Gibran Satya Dinarta, putra tunggal dari pebisnis ternama Asia, Satya Dinarta dan Ranti Dinarta. Gibran merupakan seorang CEO muda di perusahaan GS Group milik keluarganya.
Berbeda dengan CEO yang lain, otak Gibran agak sedikit geser karena sikapnya yang koplak dan somplak.
Dia rapat menggunakan celana boxer, menghadiri pesta pernikahan dengan sandal jepit, dan masih banyak lagi jal konyol dalam dirinya.
Suatu hari dia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Jasmine yang terlihat somplak padahal sifat aslinya sangat dingin dan anggun.
Jasmine bersikap somplak hanya untuk menutupi rasa sakitnya yang berasal dari keluarganya.
Bagaimana jika Gibran jatuh cinta dengan Jasmine? Penasarankan silakan baca..
Alur cerita ini sedikit lambat, jadi jika tidak langsung ke inti, itu adalah faktor kesengajaan.
ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSJC : Chapter 30
Gibran tersenyum tampan melihat Jasmine yang terlihat terkejut karena aksinya baru saja. Gibran juga mendapat tepuk tangan yang meriah dari para pengunjung kantin karena bernyanyi tanpa rasa malu sedikit pun.
Jasmine yang kesal langsung menarik mangkuk soto milik Gibran yang diberi sambal lima sendok. Karena kesal Jasmine langsung melahap soto itu dengan cepat tanpa peduli dengan rasanya.
"Jasmine, jangan di makan!" Gibran melarang karena takut membuat Jasmine tersiksa dengan rasa pedasnya.
"Bodo amat, aku lapar karena melihat ulahmu, Tuan." Jasmine tidak peduli dengan larangan Gibran, dan dia terus melahap soto itu sampai setengah mangkuk.
"Kesal boleh, tapi itu sotonya jangan di makan!" Gibran ingin meraih mangkuk soto dan menjauhkan dari Jasmine tapi jangan Jasmine lebih cepat mengangkat mangkuknya.
"Jangan pelit!" Jasmine menatap tajam pada Gibran. Kemudian kembali melahap soto itu sampai habis tidak bersisa.
"Jangan menyesal setelah ini." Gibran hanya bisa bernapas kasar saat melihat mangkuk soto miliknya sudah kosong. Tidak masalah jika miliknya di makan orang lain, yang jadi masalah sekarang adalah orang yang memakan soto itu.
Jasmine yang awalnya terlihat baik-baik saja mulai merasakan rasa panas karena kepedasan, Jasmine mengipasi wajahnya dengan tangan kanan.
"Kok pedas, ya?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri. Keringat sudah bercucuran di dahinya, bahkan seluruh tubuhnya merasa gerah.
"Pedas, pedaaas!" Jasmine meminum minuman milik Gibran sampai habis tapi itu malah semakin menambah rasa pedasnya, Jasmine kelimpungan berlari di tempat sambil terus mengeluh kepedasan.
Gibran hanya bisa diam sambil melihat Jasmine yang kebingungan untuk menghilangkan rasa pedasnya. Gibran bodo amat dengan apa yang terjadi pada Jasmine sekarang, karena dia sudah melarang Jasmine tapi tidak dipedulikan.
Jasmine yang melihat Gibran hanya diam malah semakin emosi. Dia menarik lengan Gibran dan memukulnya beberapa kali. Gibran tidak melawan dan hanya pasrah saat dipukuli oleh Jasmine.
"Aaarrrggghhh, Jasmine sakit!" Gibran tiba-tiba berteriak saat tangannya digigit oleh Jasmine.
Gibran yang merasa kesakitan langsung menarik tangannya dan melihat bekas gigitan Jasmine mengeluarkan darah. Tangan Gibran terluka cukup dalam akibat gigitan itu, darah memang tidak banyak yang keluar tapi tangan Gibran rasanya sangat pegal dan perih.
Jasmine belum menyadari luka di tangan Gibran karena dirinya masih sibuk dengan rasa pedas yang dia rasakan. Ibu penjual soto yang melihat Jasmine kepedasan langsung memberikan Jasmine teh panas.
"Ini di minum, Neng!" Ibu itu memberikan minuman pada Jasmine, dan tanpa pikir panjang Jasmine langsung menerima dan meminum teh panas tersebut.
"Aaa ... panas, pedas!" Jasmine berteriak keras sampai pengunjung kantin yang lain melihat ke arahnya. Mereka hanya tersenyum dan membiarkan Jasmine begitu saja.
"Itu tidak akan lama, Neng. Sebentar lagi pasti rasa pedasnya hilang," ucap ibu itu sambil tersenyum melihat Jasmine.
Benar saja apa yang dikatakan ibu tadi, rasa pedasnya menghilang. Jasmine tersenyum dan berterima kasih kepada ibu penjual soto.
"Nuhun, Bu. Ibu namanya siapa?" tanya Jasmine dengan ramah, walau keringat masih bercucuran di tubuhnya.
