ig : @dora_eyha
Kehidupan rumah tangga yang bahagia menjadi impian bagi setiap pasangan menikah. Namun, jalan terjal selalu siap menantang di masa depan.
Seperti yang dialami Daffin Miyaz Stevano dan istrinya Zafreena Evren Stevano, bertahun-tahun menikah mereka tak kunjung mendapatkan buah hati.
Hingga muncullah rencana gila dari Reena saat melihat Ayasya, janda muda yang di tinggal mati oleh suaminya.
Akankah, Daffin menuruti keinginan Reena?
Lantas, bagaimana nasib Ayasya sang janda muda?
Mari simak kisah romantis penuh haru yang di balut konflik dan intrik pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH DAFFIN
"Apa yang membawamu kesini, Tuan?" tanyaku pada Ersya yang kini sudah duduk disofa.
"Saya langsung saja, Nyonya, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk menanyakan kelanjutan kasus kecelakaan yang menimpa suami anda. Apakah ada tuntutan yang ingin anda ajukan?"
Tatapan mataku tak bisa teralihkan dari sosok duplikat kak Erlan, maksudku dari sosok Ersya. Meskipun wajah mereka berdua sama, tapi sesungguhnya pribadi mereka sangatlah berbeda. Ketenangan yang di perlihatkan Ersya hanyalah sebuah formalitas yang di haruskan dalam profesinya, karena aku bisa melihat dia sedikit gelisah sejak tadi.
"Tidak ada." jawabku singkat.
Ternyata, jawabanku cukup mengejutkan Ersya. Manik matanya langsung terfokus padaku. "Anda yakin, Nyonya?"
Aku memang tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi hari itu, tapi aku merasa tidak akan ada gunanya jika aku terus mempermasalahkan hal yang tidak akan merubah apapun yang telah terjadi.
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku mengajukan tuntutan? Dan siapa yang harus aku tuntut?"
"Anda bisa menuntut pemilik pusat perbelanjaan itu atas kurangnya keamanan dan buruknya pemeliharaan gedung yang membuat kecelakaan itu terjadi. Anda mungkin saja mendapatkan kompensasi yang cukup besar."
Aku diam sejenak. "Apa dengan begitu suamiku akan kembali hidup?"
"Tidak, Nyonya, tapi -"
"Aku akan dapat uang?" selaku, yang langsung menundukkan pandangan Ersya. "Itu sama saja seperti aku menukar nyawa suamiku dengan uang."
"Bukan begitu, Nyonya Kencana."
"Aku tahu maksudmu, Tuan Chandra, tapi aku tidak membutuhkan uang. Suamiku sudah meninggalkan banyak uang serta aset berharga yang cukup untuk menghidupiku dan juga calon anak kami."
Ersya langsung menaikkan pandangannya. "Anda sedang hamil?"
Aku menganggukkan kepala dan tersenyum seraya mengusap perutku yang masih rata.
"Kalau begitu maaf atas kelancangan saya." Ersya sudah berdiri dan hendak berpamitan padaku, tapi sepertinya dia melupakan sesuatu. "Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya juga datang kesini, tapi Anda sedang tidak ada di rumah."
'Tentu saja! Itu karena Daffin telah mengurungku di rumahnya.' batinku. "Ah, iya. Aku sedang menenangkan diri."
"Oh, ternyata begitu. Saya pikir Anda sedang berada dalam masalah."
'Itu memang benar, tapi aku tidak bisa melibatkan dirimu dalam masalahku, Kak Erlan palsu.'
Aku tersenyum kecut. "Tidak. Aku baik-baik saja, Kak Ersya. Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?"
"Tentu saja!" Senyuman kembali mengulas wajah teduh Ersya.
Senyuman di wajah itu menghangatkan hatiku dan langsung membuatku merasa seperti mendapatkan tempat untuk bersandar kembali. Tanpa ragu aku langsung menghampiri Ersya dan memeluknya. "Terima kasih, Kak Ersya."
Awalnya, Ersya terkejut dan dia hanya diam terpaku. Namun, beberapa saat kemudian dia pun membalas pelukanku. "Sama-sama, Nyonya Kencana."
Aku mendengus mendengar panggilannya terhadapku. "Jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja aku Ayasya." pintaku setelah melepaskan kaitan tanganku di tubuh Ersya.
"Ba -"
BRAKKK!!!
Suara dobrakan pintu mengejutkanku dan juga Ersya. Pandangan kami berdua terfokus pada sosok Daffin yang memenuhi ambang pintu, tapi bukan si Plankton yang membuatku ketakutan seperti sekarang. Yang membuatku takut adalah tatapan membunuh Daffin yang dia tujukan pada Ersya.
"Da- Da- Daffin!!!" Aku sampai kesulitan menyebut nama pria itu.
