Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Hari kedua bagi Alex dan Bintar kembali ke kantor kembali dimulai, entah pekerjaan apa hari ini yang telah menunggu mereka berdua. Yang pasti bukanlah pekerjaan yang dibayangkan oleh kedua tuan muda itu. Sepertinya Bintar masih sangat kesulitan untuk memaki dasi, wajar saja Bintar hanya nyaman dengan baju casual dan simpel, jadi ketika dirinya diharuskan memakai dasi begitu menyulitkan baginya.
"Sial banget sih gue, masa pake dasi aja gue nggak bisa," gerutu Bintar saat ia merasa frustasi memasang dasi.
Kemarin saat pertama kali Bintar datang ke kantor, ia meminta tolong kepada Herry untuk memakaikan dasi tapi saat ini Herry tidak ada karena harus pergi ke Bandung pagi-pagi sekali. Sedangkan Richi selalu menolak jika Bintar meminta tolong untuk dipakaikan dasi karena Richi tidak mau Bintar menjadi anak manja. Tidak mungkin juga Bintar harus meminta tolong kepada Zein hanya masalah sepele karena Zein selalu malas dan merasa tidak penting untuk dimintai pertolongan hanya perkara dasi. Bagi Zein itu sangat membuang waktu. Arga pernah memberikan contoh memasang dasi namun Bintar terlalu jenius untuk mengingatnya sehingga mudah lupa. Harapan satu-satunya adalah Alex.
"Pakai sendiri, gue juga lagi sibuk," tolak Alex mentah-mentah saat dirinya sedang bercermin sambil memakai dasi.
Seketika Bintar merasa kecewa karena mendapat penolakan dari Alex, mengapa begitu sulit baginya meminta tolong padahal Bintar selalu sedia jika ada yang meminta tolong kepadanya.
"Gue nggak bisa, makanya gue minta tolong lo," balas Bintar dengan nada kesal sedikit kecewa karena penolakan Alex.
"Sayangnya gue masih sibuk, lo minta tolong Dewa aja buat bantu pakai dasi," saran Alex yang masih sibuk bercermin melihat dirinya dari pantulan cermin kamarnya sambil melihat dirinya dari berbagai sisi.
What! Apa tidak salah Alex menyuruh Bintar meminta bantuan kepada Dewa untuk memakaikan dasi? Itu bukan ide bagus bagi Bintar, dengan rasa kecewa akhirnya lelaki dengan tinggi 174cm itu kembali ke kamarnya sambil memegang dasi di tangan kanannya.
Rasa putus asa Bintar berubah saat melihat Darin yang baru saja keluar dari kamarnya. Perasaan optimis kembali muncul di hati Bintar karena ia berpikir jika Darin pasti bisa membantunya. Secepat kilat Bintar yang baru saja keluar dari kamar Alex berjalan menghampiri Darin yang hendak menuruni anak tangga.
"Darin!" panggil Bintar sedikit berteriak dengan rasa bahagia terlihat jelas di wajah tampannya.
Merasa namanya dipanggil sontak membuat Darin menoleh dan melihat adik iparnya sedang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Lo kenapa?" tanya Darin saat melihat Bintar berjalan terburu-buru menghampirinya dengan kondisi yang masih berantakan.
"Please bantuin gue," pinta Bintar memohon dengan memasang wajah memelas kepada Darin.
Melihat Bintar yang terlihat sangat putus asa membuat Darin iba, dan ingin sekali menolongnya. Tapi apa yang bisa Darin bantu untuknya?
"Bantuin apa?" tanya Darin seolah mengiyakan permintaan Bintar.
"Pasangin dasi. Gue nggak bisa pake dasi kayak ginian." Bintar menunjukkan sebuah dasi yang sedari tadi dipegang olehnya.
Hanya tawa ringan yang terlukis di bibir Darin saat tahu permintaan Bintar, itu adalah permintaan mudah bagi Darin.
