Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother | 30
Dari semua pertunjukan dalam acara wisuda dan perpisahan, ada satu yang membuat orang-orang dalam aula itu terharu. Mungkin ada yang tidak terlalu tertarik tetapi, hampir setiap pasang mata terpaku pada sebuah tayangan singkat yang menampilkan dua remaja yang saling bertukar senyuman.
Arka dan Aletha yang sedang asyik bercanda ria ditaman sekolah, dan lebih banyak lagi yang jelas menunjukkan betapa indahnya kebersamaan mereka berdua yang menjalin hubungan persahabatan. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang sering kali berakhir dengan perasaan yang tak seharusnya.
Sebelum video yang masih terputar itu berakhir, Arka Atmadja berdiri ditengah-tengah panggung yang telah kosong itu seorang diri. Membawa sebuah buket bunga mawar merah yang merekah, terlihat begitu mempesona.
Laki-laki itu seperti sedang menyiapkan hatinya untuk sesuatu yang besar, begitu pula dengan gadis yang terpaku menatap Arka.
🌹Kepadanya, tuan putriku
Aku tahu, menggapai hatimu itu seperti berjalan diatas awan
Hati yang sekeras batu namun lembut bagaikan salju,
Mendekati mu saja, seperti menaiki bukit yang terjal
Kau seperti sebuah batu permata, yang sangat sulit didapatkan.
Dan aku, sadar akan hal itu
Kepada tuan putriku,
Jantungku selalu bergetar lebih cepat ketika bersamamu,
Pikiranku hanya terpusat padamu,
Senyumanmu yang begitu indah, laksana sekuntum bunga yang mekar
Orang bilang itu cinta,
Tetapi, salahkan aku yang tidak tahu perasaan bernama cinta itu.
Berada jauh darimu, seperti kehilangan sesuatu yang penting
Aletha Maudy Wijaya,
Aku tahu, mungkin ini terlambat.
Atau bahkan lebih dikatakan mengejutkan,
Tetapi, ijinkan aku mencintaimu dengan hati yang terdalam
Kedua mata bulat gadis itu berkaca-kaca, ia tidak tahu ternyata selama ini perasaannya kepada seorang sahabat itu tidak bertepuk sebelah tangan. Gadis itu berdiri mematung pada tempatnya ingin sekali ia berlari ketempat Arka berada, tetapi sesuatu yang mengganjal dihatinya seakan mencegahnya pergi. Entah sejak kapan, hatinya yang selalu terisi dengan Arka kini sudah terisi oleh wajah lain. Dengan memberanikan diri Aletha melirik Elang yang duduk bersama dengan kedua orangtuanya dan Gean, laki-laki itu tampak menahan amarahnya. Mata hitam yang tajam miliknya , menatap tidak suka dengan Arka yang sudah mulai berjalan mendekati gadis itu. Buket bunganya pun tak lepas dari tangan kekarnya.
Gadis itu begitu bimbang, apa yang harus ia lakukan sekarang. Didepan para orangtua teman satu angkatannya, juga seluruh sekolah disana dan menjadi saksi sebuah kebimbangan hati gadis itu.
"Al? Maukah kamu menjadi seorang yang berharga dihidupku?".
"Arka, kamu?".
Mereka menjadi pusat perhatian saat ini, walaupun masih ada yang tidak tertarik dengan cinta masa remaja tetapi mereka tetap ingin tahu bagaimana nasib remaja laki-laki yang sudah begitu berani mengatakan perasaannya didepan ratusan orang, di acara perpisahan sekolah. Momen yang sangat jarang terjadi.
"Al, aku tahu aku ini bodoh baru bisa mengatakan semuanya sekarang. Aku terlalu takut kalau kamu akan menolakku, dan aku juga tidak peduli dengan kakakmu jika dia menolak!".
"Aku, aku juga mencintaimu Arka-", Arka memeluk gadis itu dengan erat rasanya hati yang berusaha keras mengelak dan mencoba melupakan itu sangatlah bahagia, gadis itu membalas pelukannya sebentar.
Laki-laki ditempat lain itu, terlihat kecewa. Raut wajahnya terlihat mengendur, apakah perjuangannya kepada Aletha sia-sia? Gadis itu sudah terlihat begitu menerimanya, tetapi yang ia lihat saat ini justru sebaliknya. Dengan hati yang telah terlanjur kecewa itu , Elang beranjak dari tempat duduknya.
"Elang?". Itu Gean yang mencoba memanggil kakaknya yang lebih tua lima menit, Gean mencoba mencekal kuat lengan Elang agar ia tidak pergi begitu saja. Ia percaya jika Aletha, adiknya itu sudah memiliki perasaan untuk Elang. Dilihat dari tatapan mata gadis itu yang mulai berubah ketika menatap Elang, mungkin Gean bodoh karena tidak tahu perasaan Carol yang sekarang ia gantungkan hubungannya tetapi ia masih bisa melihat dengan jelas perasaan Aletha yang mulai luluh.
