Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ︎Cinta Terlarang
Siang itu tukang pos berhenti di depan pagar rumah Arkan. Di tangannya tergenggam map cokelat kusam.
“Paket atas nama Arkan Pratama.”
Ibu Desy membuka pintu. “Dari siapa?”
“Pengadilan Agama.”
Jari Ibu Desy gemetar saat menerima map itu. Ia membawanya ke ruang tengah, merobek segelnya tepat ketika Arkan turun dari tangga.
“Apa itu, Ma?”
Ibu Desy tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada lembar pertama. Cap basah pengadilan. Huruf tebal: SURAT PANGGILAN SIDANG CERAI.
Arkan merampas map dari tangan ibunya. Dadanya berdetak tidak beraturan. Di dalam terselip salinan gugatan. Penggugat: Thanaya Radiva. Alasan: perselisihan terus-menerus, komunikasi terputus, tergugat diduga berselingkuh.
“Minggu depan,” gumam Arkan. Suaranya pecah di ujung kalimat.
Ibu Desy membanting map ke meja. “Ini maksudnya apa, Arkan? Istrimu menggugat tanpa bicara dulu sama kamu?”
Arkan tetap diam. Penyesalan menggenang di matanya, tapi ia tidak sanggup mengucapkannya. Ia berbalik, naik ke lantai atas, meraih kunci mobil di nakas.
“Mau ke mana kamu?” Ibu Desy menghadang di bawah tangga.
Arkan melewatinya tanpa sepatah kata. Dadanya sesak begitu map itu terbuka, dan tanpa bisa dicegah bayangan wajah Naya muncul di kepalanya.
Ia menyetir tanpa tujuan. Ponsel Naya tidak aktif, atau mungkin nomornya sudah diblokir. Ia mengacak rambutnya kasar. Mobil berputar melewati setiap kontrakan, setiap Arkan turun dan bertanya, tidak ada yang mengenali Naya.
Akhirnya ia berhenti di depan kontrakan lama Naya. Ia turun, menghampiri seorang penghuni yang baru keluar dari kamar nomor satu.
“Maaf, Mbak. Apa ada penghuni baru di sini? Ini fotonya” ujar Arkan sembari memperlihatkan foto Naya.
“Kayaknya ada, Mas. Di kamar nomor tiga.”
Arkan menarik napas panjang di depan pintu nomor tiga. Ia mengetuk sekali, dua kali. Tidak ada jawaban. Ketukan ketiga, pintu terbuka.
Naya berdiri di ambang pintu. Kaos oversize, rambut diikat seadanya. Mata mereka bertabrakan.
“Nay, aku mau bicara…”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Mas. Cukup.” Naya memotong cepat.
“Kasih aku satu kesempatan.”
Naya tidak menjawab. Ia mendorong pintu untuk menutup, tapi Arkan menahannya dengan telapak tangan.
“Nay, tolong. Sekali lagi.”
“Lepas. Aku benci kamu.” Suara Naya meninggi, memecah sepi lorong.
Pintu kamar sebelah terbuka. Tetangga mengintip. Arkan melihatnya, lalu perlahan menurunkan tangannya dari pintu. Naya langsung menutup pintunya dengan nyaring meninggalkan Arkan didepan pintu kontrakannya.
......................
Ditempat lain
“Dua hari lagi, Bar. Jangan mikirin hal lain,” kata Ibu Desy lewat telepon pagi tadi. “Fokus ke tunangan kamu.”
Bara mengangguk ke cermin, padahal Ibu Desy tidak melihatnya. Ponsel di sakunya bergetar tiga kali sejak pagi. Kemungkinan Naya. Tapi ia tidak mengangkat. Tidak di tengah gladi resik.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri. Lelah. Bersalah. Dan untuk pertama kali ia sadar, ia sama seperti Arkan. Datang terlambat. Pergi saat dibutuhkan. Bedanya, Arkan lari ke Dewi. Dia lari ke tanggung jawab yang dipaksa ibunya.
Sementara, di kontrakan, Naya duduk di lantai. Tembok lembap. Kipas angin berdengung kasar.
Ponselnya mati sejak tadi. Ia tidak menyalakannya lagi. Tidak perlu.
Di kepalanya, bayangan Arkan berjalan bersama Dewi masih jelas. Di sela bayangan itu, muncul juga Bara. Bara yang semalam bilang akan menjaganya. Bara yang sekarang hilang tanpa kabar.
Naya menutup mata.
Ternyata sama saja, pikirnya. Arkan lari ke perempuan lain. Bara lari ke tunangannya. Dua-duanya meninggalkannya saat sedang jatuh.
Ia membuka mata. Mengambil pulpen. Menulis di kertas kosong.
Senin, sidang pertama.
Tidak ada lagi “tunggu Bara”. Tidak ada lagi “mungkin Arkan berubah”.
Mulai sekarang, ia mengurus hidupnya sendiri.
......................
Beberapa hari kemudian, apa yang telah ditunggu akhirnya telah tiba. Ruang sidang Pengadilan Agama, pengap. AC mati sejak pagi.
Arkan duduk di kursi tergugat. Jas kusut, dasi miring. Di sebelahnya Ibu Desy, rahang mengeras. Di depan, majelis hakim belum masuk. Pintu ruang sidang masih terbuka.
