Warning !! Kalau nggak suka sama cerita ini bisa langsung SKIP saja yaa..
Attarazka Desta Firmansyah menikah dengan gadis yang berprofesi sebagai Dokter bernama Clara Adelin. Setelah enam tahun menikah mereka belum di karuniai keturunan.
Sikap Clara mulai berubah saat diri nya kembali bertemu dengan mantan kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter juga di Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Dalam gejolak Rumah Tangganya , Attar di pertemukan dengan Gendhis Anindita Nastiti yang menjadi sekretaris barunya.
Dalam konflik rumah tangga nya Attar membuat keputusan untuk menikahi Gendhis dengan sebuah kesepakatan.
Bagaimana akhir nya jika pernikahan Attar dan Gendhis di ketahui Clara dan nyatanya dua istri Attar adalah sahabat dari masa SMA.Apa Gendhis akan mundur setelah tahu jika kakak madunya adalah orang yang dulu dia anggap sahabat namun nyatanya pernah mengecewakan dia di masalalu?
ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Murni
"Jadi benar perempuan itu adalah kamu, lagi-lagi kamu sudah membuat orang yang benar-benar tulus pada mu kecewa dengan yang sudah kamu lakukan. Lihat saja Cla, aku tidak akan biarkan mas Attar merasakan kesakitan kehilangan kamu. Bahkan aku akan pastinya jika dia akan membuang mu tanpa belas kasihan."
Saat Gendhis melihat sosok kakak madunya dia pastinya merasa terkejut. Tapi mengingat bagaimana sikap Clara padanya selama ini, bahkan dia melihat sosok suaminya yang sudah dia khianati.
Gendhis tidak bisa serta merta mengungkapkan kebenaran soal Clara. Dia ingin suaminya tahu kebenaran nya dengan cara nya sendiri. Gendhis yakin Allah akan menunjukkan kebohongan Clara selama ini baik cepat atau lambat.
"Dis, kamu kenapa? Ada yang menggangu pikiran kamu?"
Gendhis benar-benar tidak tahu harus berkata apa tapi dia harus bisa menutupi kebenaran tentang Clara dan dirinya sampai waktu nya tiba.
"Nggak papa mas, cuma lihat wajah istri pertama mas terlihat familiar. Kayak pernah lihat dimana yah, ahhhh...pantas aku nggak asing lihatnya, pernah lihat di Rumah Sakit.Dia dokter di Rumah Sakit tempat Shena di rawat. Aku pernah papasan sama dia."
Gendhis tak sepenuhnya bohong bukan, memang dia kan pernah lihat Clara disana. Bahkan bukan hanya sekali tapi dia suka sekali menganggu kehidupan Gendhis.
"Iya dia salah satu dokter disana.Sekarang dia sudah berangkat ke Korea dan melanjutkan spesialisnya di sana."
"Mas nggak mau lihat dia kesana?"
Gendhis mencoba memancing reaksi suaminya,apa yang akan dia jawab.
"Nanti-nanti saja lah, sekarang...kita jangan ngomongin dia. Kita kesini bukannya untuk kita bulan madu, jadi jangan sia-siakan paket gratisan dari mama buat kita."
Gendhis tersenyum samar mendengar penuturan suaminya itu.
"Memangnya kita mau ngapain mas?"
Attar menatap lekat wajah cantik Gendhis lalu dengan perlahan dia mendekatkan kursi yang dia duduki mendekat ke arah Gendhis. Attar mengambil tangan Gendhis dan menciumnya sedikit lama. Hal itu membuat Gendhis langsung tertunduk malu.
"Kenapa kamu menunduk begitu?"
"Iiihhhh mas, buat aku makin malu saja. Pake ditanya gitu sih, aku tuh belum pernah seperti orang-orang yang pacaran sebelum ini. Bahkan kita nikah saja dengan cara dadakan gini."
Hahahaha..
