menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 : di tengah hamparan bunga tak berujung
Setelah mendapatkan restu dan doa dari kedua orang tuanya, hati Elara terasa semakin ringan dan penuh kebahagiaan. Ia menggenggam tangan Xavier lebih erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Tempat suci ini telah memberikan ketenangan dan kepastian bagi mereka berdua, dan kini Elara ingin mengajak kekasihnya melihat satu tempat indah lainnya yang juga memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Elara dengan nada ceria, matanya berbinar-binar. "Tempat itu tidak jauh dari sini, dan sangat berbeda dengan lembah yang baru saja kita tinggalkan. Mari kita pergi ke sana."
"Baiklah, aku siap mengikutimu ke mana saja," jawab Xavier dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Keduanya kembali membentangkan sayap mereka dan terbang meninggalkan Lembah Keabadian. Perjalanan kali ini terasa lebih ringan dan menyenangkan, seolah angin pun berhembus dengan lembut untuk menyertai mereka. Mereka terbang tidak terlalu tinggi, sehingga bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas. Setelah beberapa saat terbang, pemandangan yang terlihat di depan membuat Xavier tertegun takjub.
Di hadapan mereka terbentang hamparan yang sangat luas, sejauh mata memandang, dipenuhi oleh bunga-bunga dari berbagai jenis dan warna. Ada bunga yang berwarna gelap namun bercahaya, ada pula yang berwarna cerah dan terang—semuanya tumbuh berpadu dengan indah, menciptakan permadani alam yang tak tertandingi keelokannya. Aroma harum yang menyegarkan tercium bahkan dari jarak yang cukup jauh, membuat siapa saja yang menciumnya merasa damai dan bahagia.
"Ini adalah hamparan bunga yang aku sebut sebagai Lautan Bunga," jelas Elara sambil terbang berdampingan dengan Xavier. "Tempat ini selalu ada di sini, tumbuh dan berkembang seiring dengan perasaan dan keadaan hatiku. Dulu, hanya ada bunga-bunga berwarna gelap dan sedikit sekali yang tumbuh, tapi kini lihatlah... semuanya tumbuh subur dan indah, seolah ikut merasakan kebahagiaanku."
Keduanya pun mendarat di tengah hamparan yang indah itu. Dan tepat di tengah-tengahnya, berdiri sebuah batu raksasa yang tingginya melebihi pohon-pohon terbesar. Bentuknya menyerupai sosok makhluk yang tegak dan kuat, namun seluruh permukaannya tertutup oleh bunga-bunga yang tumbuh rapat dan indah, sehingga sulit untuk melihat bentuk aslinya.
Begitu mereka menginjakkan kaki di tanah, sosok batu raksasa itu perlahan-lahan bergerak. Bunga-bunga yang menutupi tubuhnya bergeser dan bergerak mengikuti gerakannya, dan saat ia menundukkan tubuhnya, suara yang dalam namun lembut terdengar, bergema di seluruh hamparan bunga.
"Selamat datang, Ratu Elara... dan selamat datang juga padamu, Raja Xavier," ucap sosok itu dengan ramah. "Sudah lama sekali aku menunggu kedatangan kalian ke sini."
Elara tersenyum dan menoleh ke arah Xavier. "Ini adalah Guardiaflor, penjaga dan pelindung hamparan bunga ini. Ia telah ada di sini jauh sebelum aku lahir, dan selalu menjaga serta merawat segala sesuatu yang tumbuh di tempat ini."
"Terima kasih, Guardiaflor," jawab Elara. "Kami datang ke sini untuk beristirahat dan menikmati keindahan tempat ini bersamanya."
Guardiaflor menggerakkan kepalanya perlahan, seolah mengangguk. "Aku tahu segalanya, Yang Mulia. Meskipun tempat ini cukup jauh dari istana dan wilayah kerajaan lainnya, aku selalu bisa merasakan apa yang terjadi, dan aku selalu bisa merasakan perasaan dan keadaan hatimu. Selama ribuan tahun, aku hanya merasakan kesedihan, kesepian, dan rasa sakit dari dalam dirimu. Namun belakangan ini... aku merasakan kebahagiaan, kehangatan, dan harapan yang semakin hari semakin tumbuh besar."