Arkan menoleh ke arah pintu penggugat.
Naya duduk di sana. Sendirian. Baju hitam polos, rambut diikat rapi. Wajahnya datar. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya kosong.
Jantung Arkan menghantam rusuk. Ia melihat Naya kembali setelah kemarin ia diusir dari kontrakannya. Dan Naya tidak menoleh sedikit pun.
“Dia serius,” bisik Ibu Desy. Nadanya bukan marah lagi. Ada takut di sana.
Arkan hendak berdiri, hendak bicara, tapi hakim masuk. Sidang dimulai.
Majelis menanyakan hal biasa. Identitas. Alasan gugatan. Naya menjawab singkat. “Kami sudah tidak bisa berkomunikasi, Yang Mulia. Saya tidak merasa aman di rumah itu.”
“Tergugat, ada tanggapan?”
Arkan membuka mulut. Suaranya tidak keluar. Ia menatap Naya. Naya tetap tidak memandangnya. Seolah ia udara.
“Tidak, Yang Mulia,” katanya akhirnya. “Saya… saya terima.”
Ibu Desy menoleh tajam.
Di luar ruang sidang, langkah kaki terdengar tergesa. Pintu terbuka setengah. Bara muncul, napas memburu. Ia terlambat. Majelis sudah mengetok palu untuk jadwal sidang berikutnya.
Bara melihat ke dalam. Melihat Naya berdiri, mengambil tas, keluar tanpa melirik ke arahnya.
“Nay—” panggilnya pelan.
Naya berhenti sedetik di ambang pintu. Tapi tidak menoleh. Lalu berjalan terus.
Dan Bara sadar, ia kehilangan satu-satunya kesempatan untuk berkata, "Aku tidak sama seperti dia.”
Tapi sekarang, Naya sudah tidak percaya lagi.
......................
Hari berlalu begitu cepat, dan hari itu Bara akhirnya melaksanakan pertunangan dengan Jeslyn.
Gedung serbaguna di pusat kota penuh lampu kristal. Karpet merah membentang dari pintu sampai panggung. Spanduk besar menggantung di atas pelaminan: “ Bara & Jeslyn”.
Acara terbuka untuk umum. Ayah Jeslyn pejabat daerah, jadi semua warga diundang. Tenda luar penuh orang bersalaman, makan prasmanan, berfoto.
Naya berdiri di depan pintu masuk. Gaun hitam panjang, lipstik merah untuk menutupi bibir pucatnya, tangannya menggenggam tas terlalu kuat. Ia tidak di undang. Ia datang sendiri.
Baru tiga langkah masuk, matanya menangkap dua orang di dekat meja tamu VIP.
Arkan. Berdiri terlalu dekat dengan Dewi. Dewi tertawa, menyentuh lengan Arkan saat bicara. Arkan membalas senyum. Terlalu santai. Terlalu akrab untuk suami yang masih terikat surat panggilan cerai.
Naya mengalihkan pandangan. Mencari Bara.
Bara ada di atas panggung. Jas hitam, dasi merah. Jeslyn di sampingnya, berseri, gaun putih. Tapi wajah Bara kosong. Matanya sayu. Tidak ada senyum. Tidak ada cahaya seperti laki-laki yang baru bertunangan.
Naya melangkah maju. Pelan. Ingin lewat di depan panggung, biar Bara melihat. Biar tahu ia datang.
Tapi MC sudah mengangkat mikrofon. Musik mulai mengalun pelan. Prosesi pemasangan cincin dimulai.
Jeslyn mengulurkan tangan. Kotak beludru terbuka. Cincin berkilau.
Naya berhenti di tengah lorong tamu.
Ia melihat tangan Bara bergetar saat mengambil cincin itu. Ia melihat Jeslyn menatap Bara dengan harap. Ia melihat Arkan bertepuk tangan dari bawah, Dewi di sebelahnya ikut tersenyum.
Dadanya sesak.
Satu detik lagi cincin itu akan menyentuh jari Jeslyn. Dan Naya tahu, kalau ia melihat itu, ia akan pecah di tempat ini. Mengingat semua kenangannya bersama Bara, kenangan yang tak seharusnya terjadi.
Kenangan terlambat yang membuatnya susah untuk melupakannya. Buliran bening jatuh melewati pipinya, bibirnya melengkung membentuk senyuman sebelum ia beranjak pergi dari tempat itu.
Ia berbalik. Gaun hitamnya berayun. Ia berlari keluar gedung, melewati karpet merah, melewati tamu yang menoleh, melewati pintu besar.
Di luar, udara malam kota terasa panas. Naya berhenti di trotoar. Tangannya menutup mulut. Napasnya patah. Kakinya tak sanggup lagi berdiri, tangisnya tak mampu ditahan.
Memang kisah cinta terlarangnya harusnya berakhir tragis seperti ini, semua jalan cinta Naya berakhir tak indah. Isakan tangisnya pecah di tengah gelapnya malam, ditengah alunan musik yang masih terdengar sakit ditelinganya.
Di dalam, tepuk tangan meledak. Cincin sudah terpasang. Dan Naya tahu, pintu itu sudah tertutup untuk selamanya.