NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Ketika Gelap Tak Lagi Sepi

Pagi itu Raina membuka warung lebih awal dari biasanya. Uap panas mengepul dari wajan Bu Sri, membawa aroma masakan rumahan yang memenuhi ruang sempit itu. Di balik etalase, Silfi menata piring dengan gerakan cekatan, sementara Pak Tarno baru saja masuk, meletakkan keranjang belanja di sudut dekat pintu.

Ketika pintu warung kembali terbuka, ada jeda singkat yang tak disengaja.

Raina melangkah masuk lebih dulu, seperti biasa. Namun tepat di belakangnya berdiri seorang lelaki tinggi dengan sikap tenang yang sulit diabaikan. Pakaiannya sederhana, wajahnya datar, tapi posturnya terlalu rapi untuk warung kecil di gang sempit itu.

Bu Sri sempat menghentikan adukan sayurnya sepersekian detik. Silfi refleks menoleh, lalu melirik ibunya tanpa suara. Pak Tarno menegakkan badan, matanya menyipit, menilai tanpa bertanya.

“Perkenalkan ini Julian, temen kos Raina” kata Raina singkat, sambil menggantung tas dan mengenakan celemek, seolah kehadiran lelaki itu tak perlu penjelasan lebih.

"Julian itu Bu Sri bagian masak,itu pak Tarno bagian belanja dan ini mbak silfi bagian kasir" Raina memperkenalkan semua karyawannya.

Julian menunduk sopan.

"kamu duduk di situ aja" Ucap Raina sambil menunjuk sebuah kursi tak jauh dari tempat kasir.

Warung perlahan kembali bergerak. Namun suasananya tak sepenuhnya sama. Beberapa pelanggan melirik lebih lama dari seharusnya. Ada yang berbisik pelan, ada yang tersenyum samar. Julian tak menanggapi apa pun. Ia duduk diam, punggung tegak, tangan di paha, seperti orang yang terbiasa menjaga diri di ruang asing.

Saat warung mulai ramai dan Raina bergerak cepat dari satu panci ke panci lain, Julian bangkit tanpa diminta."Bisa aku membantu sesuatu?" Tanya Julian begitu sampai dekat Raina.

"Emm...Yakin kamu bisa?"Tanya balik Raina ragu.

"Aku akan mencoba"

"Baiklah,kamu bisa ambil piring kotor yang ada di meja meja itu,lalu bawa ke belakang, nanti ada pak Tarno yang cuci."

Lalu dengan perlahan Julian mendekati meja yang ada piring kotornya, sedikit ragu namun tak terlihat Julian mengambil satu persatu piring kotor lalu menumpuknya dan ia bawa ke belakang.

Andaikan Daniel tau, mungkin dia akan menganga dan kemudian langsung mengoceh"seorang CEO perusahaan besar membawa piring kotor? membantu di warung kecil?what the hell?????"

Bu Sri memperhatikannya dari balik kompor, senyum kecil terselip tanpa sadar. Silfi pura-pura sibuk, tapi pandangannya sesekali kembali ke arah mereka. Pak Tarno melihat dari tempat cuci piring setelah beberapa saat, mengangguk pelan—sebuah penilaian yang tak memerlukan kata.

Di sela kesibukan, Julian meletakkan segelas air di hadapan Raina.

“Kamu belum minum,” katanya pelan.

Raina berhenti sejenak, lalu mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Tidak ada janji. Tidak ada pengakuan.

Hanya pagi sederhana di warung kecil itu—tempat Raina menjalani lelahnya seperti biasa, namun kali ini dengan seseorang yang memilih mengecilkan dirinya sendiri agar bisa berdiri di sisinya.

Malam turun pelan di gang kos itu. Setelah warung tutup dan suara piring terakhir disusun, Raina kembali ke kamar dengan tubuh yang terasa berat. Ia menggantung tas selempangnya,mencuci tangan, lalu duduk sebentar di tepi ranjang, membiarkan kelelahan mengendap tanpa keluhan.

Lampu masih menyala ketika ia merebus air.

Lalu—

tek.

Gelap.

Kipas berhenti. Suara kulkas kecil mati mendadak. Keheningan turun begitu saja, seolah malam memutuskan mengambil alih.

