Candy Selsha Bailey, seorang gadis cantik yang hidupnya tidak seindah namanya. Dari bayi sampai sekarang ia harus terus memakan obat-obatan agar bisa sembuh, punya tubuh yang sangat lemah, orang tua yang strict parents menjadikan hidupnya tidak bebas, nilai adalah hal yang harus ia pertahankan karena kalau tidak ia akan di marahi oleh ayahnya, masalah selalu datang menghampirinya membuat ia tidak tenang, rasa menyesal yang terus melingkupi relung hatinya membuat ia hidup dengan rasa bersalah, dan semenjak kejadian itu ia tidak pernah mempunyai teman yang benar-benar teman.
"Tuhan, kenapa hidup aku kayak gini? kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? aku lelah Tuhan," ucapnya di ruangan yang sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Candy sudah pulang ke rumahnya, kini hanya ada Naysa dan Tania. Mereka sedang berada di rumah Tania.
"Nanay kamu yakin gak mau nginap lagi? " ucap Tania memegang tangan Naysa.
"Aku harus pulang Yaya masa aku terus di sini," ujar Naysa terkekeh pelan.
Tania menglepaskan tangannya yang memegang Naysa, lalu duduk di pinggiran kasur dengan wajah yang cemberut. Tania bersedekap dada menatap Naysa.
"Nanay gak ada yang ngelarang kamu tinggal disini," ucap Tania.
"Aku gak enak sama orang tua kamu Yaya," ujar Naysa.
"Mereka aja gak tahu kamu udah nginap di sini berhari-hari, jadi kamu jangan khawatir soal itu soalnya kamu tahu sendiri mereka kan jarang pulang," ucap Tania.
Semenjak ia menginap di rumah Tania, Naysa belum pernah bertemu dengan orang tua Tania. Di sini hanya ada dirinya, Tania, dan Bi Ratih. Mungkin ketika ia pergi sekarang di sini hanya ada Tania dan Bi Ratih.
"Tetap aja Yaya, aku harus pulang Ibu sendirian di rumah, Ibu pasti khawatir karena aku pergi gak bilang apa-apa," ujar Naysa.
"Emang kamu udah siap ketemu ibu kamu? " tanya Tania khawatir.
"Mau gimana lagi Ya, aku gak bisa terus ngehindar dari Ibu, Ibu juga pasti sedih seharusnya aku ada di sampingnya bukan malah menjauh kayak gini," ucap Naysa.
"Tapi kamu kan juga butuh waktu untuk menerima kenyataan itu Nay," ujar Tania menepuk punggung Naysa untuk menenangkannya.
"Iya jadi sekarang aku boleh pulang kan Ya? " tanya Naysa kepada Tania.
"Yaudah boleh tapi sesekali kamu harus nginap ya, aku kesepian di sini," ucap Tania.
"Iya aku nanti pasti nginap lagi di rumah kamu," ucap Naysa.
Naysa memasukkan baju-bajunya ke dalam tasnya. Setelah itu ia menggendong tas yang cukup berat karena ada beberapa pakaian.
"Kamu kayak mau camping aja," ucap Tania terkekeh melihat Naysa membawa tas yang lebih besar dari tubuhnya.
"Aku kan Camping di rumah kamu," ucap Naysa tertawa.
"Kamu yakin kuat bawa itu? Itu kan berat," tanya Tania khawatir Naysa tiba-tiba jatuh karena tasnya berat.
"Kamu jangan ngeremehin aku, meski aku gak punya otot tapi aku kuat ngangkat ini," ujar Naysa meyakinkan Tania. Ia mengangkat tangannya lalu berpose seperti tangannya berotot.
"Pamerin apa kamu dengan pose kayak gitu, tangan kamu kecil gak akan ada otot nya malah itu terlihat seperti tulang di lapisi kulit saking kurusnya," ejek Tania.
"Heh kamu jangan ngeledek aku ya," ucap Naysa kesal.
"Aku gak ngeledek tapi itu fakta Nanay," ujarnya lalu ketawa.
"Udahlah aku mau pulang aja," ucap Naysa pergi dengan wajah yang merajuk.
Tania menyusul Naysa lalu meminta maaf karena telah meledeknya. Bi Ratih melihat Tania dan Naysa yang baru saja keluar dari kamarnya. Naysa membawa tas besarnya di belakang punggungnya.
"Mau pulang non? " tanya Bi Ratih kepada Naysa.
"Iya Bi, makasih ya dan maaf kalau Nanay di sini ngerepotin Bibi," ujar Naysa.
