Seraphine Grey meminta ibu dari Damien Knox untuk menjodohkan mereka berdua karena ia tahu Damien tidak bisa menolak permintaan ibunya. Dari dulu Sera sudah mencintai Damien, namun bahkan hingga tiga tahun pernikahan mereka perasaannya tidak terbalas sedikitpun.
Damien hanya mencintai satu wanita. Saat wanita itu kembali, Damien dengan tega membawanya ke dalam rumah pernikahan mereka. Sera meninggal tragis saat mencoba menjauhkan wanita itu dari Damien.
Tuhan memberinya kesempatan kedua. Sera kembali ke malam pertama pernikahan mereka. Rasa sakit yang Sera dapatkan selama menikah dengan Damien membuat Sera tidak lagi mengemis cintanya. Sera ingin secepatnya pergi namun fakta baru yang didapatkan tentang benang kusut antara Sera, Damien, dan mantan kekasih Damien yang tak pernah terurai membuatnya ragu. Apakah Sera akan tetap pergi atau mengurai misteri yang ada bersama Damien?
✯
Cerita ini murni ide penulis, kesamaan nama tokoh dan tempat hanyalah karangan belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Nah, karena kamu sudah setuju kita bekerjasama, aku sudah punya rencana yang bagus untuk menyelidiki mereka.” Kata Sera tersenyum sumringah.
“Rencana apa?” Tanya Damien datar, ia merasa senyum Sera terlalu lebar di situasi seperti ini dan itu memberinya perasaan tidak nyaman.
“Aku akan menyusup ke perusahaan Ezra, kalau memungkinkan ke rumahnya juga. Laura sedang mencari cara agar aku bisa kesana.”
“Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Ezra sahabatku, mudah bagiku masuk ke rumahnya.” Damien langsung menolak rencana itu.
“Terus aku harus melakukan apa?” Tanya Sera agak kesal.
“Diam di rumah.” Jawab Damien santai.
“Nggak akan, aku akan buat rencana baru.” Kata Sera cemberut.
“Seperti datang ke apartemen Noah dan berakhir di kejar wartawan?” Ejek Damien tersenyum miring.
Sera melotot, wajahnya memerah karena malu mengingat kejadian itu.
“Semua itu gara-gara kamu, aku hanya mengancamnya supaya mau menjelaskan situasinya agar kamu tidak jadi menceraikanku.” Delik Sera, melimpahkan kesalahan pada Damien.
“Kalau begitu beritahu aku rencanamu?” Damien melipat tangannya di dada. “Kuharap bukan rencana bodoh lagi,”
“Rencanaku nggak bodoh,”
“Datang ke rumah besar Knox lalu membiarkan siapapun masuk dan berakhir dengan rumor perselingkuhan. Kalau bukan rencana bodoh terus apa?”
Sera menggertakkan giginya, ia ingin membalas tetapi yang Damien katakan semuanya benar. Ia terlalu ceroboh dan membuat dirinya sendiri susah.
“Sudahlah, Sera. Kamu di rumah saja,” Damien berdiri sambil terus tersenyum. “Selesai sarapan kamu harus pergi.”
“Yaa.” Sera mengangguk, memperhatikan Damien yang kembali ke lantai dua.
Damien naik ke lantai dua untuk bersiap-siap pergi ke kantor, Sera membereskan meja makan, setelah itu ia pun keluar dari rumah tersebut. Damien benar, untuk sementara biarlah Aurel percaya kalau Damien tidak tahu apa-apa.
Karena mobil Sera masih sama Laura, jadi Sera naik taksi ke apartemen Laura.
Sesampainya di apartemen Laura, Sera langsung masuk ke dalam. Laura sudah memberikan kode pintunya, jadi Sera bisa datang kapanpun dia mau.
Di Atas meja makan, Sera menemukan notes yang ditinggalkan oleh Laura : Sera, aku akan sibuk di kantor sampai tengah malam. Di kamarku ada amplop, kamu buka saja itu. Ada dua pilihan disana, menyusup ke lingkaran Ezra atau menyusup ke hidup Aurel.
Sera tersenyum membacanya. Lagipula kalau ia melakukan penyamaran tidak akan ada yang tahu, termasuk Damien. Ia bisa pulang ke rumah itu satu hari menjelang weekend, bertemu Damien dan setelah Damien pergi, ia bisa melakukan penyamaran ini.
“Karena Damien bisa menyelidiki Ezra dengan mudah, aku ambil tugas menyusup ke hidup Aurel.” Gumam Sera memutuskan, melipat notes itu kemudian bergegas ke kamar Laura.
Di atas ranjang tergeletak map coklat, Sera mengambil dan membukanya. Ternyata isinya lowongan pekerjaan sebagai pekerja bersih-bersih setiap hari Senin dan Kamis di rumah Aurel. Satu lagi lowongan pekerjaan untuk bekerja di perusahaan Ezra.
Tanpa pikir panjang Sera menghubungi nomor yang tertera di sana. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, memastikan deretan angka itu benar. Jarinya sempat bergetar saat menekan tombol panggil, seolah keputusan kecil itu memuat harapan yang terlalu besar.
Nada sambung terdengar. Satu. Dua. Tiga.
Ia menarik nafas, merapikan nada suaranya, menyingkirkan gugup yang mengendap di dada.