"Biarkan dia pergi, papa lebih suka jika putri kesayangan papa bersama dengan Arka!". Hatinya terasa ngilu ketika ayahnya sendiri masih menolak perasaannya dengan Aletha, Elang melepaskan cengkraman tangan Gean dan meninggalkan drama percintaan remaja di aula sekolah Aletha.
"Pa, Aletha kan bukan adik kandung kami. Kenapa papa masih menolak mereka?".
"Itu demi kebaikan mereka, Gean."
"Papa, sebenarnya hanya memikirkan tentang status kehormatan keluarga Wijaya bukan? Kebaikan Aletha dan Elang itu yang menentukan hati mereka sendiri bukan papa, apakah papa lupa jika papa sendiri yang memintaku untuk mencari jalan terbaik untuk pernikahanku dengan Carol? Kenapa papa tidak melakukan hal yang sama kepada Elang dan Aletha!." Suara Gean jelas terdengar begitu rendah, ia tidak mau jika orang lain mendengar permasalahan keluarganya. Laki-laki itu tidak bisa mengatakan apapun lagi, apalagi Renata telah mencoba menahan kedua laki-laki kesayangannya itu agar tidak membuat suasana aula semakin buruk.
Sementara , gadis itu sudah berhasil melepaskan pelukan Arka. Hatinya meneguhkan diri, mencoba mengatakan lagi rangakaian kalimat yang sudah ia susun didalam hatinya.
"Arka, biarkan aku melanjutkan perkataanku. Jangan memotong satu kata apapun!".
"Aku memang juga memiliki perasaan yang sama denganmu, tetapi sebelum aku memiliki perasaan dengan Kak Elang. Mungkin aneh jika didengar, aku mencintai kakakku sendiri. Tetapi ternyata aku hanya seorang anak angkat disana, lucu bukan? Maafkan aku Arka, kamu terlambat. Lebih baik jika kita selama tetap menjadi sahabat, karena aku sangat menyayangimu."
Arka merasa terlempar begitu saja ketika mendengar perkataan Aletha, ia terlambat. Ia kira Aletha tidak akan pernah memiliki perasaan dengan Elang, mereka bukan saudara kandung? Arka rasanya saat ingin tertawa saat ini. Ia benar merasa termainkan oleh ulahnya sendiri, tujuannya ia ingin membuktikan pada Elang jika dirinya bisa mendapatkan Aletha. Tetapi, apa ini. Penolakan?
"Aku kurang apa Al? Pekerjaan? Aku sudah punya, uang? Atau yang lainnya? Apa yang membuatmu lebih memilih orang yang selalu membuatmu terkekang?".
Aletha merasa malu, tentu saja. Dihadapan banyak orang laki-laki itu terus mendrama penolakannya, ingin rasanya ia tenggelam didasar kolam jika perlu.
"Arka! Hentikan, perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu dimana ketika aku terus merasa cintaku bertepuk sebelah tangan? Apa kamu sangat mengabaikannya sampai tidak tahu dengan perasaanku yang terus berusaha ku tunjukkan? Aku sudah memiliki perasaan kepada orang lain, dan entah mengapa setelah mendengarmu berbicara seperti itu. Aku kecewa, aku bukanlah gadis seperti yang kamu kira, aku tidak menginginkan harta atau bahkan uang milikmu atau siapapun."
"Aku hanya ingin memenuhi perasaan cintaku yang sudah terlanjur tumbuh untuk Kak Elang, uang bisa dengan mudah dicari walaupun tidak banyak tetapi cinta yang sesungguhnya siapa yang dapat dengan mudah mendapatkan kesempatan itu?."
"Maaf Arka!". Banyak orang yang mendengar penolakannya, ia mengira dengan memiliki banyak saksi cinta yang begitu banyak membuat gadis itu tidak mampu untuk menolak, tetapi ternyata semua perkiraannya salah. Gadis itu pergi menjauhi dirinya yang berdiri mematung dan menanggung malu, ia tidak berharap akan mempermalukan dirinya sendiri dan ayahnya yang terlihat beranjak dari tempat duduknya. Ia salah, benar-benar salah kali ini.
Orang-orang berbisik mengasihaninya, bahkan ada yang mengutuknya. Arka yang malah itu terlihat menurunkan bahunya, menundukkan kepalanya tidak kuasa melihat tatapan prihatin dari banyak orang. Ia berjalan pergi dari sana, meninggalkan semuanya. Harapannya tentang gadis bernama Aletha sudah pupus, tetapi hatinya masih ada yang belum rela melepaskan gadis yang sudah tanpa ijin menyusup direlung hatinya.
"Aletha, sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Maaf jika aku terlambat". Kata hatinya yang terus berulang-ulang.
🍃🍃 Semoga kalian suka..
Salam hangat dari Biru blerina 😊 ,,
Pokoknya makasih banget buat kalian semua, teman-teman ku yang sudah memberikan masukan tentang Gean dan Carol. Love you all..
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????