Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pecahnya Topeng Kesabaran, Pengakuan Tak Terduga, dan Batas Akhir
Aiswa melangkah keluar dari restoran itu dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Rasa sesak yang menghimpit dadanya kali ini terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada saat dia dan Aditya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka kemarin.
Dituduh berselingkuh dan bermain api di belakang oleh orang yang selama bertahun-tahun ia jaga perasaannya, benar-benar meremukkan sisa-sisa ketegaran Aiswa.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh tanpa bisa dicegah. Langkah kakinya yang tergesa-gesa membawa tubuhnya ke area parkir restoran. Namun, baru beberapa meter melangkah, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya, menahan pergerakannya.
Aiswa menoleh dengan sisa-sisa pandangan yang mengabur oleh air mata. Di hadapannya, Devan berdiri tegak. Wajah pria itu tampak sedingin es dan setajam silet. Tidak ada riak empati atau kelembutan sedikit pun di wajah sang CEO, meskipun ia dengan jelas melihat Aiswa sedang menangis sesenggukan di depannya.
"Saya antar pulang," ucap Devan dengan nada suara yang datar dan dingin.
Aiswa tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terlalu tercekat oleh tangis. Dalam kondisi mental yang lelah dan berantakan, tubuh mungilnya hanya bisa pasrah menurut saat Devan menuntunnya menuju mobil mewah pria itu.
Namun, tepat ketika Devan hendak membukakan pintu penumpang, sebuah suara yang terengah-engah kembali memanggil nama gadis itu dari arah belakang.
"Aiswa!"
Itu Aditya. Pria itu berlari mengejar mereka dari dalam restoran dengan wajah yang dipenuhi kepanikan.
"Aiswa, mas... mas mohon maaf. Mas terbawa emosi tadi sampai berpikir yang enggak-enggak tentang kamu dan Tuan..."
Ucapan Aditya mendadak terhenti di udara, tenggorokannya mendadak kering saat sepasang mata elang milik Devan Argian menghunus langsung ke arah manik matanya. Ada aura membunuh yang begitu pekat terpancar dari tatapan pria matang itu.
Aditya menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa kini menghantam dadanya, terlebih saat ia menyaksikan langsung wajah kecewa dan air mata dari gadis yang sebenarnya masih sangat ia cintai itu.
"Aiswa... Mas benar-benar minta maaf, ya?" ucap Aditya lagi, kali ini dengan nada suara yang jauh lebih lembut dan memohon, mencoba meraih kembali hati gadisnya.
Aiswa menarik napasnya dalam-dalam, berusaha keras meredam suara sesenggukannya agar terdengar lebih stabil.
Aiswa menatap lurus ke arah Aditya. Ia bisa melihat dengan jelas guratan penyesalan yang mendalam di wajah mantan kekasihnya itu. Tapi, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Luka yang digoreskan oleh tuduhan buta tadi terlanjur terlalu dalam.
"Kita sudah selesai, Mas. Dan mungkin... ini memang keputusan yang terbaik untuk kita berdua," ucap Aiswa, suaranya terdengar bergetar namun ada ketegasan di dalamnya.
Mendengar penolakan itu, Aditya perlahan mengulurkan tangannya, berniat untuk meraih dan menggenggam jemari Aiswa demi meminta pengampunan.
Melihat pergerakan tangan itu, rahang Devan di samping Aiswa seketika mengeras sempurna, kepalan tangannya di sisi tubuh mengetat, siap untuk melayangkan pukulan kapan saja.
Namun, sebuah tindakan tak terduga justru dilakukan oleh Aiswa. Sebelum jemari Aditya sempat menyentuh kulitnya, Aiswa dengan sengaja menggeser langkah kakinya satu langkah ke samping, menghindari kontak fisik tersebut.
Aiswa menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia membalas tatapan Aditya dengan pandangan mata yang dingin dan menusuk, sebuah tatapan yang membuat Aditya mendadak merasa sangat asing dan tidak nyaman.
Aiswa yang biasanya lembut, ramah, dan selalu tersenyum manis, kini terlihat seperti orang lain.
Sebenarnya, bukan Aiswa berubah menjadi orang lain. Hanya saja, selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Aditya, Aiswa selalu menahan diri. Sebagai seorang guru TK, dia selalu berusaha menjaga image, membatasi sikap, dan memaksakan dirinya untuk menjadi wanita yang tenang, lemah lembut, dan selalu sopan seperti yang Aditya inginkan.