“Halo…” ucapnya akhirnya ketika panggilan tersambung, suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia rencanakan. “Selamat siang. Maaf mengganggu, saya menelepon terkait lowongan pekerjaan yang tertera…”
Ia berdiri dari kursi, berjalan pelan ke dekat jendela, matanya menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Di sela-sela percakapan, ia mengangguk sendiri, mencatat apa yang harus disampaikan, berharap suaranya cukup meyakinkan untuk mewakili dirinya.
Sera menghela nafas lega saat lawan bicaranya di seberang telepon setuju menerima bekerja sebagai petugas bersih-bersih dua kali seminggu. Bayaran yang diterima cukup besar, tapi tujuan Sera jelas bukan uang itu melainkan kesempatan untuk masuk ke rumah Aurelia Vale.
......
Dua hari kemudian, ia berdiri di depan sebuah rumah besar yang menjulang tenang di balik pagar besi tinggi. Bangunannya tampak megah, menyesuaikan tali tas sederhana di bahunya sebelum menekan bel pintu.
“Jangan gugup, Sera.” Gumam Sera menekan wajahnya yang sudah dilapisi topeng kulit seolah meyakinkan dirinya sendiri Aurel tidak akan mengetahui penyamarannya.
Pintu terbuka, memperlihatkan interior yang luas dan berkilau. Aroma bersih dan mahal menyambutnya, perpaduan wangi bunga segar dan lantai marmer yang baru dipoles.
Tak lama kemudian, seorang wanita muncul dari ujung lorong. Tubuhnya ramping meski perutnya membulat menandakan kehamilan. Gaun rumah berpotongan sederhana melekat anggun di tubuhnya, menegaskan siluet seorang model kelas dunia yang terbiasa dilihat kamera. Wajahnya cantik nyaris sempurna, garis rahangnya tegas, sorot matanya tajam dan angkuh, jenis kecantikan yang membuat orang lain otomatis merapikan sikap. Dialah Aurelia Vale.
Aurel memandangnya sekilas, dari kepala hingga ujung sepatu, tanpa senyum.
“Kamu yang datang untuk pekerjaan itu?” tanyanya, suaranya tenang namun berjarak.
“I-iya, Nona. Saya Bella, orang yang menelpon anda dua hari lalu.” kata Sera sambil mengangguk cepat, menjawab dengan sopan, berusaha menahan gugup.
“Mulai hari ini,” lanjut Aurel, berbalik tanpa menunggu jawaban. “Aku ingin semuanya rapi. Jangan menyentuh barang-barang pribadiku tanpa izin.”
“Baik Nona Aurel.” Sera mengikuti langkah wanita itu menyusuri rumah besar tersebut. Di setiap sudut yang harus dibersihkan, ia merasakan tekanan yang tak tertulis, bahwa pekerjaan ini bukan sekadar soal debu dan lantai, melainkan tentang mencari sebuah bukti yang akan menyelamatkan Adelina.
Aurel berhenti di tengah ruang utama, lalu berbalik menghadapnya. Tangannya yang ramping bertumpu ringan di perutnya yang membulat, gerakannya tenang, seolah kehamilan tak sedikitpun mengurangi wibawa yang ia miliki.
“Dengar baik-baik,” katanya, nada suaranya datar dan tegas. “Aku tidak suka mengulang.”
Ia menunjuk ke arah ruang keluarga yang luas dengan sofa berwarna pucat dan meja kaca mengkilap. “Ruang ini dibersihkan setiap kamu datang. Jendela, meja, lantai dan semuanya.”
Lalu langkahnya beralih ke dapur yang modern dan tertata rapi. “Dapur dibersihkan setelah aku selesai memakainya. Jangan mengubah posisi apa pun. Jika ada yang rusak, laporkan. Jangan mencoba memperbaiki sendiri.”
Mereka melewati lorong panjang menuju beberapa pintu kamar. Ia menunjuk dua pintu di sisi kiri. “Kamar tamu dan kamar pembantu. Itu tanggung jawabmu. Sprei diganti dua kali seminggu.”
Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gelap di ujung lorong. Ekspresinya mengeras, sorot matanya menjadi lebih tajam. “Ini kamar kerjaku. Kamu tidak masuk ke sini. Jangan pernah. Bahkan jika pintunya terbuka.”
Dalam hati Sera menanamkan pintu ini sebagai ruangan yang harus ia periksa, pasti ada sesuatu di dalamnya.
“Dan ruangan itu abaikan saja keberadaannya. Jangan bertanya, jangan membersihkan, jangan mendekat.” kata Aurel menunjuk pintu lain yang letaknya terpisah, lebih tersembunyi.
Sera mengangguk, berpura-pura mengerti dan mematuhi.
“Selama kamu mengikuti aturanku,” lanjut Aurel, melangkah pergi, “kita tidak akan punya masalah.”
Wanita itu masuk ke ruangan kerjanya tanpa peduli lagi dengan keberadaan Sera.
“Pantas saja Damien cinta mati sama dia, ternyata sifat mereka hampir sama.” Gumam Sera mulai membersihkan rumah tersebut sambil mencari kesempatan untuk menyelimuti masuk ke ruangan yang dilarang oleh Aurel.
...✯✯✯...
...like, komen dan vote 💗...
padahal hubungan demien sama Sera baru di mulai😩