"Marni, Neng," jawab Bu Marni sambil tersenyum ramah pada Jasmine.
Bu Marni meninggalkan Gibran dan Jasmine, setelah Bu Marni pergi, tatapan mata Jasmine tertuju pada Gibran yang sedang menatap dirinya dengan tatapan horor.
Jantung Jasmine berdetak kencang, keringatnya semakin bercucuran, dia tersenyum lebar dengan perasaan takut dengan tatapan tajam Gibran untuknya.
"Jasmine!" teriak Gibran dengan keras.
"Kodok makan ular," latah Jasmine karena terkejut dengan suara Gibran yang menggelegar.
"Dasar gadis gila!" Gibran menoyor kepala Jasmine dan berhasil membuat Jasmine mundur beberapa langkah.
"Kamu yang gila," balas Jasmine ikut menoyor kepala Gibran dengan kencang. Gibran mundur beberapa langkah dan tatapan horor dia berikan untuk Jasmine.
"Lihat tangan saya berdarah karena gigitan kamu, bagaimana kalau saya nanti terkena rabies?" Gibran membentak Jasmine, dan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
"Maaf, Tuan. Saya kan tidak sengaja, mana lihat tangan kamu biar saya obati!" Jasmine meraih tangan Gibran namun dengan cepat Gibran menghempaskan tangannya.
"Tidak perlu," ucap Gibran dengan ketus.
"Tapi, Tuan. Sini biar saya obati!" Jasmine kembali menarik tangan Gibran tapi Gibran malah berjalan mundur menghindar dari Jasmine.
"Tuan, jangan mundur! Saya akan mengobati tangan kamu!" Jasmine maju dengan kembali ingin menarik tangan Gibran.
Karena Jasmine menarik tangan Gibran terlalu kencang, hal itu malah membuat Gibran terjatuh dengan siku yang terbentur meja sampai memar.
"Di mana sopan santun kamu untuk seorang pria? Jangan jadi gadis yang bar-bar Jasmine, tingkahmu sungguh memalukan!" ucap Gibran dengan nada dingin. Gibran bangun dari posisinya sekarang yang berlutut dan segera pergi meninggalkan Jasmine begitu saja.
Jasmine terlihat sedih karena Gibran selalu menjulukinya aneh-aneh. Jasmine menatap punggung Gibran yang berjalan menjauh dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa salah aku ke kamu sampai kamu bicara seperti itu, Tuan?" Jasmine menundukkan kepalanya dan langsung berlari ke toilet karena sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Jasmine masuk ke dalam toilet lalu menutup dan mengunci pintunya dari dalam. Jasmine duduk di atas kloset dan menangis dengan tersedu-sedu. Dia tidak tahu kenapa dia bisa sampai seperti ini. Tapi yang jelas, Jasmine merasa sedih saat Gibran membentak dirinya tadi.
Gibran sebenernya tidak berniat untuk membentak Jasmine, tapi sikap Jasmine membuat Gibran sangat kesal. Tangan Gibran terasa sakit walau hanya luka gigitan. Bayangan, luka kecil akibat tertusuk jarum saja bisa sangat sakit kan?
Gibran saat ini duduk di depan ruangan dokter, dia tidak pergi menemui dokter untuk mengobati lukanya tapi malah memutuskan untuk berdiam diri saja.
Gibran menyatukan kedua tangannya dan mejadikan itu untuk menumpu dahinya. Hati Gibran rasanya sangat sedih saat di mana dia tidak ingin marah dah menangis tapi malah situasi di sekitarnya membuat dia harus marah.
"Kesalahan apa yang aku buat di masa lalu, Tuhan?" Gibran mengusap rambutnya frustrasi. Dia bangun dari duduknya dan berjalan ke toilet untuk mencuci wajahnya, berharap dengan demikian pikirannya akan ikut segar dan sedikit tenang.
Gibran berjalan dengan gontai ke toilet, tatapan para wanita yang tertarik padanya tidak dia abaikan, pikirannya kalut pada masalah yang tidak dia ketahui asalnya.
Sesampainya di toilet, Gibran membasuh wajahnya dengan air yang dingin. Sedikit demi sedikit rasanya dia mulai tenang. Gibran merasakan perih di tangannya saat luka itu terkena air.
Gibran menatap dirinya di depan cermin, terlihat dengan jelas tidak ada bayangan keceriaan di wajahnya.
"Aku tidak ingin menyepelekan kehidupanku lagi, aku tidak akan melakukan hal konyol lagi, mulai sekarang aku harus menjadi seorang pemimpin yang benar-benar serius." Gibran tersenyum pada bayangan dirinya, dia sudah membulatkan tekad akan berubah menjadi lebih baik.
***
Bersambung ...
Ceritanya jangan terlalu banyak nyelenehnya, lebih baik diselang seling biar dapat feelnya. Kalau diterima ya, kalau nggak juga nggak pa"...🤭🤭🤭