NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Si Cantik yang Dirundung

​Di SMA Tunas Bangsa, ketertiban hanyalah ilusi yang dipelihara dengan sangat hati-hati. Bukan karena aturan sekolah yang kaku, melainkan karena sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik dari balik meja Ketua OSIS.

​Skandal di sekolah ini tidak dilarang—hanya perlu dikelola. Ada rahasia yang sengaja dibiarkan membusuk, tapi ada pula dosa besar yang lenyap dalam semalam seolah-olah sejarah baru saja dihapus. Semuanya terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena sang Mastermind sedang menggerakkan bidak-bidaknya.

​Ia bukan pahlawan yang datang memberantas kejahatan. Ia juga bukan monster yang menebarkan teror secara buta. Ia hanya memiliki aturannya sendiri—prinsip yang tak seorang pun tahu apa alasan di baliknya.

​Bagi ribuan pasang mata, ia adalah sosok yang tampak ramah namun tak tergapai. Ia bisa menyapa dengan senyum paling tulus, namun di saat yang sama, ia membangun jurang tak kasat mata yang membuat mereka tak bisa menyentuh dunianya. Hanya segelintir orang yang tahu siapa dia sebenarnya; mereka yang berakhir menjadi korban, atau mereka yang bertugas sebagai eksekutor.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pintu kelas terbanting keras, memutus keriuhan jam istirahat. Atikah melangkah masuk dengan napas terengah yang memburu. Wajahnya merah padam, bukan karena lelah, melainkan oleh amarah yang membakar hingga ke ujung sarafnya. Matanya yang sembap dan berair menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya terkunci pada satu titik: Yasmin.

​Yasmin yang sedang merapikan buku di bangkunya mendongak, namun belum sempat ia menyapa, bayangan Atikah sudah menjulang di depannya.

​PLAK!

​Tamparan keras itu menggema, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kelas. Yasmin terhuyung, tangannya refleks mendekap pipinya yang seketika berdenyut panas. Matanya membelalak, nanar menatap sahabatnya sendiri.

​"Dasar cewek tukang rebut pacar orang!" Teriak Atikah. Suaranya pecah, antara benci dan isak tangis yang tertahan.

​"A..apa?" Yasmin tergagap. Lidahnya mendadak kelu saat menyadari puluhan pasang mata kini tertuju padanya.

​Reka maju satu langkah, menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis yang menghina. "Ah, ternyata kejadian juga. Bahkan sama Atikah, teman sebangku elu pun, lu tega ngerebut pacarnya!" umpatnya, memanaskan suasana.

​"Gue bilang juga apa?" Cecil menimpali dari sudut kelas, suaranya melengking penuh kemenangan. "Udah kelihatan dari gayanya."

​"Gue nggak nyangka, Yasmin!" Atikah masih menatap dengan kebencian murni, tangannya mengepal gemetar di sisi tubuh.

​"Tidak, Atikah! Aku... aku nggak ngerebut pacar kamu. Si... siapa pacar kamu?" Suara Yasmin mencicit, ia berusaha mencari pegangan pada pinggiran meja.

​"Lu keterlaluan!"

Tanpa peringatan, Atikah merangsek maju, tangannya terjulur hendak menjambak rambut Yasmin.

​Yasmin memekik dan menghindar dengan gerakan kikuk. Tegar, yang sedari tadi menyaksikan dengan ragu, akhirnya melompat dari kursinya untuk menengahi. "Sudah-sudah! Kalian jangan ribut di kelas! Malu dilihat kelas lain!"

​"Lu jangan ikut campur, Gar!" bentak Atikah, tak sudi langkahnya dihentikan.

​"Tapi ini bukan caranya menyelesaikan masalah—"

​"Ah, cowok memang sama saja!" Cecil memotong dengan nada sengit, melirik Tegar dengan pandangan merendahkan. "Begitu melihat cewek modelan Yasmin, langsung mau jadi pahlawan kesiangan!"

​Tepat saat itu, Dhini melangkah masuk. Ia mengernyit melihat Cecil yang tengah menghardik kekasihnya. "Cil! Ngapain lu teriak-teriak sama Tegar?"

