Risa Saraswati, gadis manis yang duduk di bangku kuliah semester 6 selalu dicari oleh siapapun penghuni kampus, tidak lain karena ingin membeli seblak buatan Risa dan harus pesan lebih dulu 2-3 hari sebelum pesanan diterima oleh mereka. Seblak Risa memang terkenal rasanya enak dengan berbagai pilihan toping, sehingga tidak sulit baginya untuk memasarkan di lingkungan kampus.
Hingga pada suatu saat kehidupan Risa berubah menjadi seorang pengusaha kuliner dan dinikahi oleh seorang CEO dari perusahaan ternama di ibukota.
Adit, pria tampan yang memiliki karir cemerlang sebagai CEO perusahaan besar. Dia memiliki seorang kekasih berprofesi sebagai model cantik yang hanya memikirkan karirnya saja dan mengutamakan dirinya sendiri. Walaupun demikian pada akhirnya Adit berjumpa dengan gadis manis penjual seblak yang akhirnya mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.
Apakah kehidupan rumah tangga Risa akan bahagia serta karirnya semakin cemerlang setelah berumah tangga ? Readers kesayangan silahkan simak kisah Risa selanjutnya ya. Jangan lupa beri like, komentar serta vote untuk author … Supaya author selalu semangat dalam menulis kelanjutan kisahnya.
Happy reading … :-)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurrul P., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30. Mundur
"Sial ... !! ternyata dia sudah bertunangan. Mengapa selama ini dia tidak pernah bercerita kalau sudah punya tunangan? Sungguh bodohnya diriku ini !" ucap Adit seraya mengepalkan tangannya dan memukul meja di ruangan kerjanya hingga mengeluarkan suara gebrakan yang keras.
Wajahnya menahan rasa marah dan menyesali dirinya mengapa dia tidak segera mengatakan suka pada Risa. Semua telah terlambat, dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memiliki gadis itu. Impiannya telah sirna begitu saja.
"Aaarrrgghhh ... !!" Mulut Adit berteriak kencang melepaskan kekesalan dirinya. Rambutnya diacak-acak sendiri, kemejanya juga sudah tak beraturan. Akhirnya diapun merebahkan dirinya di sofa ruang kerjanya dan matanya pun terpejam, rupanya Adit lelah setelah meluapkan emosinya hingga ia tertidur.
Pak Tono, sekuriti yang sedang berjaga malam itu mendengar suara gaduh dari ruangan Adit, segera mendekati ruangan atasannya itu. Pak Tono mengintip dari celah jendela dan dia melihat atasannya sedang tertidur pulas dengan kondisi amburadul tidak karuan. Dia tidak berani membangunkan Adit, akhirnya menelpon Bara untuk datang ke kantor dan menceritakan apa yang terjadi pada Adit.
Kurang dari setengah jam akhirnya Bara tiba di kantor dan memasuki ruangan Adit. Bara nampak terkejut melihat kondisi Adit yang berantakan dan tidur di sofa.
"Kak ... Bangun kak!" Bara membangunkan Adit yang masih tertidur. Meskipun usia Bara lebih tua, namun dia tetap memanggil kakak pada Adit karena pak Rendra adalah kakak dari papanya Bara.
Adit membuka matanya perlahan-lahan dan dia terkejut melihat kondisi dirinya sendiri. Bara mendekat dan memberi segelas air putih untuk Adit supaya diminum.
"Mengapa malam-malam tidur di kantor dalam kondisi seperti ini?" tanya Bara penasaran.
Adit hanya diam mengingat kejadian yang telah dia alami seharian ini, terutama tentang Risa.
"Ayo kita pulang, nanti saja di hotel kalau ingin cerita!" ajak Bara dan diikuti langkahnya dengan Adit, yang sebelumnya Adit sudah merapikan kemeja dan rambutnya terlebih dahulu.
Setelah didalam mobil, Bara segera menyetir dan mengarahkan ke hotel keluarga tempat mereka menginap.
"Mandilah dulu, bersihkan tubuhmu yang berantakan itu. Memalukan saja seorang CEO muda kondisinya seperti orang yang memiliki masa depan suram!" oceh Bara pada Adit.
Sambil menunggu Adit selesai mandi, Bara menyiapkan makanan di meja karena dia yakin Adit pasti belum makan malam.
