Brisa tiba-tiba terbangun di tempat asing, ia di culik dan kini sudah mengenakan pakaian pengantin. ia tak tau kenapa dan siapa yang sudah melakukan semua ini. Sampai ia tau jika ia sudah menjadi seorang istri dari pria misterius yang tak pernah ia temui bernama Tuan Adam.
Hidup Brisa berubah, menjadi istri seorang tuan Adam menjadikan seorang Cinderella. Ia membalas semua perbuatan keluarga yang pernah menyia-nyiakan dirinya. Sampai suatu ketika, pria bernama Tuan Adam berdiri didepan mansion tempat tinggal Brisa.
"siapa wanita ini?" tuan Adam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Brisa menelan ludah kasar. Wanita itu bak melihat penampakan saat ia beradu pandang dengan Tuan Adam. Pria itu terus menekan Brisa dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?" batin Brisa ketakutan. Tubuhnya mulai gemetaran. Namun, Brisa masih tetap berusaha mengendalikan dirinya dari rasa takut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa dia hanya menatapku?" batin Brisa makin panik.
Tatapan dingin Tuan Adam sukses membuat nyali Brisa rontok seketika. Padahal pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tapi sikap dan tatapan Tuan Adam saja sudah cukup untuk membuatnya bulu kuduknya berdiri.
"Brisa, kau benar-benar payah! Jangan gemetaran seperti ini di depan pria jahat itu!" batin Brisa mencoba mengumpulkan keberanian.
Brisa dan juga Tuan Adam hanya saling beradu pandang tanpa bersuara sedikitpun. Melihat Tuan Adam yang tidak melakukan apa pun, Brisa pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Tinggal sedikit lagi, wanita itu akan berhasil meninggalkan mansion. Tinggal sedikit lagi, Brisa kan berhasil keluar dari penjara itu.
Brisa melangkah perlahan menuju ke arah Tuan Adam yang saat ini menghalangi pintu. Brisa berusaha keras mengalihkan pandangan dari Tuan Adam, meskipun ia tahu kalau Tuan Adam saat ini masih terus melotot pada dirinya.
"Abaikan saja dia, Brisa! Abaikan saja dia! Yang perlu kamu lakukan hanyalah melewati pria itu dan membuka pintu utamanya!" ucap Brisa dalam hati.
Dengan sisa keberanian yang masih ia miliki, akhirnya Brisa pun berhasil melangkahkan kakinya sampai dirinya berada tepat di depan Tuan Adam. Kini keduanya saling berhadapan. Tuan Adam masih terus mengeluarkan aura menyeramkan dan cukup menekan Brisa dari dalam.
"Ayo beranikan dirimu, Brisa! Jangan biarkan pria ingin menguasai dirimu!" batin Brisa sembari mencoba mengatur nafasnya dan menahan rasa takut yang saat ini menghantuinya.
Brisa melanjutkan perjalanannya dan melewati Tuan Adam yang berdiri di sampingnya. "Aku hampir berhasil!" batin Brisa.
Namun, langkah Brisa langsung terhenti begitu ia merasakan cengkraman tangan Tuhan Adam yang saat ini sudah bertengger di lengannya. Jantung Brisa hampir meledak. Wanita itu diam mematung, tanpa bergerak sedikitpun.
"Harus berapa kali lagi aku mengulangi kalimat ini padamu?" tanya Tuan Adam dengan sikap yang begitu mengintimidasi. "Kamu harus patuh padaku!"
"Tenang, Brisa! Pria ini memang pandai menggertak! Kamu tidak boleh takut padanya!" batin Brisa. Meskipun sebenarnya wanita itu sangat ketakutan di hadapan Tuan Adam, tapi Brisa masih saja bersikap sok kuat dan melawan Tuan Adam.
"Kenapa aku harus terus menurut padamu? Ini hidupku! Aku sendiri yang akan mengaturnya!" tegas Brisa. "Biarkan aku pergi sekarang! Sekalipun kamu mematahkan kakiku, kamu tidak akan bisa menghalangiku!"
Brisa justru menantang Tuan Adam. Bukannya meredakan kemarahan pria itu, Brisa justru hanya bisa menyulut emosi Tuan Adam.
"Sebenarnya apa yang kamu punya sampai kamu begitu berani melawanku seperti ini? Kamu pikir kamu akan menang saat kamu menentangku?" sinis Tuan Adam.
"Aku memang tidak punya tubuh yang kuat. Aku juga tidak punya uang yang banyak. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku diinjak-injak dan dikendalikan oleh orang yang hanya bisa menindas seseorang yang lebih lemah!""
Brisa sudah siap menerima konsekuensinya. Selama tinggal bersama dengan Tuan Adam, Brisa juga sudah terbiasa menerima sikap kejam dari pria itu.
Brisa sudah pasrah. Jika Tuan Adam akan melakukan sesuatu untuk menyakitinya, Brisa sudah siap.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menaklukkanmu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa patuh padaku? Kenapa kamu selalu saja menganggap remeh diriku?"
Tentunya Brisa tak pernah menganggap remeh Tuan Adam. Hanya saja, wanita itu berusaha keras untuk tidak terlalu menunjukkan ketakutannya.
