Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.
Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.
Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?
stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan setelah siuman
Lamat-lamat icha mulai mendengar lagi satu nada yang terus berulang. Walau belum melihat, tapi Icha bisa menebak, suara apa itu. Perlahan, Icha mulai membuka matanya. Dia merasa asing dengan tempatnya berada saat ini. Tapi dari selang, dan kabel yang menempel di tubuhnya, Icha bisa menebak, di mana dia berada.
“Ibuuu”
Icha berusaha memanggil ibunya. Tapi suaranya masih lemah. Dia mengernyit merasakan sakit di kepalanya. Tirai yang tertutup membuatnya tidak bisa melihat ke luar.
“Tikaa”
Dia memanggil lagi. Tapi suara lemahnya tak bisa sampai menembus tirai pembatas itu. Icha menyebar pandangannya, berharap bisa menemukan bel darurat.
“Pak?”
Perhatiannya tersita pada seseorang yang datang mendekat ke arahnya. Perawakan dan gaya jalannya, sangat jelas kalau orang itu adalah laki-laki. Tapi bukannya menuju ke ranjangnya, tapi malah menuju ranjang di sebelahnya.
Sreeeeeekkk
Orang itu menyibakkan tirai di sebelah kiri Icha.
“Mas Hasan?”
Icha bergumam nyaris tanpa suara. Ada rasa senang di hatinya, bisa melihat si tampan lagi. Tapi si tampan itu justru fokus sama orang di ranjang sebelah.
“Cewek? Siapa, ya?”
Timbul rasa cemburu dalam hati Icha, melihat seorang wanita mendapat perhatian dari si tampan.
“Mas. Tutup dulu tirainya! Kan tiraiku juga kebuka” tegur Icha, saat si Hasan membungkuk, seperti hendak mencium wanita yang terbaring itu. Tapi Hasan tidak merespon. Seolah-olah, tidak ada Icha di sebelahnya.
“Astaghfirulloh. Mas Hasan?”
Icha sangat terkejut melihat kejadian di depan matanya.
“Mas Hasan, sadar, mas!” teriak Icha.
Tapi si Hasan masih tidak merespon. Dia masih terus menekuk selang oksigen yang membantu pernafasan wanita itu.
“Lepasin, mas!”
Icha berteriak lagi sambil mengibaskan tangannya. Berharap ada kekuatan khodam dalam dirinya yang bisa menghentikan aksi si Hasan. Tapi nihil. Sama sekali tidak ada kekuatan yang keluar dari tangannya.
“Dasar biadaaap”
Sraaaak
Bruuuk
Graaaakkk, traaaang
Icha bermaksud turun dari ranjangnya. Tapi naas, tenaganya belum pulih. Dia terjatuh karena kakinya gagal berdiri.
“LEPASIN BIADAAAAPP!”
Icha berteriak sekuat tenaga. Berharap suaranya sampai ke telinga si Hasan.
“Mbak Ichaaa”
Memang kencang teriakan Icha tadi. Sampai Tika mendengarnya dari luar ruangan.
“TOLOOOONG”
Tika yang bingung harus bagaiman, berteriak minta bantuan. Dengan tergopoh-gopoh, suster dan bapaknya datang menolong.
“Kamu kenapa, nduk? Butuh apa?” tanya pak Sigit, setelah Icha kembali di atas ranjang rawat, tapi masih gelisah.
“Hasan, HASAAAN”
Jawab Icha dengan suara melengking. Dia gunakan jarinya untuk menunjuk ke sebelah kiri.
“Ini, mas Hasan di sini”
Suara Tika sontak membuat Icha berpaling ke kanan. Dan terlihatlah si tampan itu tersenyum dalam raut wajah bingung. Icha menoleh lagi ke kiri.
“Loh?”
Icha terkejut, melihat ranjang sebelah tidak ada penghuninya. Rapi sekali, seakan-akan tidak baru dipakai. Juga tidak ada peralatan penunjang kehidupan.
“Cewek itu? Cewek itu?”
“Cewek siapa?” tanya pak Sigit.
“Ranjang itu kosong, mbak” kata suster yang tadi menolongnya.
“Hemm”
Tika bersedekap sambil tersenyum geli memandang kakaknya. Icha mengernyitkan keningnya, tanda dia bingung dengan maksud senyuman Tika.
“Kalo mas Hasan sih, emang patut buat ditiru” komentar Tika.
“Maksudnya?” tanya Hasan bingung.
“Iya” Tika tergelak.
“Mas Hasan kan ganteng, wajarlah kalo ada setan yang ngiri, terus bikin wujud serupa sama mas Hasan. Apalagi yang jadi pasien di sini, cantik” lanjut Tika.
“Nggak ngerti, deh” komentar Hasan.
Tika menceritakan awal kejadian saat kakaknya pulang dari merantau. Kejadian di jati kobeng, sampai terbukanya mata batin Icha. Tapi dia tidak menceritakan sebab utamanya.