​"Cowok lu ngebela si Yasmin, Dhin! Padahal si Yasmin sudah tega mengkhianati Atikah," adu Cecil dengan nada yang penuh provokasi.

​Wajah Dhini berubah seketika. Ia menoleh pada Tegar, matanya melotot tajam penuh ancaman. "Tegar! Kalau lu berani ngebela si Yasmin, lu gue putusin sekarang juga!"

​Tegar mendadak mengkerut, nyalinya menciut di bawah intimidasi Dhini. Ia mundur perlahan, tak berani lagi mengeluarkan suara. Di sudut kelas, bisik-bisik para siswa laki-laki mulai terdengar, namun tak ada satu pun yang cukup berani untuk berdiri di samping Yasmin.

​"Atikah, aku tidak merebut pacar kamu. Beneran..." Yasmin mencoba menjelaskan. Air mata mulai mengaburkan pandangannya.

​Atikah hendak menyerang lagi, tapi kali ini Reka dan Cecil memegangi lengannya—bukan untuk melindungi Yasmin, tapi untuk mencegah Atikah terkena masalah.

​"Sabar, Atikah. Jangan sampai tangan kamu kotor karena dia. Kamu bisa dilaporkan ke guru kalau sampai luka," bisik Cecil dengan nada rendah yang beracun. "Mulai sekarang, kita punya cara yang lebih baik. Kita kucilkan Yasmin."

​Reka menyeringai, matanya menyapu seisi kelas seperti seorang komandan.

"Benar. Kita sebarluaskan ini ke seluruh sekolah. Biar semua cewek tahu siapa dia sebenarnya. Dan buat para cowok..."

Reka menjeda, memberikan tekanan pada setiap kata.

"Siapa pun yang mencoba mendekati atau membela Yasmin, dia akan jadi musuh semua cewek di sekolah ini. Kita lihat, sampai kapan si bodoh ini bisa bertahan!"

​Yasmin terpaku. Hening yang mengikuti ucapan Reka terasa lebih menyakitkan daripada tamparan tadi. Tidak ada yang membantah. Semua orang menunduk atau membuang muka.

​Bel tanda masuk berbunyi, memecah ketegangan yang menyesakkan. Atikah segera menyambar tas Yasmin dan melemparkannya ke lantai.

​"Pergi lu! Gue nggak mau duduk sama pengkhianat lagi!"

​Yasmin yang terhuyung saat mencoba mengambil tasnya hampir saja jatuh terjerembap. Yana, yang duduk paling dekat, secara refleks menangkap lengan Yasmin. Namun, saat Yana merasakan tatapan tajam dari Cecil dan gerombolannya, ia seolah tersengat listrik. Dengan cepat, ia melepaskan tangan Yasmin seolah gadis itu adalah wabah penyakit.

​"Terima kasih..." bisik Yasmin lirih.

​Yana melirik Yasmin sekilas. Melihat wajah Yasmin yang begitu cantik sekaligus rapuh, Yana sempat tersipu dan melempar senyum tipis yang tulus.

"Tidak apa-apa..."

​"Yana, lu pikir kita main-main?" Cecil menggertak, membuat Yana tersentak. "Nggak bakal ada yang bantu lu nyontek atau kerja kelompok lagi kalau lu berurusan sama dia. Lu juga jangan mimpi bisa dapat pacar di sini!"

​Wajah Yana pias. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sangat sibuk membolak-balik buku teksnya yang sebenarnya sudah terbuka di halaman yang benar.

​Pak Andi masuk ke kelas, memecah kabut permusuhan yang masih menggantung. "Selamat siang, anak-anak!"

​"Siang, Pak...!" jawab kelas serempak, meski nadanya terasa hambar.

​Pak Andi menyesuaikan letak kacamatanya, matanya tertuju pada Yasmin yang masih berdiri kaku di tengah jalan. "Yasmin, kenapa tidak duduk?"

​Yasmin melirik Atikah. Sahabatnya itu memberinya tatapan maut selama beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan muka dengan angkuh.

​"E... saya... saya mau pindah tempat duduk, Pak."

​"Memangnya kenapa?"

​"E... Atikah... saya ingin duduk sendiri saja..."

​Pak Andi tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.