Sosok batu raksasa itu menatap Xavier dengan tatapan yang dalam dan penuh perhatian.
"Aku juga tahu tentang dirimu, Raja Xavier. Aku tahu tentang segala usaha dan kesungguhan yang telah kau tunjukkan, dan aku tahu bahwa kehadiranmulah yang membawa perubahan yang indah ini. Aku ikut senang dan bahagia melihat hubungan kalian yang berjalan dengan baik dan penuh kasih sayang. Kalian berdua memang ditakdirkan untuk bersama, dan aku berharap kebahagiaan ini akan selalu menyertai kalian selamanya."
"Terima kasih banyak, Guardiaflor," ucap Xavier dengan rasa hormat dan terima kasih. "Kata-katamu sangat berharga bagi kami berdua."
"Nikmatilah waktumu di sini dengan tenang," lanjut Guardiaflor dengan suara yang lembut. "Tempat ini aman dan terlindungi, tidak ada yang akan mengganggu kalian. Aku akan berada di sini, dan akan menjaga kalian selama kalian berada di sini."
Setelah mengucapkan itu, Guardiaflor kembali diam dan tidak bergerak lagi, kembali menjadi seperti batu raksasa yang tertutup bunga, namun tetap ada dan siap melindungi kapan saja dibutuhkan.
Elara dan Xavier pun melangkah berjalan lebih jauh ke dalam hamparan bunga itu. Mereka berjalan melewati barisan bunga yang tinggi dan indah, hingga akhirnya mereka menemukan tempat yang lapang dan nyaman. Di sana, mereka berbaring berdampingan di atas hamparan bunga yang lembut, yang terasa selembut dan sehalus kain sutra.
Di atas mereka, langit terlihat sangat indah. Meskipun hari sudah mulai sore, langit di sini tidak menjadi gelap, melainkan berubah menjadi warna biru tua yang indah, dihiasi oleh bintang-bintang yang mulai bersinar terang dan jelas, seolah mereka bisa dijangkau hanya dengan mengulurkan tangan. Cahaya bintang itu jatuh menerpa hamparan bunga dan menimpa tubuh mereka, menciptakan suasana yang begitu damai, romantis, dan menenangkan.
Xavier memeluk tubuh Elara dengan lembut dan penuh kasih sayang, mendekatkannya ke dalam pelukannya agar mereka merasa lebih dekat satu sama lain. Elara pun bersandar di dada kekasihnya, mendengarkan detak jantungnya yang berirama teratur dan menenangkan, membuatnya merasa sangat aman dan nyaman, seolah tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih baik dari tempatnya saat ini.
Keduanya terdiam sejenak, menikmati kebersamaan dan keindahan yang ada di sekeliling mereka. Namun kemudian, Xavier membuka suara, suaranya terdengar lembut dan penuh harapan.
"Elara..." panggilnya pelan.
Elara mendongak, menatap wajah kekasihnya yang terlihat tampan dan tenang di bawah cahaya bintang. "Ya, Xavier? Ada apa?"
Xavier menatap matanya dalam-dalam, sambil terus memeluknya erat. "Setelah kita melaksanakan pernikahan kita, aku ingin mengajakmu pulang bersamaku ke Kerajaan Cahaya. Aku ingin mengajakmu berkeliling dan melihat-lihat seluruh wilayah kerajaanku, memperkenalkanmu pada segala sesuatu yang ada di sana, dan menunjukkan padamu semua tempat yang indah dan berharga bagiku."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut dan penuh perasaan.
"Aku ingin kau mengenal seluruh kehidupanku, dan aku ingin kau merasa bahwa kerajaanku itu juga adalah rumahmu sendiri, sama seperti kerajaanku adalah rumah bagiku. Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan di taman-taman yang dipenuhi bunga-bunga yang kau sukai, aku ingin mengajakmu melihat sungai-sungai yang airnya jernih dan mengalir dengan lembut, aku ingin mengajakmu melihat matahari terbit dan terbenam dari puncak bukit tertinggi di sana, dan aku ingin menunjukkan padamu segala hal yang membuatku bahagia, karena aku ingin kau juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama."
