Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You Are Mine
"Kia sedih, Kak," kataku sambil menangis memeluk Kak Santi.
Kak Santi memberikan Handphone samsung terbaru sebagai kenang-kenangan untuk mahasiswa magang.
"Dipakai, ya...handphonenya," kata Kak Santi sambil membelai kepalaku.
Saat magangku berakhir aku menangis karena harus berpisah dengan mereka.
Pak Roy datang dan tersenyum melihatku tidak melepaskan pelukanku pada Kak Santi.
"Nanti selesai kuliah kerja di sini saja," kata Pak Roy.
"Benar, Pak? Janji, lho!" kataku, sambil menghapus air mataku.
"Iya!" kata Pak Roy.
Aku langsung memeluk pak Roy hang lain tertawa saat pak Roy mencoba menghindariku. Pak Roy orang yang sudah kuanggap Ayahku. Paling banyak berjasa, pada karirku. Aku bahkan lebih nyaman menceritakan apapun dengan Pak Roy daripada Papaku.
"Sudah datang!" seru Kak Lily mengambil pesanan fried chicken dari kurir.
"Ayo makan dulu," ajaknya.
Aku tersenyum senang. "Terima kasih, Kak Lily," kataku sambil memeluk kak Lily.
"Nih... anak, suka banget lengket-lengket," kata Kak Lily sambil tertawa.
Kami makan pesanan yang datang. Siang itu aku menghabiskan waktuku bersama mereka. Nanti setelah lulus aku kembali ke kantor ini menapaki karirku step by step.
****************
Aku mencari toko jam di pusat perbelanjaan. Besok ulang tahun Bimo. Aku mau memberinya hadiah jam tangan.
"Yang ini saja," kataku pada pelayan menunjuk jam merk Casio warna hitam.
"Mau di bikin inisial nama di belakangnya? Buat hadiah, kan?" tanya pelayan padaku.
Aku senang sekali memdengarnya.
"Bisa? Apa tambah ongkos lagi?" tanyaku.
"Tidak...gratis, tulis di sini," katanya sambil menyerahkan kertas padaku.
Aku menulis B & K lalu menyerahkan pada pelayan. Aku di suruh menunggu 15 menit.
Setelah selesai pelayannya membungkus kotak jam tangan dengan kertas kado warna biru cantik sekali. Aku senang melihatnya besok akan kuberikan pada Bimo saat hari ulang tahunnya.
*******************
Aku sudah menghubungi Luthfi. Besok makan bersama merayakan ulang tahun Bimo.
"Didekat kost ku saja, ayam gorengnya enak," usulku pada Luthfi. Dia setuju dan mengajak Erwin juga.
"Aku mau rayakan ulang tahun Bimo, kamu mau ke seni," kataku pada Rima di telpon.
"Tidak bisa... Kia, pacarku sekarang sulit di ajak rame," katanya.
"Rasakan! Kenapa juga pilih pacar yang sudah tua," ledekku sambil berbaring.
"Masa depannya cerah, kamu tahu... kan, aku kuliah dibiayai pamanku jadi harus mencari pacar yang serius," jelas Rima.
"Iya deeh, semoga langgeng, ya," doaku.
"Tidak marahkan?" tanyanya.
"Iya..." jawabku.
Rima sekarang memang agak dewasa. Dia memikirkan adiknya yang masih sekolah.
Mas Iwan sangat dewasa jadi jarang mau diajak seperti yang kami lakukan. Rima nanti akan menikah dengan Mas Iwan dan punya dua orang anak.
****************
Bimo kaget dan tersipu malu ketika aku memberikan hadiah
"Hapy birthday to you.... happy birthday to you....." Aku menyanyikan lagu sambil memasangkan jam di tangannya.
"I love you, Bim," kataku sambil tersenyum.
"Maaf tidak ada kuenya dan kamu pasti tidak mau juga," lanjutku sambil bergelayut di bahunya.
Luthfi dan Erwin, tertawa.
"Untukmu," kata Luthfi memberikan bungkusan pada Bimo.
"Apa, nih?" tanya Bimo pada Luthfi yang menggeleng sambil tertawa.
Bimo membuka ternyata korek api merk Zippo.
"Trims!" katanya pada Luthfi.
"Aku menyanyi saja... ya, hadiahnya," kata Erwin.
"Tidak usah." Bimo menjawab cepat.
Kami tertawa, bersama Bimo terlihat sangat bahagia.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Bimo padaku sambil tersenyum.
Dia mengambil pulpen di tasnya dan menggambar sesuatu di tanganku. Aku memejamkan mataku menahan geli.
"Selesai!" katanya.
Kulihat gambar dua orang dan di atasnya tertulis, I love you.
"Terima kasih, pacarku yang baik," ucapku.
