Meidina kini telah resmi menjadi istri seorang Kapolsek, Nyonya Radit Al Farizi. Pria yang mencintai nya tulus tanpa, memandang status masa lalunya.
Derajat Meidina, kini terangkat setelah menikah dengan Radit. Pria yang mampu menutupi masa lalunya sebagai wanita malam, dan memberikan sebuah kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Berujung Dendam
"Alhamdulillah, kandungan sehat, kuat, setelah pemeriksaan kedua ya bu. Dan ini sudah masuk usia 5 bulan, untung kemarin sempat di rawat, calon bayi nya sehat tidak kenapa - napa. Dan Ibu nya, harus banyak istirahat juga." ucap dokter Siska.
"Iya dok, kemarin memang sangat shock berat, sehingga mengakibatkan saya harus masuk rumah sakit. Dan saya, masih sangat bersyukur kalau anak saya ini kuat." ucap Meidina.
"Untuk Ibu Hamil, jangan lupa banyak istirahat, walau janin yang di kandung kita itu kuat, tidak menjamin tidak keguguran."
"Saya sering berdoa setiap hari, agar anak saya ini lahir dengan selamat, dan sehat selalu."
"Amin..!! " ucap dokter Siska.
"Kalau begitu, saya buat kan resep nya." ucap dokter Sinta kembali.
Meidina keluar dari rumah sakit, dan langsung menaiki taksi yang dipesannya. Di dalam taksi Meidina meminta sang supir, untuk mengantarkan nya ke suatu tempat.
"Pak, antar saya ke rumah Sakit Jiwa."
"Baik Bu." ucap Supir taksi.
Taksi pun berjalan ke arah dimana Meidina meminta, untuk mengantarkan nya ke tempat, yang dia minta.
"Meidina lalu membayar, setelah sampai di rumah sakit jiwa. Dengan berjalan, memegang perut nya Meidina masuk untuk membesuk Anisah.
" Mei." sapa Bagas saat bertemu Meidina di koridor rumah sakit.
"Bang." ucap Meidina.
"Kamu sama siapa?"
"Sendirian Bang."
"Anisah juga, baru saja selesai makan."
"Antarkan saya ke dia, saya ingin melihat nya Bang."
"Abang antarkan kamu ke dia."
***
Meidina melihat Anisah, dari luar. Hanya dari balik kaca,Meidina melihat Anisah, yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Abang, belum berinteraksi langsung dengan Anisah. Karena dokter, melarang kita untuk berinteraksi langsung. Anisah selalu mengamuk, tadi juga mau makan, hampir terjadi drama. Anisah mengamuk, perawat juga hanya sebatas menaruh makanan.Dan Abang perhatikan, dia mau makan saat Abang menatap nya."
"Kenapa, Anisah seperti ini Bang. Kenapa dia, semakin galak dan emosi nya semakin melunjak. Seperti kita, bukan melihat sosok Anisah.
Dari dalam Anisah, melihat Meidina. Anisah turun, dari atas tempat tidur, dan berjalan ke arah kaca.
" Mei." sapa Anisah dengan tersenyum.
"Dia masih, mengenal saya Bang?" ucap Meidina.
"Benar, sama Abang pun masih mengenali." ucap Bagas.
"Mana anak saya?" tanya Anisah.
"Ada Anisah, ini masih di dalam perut." jawab Meidina, sambil menunjukkan ke arah perut nya.
Anisah tersenyum, sambil menatap ke arah perut Meidina. Tatapan Anisah, berubah menjadi tatapan seakan ingin , menerkam Meidina.
Tangan Meidina memegang lengan Bagas, semakin erat, saat Anisah , kedua mata nya memerah.
"Bang, saya semakin takut melihat nya seperti ini. Seolah, dia ingin mencelakai saya."
"Kamu jangan takut, kaca nya tebal, Anisah tidak akan bisa memecahkan kaca nya."
Anisah menjauh dari kaca, dan kedua tangan nya, mengambil kursi, dan mengangkat nya sambil berjalan ke arah kaca.
"Bang, dia mau memecahkan kaca nya."
"Dia tidak akan bisa."
Aaaaaaaaa
"Jamaah pergi kamu Meidina...!!! " teriak Anisah, sambil terus mengarahkan sebuah kursi, ke arah kaca berusaha untuk memecahkan nya.
