Aziya Yunita Wijaya dia terpaksa masuk pesantren karena sikap Aziya yang nakal karena pergaulan dengan teman temannya, apa lagi saat itu Aziya merasa sakit hati karena di tinggal pacarnya menikah.
karena sikap Aziya semakin tak terkendali orang tua nya pun memutuskan memasukan Aziya ke pesantren.
namun apa Aziya bisa berubah saat sudah masuk pesantren? apa lagi banyak hinaan dan cacian pada Aziya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni nurleni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Keesokan harinya, Adam sudah bersiap memakai jas hitam dan celana bahan hitam karena hari ini menjadi hari sakral bagi Adam karena akan bersanding dengan Marwah, salah satu anak Ustadz yang berpengaruh di kampung itu.
Adam menatap dirinya di cermin lemari kamarnya, ada rasa senang karena hari ini dia akan segera menikah dengan Marwah wanita yang sangat Adam idam idam kan semasa Adam masih remaja.
"Adam kau sudah siap" tanya Abah dari luar kamar Adam.
"Ya bah" sahut Adam.
Bahkan bukan pihak keluarga saja, para santri pun sudah bersiap untuk ikut ke acara sakral yang akan Adam lakukan sekarang.
Semuanya sudah berkumpul di halaman menunggu sang pengantin laki laki keluar dari rumahnya.
Sedangkan Zia dia hanya santai saja dan tak menangapinya dengan serius, bahkan Zia hanya diam saja di kamar dan tak melakukan apa apa.
"Kak Zia ayo" ucap Gita.
"Aku tak akan ikut" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Gita.
"Aku sudah janji pada Gus Adam kalau aku tak akan datang" ucap Zia.
"Yahh kenapa harus janji kak" ucap Gita.
"Aku tak mau merusak acara sakral Gus Adam" ucap Zia.
Adam dan keluarga sudah keluar dari rumah, namun saat Adam hendak berangkat ke rumah Marwah, ada sekumpulan orang tua para santri yang datang kesana.
"Ada apa ini" tanya Abah saat melihat ekspresi orang tua Santri yang marah.
"Abah" sahut orang tua santri.
"Ada apa ibu ibu, bapak bapak" tanya Abah.
"Ayo masuk" ucap Abah.
"Tidak usah, kami hanya ingin membawa putra putri kami, kami ingin membawa anak anak kami untuk belajar di pesantren yang lain saja" ucap seorang Ibu.
"Tapi kenapa" tanya Abah.
"Berita itu sudah kami dengar, jadi kami tak mau kalau anak anak kami terlibat dalam hal seperti itu" ucapnya lagi.
"Ya kami akan pindahkan mereka" seru yang lain.
"Tapi Bu pak, dengarkan saya dulu berita itu tak benar" ucap Abah.
"Kami gak peduli karena pesantren ini sudah tercoreng Abah" seru yang lain menyalahkan pesantren.
Karena banyaknya orang tua Santri, Abah tak dapat menghentikan mereka masuk berbondong bondong ke halaman yang cukup luas di pesantren itu.
"Ayo pulang".
"Ayah akan carikan pesantren yang lebih bagus dari ini".
"Kamu mau terlibat ayo kita pulang".
" jangan membantah".
Para orang tua menarik paksa anak anaknya, bahkan banyak sekali para santri yang menangis karena tak mau ikut pulang bersama dengan orang tuanya.
"Adam bagaimana ini" tanya Umi.
"Aku gak tau Umi mereka sangat marah" ucap Adam.
"Abah tolong aku gak mau pindah" ucap salah satu santri pada Abah.
"Bu tolong jangan begini" ucap Abah pada seorang Ibu yang tetap kekeuh ingin membawa anak anaknya pulang.
Para senior santri dan para guru mencoba menghentikan mereka namun mereka kalah jumlah, jadi mereka memilih mengalah karena takutnya terjadi apa apa.
