Nissa adalah istri yang mengalami penderitaan pada pernikahan nya. Setelah menikah karena perjodohan itu, banyak sekali rintangan dalam pernikahan nya. Suami nya yang kejam, dingin dan selalu menyakiti hati nya. Kehadiran mantan pacar suami nya lah yang membuat pernikahan itu tak mampu ia jalani lagi. Nissa yang selalu diabaikan oleh sang suami, Bagaimana kah ia bisa bahagia?
.
.
.
Penasaran? Silahkan baca novel ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Azizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30 - MATA YANG INDAH
Pagi hari...suasana di rumah sakit semakin berisik membuat Nissa akhirnya terbangun. Nissa baru bisa tidur jam 3 subuh dini hari. Harry yang menenangkan Nissa tertidur lelap di kursi yang berada di depan kasur dimana Nissa tidur.
Harry selalu membantu Nissa sejak dulu, bahkan setelah ia menikah pun Harry juga membantu dirinya yang menyedihkan ini. Nissa memutuskan untuk mencari makan karena sejak malam tubuhnya belum menerima makanan apapun. Nissa pun keluar dan meninggalkan Harry yang tertidur dengan selimut yang ia selimuti di tubuh Harry.
Di lorong menuju kafetaria rumah sakit ada seorang gadis kecil berambut panjang, wajahnya seperti boneka dan terlihat sangat manis, gadis itu memegang lollipop yang besar dan terlihat kebingungan. Melihat hal itu, Nissa pun mendekati gadis kecil tersebut.
"Ada apa adik kecil? Kenapa berada disini sendirian?" Tanya Nissa lembut sambil merunduk untuk menyesuaikan tinggi mereka .
Nissa berbicara menggunakan bahasa Inggris melihat fitur wajah orang asing melekat di wajah gadis kecil itu.
"Kakak,apa kakak tahu di mana ruang pemeriksaan mata? Aku habis dari kafetaria...tapi aku lupa arah untuk kembali ke ruangan pemeriksaan mata" jawab gadis itu sedih.
"Ruang pemeriksaan mata ada di lantai 4, apa mau kakak antar ke ruangan itu?" Nissa menawarkan bantuan.
"Benarkah kakak akan membantu ku?" Tanya gadis itu tak percaya.
"Tentu saja! nama kakak Nissa, nama mu siapa dik?" tanya Nissa sambil tersenyum.
"Nama ku Angela" ucapnya sambil tersenyum.
"Apa kamu kesini sendirian? di mana orang tuamu?"
"Orang tuaku ada di Scotlandia, sekarang aku bersama paman untuk pemeriksaan"
"Oh begitu...ayo masuk ke lift, jika kita menaiki tangga akan sangat melelahkan" ujar Nissa.
"Benar juga" Angela pun tertawa.
Saat keluar dari lift Seorang pria berlari menuju Angela.
"Angel, Dieu merci, tu vas bien, j'avais peur que tu te perdes et que tu te perdes quelque part"
"Angel syukurlah kau baik - baik saja, aku takut kau akan hilang dan tersesat di suatu tempat" Ucap pria itu khawatir.
Kekhawatiran memenuhi wajahnya dan ada sedikit aksen yang cukup unik ketika ia berbicara. Dengan bahasa Prancis yang kental suara pria itu begitu memikat. Warna rambut nya cukup mencolok untuk ukuran orang Asia dan mata nya sangat biru seperti langit tanpa awan.
"Oh sorry, Terimakasih anda sudah mengantar angel kemari...Angel memang sering tersesat, ini pertama kalinya dia mengunjungi Asia jadi tidak terbiasa disini" ujar pria itu.
Aneh nya bahasa Inggris yang pria itu ucapkan pun sama menawan nya dengan aksen bahasa Perancis nya.
"Tidak masalah....saya senang bisa membantu Angela.....dia gadis yang manis" ucap Nissa tersenyum lembut.
Tiba - tiba saja dari arah depan ada sebuah kursi roda yang hilang kendali dan hendak menghantam Angela, dengan sigap Nissa menarik Angela ke pelukannya.
"Syukurlah....apa kau baik - baik saja?" Tanya Nissa pada Angela.
"Ya, terimakasih kak Nissa." ucap Angela tersenyum kembali.
"Sama - sama sayang" jawab Nissa dengan senyuman manis di wajahnya.
Tanpa Nissa sadari pria itu sejak tadi terus memandangi nya dengan terpaku. Mata biru pria itu mengembara di tubuh Nissa.
Ada apa dengan nya? Kenapa dia melihatku seperti itu?
"Your Eyes so Beautifull "
"Matamu sangat indah" Ucap pria itu tiba - tiba.
"Apa!?" Nissa terkejut.
"Ah! Sorry bukan bermaksud kurang ajar tapi mata anda sangat indah" ujarnya jujur.
"Terimakasih" jawab Nissa malu - malu.
Dengan sigap layaknya kebiasaan seorang gentleman eropa ia menunduk dan mengambil sebelah tangan Nissa.
"My Lady siapakah namamu?" Tanya pria itu pada Nissa.
"Nama saya Nissa tuan...tapi bisa tolong lepas tangan saya?" Nissa mulai merasa tidak nyaman.