"Kalau begitu, duduk di depan saja, di depan meja Bapak. Yohan, Joni, kalian berdua pindah ke belakang."

​Kedua siswa itu berdiri tanpa protes, tapi mereka sempat memberikan cibiran pelan saat berpapasan dengan Yasmin. Yasmin duduk tepat di depan meja guru, tapi dia merasa sangat terekspos. Pak Andi tersenyum, sebuah senyuman yang terasa terlalu ramah dan mencurigakan.

​"Sekarang, keluarkan buku PR kalian..."

​Semua murid mulai merogoh tas. Pak Andi bangkit dari kursinya, mendekati meja Yasmin dengan langkah perlahan.

"Yasmin, coba Bapak lihat PR kamu?" tanyanya dengan suara yang lembut—terlalu lembut bagi seorang guru di depan kelas yang berisik.

​Cibiran dan decakan sinis terdengar dari bangku belakang. Yasmin memberikan bukunya dengan tangan gemetar. Pak Andi membuka halaman demi halaman, keningnya berkerut, tapi ada binar aneh di matanya.

​"Ayo semuanya, mana PR-nya?" Pak Andi berdehem, kembali ke mode formal.

​Tegar mengumpulkan buku-buku teman sekelasnya dan menyerahkannya ke meja guru. Sesi pembahasan dimulai. Reka dan Yohan diminta mengerjakan soal di depan, sebuah tugas yang disambut Reka dengan wajah cemberut.

​"Pak, kalau gitu buku saya, saya pinjam buat lihat soal," pinta Reka ketus.

​"Tidak perlu. Kerjakan saja sendiri. Kalau kalian menyontek, di sini akan ketahuan. Soalnya kan ada di buku cetak," jawab Pak Andi tegas.

​Reka melangkah maju, sesekali melirik sinis ke arah Pak Andi yang bukannya memperhatikan papan tulis, malah terus menatap ke arah Yasmin sambil sesekali tersenyum tipis.

​Sepulang sekolah, suasana kantor guru sudah mulai sepi. Yasmin berdiri di ambang pintu ruangan Pak Andi dengan perasaan tidak menentu.

​"Masuk, Yasmin. Saya sudah menunggu kamu," sambut Pak Andi. Ia duduk di balik meja besarnya, menyandarkan punggung dengan santai.

​Yasmin melangkah ragu, meremas tali tasnya. "E... kenapa Bapak meminta saya datang? Apa nilai saya begitu buruk sampai harus remidial?"

​Pak Andi tertawa kecil, suara yang entah mengapa membuat bulu kuduk Yasmin sedikit meremang.

"Kita kan belum ulangan. Ini tentang PR tadi. Kenapa kamu mengerjakannya dengan asal-asalan? Banyak yang kosong."

​"Oh... e... saya benar-benar tidak tahu jawabannya, Pak."

​"Harusnya kamu minta bantuan orang lain kalau memang kesulitan. Teman sebangku, misalnya?"

​Yasmin menunduk dalam, menatap ujung sepatunya. "Tidak ada yang mau membantu saya, Pak."

​Mendengar itu, wajah Pak Andi tampak berseri-seri, seolah itu adalah jawaban yang paling ia nantikan.

"Kalau begitu, saya akan bantu kamu. Bagaimana kalau kamu ambil les privat di rumah saya? Bapak punya banyak referensi soal di sana."

​"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk les privat," jawab Yasmin jujur.

​"Tidak mahal, Yasmin," Pak Andi condong ke depan, suaranya merendah dan intens. "Dibayar semampunya saja. Bapak hanya tidak tega melihat nilai murid secantik kamu jadi hancur. Saya tulus ingin membantu."

​Yasmin terdiam, merasakan tekanan yang tak kasat mata dari tawaran itu. "Saya... saya bicarakan dengan orang tua dulu ya, Pak."

​Pak Andi tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Yasmin, bilang pada orang tuamu, kamu bisa ga lulus kalau nggak privat... maksud Bapak, kalau nilaimu jelek. Biaya bukan masalah. Bapak, cuma mau bantu."

Tangan Yasmin semakin berkeringat. Dia mengangguk, mundur dan cepat-cepat pergi dengan jatung yang bertalu kencang.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!