Aku tersenyum dan dia kemudian mencium pipiku.
"Ini tempat umum," kataku pelan sambil mencubit tangannya.
Luthfi dan Erwin pura-pura tidak melihat. Kami makan di sebuah rumah makan yang dekat dengan kost ku.
"Bulan depan aku sudah tes akhir, penempatannya di Kota kita," kata Bimo.
"Sudah keluar, lokasi penempatannya?" tanyaku.
"Pulang kampung dong, Bim?" tanya Erwin.
"Aku akan sering kesini pacarku kan ada di sini," kata Bimo sambil menatapku.
Bimo di tempatkan di Kota kami. Di sebuah perusahaan, Tambang batu bara. Dengan posisi, Operator alat berat. Bimo saat it, sudah sangat sukses. Untuk umurnya yang hanya 24 tahun dan gajinya saja di atas 10 juta.
Seharusnya tidak ada yang menolaknya untuk menjadi menantu. Aku berharap Papaku membuka mata dan hatinya untuk Bimo.
"Setelah penempatan aku akan temui Papamu," katanya menatapku.
"Setelah di angkat permanen kita akan menikah," janjinya mengenggam tanganku.
Aku terharu dan air mataku jatuh, aku cuma bisa mengangguk.
"Aku pasti datang kalau kamu menikah, Kia" kata Erwin.
"Aku percaya padamu," ucapku, memegang tangan Bimo.
Dia mengusap air mataku.
"Coklatku, yang cengeng," katanya berbisik.
****************
Aku terkejut ketika jendela kamarku di lempar batu kecil. Aku keluar kulihat Luthfi melambaikan tangannya dan menyuruhku turun.
Aku turun perlahan. "Bimo di depot, suruh pulang saja," katanya.
"Aku telpon saja nanti, ini sudah jam sebelas malam, aku tidak bisa keluar," ujarku menunjuk pagar yang dikunci.
"Loncat saja, Bimo banyak minum, bahaya..." katanya dengan cemas.
Aku mengambil jaket dan tasku. Lalu meloncat pagar, di tolong Luthfi.
**********
Aku kaget melihat botol yang berserakan di atas meja. Ada empat orang teman Bimo dari pelatihan juga. Bimo terlihat sudah agak tidak sadar tapi masih bisa berdiri.
"Ahh, sayangku," katanya ketika melihatku datang.
"Pulang, yuk! sudah malam..." ajakku sambil tersenyum, pada teman Bimo.
Luthfi lalu mendekat. "Ayo! Bim pulang, Kia yang antar," ujar Luthfi.
Aku langsung menoleh pada Luthfi sambil menggeleng kepala.
"Aku bisa pulang sendiri," kata Bimo. "Kenapa kesini? Sudah malam bagaimana nanti pulangnya?" tanya Bimo padaku.
"Aku pulang sama kamu," kataku berusaha membujuknya untuk pulang.
Bimo menerima ajakanku, dia mau pulang. Dia masih bersikeras membawa motor, Luthfi memgikuti dari belakang.
Setelah sampai masuk di depan jalan perumahan, Luthfi pamit pulang.
*****************
Kami sampai di depan sebuah rumah. Bimo menyuruhku, masuk duluan. Dia mau memasukan motornya ke garasi. Ini rumah Mas Tito pikirku.
"Mas Tito pulang, menjenguk Mama," kata Bimo ketika aku tanya.
Bimo masuk langsung membuka kamarnya.
"Duduk dulu, aku mau mandi."
Aku melihat kamar Bimo bersih dan rapi. Ternyata banyak buku komik. Di meja ada laptop dan buku-buku pelatihan. Ada kamar mandi kecil juga. Di mana dia mandi pikirku. Aku duduk di pinggir ranjang sambil memainkan handphoneku.
Bimo masuk hanya memakai handuk dan aku kaget sekali. Aku melihat Bimo ganteng sekali dengan rambutnya yang basah.
Dia menyerahkan minuman kotak.
"Cuma ini yang ada di kulkas," katanya.
"Mandi di mana? Kamar mandinya di sini?" tanyaku sambil menunjuk kamar mandi.
"Tempat Mas Tito," jawabnya sambil membuka kaleng bir dan meminumnya.
Aku berdiri melihat. "Apa itu enak? Bagaimana kalau aku mencobanya?" tanyaku.
Sebenarnya aku mencoba untuk menahannya supaya jangan minum lagi.
Bimo mendekatiku sambil menyodorkan kaleng padaku. Ketika mau aku ambil dia menarik dan meminumnya sampai habis.
"Cicipi di sini saja," katanya langsung mencium bibirku.