Padahal, jika mode tantrum dan emosinya sudah keluar, kelakuan Aiswa bisa berada di luar nalar.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, Aditya dipaksa melihat sisi lain dari seorang Aiswa yang selama ini tersembunyi rapat.
"Mas, sudah ya... aku capek," ujar Aiswa, nadanya terdengar begitu lelah lahir dan batin.
"Aku sudah berusaha keras untuk berdamai dengan keputusan putus ini, keputusan yang mau nggak mau harus aku terima dengan lapang dada. Kenapa? Semuanya demi keadaan agar tetap baik-baik saja! Supaya karier kamu tetap aman, dan begitu juga dengan keluarga aku!"
Aiswa mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Sejauh ini, aku cuma pengen kita tetap berhubungan baik meskipun udah nggak sama-sama lagi. Di mata aku, kamu itu tetap menjadi sosok lelaki baik yang pernah aku kenal, lelaki yang selalu percaya sama aku. Tapi hari ini... dengan tuduhan kamu yang merendahkan aku seperti tadi, rasanya sakit banget, Mas."
"Oke, iya! Aku memang menyuapi Pak Devan tadi di dalam. Tapi itu murni spontanitas karena dia engga makan sedangkan aku makan sendiri, kamu tahu kan aku paling gabisa begitu."
Aditya tentu tahu itu. Ketika sedang makan bersama Aiswa memang suka sekali menyuapi orang-orang yang makan bersama dengannya.
"Dia sudah menolong aku tadi karena ada yang sempat mau nindas aku, dan dia juga mau mengantarkan aku pulang sekarang. Dan lagipula... bukankah kamu sendiri yang kemarin melepaskan aku supaya aku menikah dengan dia?!"
Kalimat itu mengalir deras dari bibir Aiswa, menjadi sebuah skakmat emosional yang telak bagi Aditya.
Aditya seketika bungkam seribu bahasa. Pria itu merasa seperti ditampar keras oleh kenyataan yang keluar dari mulut mantan kekasihnya sendiri.
Karena bagaimanapun, keadaan dan faktanya memang sekejam itu. Dialah yang menyerah terlebih dahulu demi menyelamatkan perusahaannya sendiri.
"Dan kalaupun sekarang aku menyuapi dia makan," Aiswa menjeda kalimatnya, menatap Aditya dengan pandangan menantang.
"Bukankah menyuapi calon suami sendiri itu bukan suatu hal yang salah?"
Deg!
Kali ini, bukan hanya Aditya yang terkejut, melainkan Devan yang berdiri di samping gadis itu pun dibuat tersentak hebat di tempatnya.
Devan menoleh cepat, menatap Aiswa dengan binar mata yang mendadak berubah intens.
Aiswa bilang apa tadi? Calon suami? Padahal sejak pagi buta tadi, gadis itu memprotesnya habis-habisan, bahkan sampai nekat datang melabrak ke kantornya hanya karena tidak terima dengan klaim sepihak yang Devan berikan. Namun sekarang, di depan mantan kekasihnya, Aiswa justru mengakui status itu dengan lantang.
Seketika, rasa puas dan kemenangan mutlak membubung tinggi di dalam dada seorang Devan Argian.
"Tapi asal kamu tahu ya, Mas," lanjut Aiswa, suaranya kembali mendingin.
"Aku nggak pernah main belakang selama kita masih ada hubungan. Aku nggak pernah dekat dengan cowok manapun... kecuali, kalau ada orang gila yang memaksa buat dekat dengan cara-cara yang di luar nalar."
Aiswa mengalihkan lirikannya tajam ke arah Devan yang berada di sampingnya. Yang disindir tentu saja hanya memasang wajah datar tanpa dosa.
Aiswa kembali menatap Aditya, menghela napasnya yang terasa berat.
"Terima kasih untuk segala hal baik yang sudah kamu kasih selama ini, Mas. Semoga kamu bahagia."
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan yang final itu, Aiswa langsung membalikkan badannya untuk berlalu pergi. Namun, lagi-lagi Devan menahan pergelangan tangannya.
"Pulang dengan saya," tegas Devan, nadanya mutlak tidak menerima penolakan.
Aiswa yang emosinya sudah berada di ubun-ubun langsung menyentak kasar cekalan tangan Devan hingga terlepas.
"Bapak juga sama aja! Hari ini saya juga kesel banget sama Bapak, tahu nggak?!"
