Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 25.
Setelah selesai makan dan Gama membayar pesanan mereka, keduanya kembali masuk ke mobil. Mesin dinyalakan, lalu mobil perlahan meninggalkan tempat makan itu.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa cukup hening. Tidak ada obrolan, Aurora memilih menatap keluar jendela, memperhatikan pemandangan yang terus berganti di balik kaca.
Sementara Gama fokus menyetir, sesekali melirik jalanan yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.
Aneh rasanya. Padahal tidak ada yang sedang bertengkar, tapi tidak ada juga yang memulai percakapan. Namun, keheningan itu tidak terasa terlalu canggung. Mereka hanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, membiarkan mobil terus melaju membelah jalan sore yang ramai.
Aurora menyerinyit kan kening bingung seingatnya jalan pulang Aurora bukan ke arah yang sekarang Gama tuju, ia memalingkan wajahnya ke arah Gama.
"Kok ke sini?."
Gama melirik sebentar." Ke rumah gue dulu."
"Ini udah sore loh kak, turun aja aku di sini—takut ibu marah aku belum pulang." Ujar Aurora khawatir.
"Gue tadi udah chat ibu dan dia ngijinin." Tukas Gama santai.
Aurora mengembuskan napas pelan sambil memajukan bibirnya. Entah sudah berapa kali ia memikirkan hal yang sama sepanjang perjalanan itu.
Ia benar-benar heran dengan ibunya. Setiap kali Gama datang atau mengajaknya pergi, ibunya selalu mengizinkan begitu saja. Bukan hanya mengizinkan, tapi juga terlihat sangat percaya pada laki-laki itu.
Aurora sampai bertanya-tanya dalam hati, kenapa ibunya bisa setenang itu? Apa ibunya tidak pernah khawatir sama sekali? Tidak takut kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana?
Semakin dipikirkan, semakin membuatnya cemberut. Rasanya seperti ibunya menitipkannya pada Gama tanpa sedikit pun rasa curiga. Padahal, menurut Aurora, seharusnya seorang ibu lebih waspada pada anak perempuannya.
Aurora lalu menyandarkan punggungnya ke kursi mobil sambil melirik sekilas ke arah Gama yang sedang fokus menyetir. Setelah itu ia kembali memalingkan wajah ke jendela, masih dengan ekspresi cemberut yang belum juga hilang. Dalam hati, ia tetap tidak mengerti bagaimana Gama bisa mendapat kepercayaan sebesar itu dari ibunya.
Gama terkekeh kecil melihat Aurora yang cemberut." Kenapa?."
Aurora makin memalingkan wajahnya enggan menatap Gama mengedikkan bahu tidak peduli.
Gama tertawa merasa terhibur." Cuman sebentar kok."
Aurora membalikkan badan 180° benar benar pandangannya hanya tertuju pada Gama." Terus kalau cuman sebentar kenapa nggak nganter aku pulang dulu? kan arah rumahnya juga beda."
Aurora tidak mengerti dengan pemikiran Gama di sendiri tahu bahwa rumahnya dengan rumah Gama berbeda arah, kan tidak masuk di akal kalau emang cuman sebentar kenapa harus Aurora ikut ke rumahnya.
"Suka suka gue." Gama hanya membalas sekenanya, yang mana membuat Aurora kesal.
Sesampainya di rumah Gama, Aurora segera menyadari ada sesuatu yang berbeda. Sejak turun dari mobil, suasana di sekitar laki-laki itu terasa berubah.
Tadi sepanjang perjalanan, Gama masih terlihat biasa saja. Tenang seperti biasanya. Namun kini ekspresinya tampak jauh lebih serius. Rahangnya mengeras, garis wajahnya menegang, bahkan urat di lehernya terlihat samar menonjol seolah sedang menahan sesuatu.
Aurora tanpa sadar memperlambat langkahnya. Pandangannya beberapa kali tertuju pada Gama yang berjalan di depannya. Tatapan laki-laki itu kini terasa lebih tajam dan fokus, berbeda dari sikap santainya beberapa saat yang lalu.
Entah apa yang terjadi, tapi perubahan itu cukup jelas hingga Aurora bisa merasakannya. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa lebih berat.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Gama, namun ekspresinya seolah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
Aurora mengernyit pelan. Rasa penasaran mulai muncul di benaknya. Ia tidak tahu apa yang membuat Gama berubah begitu cepat, tetapi satu hal yang pasti, laki-laki itu sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik.
Perubahan ekspresi Gama berubah setelah melihat sebuah mobil terparkir di depan mobil Gama, Aurora tidak tahu mobil siapa itu. Yang jelas pasti ada sesuatu yang tidak di sukai Gama.
Aurora tanpa bertanya hanya mengikuti langkah Gama suasana yang awalnya terlihat santai berubah menjadi canggung.