"Kirain mau minta tolong apa. Sini gue pakein."
"Serius lo? Wah, lo baik banget sama gue." mimik wajah Bintar terlihat bahagia saat Darin mengiyakan permintaannya membuat semua masalah sirna bagi Bintar.
Darin mulai memasangkan dasi Bintar dan masalah terselesaikan sudah.
"Coba dari tadi gue minta tolong sama lo, nggak perlu gue ngemis-ngemis sama Alex. Nggak perlu gue ketuk pintu satu-satu kamar kayak salesman," gerutu Bintar meluapkan isi hatinya yang sangat kesal sedari tadi karena tidak ada yang mau membantunya dan Darin hanya tertawa ringan mendengar cerita Bintar.
Setelah hampir selesai Darin memakaikan dasi, seseorang mengambil alih pekerjaan Darin secara paksa dan tiba-tiba membuat keduanya kaget. Apalagi saat tahu seseorang yang datang sambil memegang dasi Bintar saat ini adalah Arga.
Wajah Darin dan Bintar terlihat kaget bukan main saat Arga berdiri bersamanya, apalagi dengan memasang wajah andalannya membuat Bintar yang merasa sangat bahagia menjadi terdiam membeku.
"Bukannya kemarin udah gue kasih tahu cara memakai dasi yang benar?" tanya Arga yang membantu memasangkan dasi dengan nada datar namun terdengar sangat menyeramkan bagi Bintar.
Glek, mengapa Arga selalu datang di waktu yang tidak tepat. Mengapa kakaknya seperti hantu yang begitu muncul secara tiba-tiba. Mulut Bintar terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Arga, sementara Darin hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya Bintar dalam masalah besar saat ini.
"Sorry, Bang. Gue lupa," jawab Bintar ketakutan karena tatapan Arga begitu tajam menatapnya, apalagi jarak mereka berdua begitu dekat.
"Kenapa nggak lo lihat di You Tube? Di sana ada banyak tutorial cara pasang dasi. Jangan bilang kalau lo nggak punya kuota atau ponsel lo rusak, Karena lo anak orang kaya di negri ini." Binta terus menyindir dan seolah mengintimidasi Bintar membuat posisi Bintar semakin terpojok.
Ucapan Arga membuat Bintar tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menelan luda yang terasa sangat susah sekali. Kedua bola mata Arga menatapnya begitu tajam seolah ia sangat tidak suka jika Bintar meminta tolong kepada Darin.
"Ini perintah atau larangan?" tanya Bintar yang sekarang paham arti ucapan Arga.
"Dua-duanya," jawab Arga singkat sambil mengencangkan dasi yang sudah selesai dipakaikan kepada Bintar.
Merasa kesakitan dengan dasi yang dipasangkan oleh Arga membuat Bintar teriak, Arga seolah seperti menjerat lehernya menggunakan dasi. Melihat Bintar kesakitan membuat Darin yang sedari tadi hanya menunduk kini menatap Arga.
"Aaaaa...Sakit, Bang. Lo mau buhun gue?" tanya Bintar sambil melepaskan secara paksa tangan Arga dari dasinya dan Arga hanya tersenyum ringan tanpa memperdulikan Bintar yang merasa kesakitan karena tercekik dasinya sendiri.
"Parah lo. Gara-gara dasi masa lo mau bunuh gue," celetuk Bintar merasa kesal kepada Arga yang terdiam tanpa rasa bersalah.
"Salah lo sendiri. Makanya kalau dikasih tahu diinget jangan sampe lupa, paham!" kata terakhir Arga yang hendak pergi menuju ruang makan.
"Parah banget sih dia. Mau buhun gue apa," gerutu Bintar sambil membuka kembali dasi yang dipasang oleh Darin tadi.
"Sini gue benerin lagi." Darin menawarkan bantuan kepada Bintar dengan tatapan sendu menatap Bintar yang kesakitan karena ulah suaminya.
