Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terduga
Abizar diminta menghadap ayahnya. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Zidan.
"Apa papa peduli padaku? Untuk apa menanyakan hal itu?" tanya Abizar balik.
"Kapan kamu tidak melawanku? Kamu selalu melawan orang tua." Zidan nampak kesal sekali pada putra bungsunya itu.
Abi terkekeh. "Papa jangan salah paham. Aku hanya menanggapi apa yang papa ucapkan."
"Kelak kamu akan mengerti kenapa aku menempatkan kamu di posisi karyawan biasa," ucap Zidan dengan nada dingin. Setelah itu dia keluar dari ruangannya. Abizar masih mematung di tempat.
"Cih, papa selalu menyiksaku," gerutu Abi.
"Ada apa elo dipanggil ke ruangan atasan?" tanya Edo penasaran. Laki-laki itu satu bagian dengan Abizar. Dia duduk bersebelahan.
"Bukan masalah serius," jawab Abizar enteng.
"Ck, biasanya ya kalau ada yang dipanggil ke ruangan bos pasti ada alasannya."
"Kepo," ledek Abi. Abi mengalungkan tangannya ke leher. "Ntar siang mau gue traktir makan, nggak? Kebetulan hari ini istriku nggak sempat masak."
"Weh, mau banget. Itung-itung berhemat. Tahu sendiri lah kalau anak kost kaya gue nih nggak boleh jajan berlebih."
"Huu, dasar!" cibir Abi.
Saat makan siang, Abi mengajak Edo ke kantin kantor. "Lo pesen aja, besok kan gajian jadi nggak masalah kalau gue traktir hari ini," kata Abi.
"Seumur-umur gue baru lihat orang kaya elo. Biasanya nih ya, traktir setelah dapat uang. Nah elo traktir sebelum dapat uang. Mantep!" Edo mengacungkan dua jempol.
"Biasa aja kali. Gue kan punya usaha lain. Jadi duit gue nggak cuma ngandelin dari perusahaan ini aja," ungkap Abi.
"Weh, usaha apa coy?" tanya Edo penasaran.
"Jadi sebelum gue diterima kerja di perusahaan ini, gue bikin usaha kafe kecil-kecilan sama istri gue." Abi terlihat senang ketika menceritakan soal Annisa.
"Lo keknya bangga banget punya istri."
"Elo nggak tahu enaknya punya istri," bisik Abi.
"Sialan lo! Bikin jiwa jomblo gue meronta aja."
Abizar tersenyum. "Dasar otak ngeres! Enaknya punya istri tuh ada yang ngurus tiap hari. Ada yang bawain bekal, ada yang ngatur uang ada yang dirindukan tiap pulang kerja, gitu."
"Lo udah berapa lama nikah sama dia? By the way istri lo cantik nggak?" tanya Edo penasaran.
"Menurut lo gue ganteng nggak?" tanya Abi balik.
"Apa hubungannya?" Edo mengernyit heran.
"Ya adalah. Karena gue ganteng istri gue juga udah pasti cantik," jawab Abizar dengan sedikit congkak.
"Nggak percaya gue," sangkal Edo.
"Ya udah pulang kerja nanti gue ajakin elo ke kafe gue. Tapi jangan bilang yang lainnya kalau gue punya kafe," seru Abizar.
"Lah kenapa emang? Bukannya bagus kalau temen-temen tahu kalau elo punya kafe. Biar mereka mampir."
"Ya kalau bayar kalau minta gratisan rugi bandar dong gue," jawab Abi.
"Ya mesti bayarlah," imbuh Edo.
Abi tertawa. "Gue becanda. Gue nggak mau aja kalau gue dibilang sombong. Ntar ada yang ngomongin gue di belakang. Udah punya kafe ngapain kerja di perusahaan segala. Ujung-ujungnya gue dikira sombong, bener nggak?" Abizar meminta pendapat Edo. Edo hanya manggut-manggut.
"Eh, udah jam masuk kita kerja dulu baru ke kafe lo sepulang kerja," ajak Edo. Abizar mengangguk setuju.
