"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah baskara langit
Di perpustakaan, suasana sudah mulai sepi. Mahasiswa baru telah dibubarkan, dan para panitia mulai mengemasi barang mereka. Baskara berdiri di dekat meja utama, matanya terus melirik ke arah pintu, menunggu sosok Lara yang berjanji akan menunggunya sebelum pulang bersama.
"Mana dia?" gumam Baskara rendah. Perasaannya mulai tidak enak. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Lara, namun tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, ia mendengar suara getar pelan dari atas meja di barisan kursi kelompok 3. Baskara melangkah mendekat dan menemukan sebuah ponsel dengan gantungan kunci kecil berbentuk boneka—itu ponsel Lara.
"Ponselnya di sini, tapi orangnya nggak ada?" alis Baskara bertaut. Ia memungut ponsel itu dan melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Papanya.
Randy datang menghampiri sambil menggendong tasnya. "Bas, belum balik? Gue lihat Manda tadi udah keluar duluan, katanya ada urusan mendadak. Si Lara juga nggak kelihatan."
"Lara nggak mungkin pergi tanpa ponselnya, Ran. Dia sangat disiplin," ucap Baskara dengan nada yang mulai mendingin. Matanya menatap tajam ke arah pintu samping yang terbuka sedikit.
Baskara segera berjalan keluar. Ia tidak menuju parkiran, melainkan menuju ke ruang CCTV di lantai satu gedung perpustakaan. Sebagai ketua panitia, ia punya akses penuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi, ia meminta petugas memutar rekaman sepuluh menit yang lalu.
Di layar monitor, terlihat Manda menghampiri Lara. Mereka berbincang sebentar, lalu Lara berjalan ke arah gedung belakang yang sudah gelap dan sepi. Tak lama kemudian, Manda menyusul dengan langkah terburu-buru, lalu kembali lagi sendirian dengan wajah yang tampak puas.
Rahang Baskara mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Manda... kamu benar-benar keterlaluan."
"Ada apa, Bas?" tanya Randy kaget melihat ekspresi Baskara yang seperti ingin meledak.
"Jaga gerbang utama, jangan biarkan Manda keluar dari area kampus!" perintah Baskara sambil berlari secepat yang ia bisa menuju gedung belakang, mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa di kakinya.
Sementara itu, di dalam gudang yang gelap, Lara duduk meringkuk di sudut ruangan. Udara semakin pengap dan debu mulai membuatnya sesak napas. Ia mencoba berteriak, namun suaranya habis. Hanya ada satu nama yang ia sebut dalam tangisnya yang tertahan.
"Kak Baskara... tolong..."
Kondisi di dalam gudang itu semakin mencekam. Ruangan yang tidak memiliki ventilasi cukup itu membuat kadar oksigen terus menipis. Lara, yang sejak tadi berusaha berteriak dan menggedor pintu, mulai merasa kepalanya sangat berat. Pandangannya kabur, bayangan tumpukan kardus di depannya seolah berputar.
"Kak... Bas—"
Suaranya terputus. Tubuh mungil Lara merosot di balik pintu besi yang dingin. Nafasnya pendek dan tersengal hingga akhirnya matanya terpejam sepenuhnya. Lara pingsan dalam kesunyian gudang yang gelap.
Baskara berlari di lorong gedung belakang yang gelap. Langkah kakinya yang pincang tak lagi ia hiraukan. Setiap detiknya terasa seperti selamanya. Pikirannya dipenuhi ketakutan akan keadaan Lara, apalagi ia tahu gedung belakang ini sudah lama tidak digunakan dan udaranya sangat tidak sehat.
"Lara! Lara, kamu di dalam?!" teriak Baskara saat sampai di depan pintu gudang yang terkunci rapat.
Hening. Tidak ada sahutan dari dalam.
Baskara mencoba memutar knop pintu dengan paksa, namun tetap tidak terbuka. Amarahnya memuncak. Tanpa pikir panjang, ia memundurkan langkah, mengumpulkan tenaga, dan menghantamkan bahunya ke pintu besi tersebut.
BRAKK!
Pintu itu bergetar, namun belum terbuka. Baskara mencoba sekali lagi dengan kekuatan penuh, menghantam bagian dekat kunci hingga akhirnya suara besi yang patah terdengar nyaring.
GEBRAK!
Pintu terbuka lebar. Baskara hampir terjatuh, namun matanya langsung tertuju pada sosok yang tergeletak di lantai. Hati Baskara seolah berhenti berdetak melihat Lara yang pucat pasi dan tidak sadarkan diri.
"Lara!" Baskara langsung berlutut, mengangkat kepala Lara ke pangkuannya. "Lara, bangun! Ini saya, Baskara!"
Ia menepuk pelan pipi Lara, namun tidak ada respon. Tangan Baskara gemetar saat memeriksa nafas Lara yang terasa sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia menggendong tubuh Lara dalam dekapannya, membawanya keluar dari ruangan pengap itu menuju udara bebas.
Di ujung lorong, Randy datang berlari bersama petugas keamanan. "Bas! Ketemu?!"
"Panggil ambulans atau siapkan mobil saya sekarang, Ran! Dia pingsan karena kekurangan oksigen!" bentak Baskara dengan suara yang parau karena emosi dan kekhawatiran.
Saat itu juga, Manda muncul dari balik pilar, wajahnya pucat melihat Baskara menggendong Lara dengan tatapan mata yang seolah siap membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Baskara berhenti sejenak di depan Manda, matanya menatap tajam penuh kebencian.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Lara, saya pastikan kamu tidak akan pernah punya masa depan di kampus ini, Manda," desis Baskara dingin, sebelum berlari menuju tempat parkir.