“Oh, pantes. Kirain yang tempo hari itu, karena kebanyakan nonton film horor. Ternyata beneran bisa lihat yang nggak keliatan” komentar Hasan.
“Wuuh. Yang paling nggak keliatan juga udah lihat” celetuk Tika.
“Apa tuh?” tanya Hasan serius.
“Ha ha ha” Tika malah tertawa.
“Jangan asal ngomong!" tegur Icha, ketus.
“Ha ha ha. lha sampe jatuh, gitu. Lihat apa, hayo?" sahut Tika bercanda. walau dia tahu kakaknya sedang tidak suka dibercandai.
Ichapun melototkan lagi matanya pada Tika. Tika berhenti tertawa, melihat sang kakak benar-benar tersinggung. Hasan berinisiatif mengalihkan suasana dengan memberikan buah tangan kepada Icha.
Walau masih terpengaruh dari apa yang dia lihat tadi, Icha tetap menerima buah tangan dari Hasan. Senyum si tampan itu, sanggup meluruhkan berbagai perasaan yang bercampur aduk setelah melihat penampakan tadi.
“Mita kemana, mas?” tanya Icha.
“Mita lagi ada di rumah, bersihin sampah. Yang di samping rumahnya itu” jawab Hasan.
“Alhamdulillah. Syukur deh mas, kalo akhirnya dibersihin”
“Kemarin lusa dia nengokin kamu, sama Andi. Tapi kamunya belum siuman”
“Kemarin lusa?”
“Iya. Kan kamu masuk sini kan minggu malam. Ini udah hari jumat”
“Astaghfirulloh. Udah berapa hari, aku nggak sadarkan diri?”
“Ya, tiga hari. Kalo ditambah yang kemarin, jadi empat hari”
“Astaghfirulloh”
“Udah. Nggak usah dipikir! Istirahat aja!” saran Hasan.
“Mau ditemenin?” lanjut Hasan.
Icha terpesona mendengar tawaran itu. Senyum itu begitu mempesona baginya. Ingin dia bilang, mau.
“Eheemm”
Suara Tika menyentakkan lamunannya.
“Tadi bilangnya mau nemenin Tika. Kenapa nawarin mbak Icha juga?” tanya Tika.
“Ha?”
Seketika raut wajah Icha berubah. Hasan jadi salah tingkah. Dia menatap Tika, menuntut penjelasan.
“Hi hi hi. Woles, bos. Bercanda doang, Tika. Slebew” kata Tika, melihat raut tegang di wajah Hasan.
“TIKAA” panggil Icha menggeram, saat dia menjauh.
“Ha ha ha” Tika tertawa lagi.
Tapi sepeninggal Icha, mereka berdua malah seperti salah tingkah. Sama-sama malu untuk mengakui, kalau masing-masing sama-sama mengagumi satu sama lain.
Tika yang bertemu lagi dengan bu Sari, tampak tersulut emosinya. Tanpa menyapa dan membungkukkan badan, dia lewat begitu saja di depan pak dan ibu tirinya. Dia pergi ke ruang ICU, tempat dimana ibunya dirawat.
“Kamu kenapa, sayang? Kok kaya marah begitu?”
Bulek Rini yang sedang menunggui ibunya, bingung dengan kedatangannya dengan muka merah padam. Tikapun masuk dan memeluk buleknya.
“Bapak, lek” jawab Tika. Dia masuk dan duduk di lantai bersandar tembok.
“Kenapa, sama bapak?”
Bulek Rini menghampiri Tika.
“Bapak malah lebih seneng nungguin mbak Icha ketimbang ibu”
“Lah. Kan mbak Icha, anaknya”
“Ya, tapi ada wanita itu lek, di sana”
Bulek Rini menghela nafas. Dia memeluk dan mengelus-elus kepala Tika.
“Yang sabar ya, nduk! Bulek juga nggak suka sebenernya, sama dia. Nanti kalo dia macam-macam, biar bulek aja yang nyikat” kata bulek Rini.
“Makasih ya, lek”
Bu sari tampak gelisah. Dia tampak ingin protes, tapi tidak berani. Dia takut malah menambah stress yang dirasakan suaminya. Dia hanya bisa berkali-kali menghela nafas berat.
“Kamu mending pulang aja dulu, dek!” kata pak Sigit pada bu Sari.
“Enggak, mas” jawab bu Sari.
“Kamu kecapekan tuh. Kamu juga berhak istirahat. Udah ada Rini yang jagain Maryati. Aku bisa jagain Icha”
“Enggak, mas. Aku lebih milih di sini jagain mbak Mar, daripada pulang. Anakmu mas, pedes omongannya. Sekali aja aku keliatan nggak ada di sini, bisa nambah pedes omongannya” jawab bu Sari.
Pak Sigit terkesiap. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia menghela nafas berat. Terlalu ruwet kalau sudah berhubungan dengan yang tidak terlihat. Siapa saja bisa dituduh sebagai pelaku. Dan posisi istri keduanya, sangatlah empuk untuk dijadikan sasaran kecurigaan.
ada kelanjutan nya gak????
💪💪💪
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat