NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Saat Arash hendak melangkah keluar untuk menemui ketiga sahabatnya yang sudah menunggu di dekat pagar teras, tiba-tiba langkah kaki cowok itu terhenti mendadak.

Sepatunya berdecit pelan di atas ubin semen teras rumah duka yang lembap. Indera pendengaran indigo milik Arash menangkap sesuatu yang tidak beres.

Di antara riuh rendahnya suara pelayat yang mengobrol dan lantunan ayat suci dari dalam rumah, ada satu gelombang suara isak tangisan yang frekuensinya terasa sangat berbeda.

Suara itu tipis, menyayat hati, dan mengandung gumpalan energi dingin yang langsung menusuk tulang belakang Arash.

​"Mas ganteng ih, kok berhenti dadakan sih?! Udah kayak tahu bulat digoreng dadakan aja!" omel Lala kaget setengah mati.

​Karena sejak tadi dia melayang cepat mengekor di belakang Arash dengan gaya centilnya, pemberhentian mendadak dari cowok itu sukses membuat raga transparan Lala hampir saja menembus punggung tegap Arash untuk yang kesekian kalinya.

Hantu cewek itu merengut manja, membenarkan posisi gaun hitam tanpa lengannya yang melayang pelan ditiup angin sore.

​Arash tidak memedulikan omelan Lala.

Dia memasang pose siaga, matanya bergerak tajam menyapu area halaman samping rumah yang agak remang karena tertutup rimbunnya pohon mangga.

​"La, kamu denger ada yang nangis gak?" bisik Arash dengan volume suara minimalis, nyaris menyerupai desiran angin sore agar tidak memancing perhatian pelayat di teras.

​"Denger, Mas. Kan di dalem rumah tadi orang-orang lagi pada lomba nangis, heboh banget," sahut Lala polos dengan wajah tanpa dosa.

​Arash menghela napas berat, kedutan di pelipisnya kembali muncul menghadapi kepolosan mahluk halus di sampingnya ini.

"Bukan suara orang, Lala..."

​"Terus suara siapa?" tanya Lala, memiringkan kepalanya bingung.

​"Ya setan lah, sebangsa kamu," balas Arash ketus.

​"Ihhh, Mas ganteng jahat banget sih! Udah dibilang berkali-kali jangan sebut Lala setan dong! Setan itu yang di punggung Devano tadi, berwujud jelek dan gak tahu estetika! Kalau aku ini hantu, Mas! H-A-N-T-U!" protes Lala heboh, memanyunkan bibirnya dengan drama tingkat tinggi.

​"Iya, iya, hantu. Maaf," ralat Arash cepat agar perdebatan teologis ini tidak berkepanjangan. "Sekarang coba lo cari sumber suaranya."

​"Nah, gitu dong. Sebentar..." Lala langsung menghentikan dramanya.

Dia melayang sedikit lebih tinggi, sepasang mata bulatnya berputar mengedarkan pandangan ke sekeliling area luar bangunan rumah duka.

​Hanya butuh beberapa detik bagi insting astral Lala untuk mendeteksi anomali energi di sekitar tempat itu.

Pandangannya mendadak terkunci pada sudut jendela kayu samping rumah yang terletak di area yang agak gelap dan sepi dari jangkauan pelayat fisik.

Di sana, tampak sesosok pendaran cahaya abu-abu tipis berbentuk figur manusia.

​"Mas! Itu ada hantuuu! Hantu beneran, Mas!" teriak Lala heboh,

jarinya yang transparan menunjuk-nunjuk ke arah jendela samping dengan ekspresi panik seolah dirinya sendiri bukanlah bagian dari komunitas mahluk tak kasat mata.

‘Ckckck dasar setan cegil! Bisa bisanya hantu teriak hantu, gak sadar diri dia.’ umpat Arash dalam hati.

​Didorong rasa penasaran yang besar, Arash memutar arah langkahnya.

Dia berpura-pura berjalan santai menuju ke halaman samping yang sepi dengan alasan mencari udara segar, memisahkan diri dari kerumunan orang.

Dan benar saja, begitu jaraknya mengikis, mata indigonya menangkap pemandangan yang membuat dadanya berdenyut ngilu.

​Di bawah bingkai jendela samping yang lapuk, berdiri sesosok roh gadis remaja mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak lusuh.