"Jangan!" tolak Bintar sedikit ketakutan saat Darin mencoba mendekatinya.
"Gue bisa sendiri. Makasih ya, Rin," kata terakhir Bintar sambil pergi meninggalkan Darin sendirian.
Ada rasa bersalah dan kasihan di hati Darin melihat keadaan Bintar, mengapa Arga begitu keras kepada adik-adiknya. Tidak ada sikap lembut Arga kepada adik-adiknya, hanya kepada Dewa sikap Arga sangat lembut. Kadang Darin berpikir jika Arga selalu pilih kasih.
"Seharusnya kamu nggak boleh begitu sama Bintar," kata Darin masih membahas tentang kejadian tadi saat mengantar Arga sampai depan rumah.
"Kenapa nggak boleh?" Arga balik bertanya dengan tatapan lekat menatap istrinya.
"Dia hanya meminta tolong karena nggak bisa pakai dasi."
"Aku nggak mau bahas soal ini lagi, dan sudah aku bilang kalau aku nggak suka kamu dekat dengan lelaki lain termasuk adik-adikku," jelas Arga menatap kedua bola mata Darin membuat Darin merasa salah tingkah.
"Kenapa? Mereka juga adikku, dan aku juga menyayangi mereka seperti aku menyayangi adikku sendiri."
"Tetap aku nggak suka. Dan aku nggak mau bahas soal ini lagi, paham!" kata terakhir Arga membuat Darin tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Belum sempat Darin menjawab ucapan Arga, seseorang datang dan masuk ke dalam pembicaraan mereka berdua yaitu Alex yang hendak berangkat ke kantor.
"Karena dia cemburu kalau lo deket sama cowok lain," sahut Alex dengan nada santai berjalan menghampiri Arga.
Glek, Darin dan Arga menoleh secara bersamaan dan melihat Alex berjalan ke arah mereka. Wajah Arga berubah menjadi sedikit gugup dan malu karena yang diucapkan oleh adiknya itu benar adanya.
"Benarkan, Bang?" tanya Alex kepada Arga seolah menggoda kakaknya yang terlihat sedikit gugup dan malu.
"Berisik lo! Duluan sana!" usir Arga mencoba untuk tidak meladeni ucapan Alex.
Hany tawa ringan yang terlukis di bibir Alex saat berhasil menggoda kakaknya. Wajah Arga terlihat sedikit memerah karena malu begitu juga dengan Darin.
Perubahan sikap Darin membuat Arga banyak diam tidak seperti biasanya, ia terlihat sering melamun dan tidak terlalu berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Zein menyadari ada seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran adiknya, tapi Zein tidak ingin bertanya lebih dulu kepada Arga karena ia tidak mau mencampuri kehidupan rumah tangga adiknya.
"Kalau lo capek istirahat dulu," ucap Zein sedikit menyindir Arga yang sedari tadi hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata saat menyerahkan beberapa laporan kepada Zein di ruangannya.
Suara Zein membuat Arga tersadar dan langsung menatap kakaknya yang sedang sibuk membaca laporan darinya.
"Iya, Bang. Apa ada masalah?" Arga bertanya seolah tidak mendengar dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Zein.
Senyum simpul terlukis di bibir Zein dan Arga tidak mengerti apa artinya senyum itu. Apa Arga salah bicara atau ada hal lain yang Zein ucapkan tanpa dirinya tahu.
"Kalau lo lelah beristirahatlah. Jangan dipaksain," kata Zein mengulang ucapannya menatap Arga.
"Gue baik-baik aja kok," tandas Arga meyakinkan Zein.
"Tapi nggak sama pikiran dan hati lo. Kayaknya pikiran sama hati lo lagi nggak sinkron," tebak Zein yang sepertinya mulai penasaran.
Niatnya Zein tidak ingin tahu tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Arga, namun sepertinya Arga sedang tidak baik-baik saja dan menghambat pekerjaannya dan itu yang membuat Zein tidak suka. Arga hanya terdiam saat Zein mengetahui jika memang ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Arga saat ini.