Raina mendesah pelan. “Mati lampu…”

Ia meraba laci, mengambil lilin dan korek. Cahaya kecil menyala, cukup untuk membuat bayangan di dinding bergerak perlahan.

Dari kamar sebelah terdengar suara pintu terbuka.

“Raina?”

Nada itu terdengar hati-hati. Julian berdiri di depan pintu kamarnya, siluet tubuhnya tinggi dan samar dalam gelap.

“iya sebentar,” Jawab Raina sambil membawa lilin dan membuka pintu.

"Kamarmu pasti gelap, sebentar aku ambilkan lilin " Raina kembali Masik setelah membuka pintu.

Julian mengangguk, meski jelas ia belum terbiasa dengan kondisi seperti itu. Di Jerman, listrik jarang padam. Di apartemen maupun Mensionnya dulu, malam selalu terang—atau setidaknya bisa dikendalikan.

Di sini, gelap datang tanpa izin.

“Biasanya… berapa lama?” tanyanya.

“Kadang sebentar. Kadang lama,” kata Raina sambil membawa lilin yang sudah Raina nyalakan ke kamar Julian

“Tergantung.”

Julian berdiri ragu. “Kalau lama… apa yang biasanya kamu lakukan?”

Raina berpikir sebentar. “Menunggu, atau langsung tinggal tidur aja"

Jawaban itu sederhana, nyaris datar. Tapi ada sesuatu di sana—kebiasaan menahan, menerima, tidak berharap berlebihan.

Julian mengangguk lagi.

Hujan turun tiba-tiba. Awalnya pelan, lalu semakin jelas. Bau tanah basah masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Cahaya lilin bergetar setiap kali angin menyusup.

“Kamu takut gelap?” tanya Raina, hampir tak terdengar.

Julian menoleh. “Tidak.”

Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan, “Tapi aku tidak terbiasa… tidak bisa melihat apa-apa.”

" Ya sudah begini aja,aku mandi sebentar nanti kita duduk di depan sambil ngopi,kayaknya enak tuh,kamu sudah mandi?”Tanya Raina tak memperhatikan penampilan Julian.

" sudah "

" Baiklah kalau begitu aku mandi dulu sebentar,emm...kamar aku tutup tapi nggak aku kunci, tapi jangan macam macam "Raina menunjukkan telunjuk tangannya.

Julian menurut.menunggu Raina di ambang pintu kamarnya., punggung tegak,ia melipat kedua tangannya di dada sambil bersandar di ambang pintu.

Beberapa menit berlalu,dan tak lama kemudian Raina keluar sambil membawa dua cangkir whait coffee.

Raina dan Julian duduk bersandar dinding beralaskan lantai sambil memandangi hujan yang masih turun.

Hanya suara hujan. Dan napas yang perlahan sinkron.

“Kamu capek,” kata Julian akhirnya.

Raina menoleh. “Kelihatan ya?”

“Sedikit.”

Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak menawarkan solusi. Hanya mengatakan apa yang ia lihat.

Julian terdiam.

Lampu tak kunjung menyala. Hujan semakin deras. Di luar, suara petir jauh terdengar.

“Kegelapan ini sepertinya akan bertahan cukup lama”Giman Julian pelan seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Raina hanya mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Julian.

Julian menatapnya dalam cahaya redup itu. Wajah Raina terlihat lebih lembut, lebih lelah, lebih nyata.

“Sebaiknya kamu istirahat saja,"Ucap Julian pelan.

" Kamu gimana?"

" Ada lilin kan?! Aku tak apa"Jawab Julian menenangkan Raina

" Baiklah aku ambilkan lilin lagi,siapa tau akan mati lampu semalaman."

Julian mengangguk.

Sebelum kembali ke kamarnya, Julian berhenti di ambang pintu.

“Terima kasih… sudah menunggu bersamaku.”

Raina menoleh. “Kamu kan nggak sendirian.”

Julian mengangguk.

Malam itu, di kamar kos sempit dengan listrik yang tak selalu bisa diandalkan, Julian tidur dengan perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—

tenang,

karena gelap pun tak lagi sepenuhnya kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!