"Kamu ternyata soal beginian terlalu polos Dis, baiklah.. setelah ini, aku rasa kamu akan semakin pandai soal..
"Mass..
"Kenapa, malu? Masa soal begitu malu. Sudahlah , selesaikan makanannya kita harus persiapkan untuk mewujudkan keinginan mama, kita bawa oleh-oleh untuk mama."
Gendhis berpikir apakah dia bisa menjalankan kewajiban nya sebagai istri? Tapi dalam hatinya dia akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan Attar menjadi miliknya. Sebisa mungkin dia akan berusaha segara hamil anak Attar.
Entah itu sebuah obsesi atau memang untuk sekedar dendam yang sudah ada dalam dirinya untuk melihat Clara yang sombong itu sengsara. Tapi jika sampai Attar tetap memilih untuk bersama dengan Clara yang memang sudah dia cintai sejak lama dan membuang dirinya, setidaknya dia akan melahirkan anak pertama Attar dari pernikahan Setidaknya anaknya akan menjadi pewaris tahta kerajaan bisnis keluarga Attar.
...****************...
"Kamu kenapa Cla, sedari tadi aku perhatikan seperti sedang gelisah gitu?"
Di Korea sana Clara merasa ada yang janggal dari ucapan terakhir suaminya. Bahkan dia ingat betul bagaimana begitu santainya suaminya untuk membiarkan dirinya tetap meneruskan langkahnya untuk mencapai cita-cita nya.Tapi kenapa hatinya merasa ketar ketir saat Attar tidak protes lagi dengan keinginan nya.
"Aku rasa Attar sedikit berubah, aku jadi penasaran kenapa dia bisa santainya dan mulai pasrah dengan keinginan aku yang tetap melanjutkan spesialis ku di sini."
"Kenapa ,kamu mulai ragu buat terusin semua ini? Sudahlah, kamu bilang sendiri kalau Attar tidak akan pernah macam-macam bukan?"
Andre mulai menenangkan hati kekasih gelapnya itu. Andre pun mulai memberikan kode untuk melakukan hal yang selalu mereka lakukan jika sedang berdua.
Clara tidak bisa menolak karena memang dia sudah tidak bisa berpikir jernih jika sedang bersama Andre.
Lain di Bali lain di Korea. Jika di Bali, malam hari sudah tiba dan makan malam pun sudah usai.
Gendhis benar-benar bingung dengan situasi saat ini. Bahkan dia sudah merinding saat mengingat perkataan Attar saat makan malam tadi.
"Setelah makan malam, aku akan mengerjakan pekerjaan sebentar, setelah itu..aku ingin kamu lakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pengantin baru. Persiapkan dirimu."
Kata-kata Attar terus terngiang di kepala Gendhis. Saat ini Gendhis mematut penampilan dirinya di depan cermin.
" Ya Allah, rasanya aku malu kalau harus pakai pakaian ini.Kayak nggak pakai baju pula. Tapi kalau aku nggak pakai baju ini sama saja nggak menghargai mama."
Gendhis tadi siang mendapatkan paket dan petugas resort bilang kalau paket kiriman dari Tari ibu mertuanya dan saat membuka paket itu membuat Gendhis terkejut dengan isi yang ada didalam paper bag tersebut. Dua lingerie berwarna merah dengan model yang berbeda.
Bahkan saat melihat bentuk nya saja membuat Gendhis merinding di buat nya.
"Ayo Gendhis kamu pasti bisa. Anggap saja ini untuk menyenangkan hati suamimu." Gendhis berucap pada dirinya sendiri.
"Yah , mungkin ini bisa jadi jalan ku buat mas Attar sedikit demi sedikit melupakan mu Clara. Lihat saja, aku ingin lihat dimana nanti kamu merasa tidak ada artinya lagi buat mas Attar. Kamu begitu tega mengkhianati orang sebaik mas Attar.," kata hati Gendhis yang sudah bertekad untuk menaklukkan hati suaminya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka bertepatan dengan Gendhis yang juga keluar dari ruangan ganti. Mata keduanya saling bertaut satu sama lain. Bahkan Attar sempat mematung melihat pemandangan yang indah ada di depan nya.