Wajah Xavier terlihat penuh harapan dan ketulusan saat ia berbicara.
"Selama ini, aku selalu datang dan mengunjungimu di sini, di tempat tinggalmu. Dan aku senang melakukannya, karena aku bisa melihat tempat di mana kau tumbuh dan hidup, dan aku bisa mengenalmu lebih dalam. Namun kini, aku juga ingin kau datang ke tempat tinggalku, agar kau bisa melihat dan mengenalku juga lebih dalam. Aku ingin kita saling mengenal seluruh bagian dari kehidupan satu sama lain, sehingga tidak ada lagi hal yang tersembunyi atau tidak diketahui antara kita berdua."
Elara mendengar setiap kata yang diucapkan Xavier dengan hati yang terasa semakin hangat dan bahagia. Air mata haru hampir mengalir di matanya, karena ia menyadari betapa perhatian dan cintanya orang ini padanya. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Xavier bukanlah sekadar ucapan belaka, melainkan sesuatu yang ia inginkan dengan sepenuh hatinya.
Ia tersenyum lembut, dan menatap Xavier dengan pandangan yang penuh cinta dan kepastian.
"Aku mau, Xavier..." jawabnya dengan suara yang lembut dan jelas. "Aku mau ikut bersamamu, dan aku mau melihat dan mengenal segala sesuatu yang ada di kerajaanku. Aku ingin melihat tempat di mana kau tumbuh dan dibesarkan, aku ingin melihat segala hal yang kau cintai dan kau banggakan, dan aku ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup dan berada di sana, bersamamu."
Elara merapatkan dirinya lebih dekat lagi ke dalam pelukan Xavier, dan melanjutkan dengan suara yang rendah namun jelas.
"Selama ini aku selalu merasa bahwa aku hanya memiliki satu rumah, yaitu tempat ini. Namun kini, aku menyadari bahwa rumahku tidak hanya di sini saja. Rumahku ada di mana pun kau berada, Xavier. Karena kau adalah bagian dari diriku, sama seperti aku adalah bagian dari dirimu. Jadi ke mana pun kau pergi, di mana pun kau berada, itu juga akan menjadi rumah bagiku."
Kata-kata itu membuat hati Xavier terasa penuh dengan rasa syukur dan cinta yang tak terhingga. Ia mencium kening Elara dengan lembut, dan memeluknya semakin erat, seolah ingin menyatukan dirinya dengan orang yang dicintainya itu.
"Terima kasih, Elara..." bisiknya. "Terima kasih telah menerimaku dan menerima segala hal yang ada dalam diriku. Aku berjanji, aku akan membuatmu merasa betah dan bahagia di sana, sama seperti aku merasa bahagia dan betah berada di sini bersamamu."
Di sekeliling mereka, bunga-bunga bergerak perlahan tertiup angin, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang ada di antara mereka. Di atas langit, bintang-bintang bersinar semakin terang, memberikan cahaya yang lembut dan menenangkan. Dan tidak jauh dari sana, Guardiaflor tetap berdiri tegak dan diam, menjaga kedamaian dan keamanan mereka berdua.
Di tengah hamparan bunga yang luas dan indah itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, mereka berbaring berdampingan, saling memeluk dan saling mencintai. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, dan masih ada banyak hal yang akan mereka jalani dan lalui bersama. Namun mereka juga tahu, bahwa selama mereka saling mencintai, saling memahami, dan saling mendukung satu sama lain, tidak ada apa pun yang tidak bisa mereka hadapi dan lewati bersama.
Dan di dalam hati mereka berdua, mereka menanti-nantikan hari pernikahan mereka, hari di mana mereka akan bersatu selamanya, dan memulai babak baru dalam hidup mereka yang akan dipenuhi dengan cinta, kedamaian, dan kebahagiaan yang abadi.
Bersambung...