahu, aku sangat menyukai darah." Tanpa mereka sadari, sebuah pisau kecil telah menancap ditangan Mia. "AAAAA! Tanganku!" Teriak mia histeris."wah...teriakanmu sangat merdu...darahmu juga begitu indah...niatku jadi bertambah untuk mengawetkanmu saja...Mia..."aku menatapnya dengan senyum tipis."Tidak! Tidak! Tidak!" "Aku hanya bercanda.tapi itu mungkin saja kulakukan...haha"
Aku segera menggunakan "Holy Heal" hingga lukanya sembuh. "Ambil pisau itu untuk kenang-kenangan agar kau tidak lupa dengan jurus pisauku yang baru saja kubuat." Aku melemparkan pisau kecil itu ke arahnya. "T-terima kasih..."
"Tunggu. Jangan berpikir aku akan membebaskan kalian begitu saja.Aku sudah memasang sebuah kutukan pada kalian itu adalah kutukan yang akan membuat kalian tersiksa jika masih berani menyombongkan diri. Kalian bisa pergi, tetapi pastikan mulut kalian tetap tertutup rapat,hmm jika tidak...ya? Aku tak peduli juga." Setelah selesai mengucapkannya, mereka berdua langsung berlari menjauh.
Aku menghampiri Chloe. "Hei, Chloe. Apa kau baik-baik saja?" "Aku tidak apa-apa." Chloe kemudian bertanya, "Selain itu, apa tidak apa-apa membiarkan mereka pergi begitu saja?" Aku hanya menjawab, "Mungkin." Chloe tersenyum kecil. "Tenang saja, Celes. Aku akan merahasiakan hal ini." "Baik, tolong ya."
Meski aku hanya bercanda tentang kutukan itu,tapi biarlah jika mereka menganggapnya serius itu juga tidak akan menimbulkan masalah bagiku.