"Gak ngerepotin kok non, malahan Bibi senang karena non Yaya gak kesepian dengan non Nanay nginap di sini," ucap Bi Ratih.
"Kalau begitu Nanay pamit ya Bi," Naysa mencium tangan Bi Ratih.
"Iya non."
Setelah itu Naysa dan Tania berjalan kearah pintu, namun tidak di sangka saat mereka membuka pintu di sana ada dua orang dewasa yang menatap mereka.
"Nanay, kamu ngapain di sini dengan membawa tas besar seperti itu," tanya Sarah.
"Nanay nginap di sini Tan," ucap Naysa. Sarah menatap Tania tajam.
"Kamu pulang," ucap Sarah.
"Hah? Ah iya Tante, Nanay pamit ya," Naysa mencium tangan Sarah dan Anji lalu melambaikan tangannya ke arah Tania. Di balas lambaian tangan oleh Tania.
Setelah Naysa pergi, Sarah menutup pintu lalu menatap Tania tajam.
"Kenapa kamu gak bilang sama Mamah kalau ada teman kamu yang menginap? " tanya Sarah.
"Mamah dan Papah kan jarang pulang jadi Yaya belum sempat ngasih tahu," ucap Tania.
"Oh jadi itu salah Mamah? " tanya Sarah.
"Enggak Mah, itu salah Yaya, Yaya minta maaf," ucap Tania menundukkan kepalanya.
"Yaya, Mamah dengar dari Rangga kamu menjauhi dan mengejek teman kamu dan kamu juga tidak sopan kepada Rangga, apa itu benar? " tanya Sarah menatap tajam Tania. Tidak sedetik pandangannya teralih ke yang lain.
"Om Rangga ngadu ke Mamah ya? " tanya Tania.
"Jawab pertanyaan Mamah Yaya! " marah Sarah.
"Iya," ucap Tania.
"Kenapa kamu ngelakuin itu? "
"Itu karena om Rangga ikut campur Mah, Mamah jangan percaya ke om Rangga,"
"Ucapan Rangga benarkan? "
"Iya tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, kamu sudah membuat Mamah malu Yaya dengan bersikap seperti itu, bagaimana jika orang tua Rara menemui kita karena kamu punya masalah dengan Rara. Mamah tidak pernah mengajarkan hal itu ke kamu Yaya," marah Sarah.
"Kenapa kamu jadi anak yang nakal dan tidak punya sopan santun kayak gini," ucap Sarah.
"Ternyata kelakuan kamu seperti ini, Papah kecewa sama kamu," ucap Anji.
"Tapi Pah, Mah. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Masalah ini jadi rumit karena om Rangga ikut campur," ucap Tania.
"Kamu jangan menyalahkan orang lain untuk perbuatan yang kamu lakukan," ujar Anji tegas.
"Kalian lebih percaya om Rangga daripada Yaya," ucap Tania menatap kedua orangtuanya. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Jelas kita lebih percaya kepada Rangga," ucap Sarah.
"Saya ada kerjaan kamu saja yang lanjut memarahinya," ucap Anji berjalan menuju ruang kerjanya dengan iPad di tangannya.
"Ingat Yaya, kamu harus turuti ucapan Rangga, Mamah percayakan kamu ke Rangga, jadi jangan membuat masalah lagi," setelah itu Sarah pun pergi meninggalkan Tania yang berdiri seorang diri di depan pintu.
Dadanya naik turun, Tania merasakan sesak di dadanya. Isak tangis mulai terdengar di ruang tamu yang sepi. Dengan cepat ia berlari ke arah kamarnya, ia tidak mau Mamah dan Papahnya tahu.
Tania menenggelamkan wajahnya di bantal lalu menangis, sebisa mungkin ia berusaha agar tangisannya tidak terdengar oleh orang tuanya. Ia memukul dadanya berusaha menghilangkan rasa sesak, tapi itu percuma rasa sesaknya tidak hilang.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa Mamah dan Papah lebih percaya ucapan om Rangga daripada ucapan Yaya."
"Sekarang Mamah dan Papah pasti gak akan peduliin Yaya lagi."
"Yaya gak ngapa-ngapain aja mereka jarang di rumah apalagi sekarang, mereka pasti makin gak suka berada di rumah kerana ada Yaya."
"Yaya harus gimana? "
Di sepanjang malam, Tania menghabiskan waktunya dengan menangis. Rasa sesak ini begitu sangat sakit, sebisa mungkin Tania menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh orang tuanya.
Izin yaa