Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kabut di lereng utara belum sepenuhnya sirna ketika Jayengrana melangkah keluar. Tanah di depan gua sedikit menurun, membentuk semacam pelataran sempit yang dikelilingi tebing dan pepohonan rapat. Pria Bertopeng Kayu berdiri di tengahnya, tongkat hitam menancap di tanah. Api legam di ujungnya menyala tenang, tidak berkobar, seolah menahan diri.
Tidak ada prajurit di belakangnya. Tidak ada bayangan lain yang bergerak di kabut. Hanya mereka berdua.
Jayengrana berhenti beberapa langkah dari mulut gua. Tombaknya siap di tangan kanan. Bahunya rileks, tetapi setiap ototnya sudah siaga.
“Kau biarkan mereka pergi,” kata pria bertopeng. Suaranya tetap tenang di balik topeng kayu. “Keputusan yang bisa dimengerti. Tapi sia-sia. Jejak mereka sudah kutinggalkan penanda. Mereka tidak akan jauh.”
Jayengrana tidak menjawab provokasi itu. Ia mengamati lawannya. Naluri Niat menangkap sesuatu yang aneh: bukan amarah, bukan kebencian yang mendidih. Lebih seperti rasa ingin tahu yang dingin, bercampur dengan sesuatu yang mirip… pengakuan.
“Kau bukan datang untuk membunuhku sekarang,” kata Jayengrana akhirnya.
Pria itu sedikit memiringkan kepala. “Cerdas. Aku datang untuk melihat seberapa jauh kau sudah berubah sejak semalam di rimba. Dan untuk memberi peringatan yang lebih jelas.”
Api di ujung tongkatnya membesar sejenak. Cahaya kemerahan yang dingin menyebar, membuat bayangan mereka memanjang di tanah.
“Perjanjian di dalam tubuhmu sedang bangun,” lanjut pria bertopeng. “Semakin kau melindungi, semakin cepat ia membuka dirinya. Semakin cepat pula sesuatu yang lebih tua akan menoleh ke arahmu. Aku hanya salah satu yang sudah menoleh lebih dulu.”
Jayengrana memutar tombaknya pelan. “Kalau begitu, berhentilah berbicara.”
Ia menyerang lebih dulu.
Langkahnya cepat, hampir tanpa suara. Tombak menusuk lurus ke dada lawan. Pria bertopeng menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan ujung tombak hanya menyapu udara di samping tubuhnya. Pada saat yang sama, tongkat hitamnya berayun dari bawah. Api legam menyambar.
Jayengrana memiringkan tubuh. Panas yang aneh—bukan panas biasa—menyapu lengan kirinya. Bukan membakar kulit, melainkan merayap masuk, mencoba menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Ingatan. Keberanian. Keteguhan.
Ia mengertakkan gigi dan memukul mundur dengan pangkal tombak. Kayu bertemu kayu. Getaran menjalar ke kedua lengan. Pria bertopeng terdorong dua langkah, tetapi langsung menancapkan tongkatnya ke tanah. Lingkaran tipis berwarna hitam kemerahan muncul di sekeliling kakinya.
Jayengrana sudah melihat pola itu sebelumnya. Kaki kiri lawan selalu bergeser mundur sedikit setiap kali api legam dikeluarkan dalam jumlah besar. Kelemahan kecil. Mungkin batasan.
Ia tidak memberi waktu.
Serangan kedua datang lebih cepat. Tombak berputar, menyerang dari sudut rendah lalu naik tiba-tiba menuju leher. Pria bertopeng menangkis dengan tongkatnya, tetapi kali ini Jayengrana tidak mundur. Ia maju terus, memanfaatkan jarak dekat. Siku kirinya menghantam rusuk lawan. Bunyi tumbukan tumpul terdengar.
Pria bertopeng tersentak. Untuk pertama kalinya, napasnya terdengar sedikit lebih berat.
“Lebih baik,” gumamnya. “Lebih baik dari semalam.”
Api legam meledak dari ujung tongkat tanpa peringatan. Bukan sebagai serangan lurus, melainkan gelombang yang menyebar. Jayengrana terpaksa melompat mundur. Kaki kirinya menapak di tepi pelataran yang curam. Tanah longsor kecil di bawah tumitnya.
Pada saat itu, tanda perjanjian di dadanya berdenyut keras.
Suara Penunggang akhirnya muncul lagi. Pelan. Dalam. Hampir seperti bisikan yang dipaksakan keluar.
*“Jangan biarkan apinya menyentuh lebih lama. Ia bukan hanya membakar tubuh.”*
Jayengrana tidak sempat menjawab. Pria bertopeng sudah menyerang lagi. Tongkat hitam berputar, membawa api yang kini berbentuk seperti cambuk panjang. Setiap kali cambuk itu mengenai tanah atau batu, permukaan itu menghitam dan retak, seolah kehilangan sesuatu yang mendasar.
Jayengrana menangkis, menghindar, lalu membalas. Tombaknya berhasil menyapu bahu lawan, membuka sedikit kain dan meninggalkan goresan dalam. Darah hitam kemerahan menetes. Bukan darah biasa.
Pria bertopeng berhenti sejenak. Ia menatap bahunya sendiri, lalu ke Jayengrana.
“Kau berhasil melukai lagi. Bagus.” Ia menegakkan tubuh. “Tapi ini cukup untuk hari ini.”
Ia menusukkan tongkatnya ke tanah. Gelombang api legam menyebar cepat, memaksa Jayengrana menutup wajah dengan lengan. Ketika cahaya itu mereda, pria bertopeng sudah berdiri beberapa langkah lebih jauh, di tepi kabut.
“Mereka sudah ku tandai,” katanya. “Kau juga. Lain kali, aku tidak akan datang sendirian. Dan aku tidak akan memberi kesempatan untuk melarikan istri dan anak itu lagi.”
Ia berbalik. Kabut seolah menelan tubuhnya dalam hitungan detik. Api legam padam. Tinggal bau kayu terbakar yang tertinggal di udara.
Jayengrana tetap berdiri di tempatnya, napas sedikit lebih cepat. Lengan kirinya masih terasa dingin di bagian dalam, seolah api itu meninggalkan jejak yang belum hilang. Tanda di dadanya berdenyut pelan, kemudian tenang kembali.
Penunggang tidak berbicara lagi.
Dari arah celah di belakang gua, terdengar suara langkah cepat. Pengemis Tua muncul lebih dulu, diikuti istri Jayengrana dan Jaka. Wajah perempuan itu pucat, tetapi lega saat melihat suaminya masih berdiri.
“Dia pergi?” tanya Pengemis Tua.
Jayengrana mengangguk sekali. “Untuk saat ini. Tapi dia sudah menandai kita semua.”
Ia menatap ke arah kabut yang masih tebal di lereng.
“Kita tidak bisa tinggal di sini. Dan kita tidak bisa terus memakai jalur yang sudah diketahui.”
Istrinya mendekat, menyentuh lengan kirinya yang tadi tersapu api. “Kau terluka?”
“Tidak parah.” Jayengrana menatap mata istrinya. “Tapi kita harus bergerak lagi. Sekarang. Sebelum dia memutuskan bahwa peringatan ini sudah cukup.”
Di kejauhan, di antara kabut yang bergerak, tidak ada lagi cahaya kemerahan.
Hanya kesan bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sudah mulai menoleh ke arah mereka.