Aku bukan pelakor! Aku hanya lah orang ketiga dalam hubungan kakaku dan calon suaminya.... lah bagaimana mana bisa?
Bagaimana jika suami mu dan suami kakak mu adalah orang yang sama?
Ini adalah kisah ku. Aku-Kania, Adam dan Najira, yang bukan lain adalah kakak tiri ku, terikat dalam satu hubungan yang bernama tali pernikahan.
Jika kalian tanya siapa istri pertamanya mas Adam. Aku, aku istri pertamanya. Tapi siapa wanita yang di cintanya, iya, Najira.
Aku tau betul kalau hati mu hanya milik Najira seorang. Tapi, aku juga istri mu. Tidak kah kau memikirkan perasaanku walau sedikit?
Jangan lupakan Chandra, Pria adi kuasa yang memegang tali merah di kehidupan Kania.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asih sunkar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Ibu mertua
Ibu mertua
Adam telah sadar, sekarang ini dia duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Sedangkan Kania, Ia baru selesai memasak bubur untuk Adam. Dan sekarang, ia sedang mendinginkan bubur itu agar bisa segera di makan oleh suaminya
Setelah bubur itu tidak terlalu panas lagi. ia memberikannya pada Adam. Adam pun menerimanya, tanpa banyak bicara. Ia makan dalam kebisuan.
Apa Mas Adam tau kalau kak Jira pergi, dan dia tidak marah sedikitpun?! Tapi bagaimana pun kak Jira benar-benar kelewatan! Bisa-bisanya dia jalan-jalan saat suaminya sedang sakit.
"Mas" Akhirnya Kania memberanikan dirinya untuk bertanya. Adam tidak menggubris Kania yang sedang memanggilnya, ia tetap fokus pada makanannya. Karena Adam tidak menjawab, akhirnya Kania melanjutkan kalimatnya
"Apa kau tau kalau kak Jira pergi jalan-jalan? " Kania nanya. Adam masih belum menjawab, ia tetap fokus pada bubur miliknya
"Menurutku kak Jira kelewatan mas, saat kau sakit dia malah pergi. Jadi akhirnya aku yang tidak masuk kerja hari ini" Kania memandang lurus wajah Adam. Mendengar itu, Adam memberhentikan tangannya, ia menatap lekat wajah Kania
"Apa maksudmu berkata seperti itu!" Suara Adam meninggi
"Kau jangan berani menjelek-jelekkan Najira ya... kalau di bandingkan dengan Najira, kau itu gak ada apa-apanya" Adam meletakkan mangkoknya, dan mencengkeram kuat lengan Kania. Membuat gadis itu meringis kesakitan
"S-sakitttt mas! " Kania meringis, ia berusaha menepis tangan Adam yang mencengkram lengannya
"Jangan berani lagi kau menjelek-jelekkan Najira!" Ucap Adam dengan penuh tekanan "Kalau tidak, mati kau" Ancamnya lagi dan menghempaskan tangan Kania yang ia cengkraman. Kania mundur, sambil memegang tangannya yang memerah. Ia menatap sebal wajah pria itu
Aku gak mau mengurusmu! Sana! Panggil istri kesayanganmu itu untuk mengurus dirimu! Yang pasti aku gak mau. Kania menatap sebal wajah Adam, dan ia segera keluar dari kamar itu. Dengan memegang tangannya yang terasa sakit, ia pun menuruni tangga. Ia kekamar dan mengambil tas miliknya, dan berjalan ke arah pintu utama. Bermaksud pergi dari rumah
Kania ingin membuka pintu itu, tapi pintu itu lebih dulu terbuka. Kania mundur, dan melihat kalau ibu mertuanya yang tadi membuka pintu itu. Mata mereka bertemu.
"Kau mau kemana? Bukankah Adam sakit, tapi kenapa kau malah pergi! " Ibu mertua berjalan dan mendekat ke arah Kania
Apa papa yang bilang padanya kalau Mas Adam sedang sakit
"Eeeenggg... ma.. mama" Ucap Kania gelagapan. Ia terkejut dengan kedatangan ibu mertua yang tiba-tiba
"Kau ini sungguh tidak tau diri ya! saat anakku sakit kau malah pergi dan tidak merawatnya" Bentak ibu mertua, suaranya memenuhi sampai ke langit langit ruangan. Sankin kuatnya, mungkin saja sampai ke kamar Adam
"Bu.. bukan gitu mah.. " Jawab Kania dengan suara gemetaran
"Aku habis pikir melihat tingkahmu kania" Ibu mertua menatap Kania dengan tajam, dan ia berjalan cepat ke lantai dua, meninggalkan Kania yang masih berdiri dengan tubuh yang seakan membeku
Kok sekarang aku yang di salahkan si... Batinnya, ia pun mau tidak mau harus kembali lagi ke kamar Adam.