"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gue sekarang, dan gue nggak mau membahasnya di kantor," kata Arga berterus terang kepada Zein.
Selain kepada Zein tidak ada lagi orang yang bisa diajak cerita oleh Arga. Hanya Zein satu-satunya tempat bagi Arga mencurahkan isi hatinya, meskipun tidak semua dapat diucapkan oleh Arga kepada kakaknya.
"Tentang Darin?" tebak Zein dan Arga hanya mengangguk.
"Sejak kemarin sikapnya aneh sama gue." Arga mulai cerita kepada Zein dan kakaknya dengan setia mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh adiknya.
"Aneh kenapa?"
"Gue ngerasa cara dia natap gue, cara dia berbicara sama gue kali ini berbeda," cerita Arga memberitahu perubahan sikap Darin kepadanya.
"Berbeda gimana maksudnya?" Zein semakin tidak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Arga.
Jangankan Zein yang terlihat kebingungan, Arga pun sama sangat bingung harus dari mana ia memulainya. Mengapa sulit sekali bagi Arga untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam isi hatinya. Mengapa ia sangat sulit untuk bicara kepada Zein tentang apa yang telah terjadi kepada Darin dan dirinya.
"Gimana ya." Arga terlihat semakin kebingungan dan membuat Zein ikut bingung dibuatnya.
"Dia berbeda aja dari biasanya. Biasanya dia jutek sama gue, biasanya dia sinis sama gue, biasanya dia marah-marah sama gue. Tapi sejak kemarin sikap dia berbeda, cara natap dia ke gue kayak orang yang udah lama menyimpan rindu."
Jujur Zein semakin dibuat bingung oleh ucapan Arga, tapi sebisa mungkin Zein menangkap sedikit cerita dari Arga.
"Memang lo berdua nggak pernah akur?" tebak Zein yang membuat Arga terdiam kebingungan.
Arga lupa jika mereka berdua harus terlihat bahagia di depan semua orang termasuk Zein. Jangan sampai ada yang tahu jika mereka berdua sedang bersandiwara.
"Bukan begitu," kata Arga terlihat gugup dan kebingungan harus berbicara apa lagi.
"Gue tahu gimana perasaan lo sama Darin. Lo berdua menikah bukan karena saling cinta dan butuh banyak waktu buat menyesuaikan diri satu sama lain, tapi gue yakin lo berdua pasti akan jatuh cinta satu sama lain nantinya."
Sepertinya Zein paham akan apa yang diucapkan oleh Arga dan ucapan Zein kali ini membuat Arga terdiam.
"Kita sama, Ga. Gue juga menikah bukan karena cinta, tapi seiring jalannya waktu gue bisa menerima dia sebagai pendamping hidup gue. Meskipun kebersamaan gue hanya sebentar, gue merasa bahagia karena dia udah hadir dalam kehidupan gue," papar Zein yang menceritakan tentang kisah cintanya dengan istrinya yang sudah meninggal.
Arga tahu benar bagaimana Zein dulu menolak mentah-mentah seperti Arga. Bahkan Zein yang paling kejam, sampai membuat keributan kedua keluarga dan kakeknya Ardhi Bhakti harus berujung dikirim olehnya ke rumah sakit karena serangan jantung.
Akhirnya Zein menyadari jika kehidupan seperti dirinya berada di tangan kedua orang tuanya, dia tidak bisa memilih perempuan yang sangat dicintainya untuk dijadikan istri dan ibu bagi anak-anaknya. Semua hanya karena bisnis dan kelangsungan nasib perusahaan.
"Gue juga tahu lo masih trauma karena perceraian mama dan papa, tapi bukan alasan buat lo menata masa depan lo karena lo juga berhak bahagia. Gue yakin Darin bisa melakukan itu. Inget pesan gue. Temui perempuan yang hidupnya dipenuhi trauma, trust issue dan bahkan tidak mempercayai ke siapapun. Temani dia, rebut kembali hatinya. Jangan sakiti dia, maka kau akan mengerti rasa hebatnya dicintai seorang perempuan."