Tidak lama kemudian Adit muncul dari kamar memakai pakaian tidur, dia duduk di meja makan bersama Bara. "Makanlah dulu, pasti belum makan malam kan? Aku buatkan teh hangat untukmu, minumlah ini juga!" ucap Bara yang begitu perhatian pada sepupunya itu.
Adit segera minum teh hangat dan makan malam ditemani oleh Bara yang duduk di dekatnya.
Adit nampak begitu lahap menyantap makanan buatan Bara.
"Itu lapar apa doyan?" ejek Bara sambil tertawa cekikikan.
"Lapar," jawab Adit singkat sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Memangnya tadi habis maraton ya, sampai kelaparan begitu?" sekali lagi Bara menggoda sepupunya itu. Namun tak dihiraukan oleh Adit.
"Aku lebih baik mundur saja, percuma dilanjutkan karena semua sia-sia saja!" ucap Adit setelah menghabiskan segelas air putih.
"Bicara apa kamu itu kak, mundur dari apa?" tanya Bara penasaran sambil memandang Adit menunggu jawaban.
"Aku telah kehilangan gadis itu... Selama ini aku pendam perasaan ini dan akan aku katakan padanya di hari yang tepat. Namun semuanya sirna..!" cerita Adit dengan sorot matanya yang kosong.
"Siapa gadis itu?" tanya Bara.
"Dia ..." jawab Adit pelan sambil memandang foto di ponselnya.
" Ya ampun ternyata selama ini dirimu memendam perasaan pada Risa kak!?" tanya Bara terkejut.
Adit mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya sudah bilang saja ke Risa tentang perasaan kakak selama ini. Lalu masalahnya apa hingga dirimu jadi berantakan begini?" ucap Bara dengan menunjukkan wajah serius meskipun sambil mengunyah keripik singkong.
"Tadinya aku masih ragu terhadap perasaanku sendiri, tapi lama-lama aku yakin bahwa aku memang mencintai Risa. Namun ternyata sia-sia sudah, Risa sudah bertunangan dengan pemuda yang bernama Rohman. Apalagi ibunya Risa mengundang aku untuk datang ke pernikahan Risa dengan Rohman bulan depan..." Adit bercerita dengan wajah lesu.
"Oh begitu ceritanya, tapi apakah Risa juga mencintai pemuda itu?" tanya Bara.
"Pastinya Risa juga mencintai pemuda itu. Buktinya mereka akan menikah bulan depan," jawab Adit penuh keyakinan.
"Kak, belum tentu Risa juga mencintai pemuda itu, aku yakin. Siapa tahu saja mereka dijodohkan orang tuanya. Tenang saja, selama belum ada janur kuning melengkung di depan rumahnya maka terus perjuangkan cintamu itu Kak!" ucap Bara meyakinkan Adit agar tidak patah semangat.
"Lebih baik aku mundur saja, mungkin Risa memang bukan jodohku. Sedangkan pernikahan mereka sudah dekat," jawab Adit.
"Wuih... sejak kapan seorang Aditya Novendra Angkasa Putra menjadi orang yang mudah menyerah sebelum berperang? Semangat dong, setidaknya ungkapkan isi hatimu padanya kak. Tentang nanti bagaimana jawaban dia, kamu harus bisa terima kak!" ucap Bara berapi-api, karena gemas dengan sikap Adit yang lemah.
"Bagaimana nanti sajalah, aku mau tidur. Besok kita harus segera menyelidiki kasus di kantor cabang!" Adit segera masuk kamar untuk tidur dan tidak ingin membahas tentang Risa.
"Terserah kamu saja kak, aku hanya beri saran yang terbaik buat kamu dan Risa. Aku yakin sekali kalau Risa tidak mencintai tunangannya itu. Ya sudah, segeralah tidur karena besok banyak kerjaan yang harus kita selesaikan!" perintah Bara dan akhirnya mereka pun tidur dengan nyenyak malam ini.
#####
Gaeess... mampir juga ke karya yang lain ya.
Tak kalah seru dengan kisah Risa dengan Adit lho.
Happy reading... 👍🤗😘😍❤️🌹
Jangan lupa klik like, komentar, vote, rate dan jadikan Risa sebagai favorit kalian 🤗🙏👍