Di kamar Adam, ibu mertua duduk di tepi ranjang. Sedangkan Kania berdiri di belakang ibu mertuanya
"Kamu kenapa bisa sakit si Dam... " Ibu membelai kepala putranya
"Gak papa mah... cuma demam sikit"
"Huhhhh... coba istri mu itu adalah Najira.. pasti kamu tidak akan sakit"
"Kania memang tidak becus untuk menjadi istri" Ibu mencibir Kania. Ia sebenarnya sangat berharap kalau Najira menjadi menantu di keluarganya
"Huh... sudahlah.. apa kamu sudah makan" Ibu menepuk hangat punggung tangan Adam
"Udah mah"
"Apa kamu mau mama panggilkan Linda" Ibu bertanya pada Adam. Apakah ia mau di panggilkan dokter untuk memeriksanya. Linda adalah dokter pribadi keluarga besar Rahardian
"Gak usah mah.. ini hanya demam kecil" Adam menolak
"Kalau begitu istirahatlah" Ibu berdiri. Lalu ia menatap pada Kania, sorot matanya seperti berkata, ikuti aku. Ia pun keluar dari kamar setelah memberi sorot mata itu pada mantunya. Dan Kania berjalan mengikuti langkah kaki mertuanya
***
Di ruang tengah, ibu mertua duduk di sofa sambil memberi tatapan intimidasi pada menantunya ini. Sedangkan kania, ia duduk di sofa depan ibu mertuanya. Menunduk meratapi jemarinya yang saling meremas
"Seharusnya kau bersyukur Kania!" Ibu mertua berbicara dengan intonasi suara yang bisa di bilang dingin
"Kau bisa menikahi anakku dan hidup bergelimang harta.. bukankah memang harta yang kau incar sehingga dulu kau tega merusak pernikahan kakakmu!! " Ibu memandang hina pada kania
Kania hanya diam. Dia tau, kalau pembelaan diri tidak ada gunanya. Tapi saat dia diam, ibu mertua ini makin menkadi-jadi dalam menjatuhkan harga diri Kania
"Anakku masih hidup saja kau sudah berani berbuat seperti ini. apalagi kelak dia tua dan sakit-sakitan, mungkin saja kau malah membawa pria lain ke rumah ini" Ibu berbicara sambil menatap tajam pada kania
Seharusnya kau bilang begitu pada Najira. bukan aku. Dia yang tadi meninggalkan anakmu saat pingsan
"Coba deh.. kau tiru sedikit saja kelakuan baik kakakmu"
"Aku bingung kenapa kau tidak bisa se sempurna Najira, padahal kau itu adiknya. Apa karena kau itu Hanya anak pungut" Perkataan ibu sungguhlah menyayat hati Kania. Dia yang tidak tau apa-apa dengan mudahnya menyampaikan opini buruk tentang menantunya ini
"Jangan-jangan orang tua kandungmu sama berengsek nya dengan kelakuan mu sekarang"
"Ha ha ha... memang buat jatuh tidak jauh dari pohonnya" Ibu tertawa menghina, memandang rendah pada Kania.
"Anak dan orang tua pasti sama saja,,, sama-sama busuk!"
Brak Tiba-tiba Kania memukul meja. Ia menatap tajam pada ibu mertuanya ini
"Cukup mah" Kata Kania dengan memberi tatapan tajam pada wanita tua itu
"Aku adalah aku, jangan banding-bandingkan aku dengan kak Jira"
"Mama juga belum pernah kan bertemu dengan orang tua kandungku?! Jadi jaga mulut mama"
Mendengar perkataan Kania, ibu diam. Mereka saling bertatapan memberi sorot mata tajam
"Wanita berengsek" Lama ibu diam dan itu yang ia keluarkan dari mulutnya. "Aku sangat menyesal telah membiarkanmu menikah dengan anakku" Ia menatap tajam pada Kania, dan segera keluar dari rumah. Ibu berjalan cepat keluar, sambil membanting pintu rumah dengan kuat. Kania melihat kemarahan ibu mertuanya ini, dan ia menjatuhkan tubuhnya lemas ke atas sofa.
Aku tidak menyangka bisa melawan mama... uuuhhhh... kenapa aku bisa berkata seperti itu tadi ya. Batinnya, ia menatap langit langit ruangan.
Tapi yang jelas, aku muak menjadi orang yang selalu di injak.
Bersambung... 👻 (Hantu smile) Artinya bab hari ini cukup sampai hari ini ya guys.. besok kita akan ketemu lagi dengan Kania dan si Adam setan
Like rate dan komen. Di Vote jugeee
karena saat bersama jere atau bahkan baca surat dari jere, kania bisa tertawa bahagia... othornim kejam...😌