"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT 30
"Kamu nggak apa-apa, Mit?" tanya Lingga kepada Mita. Dia sangat khawatir dengan wanita ini karena sedari tadi diam saja.
"Pak, ada masjid di depan berhenti dulu ya. Saya mau sholat magrib dulu, soalnya tadi belum."
Lingga mengangguk. Pertanyaannya tak mendapat jawaban, tapi Lingga paham bahwa Mita pasti kesulitan menata perasaannya. Maka dari itu ia memilih untuk tidak lagi bertanya. Saat ini mengikuti keinginan Mita adalah hal yang paling benar.
Di depan mereka ada sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Ya Mita berkata untuk tidak berhenti di masjid agung karena dinilai sangat ramai. Lingga pun paham, saat ini Mita membutuhkan kesunyian.
Wanita itu bergegas turun ketika mobil dihentikan. Langkahnya begitu cepat sampai Lingga saja tak melihat bahwa Mita sudah mengilang dari sisinya.
"Dia pasti syok banget. Jadi gitu ya, dulu orang yang dicintai itu menjadi kerasa asing setelah perbuatan buruknya diketahui. Bahkan menjadi ketakutan saat didekati dan disentuh. Padahal mereka awalnya suami istri, sentuhan tentu bukan sebuah keanehan. Waaah ngeri juga ya, dari yang tadinya deket jadi sepenuhnya asing. Laaah kalau aku jelas ndak mau begitu. Masa wanita yang selama ini dipeluk jadi ilang dan benci. Takut bener sih."
Lingga berbicara sendiri ketika mengingat apa yang terjadi pada Mita. Tubuhnya bergidik ngeri membayangkan jika itu terjadi pada dirinya.
Ya Lingga tidak bisa membayangkan bagaimana jika wanita yang dicintainya, yang biasa dia rengkuh setiap malam, yang dia cumbu dengan mesra, menjadi asing, dingin, menolak dan bahkan takut. Benar-benar Lingga merasa takut sekali jika itu menimpa dirinya.
"Nggak, aku nggak akan melalukan sesuatu yang membuat istriku nanti membenciku. Hiiih, takutnyaaaa," ucapnya lagi sambil bergidik.
Tok tok tok
"Oh udah?"
"Iya Pak sudah."
Wajah Mita tampak segar. Meski sama sekali tida terpoles make-up namun cantiknya wanita itu tetap terlihat. Bahkan di tengah gelap malam di dalam mobil, Lingga bisa melihat wajah Mita yang cantik bersinar.
"Oh iya aku tadi beli makanan cepat saji. Makanlah, kamu pasti laper kan?" ucap Lingga sambil memberikan makanan yang tadi dibelinya.
"Makasih, Pak," balas Mita. Wajahnya hanya datar, dia juga langsung menyuapkan makanan itu ke mulutnya tanpa babibu. Seolah, makanan itu hanya sekedar untuk memenuhi hak perut.
Lingga tak ingin mengganggu acara makan Mita, sehingga dia memilih untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Di sepanjang jalan dari Magelang ke Ungaran, Mita pun tak bicara sama sekali. Dia hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Pandangannya jelas kosong.
Mungkin karena terlalu lelah secara psikis, Mita akhirnya tertidur. Lingga menghela nafasnya pelan. Dia menepikan mobilnya sebentar untuk membenarkan kursi agar Mita bisa tertidur dengan nyaman. Tak hanya itu, Lingga juga mengambil jas nya yang ada di belakang untuk menyelimuti tubuh wanita itu.
"Aku beneran nggak nyangka Mit, kamu yang seceria itu bisa terlihat kayak gini. Kamu beneran jadi murung, dan wajahmu juga suram. Aku harap dengan kembalinya kamu bekerja, kamu setidaknya bisa meleburkan rasa sakit hatimu. Maafin aku ya, andai aku lebih cepat memberitahumu tentang perselingkuhan suami dan adik tirimu itu, mungkin rasa sakit yang rasakan mungkin nggak akan sedalam ini."
Lingga mengulurkan tangannya, dia hendak menyibakkan helai rambut yang ada di wajah Mita, namun tangannya urung melakukannya. Lingga tak ingin Mita terbangun. Tanpa Lingga tahu, bahwa sebenarnya Mita sudah terbangun sejak pria itu memberikan jas nya untuk dijadikan selimut.
Terang saja Mita terkejut. Fakta yang baru saja diketahuinya itu sungguh mengejutkan. Dia tidak tahu bahwa ternyata Lingga sudah mengetahui ini dari lama.
Bukannya marah Mita malah merasa malu. Dia sungguh malu bahwasannya Lingga tahu betul tentang hancurnya rumah tangga yang dulu sangat ia banggakan.
Mita yang tidur, bangun dan berpura-pura tidur itu, akhirnya tertidur lagi. Mobil yang sudah sampai di rumah Lingga pun, tak terasa oleh Mita.
"Bos, seriusan ini?" tanya Bari yang bergegas turun dari lantai dua rumah itu saat mendengar suara mobil Lingga. Dia mengerutkan alisnya ketika melihat Lingga menggendong Mita keluar dari mobil.
"Serius lah, nih orangnya udah ku baa ke sini. Mengingat betapa gilanya si pria brengsek itu, emang paling bener Mita ada di sini. Kamu tahu apa tadi yang dilakukan Erdi ke Mita?" jawab Lingga sambil terus masuk ke rumah dan berjalan menuju kamar yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Apa, kenapa? Apa yang dilakukan bajingann tu ke Mita?" tanya Bari dengan sangat penasaran.
"Dia hampir saja melecehkan Mita."
"APA! Gilaaa tuh orang."
Bari membulatkan matanya. Dia benar-benar tak habis pikir, mengapa ada pria seperti Erdio yang tega berselingkuh dengan adik ipar dan sekarang malah kembali mengejar istrinya sampai sebegitunya.
"Makanya, Wilson aku tahu kamu disitu. Selesaikan proses perceraian Mita. Gunakan cara apapun biar prosesnya bisa lebih cepat. Kalau bisa, minggu ini dia bisa mendapatkan akta cerainya."
"SIAP, laksanakan!"
Mata Lingga memicing tajam. Ia bertekad bahwa Erdio, tak akan pernah bisa menyentuh Mita. Jangankan menyentuh, mendekat pun Lingga tak akan membiarkannya.
"Aku pasti akan melindungi mu, jadi jangan takut dan berdirilah kembali, Mit."
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,