Kata-kata Zein terus terlindas dalam pikiran Arga membuat dirinya sedikit gundah. Rasa haus menghampiri Bintar saat mereka sedang asik mengobrol bersama di ruang keluarga. Memang ketujuh lelaki tampan selalu mengisi luang berbincang bersama disela kesibukannya. Entah itu membahas tentang apa, yang pasti agar mereka lebih dekat dan saling menyayangi satu sama lain.
Diambilnya air mineral putih di dalam lemari pendingin, dan kini tenggorokan Bintar terasa lebih segar. Saat Bintar hendak berbalik tanpa sengaja kedua bola matanya menangkap sesuatu yang sudah berada di dalam tempat sampah. Sesuatu yang sangat menarik perhatiannya karena gambar boxnya yang tidak biasa. Diambilnya box dari tempat sampah yang berada tepat di samping lemari pendingin.
Dengan wajah kebingungan Bintar membaca tulisan yang tertera pada box itu. Betapa terkejut dan kagetnya Bintar saat mengetahui tulisannya yaitu sebuah nama produk susu untuk ibu hamil. Bintar menebak-nebak milik siapa box susu ini, dan ia baru ingat jika kakaknya baru saja menikah pasti milik Darin. Tanpa banyak bicara Bintar segera pergi membawa box susu kosong menemui kakak-kakaknya. Suasana ruang keluarga begitu ramai akan canda tawan dari kelima saudaranya, namun kakak iparnya tidak nampak di sana membuat Bintar yakin jika Darin sedang mengalami masa kehamilan yaitu sering mual dan sakit kepala. Dan juga adik bungsunya Dewa yang sudah tertidur sedari tadi.
"Bang. Lo nggak bilang sama kita-kita kalau Darin hamil?" tanya Bintar masih dengan mimik wajah kebingungan tidak percaya.
Suasana yang tadinya begitu riuh berubah menjadi sunyi senyap saat mendengar apa yang baru saja Bintar ucapkan. Semua mata tertuju kepada Bintar dan begitu kaget dengan apa yang baru saja diucapkan bagai disambar petir. Begitu juga dengan Arga yang tidak kalah kagetnya, mana mungkin Darin bisa hamil karena Arga belum juga menyentuhnya.
"What Darin hamil!" teriak Herry begitu histeris.
"Hah serius lo? Lo tahu dari siapa?" Richi tidak kalah terkejutnya dengan ucapan Bintar.
"Lo pasti bohong, kan?" Alex merasa tidak terima saat mendengar Darin hamil.
Semuanya tampak tegang akan kabar dari Bintar, dan sekarang Bintar yang harus mempertanggung jawabkan ucapannya. Ditunjukkan box susu kosong yang Bintar temui di tempat sampah dapur. Lagi-lagi untuk yang kedua kalinya mereka dibuat kaget oleh Bintar.
"Gue temuin ini di dapur. Ini susu buat perempuan hamil, kan?" Bintar balik bertanya sambil menunjukkan box kosong kepada kelima saudaranya.
Benar ucapan Bintar saat melihat box susu kosong yang bertuliskan susu untuk ibu hamil, mereka semakin percaya dan kaget bukan main. Secara bersamaan mereka berenam menatap ke arah Arga begitu tajam, apa Arga sengaja tidak memberitahu kepada mereka jika Darin sedang hamil. Arga juga dibuat kebingungan dan kaget apa benar box susu kosong itu milik Darin? Tapi mengapa Darin tidak memberitahunya? Jika memang hamil anak siapa yang Darin kandung?
"Darin beneran hamil? Lo nggak bilang sama kita-kita?" tanya Zein yang mulai yakin akan ucapan Bintar.