Daffin langsung mengalihkan perhatiannya padaku, tapi tak lama dia langsung kembali menatap Ersya yang juga menatapnya dengan tajam. Itulah salah satu perbedaan Ersya dan kak Erlan, karena kak Erlan tidak pernah memiliki tatapan tajam seperti itu.
'Astaga!!! Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?'
"Daffin?" panggilku ragu, dan itu berhasil menarik perhatian Daffin. 'Ayolah, Ayasya!"
Aku mencoba melangkah dan mendekatinya, walaupun aku tidak ingin. "Ini tidak seperti yang kau lihat."
"MENJAUH DARIKU!!!"
Amarah Daffin begitu terasa, matanya memerah karena menahan amarah yang akan meledak sebentar lagi. Keberanianku seketika menciut, wajahku pun sepertinya mulai memucat karena aku begitu ketakutan. Aku sudah terbiasa melihat amarah Daffin, tapi aku tidak pernah melihatnya semarah ini.
Lebih baik aku menjauhi Daffin seperti yang dia inginkan. "Baiklah, kau memang tidak pernah ingin berada di dekatku."
Saat aku akan berbalik, tiba-tiba saja Daffin menahan tanganku. Namun, tatapannya tidak beralih dari Ersya. Mereka masih terlibat dalam perang dingin saling menatap yang terlihat mengerikan menurutku.
"Jangan menggunakan wajahmu untuk menipu istriku yang bodoh, Tuan Chandra." ucap Daffin penuh penekanan, nada bicaranya juga begitu dingin dan tidak bersahabat.
Aku dan Ersya sama-sama menatap Daffin, tapi Ersya langsung menatapku setelahnya. Jika aku bisa membaca pikiran seseorang, aku yakin di dalam hatinya Ersya pasti berkata seperti ini "apa yang dikatakan pria ini, Ayasya?" Ya, kira-kira seperti itulah arti tatapannya padaku.
Sungguh, ingin sekali rasanya aku menenggelamkan Daffin di dasar laut agar dia tidak sembarangan membuka mulut. Apakah dia tidak menyadari jika yang baru saja keluar dari mulutnya itu adalah hal sangat memalukan bagiku.
"Apa yang kau katakan, Daffin?"
Daffin menoleh dan melemparkan tatapan terjahatnya padaku. "Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran."
"Benar menurutmu."
"Kau harus selalu ingat jika aku adalah suamimu!"
"Baiklah. Aku hanyalah istrimu yang bodoh!"
"Ayasya, apa yang kalian bicarakan? Suami? Istri?" tanya Ersya yang sedari tadi memperhatikanku dan Daffin.
"Emm... Kak Ersya -"
"Aku pikir kau tidak tuli, Tuan Chandra. Wanita yang baru saja kau sentuh ini adalah istriku. Dia adalah Nyonya Stevano. Jadi, jangan pernah mencoba untuk mendekatinya!" sinis Daffin, tanpa menunggu persetujuanku.
'Ya, Tuhan! Maafkan aku, Kak Ersya! Mungkin kita memang tidak berjodoh.'
"Apa itu benar, Ayasya?" Ersya menatapku dan Daffin secara bergantian.
Lidahku terasa kelu. Aku tidak bisa membantah Daffin atau menjelaskan apapun kepada Ersya yang berdiri mematung menanti jawabanku.
"Tentu saja benar." sergah Daffin, tepat saat aku akan membuka mulutku. "Pergilah! Sebelum kau kehilangan harga dirimu karena telah mengganggu istriku."
"Ayasya?" panggil Ersya, sepertinya dia tidak tega untuk meninggalkanku bersama dengan Daffin.
"Pergilah, Kak Ersya! Dia tidak akan menyakitiku." ucapku untuk menenangkan Ersya. 'Setidaknya Daffin tidak akan menyakitiku di hadapanmu.'
Aku bisa mendengar helaan nafas Ersya sebelum dia berkata, "baiklah. Ingat untuk menghubungiku jika kau butuh bantuan."
"Nyonya Stevano tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain." sergah Daffin lagi.
Entah mengapa, Daffin begitu banyak bicara hari ini hingga dia tidak membiarkan aku untuk membuka mulut dan mengatakan apapun.
Ersya keluar dari rumahku dengan langkah ragu, dia sempat menoleh padaku di ambang pintu. Namun, lagi-lagi Daffin melemparkan tatapan membunuhnya pada Ersya. Karena takut terjadi pertumpahan darah di rumahku yang indah ini, aku pun memaksakan diriku untuk tersenyum agar Ersya bisa meninggalkan rumahku dengan tenang.
'Apakah kita bisa bertemu lagi, Kak Erlan?'
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
masya allah luar biasa ceritamu thorr,,, dari awal sampai di bab ini aku suka semuanya apalagi sifat ayaya huh yg begitu menggemaskan😘