Gama tiba-tiba menggenggam tangan Aurora erat membawa Aurora berbalik arah menuju ke arah mobilnya yang belum sempat di parkirkan.
"Kak, kenapa balik lagi?." Tanya Aurora.
Gama menghentikan langkahnya meski tatapan Gama menatapnya dengan tatapan teduh, tapi di balik itu Gama seolah menyimpan kemarahan. Yang entah apa itu Aurora tidak tahu.
"Nggak jadi, kita ke rumah lo aja."
Aurora tanpa bertanya kembali hanya mengangguk kecil, sebelum mereka sampai ke mobil seseorang menginterupsi menyuruh mereka berhenti.
"Berhenti."
Mereka secara mendadak berhenti, Aurora bisa merasakan eratnya tangan Gama menggenggamnya bahkan urat tangannya menonjol seperti sedang menahan emosi. Aurora meringis sakit karna genggaman tangan Gama cukup kencang, Gama menyadari telah menyakiti Aurora tanpa sadar. Meregangkan genggaman tangannya dan mengusap tangan Aurora dengan lembut.
Aurora mengalihkan pandangannya saat melihat seorang wanita berdiri tidak jauh dari sana. Usianya mungkin sekitar tiga puluh enam tahun, bahkan mungkin sudah mendekati empat puluh. Namun, bertambahnya usia sama sekali tidak mengurangi pesonanya.
Wanita itu terlihat berkelas dengan caranya sendiri. Penampilannya rapi dan elegan tanpa kesan berlebihan. Setiap gerakannya tampak tenang, tetapi ada aura tegas yang begitu kuat hingga sulit untuk diabaikan.
Tatapannya tajam dan penuh keyakinan, seolah terbiasa mengambil keputusan tanpa ragu. Meski tidak menunjukkan ekspresi galak, kehadirannya saja sudah cukup membuat orang segan. Ia memancarkan wibawa alami yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum bertindak sembarangan di hadapannya.
Aurora tanpa sadar memperhatikannya lebih lama. Wanita itu memiliki perpaduan yang jarang ditemui—terlihat berkelas dan anggun, tetapi pada saat yang sama memancarkan ketegasan yang membuatnya tampak kuat dan sulit diremehkan.
"Mau kemana kamu?." Tanya wanita tersebut tanpa mengalihkan pandanganya.
"Bukan urusan anda."
"Apa kayak gini kamu bicara sama ibumu!."
Aurora langsung menatap Gama dia ibunya. Tapi, kenapa Gama bersikap seolah ibunya itu orang lain bukan seperti ibu kandungnya sendiri.
Gama memalingkan wajahnya dan tanpa berlama lama Gama langsung menarik tangan Aurora, meski ia di landa kebingungan Aurora mengikuti langkah Gama yang tergesa-gesa.
"Tutup gerbang utama." Suara ibunya Gama menggelegar, membuat semua yang berjaga di gerbang utama buru buru menutup gerbang.
Gama menghembuskan napas kasar melepaskan genggaman tangan mereka yang sempat terpaut.
Berjalan menghampiri ibunya." Sekarang mau anda apa?."
"Bersikaplah sopan pada ibumu!."
"Bersikap sopan anda bilang?." Ujar Gama tertawa sarkas seolah menertawakan lelucon yang lucu.
"Apa anda pernah mengajari saja tentang sopan santun? apa anda mengajari saya untuk menghormati orang tua?."
"Anda tidak pernah mengajari saya apa apa, yang anda ajari pada saya hanya kekerasan saja—selain itu tidak ada!." Gama menekan setiap tutur katanya kepada ibunya.
Suasana yang semula hanya dipenuhi keheningan mendadak berubah dalam hitungan detik.
Ibu Gama yang sejak tadi berusaha menahan emosinya akhirnya kehilangan kendali. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangan lentiknya terangkat lalu mendarat keras di pipi Gama.
Plak!
Suara tamparan itu terdengar begitu jelas hingga membuat suasana seketika membeku.
Kepala Gama sedikit terhuyung ke samping akibat benturan tersebut. Bekas merah langsung terlihat jelas di pipinya, kontras dengan kulitnya. Namun, laki-laki itu tidak membalas ataupun menghindar. Ia hanya berdiri diam dengan rahang yang semakin mengeras.
Di sisi lain, Aurora membelalakkan mata lebar-lebar. Tubuhnya refleks menegang karena terkejut melihat kejadian yang berlangsung begitu cepat. Jantungnya berdegup kencang, sementara pikirannya seolah membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ia bergantian menatap Gama dan ibunya. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa wanita yang terlihat begitu tenang dan berwibawa itu bisa meluapkan emosinya sedemikian rupa.
Untuk sesaat, tak ada yang bersuara. Hanya keheningan yang terasa semakin menyesakkan setelah tamparan itu menggema di udara.