Sesuai janji Abi, dia mengajak Edo ke kafenya. "Pakai motor gue aja." Edo menawarkan tumpangan.
"Boleh, tapi elo janji dulu setelah lihat istri gue jangan sampai elo naksir. Awas aja kalau naksir," ancam Abizar.
"Cih, gue nggak ada niatan jadi pebinor," ucap Edo sebelum mengendarai motornya.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua sampai di depan kafe milik Abizar dan Annisa itu. Abi turun dari motor langsung disambut oleh Annisa. Annisa meraih tangan suaminya untuk dicium.
"Mas Abi tumben naik motor?" tanya Annisa.
"Iya, sama temanku. Kenalin ini Edo. Do Edo!" panggil Edo. Laki-laki itu sedang mematung ketika melihat wajah Annisa yang teramat cantik.
"Subhanallah, bidadari surga dari mana ini?" seru Edo.
"Kan kan, dibilang juga apa? Udah ditutup aja matanya." Abizar meraup wajah Edo. Annisa tertawa melihat kedua laki-laki itu.
"Mas ajak temannya duduk. Aku buatin apa? Kopi atau jus?" tanya Annisa meminta pendapat suaminya.
"Jus jambu aja dua," jawab Abizar.
"Sumpah elo jadi laki beruntung banget. Istri lo cantik dapat dari mana?" bisik Edo.
"Gue dijodohin sama bokap," jawab Abizar dengan jujur.
"Ck,ck,ck kalau gue dijodohin sama cewek secantik istri lo mana gue nolak?"
"Gue aja nggak tahu gimana wajah Annisa sebelumnya,"
"Mas, silakan diminum." Annisa meletakkan dua gelas jus jambu permintaan suaminya.
"Lain kali boleh dong gue mampir ke sini," goda Edo.
"Boleh, tapi lain kali pakai kaca mata hitam," gurau Abizar.
"Lah kok gitu?" tanya Edo.
"Biar lho nggak melirik istri gue. Makanya cari cewek terus nikah. Nikita cantik tuh."
Mendengar suaminya menyebut nama Nikita, Annisa memberikan tatapan tajam. Edo pun menyadari kalau Annisa tidak suka. "Kayaknya ada yang cemburu?" bisik Edo.
"Maksudnya aku mau jodohin Nikita sama Edo, Yang. Jangan salah paham," terang Abi di depan istrinya.
"Dih, ogah. Asal lo tahu ya, Nikita tuh cewek terjutek yang pernah gue temui," ungkap Edo.
"Lo bilang amit-amit nanti lho bucin baru tahu rasa lo."
"Sialan lo. By the way udah malam banget, gue mau balik. Thanks ya udah ngajak gue mampir ke sini," kata Edo.
"Sama-sama. Pulangnya hati-hati," pesan Abi.
"Neng Annisa, abang balik dulu," pamit Edo. Abizar mengangkat sepatunya pura-pura ingin melempar ke arah Edo.
"Temannya Mas Abi lucu juga ya," ucap Annisa.
"Tapi kamu nggak naksir kan?" tuduh Abi. Annisa memberikan pukulan ke dada bidang Abi.
"Mas Abi jangan ngomong sembarangan. Udah ah pulang yuk! Aku capek banget hari ini," rengek Annisa.
"Aku ambil mobil dulu." Abizar sengaja menaruh mobilnya di depan kafe agar ketika pulang dia bisa mengendarainya bersama sang istri. Abizar tidak ingin membawa mobilnya hingga ke kantor karena dia tidak mau karyawan lain curiga. Sehari-hari Abizar naik ojek atau taksi online menuju ke kantor. Tapi sebelumnya dia berangkat dari rumah menggunakan mobil yang dinaiki bersama sang istri. Ribet kelihatannya tapi jika tidak begitu dia tidak bisa pulang menggunakan mobil.
"Mas, kapan-kapan mau liburan bareng nggak? Ke mana gitu? Semenjak kita menikah kita belum pernah liburan bareng," usul Annisa.
"Boleh," jawab Abizar dengan tersenyum.
...♥️♥️♥️...
Bonus Visual ya
Abizar
Annisa
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