Aku tersentak kaget langsung mundur. Tapi aku lupa ada ranjang di belakang. Aku terjatuh ke belakang Bimo juga kaget langsung menarik tanganku. Ternyata dia ikut jatuh tepat di atasku.
Aku mencoba mendorongnya tapi berat.
"Bau alkohol," kataku.
Dia mengecup bibirku. "Apa sudah tahu rasa alkohol?" tanyanya di telingaku.
Dia menciumku aku mengigit bibirku menahannya. Dia kembali mencium pipiku kemudian keningku.
Jantungku berdetak cepat napasku sesak. Dia masih di atas badanku. Bimo menatapku sendu seolah ingin melakukan lebih. Aku menatapnya lama sekali kemudian memegang wajahnya.
Aku mengangguk lalu mengecup bibirnya.
"Serius?" tanyanya.
Aku mencium pipinya. "Ya..." jawabku.
Kami melakukan yang tidak boleh kami lakukan. Aku tidak memikirkan yang lain lagi. Aku ingin Bimo tahu bahwa aku sanggup berkorban untuknya.
Dia membawaku terbang merasakan rasa yang tidak pernah kurasakan. Kami menjadi satu malam itu.
"Kamu milikku!" bisiknya.
Aku memeluknya setelah semua selesai.
"Jangan lupakan ini..." katanya sambil mencium keningku.
***************
Aku membuka mataku tapi Bimo tidak ada. Aku bangun dan melilitkan selimut ke tubuhku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Ahhh...." Aku kaget sekali dan ternyata Bimo.
Aku pun tersenyum saat dia duduk di sebelahku sambil memberikan bungkusan. Aku melihat di dalamnya ada obat anti nyeri, antibiotik, betadine feminim, pantyliner.
Aku memandangnya bingung. Bimo cuma menghela napas.
"Tadi aku ke apotik, mereka memberikan itu," katanya sambil menggaruk kepalanya.
"Lantas?" tanyaku.
"Aku bertanya, apa obat untuk malam pertama? Ahh..." lanjutnya berteriak sambil membenamkan kepalanya ke bantal di atas ranjang.
"Mereka tersenyum semuapadaku, malunya..." kata Bimo sambil menggelengkan kepalanya.
Aku tertawa terbahak sambil memukul punggungnya.
"Berhenti tertawa, aku malu sekali," ucapnya masih menutup mukanya dengan bantal.
"Terima kasih..." kataku sambil mencium pipinya.
Dia bangun dan duduk di sebelahku.
Aku memandangnya. "Kenapa harus beli obat, sih?" tanyaku.
"Aku panik melihatmu berdarah, apa masih sakit?" tanyanya sambil memandangku.
"Ihhh... jangan dilihat, aku tidak berpakaian," ucapku sambil menutup matanya dengan tanganku.
"Aku sudah melihatnya tadi malam," katanya.
Aku memukulnya dan dia tertawa mengambil tanganku lalu menciumnya.
"Aku buatkan teh, setelah mandi kita makan...aku beli nasi uduk," ajaknya.
Aku mengangguk dan bergegas mandi.
*************
Aku lihat Bimo sibuk membuat teh. Aku melihat pakaianku sudah dicuci. Aku memeluk punggungnya dari belakang.
"Memang bisa buat teh yang enak?" tanyaku.
Dia tersenyum lebar. "Aku dua tahun di hutan, melakukan segalanya sendiri," jawabnya sambil memegang kepalaku.
"Kenapa di cuci bajuku?" tanyaku.
"Aku pacar yang baik, kan?" katanya sambil membawa cangkir teh.
"Makan!" katanya sambil mencium keningku.
Aku memakan nasi uduk dan teh hangat buatan Bimo.
"Kenapa cuma makan bubur?" Aku kaget melihat Bimo cuma makan bubur.
"Perutku tidak enak, mungkin kebanyakan minum, tadi malam," jawabnya sambil memakan bubur di depannya.
Aku menatapnya dengan lekat. "Lagian aku bingung apa minuman itu musuhmu? Sehingga harus di kalahkan sebanyak itu?" tanyaku.
"Dikurangi ya..." lanjutku.
Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Minum obatnya," katanya, menyuruhku meminum obat yang di belinya. Aku memegang tangan Bimo.
"Jangan sampai sakit, aku sedih," kataku pelan pada Bimo.
"Iya, Coklat," sahutnya.
Aku memandang Bimo sambil tersenyum. Ternyata cinta yang kami jalani sekarang ada pengorbanan di dalamnya.
** Penulis sudah memperhalus bahasa sedemikian rupa ,mohon bijaksana dalam membaca, jadikan pelajaran.
** Mau lihat reaksi Papa Kia melihat Bimo pakai pakaian kerja dan mobil dinas? keren loh, nantikan episode selanjutnya... terima kasih...
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