Para perawat langsung berlari masuk, dan segera mengambil kursi tesebut dan menyuntikkan obat penenang, saat Anisah terus berteriak memanggil nama Meidina , hingga suara Anisah yanti tadi nya lantang, dan mengucapkan sumpah serapah pada Meidina, kini merendah dan Anisah tidak sadarkan diri.
"Bang, apa kejiwaan nya terganggu karena saya? tapi salah saya apa Bang? sampai dia seperti membenci saya." ucap Meidina.
"Anak, dia kehilangan seorang anak yang di kandung nya, tapi dia hanya mengingat kamu, bercampur dengan kisah masa lalu yang jadi satu." ucap Bagas.
"Apa Anisah, dari dulu sangat membenci saya Bang?"
"Mungkin, dan melihat kamu hamil dia anggap itu anak kamu. Seolah, kamu yang merebutnya."
Meidina memegang kaca, melihat Anisah kini terbaring tidak berdaya, dengan kedua tangan nya yang terikat.
"Salah saya apa Anisah, saya tidak pernah merebut hak kamu, anak ini juga anak saya dengan Bang Radit. Tapi kamu seolah, anak yang sedang, saya kandung adalah anak kamu dengan Bang Bagas."
"Mei, kita berdoa semoga Anisah sembuh. Agar bisa, seperti dulu lagi."
"Iya Banga, semoga Anisah sembuh, dan menjadi orang normal kembali."
****
"Makasih Bang, sudah di antarkan pulang." ucap Meidina.
"Sama - sama Mei, sekali lagi Abang minta maaf."
"Nggak apa - apa Bang, mungkin dari kejadian tadi saya akan mengoreksi, kenapa bisa sampai membenci saya."
"Mei, apa Anisah masih menganggap kamu masih mencintai saya?"
Meidina menatap ke arah Bagas, dan mengarahkan posisi duduk nya ke arah tepat berhadapan dengan Bagas yang masih, duduk di balik kemudi nya.
"Perasaan itu?"
"Iya, dokter pernah bilang seperti itu."
"Jadi, Anisah hanya di otak nya selain anak, kalau saya itu masih di anggap merebut kebahagiaan dia, dari suami dan orang tua,dan anak yang Masih dalam kandungan saya." ucap Meidina dengan meng hembuskan nafas nya dengan kasar.
"Ya Allah Anisah."
****
"Angga, ada apa?" tanya Meidina saat Angga datang menemui nya di rumah.
"Hanya ingin tahu kabar saja." jawab Angga.
"Alhamdulillah sehat, kehamilan saya juga sehat."
"Syukurlah."
"Kamu kenapa?" tanya Meidina saat melihat raut wajah Angga.
"Tentang permintaan ayah dan ibu bagaimana?"
"Saya tidak pernah menganggap nya."
"Saya sudah katakan sama Ayah tempo hari, Ayah tetap memaksa. Tapi saya, masih berat sama Arumi. Saya menolak, tapi hati tidak enak." ucap Angga.
"Angga, kalau boleh jujur. Saya pun tidak mau, saya akan terus menjanda, dan tidak akan pernah ada namanya pria yang akan menggantikan posisi Bang Radit. Seumur hidup, hanya Bang Radit, cinta sejati saya."
"Lalu bagiamana?"
"Saya akan bicara sama Ayah dan Ibu, kita bersama - sama temui mereka. Karena, bagaimana pun, ini menyangkut perasaan. Saya juga, tidak mau menjauhkan kamu, dari Arumi. Karena kebahagiaan kamu, adalah Arumi bukan dengan saya. Perjodohan itu, tidak akan pernah ada."
"Terima kasih, tapi saya masih tidak enak hati belum bisa berhutang budi." ucap Angga.
"Kamu bisa membalas nya, tapi bukan dengan cara konyol seperti yang di minta Ayah dan Ibu."
.
.
7 bln & 8bln sudh dlam kandungan ku bawa kmna2 tp dia lbh senang memilih Allah,.
tunggu mamah disana ya 2bidadari kecilku
perempuan itu tipe nya setia jika di tinggal meninggal suaminya. Jika di sakiti lelaki jangan memikirkan cari pasangan baru. karena anak lebih penting dari cari suami baru.