Roh itu sedang menangkupkan kedua tangan di wajahnya, menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar hebat.

Aura di sekelilingnya murni, namun dipenuhi oleh rasa sedih dan kebingungan yang teramat sangat.

​"Fira?" panggil Arash dengan suara yang sangat pelan, memastikan frekuensi suaranya hanya bergetar di dimensi gaib.

​Mendengar namanya dipanggil, gadis itu mendadak menghentikan tangisannya.

Dia menurunkan kedua tangannya dari wajah, menampilkan paras polos yang tampak pucat dengan sisa-sisa air mata spiritual yang membeku di pipinya. Dia menatap Arash dengan pandangan tidak percaya.

​"Kamu... kamu bisa lihat aku?" tanya Fira, suaranya bergetar lirih, terdengar seperti gema yang memantul di dalam ruangan kosong.

​"Kenapa kamu ada di sini, Fir?" tanya Arash lagi,

melangkah maju satu tapak untuk memperkecil jarak komunikasi mereka, sementara Lala memilih bersembunyi aman di balik pundak Arash.

​"Hiks... hiks... hiks... Aku selalu di sini Kak. Aku ingin masuk ke rumah, tapi aku gak bisa menembus pintu atau dinding rumah ini sendiri. Setiap kali aku mencoba mendekat, ada energi hitam dari dalam yang selalu menolak dan melempar aku keluar. Aku gak bisa masuk, Kak... hiks..." ratap Fira, menceritakan penderitaannya yang terlantar di halaman rumahnya sendiri tanpa ada satu pun anggota keluarga yang menyadari kehadirannya.

​Arash menatap jasad Fira di dalam rumah melalui celah jendela yang terbuka sedikit, lalu kembali menatap roh gadis itu dengan pandangan penuh rasa iba.

​"Kamu harus tahu satu hal, Fir... Kamu sebenarnya sudah meninggal. Raga fisikmu ada di dalam sana, sedang diurus untuk dimandikan. Tempatmu sekarang sudah bukan di dunia ini lagi," kata Arash, mencoba menyampaikan kebenaran pahit itu selembut mungkin agar tidak memicu guncangan emosi pada roh yang baru terlepas dari raganya.

​"Aku tahu, Kak... Aku tahu kalau raga aku sudah mati," jawab Fira sesenggukan, mengepalkan tangan kecilnya yang transparan. "Tapi aku ingin bertemu Papa dulu, hiks... hiks..."

​"Papa?" beo Arash, dahinya berkerut dalam.

​Pikiran Arash mendadak memutar kembali memori visual saat dia berada di dalam ruang tengah tadi.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah duka ini, dia hanya melihat Tante Nina, ibu kandung Fira yang menangis histeris didampingi oleh beberapa kerabat wanita dan paman Fira, Pak Bakti sang Kepala Sekolah.

Namun, sosok ayah kandung Fira sama sekali tidak terlihat di barisan depan pelayat.

​"Di mana papa kamu sekarang, Fir? Kenapa dia gak ada di depan nemenin ibumu?" tanya Arash bingung.

​"Papa ada di dalam kamar aku, Kak," jawab Fira sembari mengarahkan telunjuk pucatnya ke arah bagian atas bangunan rumah yang bertingkat dua.

​"Dimana?"

​"Lantai dua, kamar nomor satu yang jendelanya menghadap langsung ke arah pohon mangga ini," perjelas Fira,

matanya menatap nanar ke arah jendela kaca di lantai atas yang tampak tertutup rapat dengan gorden abu-abu yang gelap.

​Arash menimbang situasi sejenak.

Jika keinginan terakhir roh Fira hanya ingin menyampaikan salam perpisahan kepada ayah kandungnya agar jiwanya bisa pergi dengan tenang, maka sebagai manusia yang memiliki kelebihan indigo, Arash merasa wajib untuk membantu mempermudah jalan itu.

​"Kamu mau aku panggil papa kamu buat turun ke sini?" tawar Arash memberikan solusi praktis.

​"Gak akan bisa, Kak... hiks... hiks..." Fira kembali menangkupkan wajahnya, meledak dalam tangisan yang jauh lebih pilu dari sebelumnya, membuat Arash seketika dilanda kebingungan tingkat tinggi.

​"Kenapa gak bisa? Apa papa kamu lagi sakit ?’’

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!