Attar segera menutup pintu dan menguncinya. Sementara Gendhis sibuk menutup bagian depannya dan bagian bawah yang dia rasa begitu terbuka.
" Kenapa ditutupi?"
Terlihat Attar melangkah mendekat ke arah Gendhis yang masih mematung di depan pintu ruangan ganti.
Attar tersenyum miring dan segera menarik tangan Gendhis dan membuat tubuh Gendhis dan Attar merapat tak ada celah.
"Mass..
"Hemmm,aku nggak nyangka kalau kamu begitu cantik dan se*y. Jangan tutupi lagi tubuh indah mu saat kita berdua , nggak keberatan kan?"
Gendhis menelan silvanya dengan kepayahan dan dia pun mengangguk setuju. Attar tersenyum dan menatap lekat setiap lekukan tubuh Gendhis yang terlihat sangat indah dan bahkan tidak pernah dia menyangka jika dalam balutan busana longgarnya dia menutup segala kelebihan nya. Disitu lah Attar merasa bersyukur karena hanya dia yang bisa melihatnya dan hanya dia yang bisa mengagumi nya.
"Kamu siap sayang?"
Panggilan Attar yang terdengar berbeda membuat Gendhis menyembunyikan wajahnya di dada bidang Attar. Hal itu membuat Attar tersenyum dan semakin ingin memiliki nya seutuhnya.
Attar memegang dagu Gendhis dan menaikkan nya sehingga tatapan mata mereka pun saling bertaut. Attar perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Gendhis.
Bibir Attar pun menyentuh bibir tipis Gendhis lalu dengan perlahan dia memperdalam ci*m*n itu sampai di mana lidiah Attar masuk ke dalam ruangan kosong yang masih begitu murni dan mulai melakukan suatu gerakan eksplor ke seluruh bagian ruangan. Tangan besar Attar pun tat bisa tinggal diam, dia mulai menjelajah gunung Himalaya yang begitu padat dan berisi.
Suara kicauan yang begitu merdu lolos dari bibir semanis cerry milik Gendhis. Hal itu membuat Attar semakin bersemangat untuk berjuang untuk memiliki Gendhis seutuhnya.
Entah sejak kapan kedua tubuh itu layaknya bayi yang baru saja lahir. Tak ada penghalang untuk Attar menjajah hingga ke surga dunia.
Suara kicauan Indah saling bersahutan membuat suasana dingin menjadi lebih membakar semangat keduanya. Attar sedikit merubah gaya jajahannya. Jiwa murni Gendhis mulai Attar prospek dengan baik. Hanya sekali arahan Gendhis sudah paham.
Terjadilah malam itu sebuah malam yang langka buat Attar. Bahkan Attar sempat terharu saat dia melihat ternyata Gendhis yang masih murni dan baru dia yang menjamah nya.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau menikah dengan ku dan mau memberikan hal yang berharga bagi dirimu untuk aku miliki."
Attar mengecup kening Gendhis dan mengecup bibir Gendhis singkat.
Drrrt drrrt drrrt
Panggilan telpon dari ponsel Attar membuat keromantisan keduanya teralihkan.
Attar mengambil ponselnya dan melihat siapa si penelpon di malam hari seperti ini.
"Angkat saja mas, kali saja penting."
" Nggak perlu, aku cuma ingin malam ini hanya untuk kita. Bukan orang lain. Aku ingin mengulangi nya lagi, apa kamu mengijinkan nya?"
"Tentu, aku sudah menjadi milikmu mas, aku ikhlas dan aku ridho."
Jawaban Gendhis membuat Attar berbunga-bunga. Mereka pun kembali mengarungi lautan api asmara dan ke taman surga.
Bersambung