Aiswa bahkan dengan berani mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Devan.
Tindakan berani itu sempat membuat Aditya yang melihatnya tertegun. Untuk pertama kalinya, dia melihat ada seorang perempuan yang berani menunjuk-nunjuk wajah seorang Tuan Muda Argian dengan begitu emosional.
"Jangan ganggu saya dulu! Saya mau sendiri!" seru Aiswa frustrasi.
Namun, bukan Devan Argian namanya jika dia mau menerima penolakan begitu saja dari barang miliknya.
"Pulang dengan saya baik-baik, atau saya akan paksa kamu dengan cara saya," ancam Devan dengan suara baritonnya yang dingin dan tidak terbantahkan.
Aiswa kembali mundur, melepaskan sisa-sisa jangkauan Devan.
"Ancam aja terus! Ancam terus sampai puas! Capek saya, Pak! Mas Aditya menuduh saya yang enggak-enggak, sekarang Bapak lagi-lagi mengancam saya terus dari tadi. Kok kalian berdua ya... nggak punya hati sedikit aja sih sama perempuan? Saya ini lagi sedih, loh! Lagi nangis!"
Aiswa meluapkan seluruh kekesalannya sambil air matanya kembali mengalir deras. Tapi meski begitu, Devan tetap berdiri teguh pada pendiriannya, tidak bergeser seinci pun.
Sampai akhirnya, sebuah suara pekikan nyaring dari arah koridor parkiran membuat atensi mereka bertiga teralihkan seketika.
"Aiswa?! Ya ampun, Lo... Lo kenapa nangis begini?!"
Shena, yang tadi pagi gagal menemui Aiswa di kantor Devan karena tidak memiliki akses masuk, akhirnya memilih untuk datang ke restoran Nusantara ini demi mengisi perutnya yang lapar.
Kebetulan, dia memang sudah membuat janji temu dengan pacarnya di tempat yang sama. Namun, siapa yang menyangka kalau dia justru akan disuguhi pemandangan fiksiana di mana sahabatnya sedang menangis hebat di area parkir diapit oleh dua orang pria.
Melihat kehadiran sahabat dekatnya, pertahanan Aiswa runtuh total. Tanpa mempedulikan Devan ataupun Aditya, Aiswa langsung berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan Shena, menumpahkan segala tangisnya di pundak sang sahabat.
Aksi mereka berdua tak pelak sempat menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung restoran yang berlalu-lalang di sekitar parkiran.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, Devan dengan cepat bergerak membukakan pintu penumpang mobilnya yang luas.
"Tenangkan dia di dalam," perintah Devan singkat namun sarat akan otoritas kepada Shena.
Shena yang langsung peka dengan situasi genting dan berbahaya tersebut hanya bisa menelan ludah melihat sosok menakutkan Devan secara langsung.
Tanpa banyak nanya, ia segera menuntun tubuh Aiswa yang masih sesenggukan untuk masuk dan duduk di dalam mobil mewah tersebut.
Setelah pintu mobil penumpang tertutup rapat, Devan perlahan membalikkan tubuhnya. Ia berjalan mendekat ke arah Aditya yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Devan menatap pria di hadapannya itu dengan pandangan yang teramat dingin, seolah-olah sedang melihat seonggok sampah yang tidak berharga.
"Saya mau... Anda jangan pernah berani memunculkan wajah bodoh Anda lagi di hadapan saya, ataupun di hadapan Aiswa mulai detik ini," desis Devan dengan nada suara yang rendah namun mampu mengirimkan sensasi dingin yang mengerikan ke tulang belakang Aditya.
"Kalau Anda masih nekat melanggarnya..."
Devan menggantung kalimatnya sejenak, memberikan senyuman miring yang begitu mengintimidasi.
"Anda tidak akan pernah bisa membayangkan hal buruk apa saja yang akan terjadi pada kelangsungan hidup kamu setelah ini."
Setelah menjatuhkan ancaman final yang sukses membuat Aditya terdiam membeku dengan wajah yang pucat pasi, Devan langsung berbalik memunggungi pria itu.
Dengan langkah tegap dan berwibawa, sang CEO masuk ke dalam mobilnya di kursi kemudi, menutup pintunya dengan dentuman keras, lalu melajukan kendaraan mewah tersebut membelah jalanan, meninggalkan Aditya yang masih terpaku dalam penyesalan yang tak berujung.