"Baiklah" ucap pria itu dan sebelum ia meninggalkan tangan Nissa, pria itu mengecup tangan Nissa dan berkata...
"Salam kenal, kita akan bertemu lagi P-A-S-T-I"
Pria itu pergi dan meninggalkan Nissa yang terpaku dengan hal yang mendadak ia alami dalam sekejap mata nya itu.
Siapa dia? Dasar Playboy!! emang nggak liat di jariku sudah ada cincinnya gini, emang deh kayaknya tu playboy suka nya sama istri orang, Kasian Angela punya paman seperti itu.
Di Rumah Andhika.......
"Kemana Nissa? Apa kalian tidak tahu dia pergi ke mana?!!"
Andhika benar - benar murka kepada semua pelayan di rumahnya. Tidak ada satupun yang tahu dimana keberadaan Nissa. Wajar saja jika mereka tidak ada yang tahu, mengingat tengah malam buta Nissa pergi keluar dengan motor nya. Dan mereka semua tahu bahwa ini adalah ulah tuan mereka sendiri sehingga nyonya rumah ini harus keluar dari rumah.
"Aku menggaji kalian bukan hanya sekedar memperkerjakan kalian atas hal di rumah ini, tapi juga terhadap Nyonya rumah ini!!"
Andhika semakin marah. Sejak Nissa pergi tadi malam, Andhika tak bisa tidur, ia pun tak berani untuk menelfon Nissa dan meminta maaf. Telfon dari Ros juga ia abaikan sejak pagi ini. Andhika tahu yang menelfon nya pasti lah William.
"Sial!! kemana sih perginya wanita itu!!" Andhika meneriaki kata - kata yang menurut para pelayan disana itu sangat tidak pantas diucapkan.
Suara langkah kaki memasuki rumah, Andhika segera berlari ke ruang tamu berharap itu adalah Nissa. Ternyata.....
"Boss!! selamat pagi, saya datang menjemput bos, untuk rapat bulanan, dalam 40 menit lagi rapat akan dimulai, karena anda tidak juga datang saya merasa harus menjemput anda" ucap sekertaris Lucas.
"Ya! aku akan bersiap - siap" Ada nada kecewa di suara Andhika.
"Apa ada masalah Boss?" Tanya Lucas melihat Boss nya bertingkah tidak seperti biasanya.
"Apa kau bisa menyelidiki kemana istriku pergi?" Tanya Andhika.
"Apa Nyonya pergi ? Sejak kapan sudah berapa lama?" Tanya Lucas.
"Dia pergi sejak tengah malam dan sekarang belum pulang juga ke rumah".
"Baik akan saya coba cari tahu" Jawab Lucas.
****
Karena tidak memiliki tujuan, dan cuti sakitnya masih berlaku, Nissa memutuskan untuk pergi mengunjungi orang tuanya.
tok....tok....tok
"Mama" ucap Nissa.
Mendengar suara Nissa dari dapur, ibu Nissa segera berlari dan meninggalkan potongan sayur yang akan ia masak.
"Nissa, apa kabar nak? Mama kangen banget sama kamu" ibu Nissa segera memeluk Nissa dengan erat.
"Kamu sendirian sayang?" tanya ibu nya.
"Iya ma, Nissa lagi kepingin makan gudeg Buatan mama" jawab Nissa.
"Baiklah akan mama buatkan yang banyak untuk anak mama tersayang" ibu Nissa enggan melepaskan pelukannya pada Nissa.
"Ayah di mana ma?" tanya Nissa.
"Ayah sedang mengurus aset pemindahan surat cabang perusahaan, ayah mu sekarang sedang di Singapura" jawab ibunya.
"Kamu sendirian? Kemana Andhika, padahal mama kepingin liat menantu mama" ucap ibunya.
"Yah, mama kan tahu sendiri Andhika sibuk banget" ucap Nissa lirih.
"Lain kali bawa dia ya, mama suka banget kalian sering - sering datang ke rumah" ucap ibunya.
"oh iya sayang, apa kamu tidak kerja hari ini ?" tanya ibu nya lagi.
"Nissa lagi cuti sakit ma"
"Apa!? Sakit apa kamu nak?" tanya ibu nya khawatir.
"Biasa ma, Maag ku kambuh" ucap Nissa sambil tertawa.
"Lalu kenapa kamu tidak istirahat saja?"
"Nissa suka makanan mama, makanya Nissa ke rumah mama mau makan....di rumah rasa makanan tidak sama seperti yang mama masak" jawab Nissa.
Ibu Nissa merasakan kecurigaan yang besar karena Nissa berusaha untuk tidak menceritakan tentang Andhika maupun rumahnya. Ia kenal putri nya, putrinya yang selalu optimis dan ceria setelah ia menikah ada yang berbeda darinya, ia tak tahu apa yang telah putrinya alami tapi yang pasti Nissa yang dulu sudah tidak ada lagi.
-bersambung-
"Ibu adalah orang yang akan selalu tahu apapun masalah mu dan ia akan selalu jadi orang yang akan selalu menyayangimu meski apapun yang telah kamu lakukan padanya telah menyakiti hatinya."