"Aku sudah berusaha patuh selama ini! Apa masih kurang? Aku sudah bersikap hormat, bukan? Kamu sendiri yang selalu membuatku memberontak! Kalau kamu tidak melakukan sesuatu yang menyebalkan, aku juga tidak akan bersikap seperti ini! Aku hanya ingin mendapatkan hidupku kembali, apa aku tidak punya hak atas hidupku sendiri?"
Tuan Adam terdiam sejenak. "Sepertinya kamu memang tidak mempan diberitahu dengan kata-kata, ya?" cetus Tuan Adam.
"Apa aku harus benar-benar mematahkan kakimu terlebih dahulu, baru setelah itu kamu akan menurut padaku?" sambung pria itu dengan ekspresi wajah yang menakutkan.
"Apa dia benar-benar akan mematahkan kakiku?" batin Brisa.
"Kamu akan mematahkan kakiku? Coba saja kalau bisa!" timpal Brisa makin membuat kemarahan Tuan Adam membara.
"Kamu menantangku? Kamu pikir aku tidak akan berani melakukannya? Aku sudah pernah hampir membunuhmu sebelumnya! Apa kejadian sebelumnya tidak pernah membuatmu jera? Atau kamu memang tipe wanita pembangkang yang harus dipukul terlebih dulu agar kau bisa patuh?"
Adu mulut antara Tuan Adam dan juga Brisa pun kini sudah berkembang menjadi pertikaian besar. Tuan Adam sudah lelah berbicara pada Brisa. Apalagi wanita itu tak pernah bisa diberitahu hanya dengan kata-kata.
"Kalau kamu memang tidak bisa diberitahu dengan kata-kata, aku akan mengajarimu dengan cara lain!" Tuan Adam langsung memukul kaki Brisa hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai. Hanya dengan satu serangan saja, Brisa langsung dibuat tumbang.
"Bagaimana? Kamu suka cara ini, hah?" Tuan Adam kembali melayangkan pukulan pada Brisa dengan brutal.
"Dasar pria kejam! Dia benar-benar tidak malu memukul seseorang wanita lemah seperti ini?" batin Brisa sembari menahan rasa sakit atas pukulan dari Tuan Adam.
Tidak hanya mulutnya saja yang bertindak, kini tangan dan kaki Tuan Adam juga ikut menyakiti Brisa. Pria itu memang benar-benar tega dan tak kenal ampun pada siapa pun, bahkan pada seorang wanita.
Melihat aksi Tuan Adam yang semakin brutal, tentu saja Brisa tidak tinggal diam. Wanita itu berusaha melawan, namun tentu saja Brisa tetap kalah dari Tuan Adam. Brisa sudah menerima begitu banyak pukulan, hingga wanita itu babak belur karena ulah Tuan Adam.
Aksi saling pukul antara Tuan Adam dan Brisa pun dimenangkan oleh Tuan Adam. Brisa tersungkur di lantai dengan banyak luka dan terbaring lemah di hadapan Tuan Adam.
"Dasar pria rendahan! Apa dia akan menyiksaku sampai mati?" batin Brisa mulai tak dapat menahan lagi rasa sakit akibat pukulan Tuan Adam yang membabi buta.
"Ini yang kamu inginkan? Kamu suka dipukuli seperti ini?" sinis Tuan Adam.
Pria itu mendekati Brisa dan menindih tubuh wanita itu. Tangan tuan Adam meraih leher Brisa dan mencekik wanita yang terluka itu.
"Apa dia sudah gila? Apa aku akan mati di sini?" batin Brisa masih terus melawan saat Tuan Adam melilitkan jemari di leher Brisa.
Brisa sudah tak sanggup lagi. Wanita itu sudah mempersiapkan diri jika memang ia harus mati di tangan Tuan Adam pada hari itu juga. "Sepertinya aku akan mati sia-sia di tangan pria kecil ini!" ucap Brisa dalam hati.
Brisa perlahan memejamkan mata saat ia melihat wajah Tuan Adam yang semakin dekat padanya. Brisa sudah bersiap-siap untuk menerima serangan terakhir dari Tuan Adam.
"Selamat tinggal dunia!" batin Brisa.
Namun, bukannya semakin mengeratkan lilitan di leher, atau kembali memukul Brisa, Tuan Adam justru mendaratkan ciuman pada Brisa. Ya, pria itu memberikan kecupan pada Brisa.
Brisa membelalakkan mata. Ia pikir, Tuan Adam akan menghabisinya. Tapi pria itu justru mengecupnya, setelah menghajar dirinya sampai tak berdaya.
Tak bisa dipungkiri, Brisa menikmati ciuman dari Tuan Adam meski ia sangat marah dan terhina. Jiwa binalnya lebih berkuasa. Sampai-sampai, meskipun ia sudah di buat babak belur, Brisa masih memuja sentuhan tuan Adam.
"Apa yang sebenarnya dia inginkan? Setelah menghajarku, dia justru menciumku?" batin Brisa tak mengerti dengan sikap Tuan Adam.
****
kk ku nantikan karya2 mu lagi yaa 😘😘😘
setlah drama sekian lama akhirnya adam memilih brisa yg gila
apa kabr smoyn
jangan sampai dipikirnya ia menikahi kekasihnya