Saat ini Abah tak bisa menahan mereka, bukan karena takut tapi mereka sangat banyak dan jeritan serta tangisan pun mendominasi setiap telinga yang berada di pesantren itu.
Zia yang hanya diam di kamar pun langsung keluar saat melihat banyak santri yang menangis histeris.
"Astagfirulloh ada apa ini" gumam Zia.
Zia kaget melihat para orang tua yang datang dan memaksa anak anaknya, bahkan ada yang sampai menarik secara paksa karena anaknya tak mau pulang.
"Ada apa ini Abah" tanya Zia pada Abah yang sedang berdiri mematung.
"Mereka ingin membawa anak mereka pergi" ucap Abah yang hanya melamun saja.
Zia berjalan dan mendekat pada seorang Ibu yang memaksa anak nya pulang.
"Ibu jangan di paksa dia tak mau pulang" ucap Zia.
"Siapa kau beraninya mengurusi hidupku" ketus sang Ibu pada Zia.
"Terserah" ucap Zia.
"Hey tuan jangan sakiti dia" ucap Zia pada laki laki di sebelahnya yang sekarang sedang menarik paksa anaknya.
"Apa kau malaikat" tanyanya.
"Apa maksudmu" tanya Zia.
"Jangan urusi hidup putri ku, aku papahnya dan aku yang membiayainya" ucapnya sombong.
"Kau ayah yang buruk" ucap Zia.
Semua para orang tua dan santri sudah pergi dari pesantren, bahkan sekarang pesantren jadi cukup sepi hanya tinggal seratus lima puluh orang santri saja yang masih berada di sana.
"Bagaimana ini Abah" tanya Umi.
"Sudah lupakan saja, sekarang ada hal yang harus kita lakukan kan, kita akan menikahkan Adam, ayo kita berangkat jangan sampai terlambat, masalah ini kita bahas saja nanti" ucap Abah yang pura pura tak sedih melihat hal itu.
"Tapi Abah para santri" tanya Umi.
"Sudah kita bicarakan lagi nanti" ucap Abah.
"Ya Umi benar kata Abah sekarang kita ke pernikahan Adam saja" ucap para guru mendukung keputusan Abah.
Semuanya berangkat, hanya ada Zia saja di pesantren itu, walau pun sendirian tapi Zia tak merasa takut apa lagi sekarang sudah siang dan banyak juga warga yang berlalu lalang.
Adam tak fokus pada apa yang akan dia lakukan sekarang, Adam masih memikirkan kejadian tadi yang sudah Adam pastikan kalau Abah sangat sedih melihatnya, namun Abah sangat pandai menyembunyikan perasaannya.
"Maaf Ustadz Dawud kami terlambat ada sedikit masalah di jalan" ucap Abah Zakaria.
"Silahkan masuk" ucap Abinya Marwah.
Semua rombongan dari Pihak Adam masuk ke aula tempat pernikahan itu di selenggarakan Adam masih menunggu Marwah di atas pelaminan.
Adam semakin gugup dan grogi saja apa lagi saat ini adalah hal yang sangat sakral baginya, namun fikiran Adam masih tertuju pada masalah di pesantren.
Marwah keluar dari dalam rumah dengan balutan gaun pengantin yang membalut tubuhnya serta cadar yang tak lepas dari wajahnya.
Adam dan Marwah duduk di meja yang sudah di persiapkan, saat ini Adam akan mengucapkan ikrar untuk hubungan barunya itu,
"Adam Al Zakaria, saya Nikahkan dan kawinkan anda dengan anak saya yang bernama Marwah khoiruNissa dengan mas kawin seperangkat alat Sholat di bayar tunai" ucap Ustadz Dawud Abinya Marwah.
"Saya terima nikahnya Humaira... Upss maaf maaf" ucap Adam yang salah melantunkan ijab kobulnya.
"Tak masalah kita akan ulang" ucap penghulu.
Dorrr..
Namun tiba tiba acara itu di hentikan karena ada suara tembakan di arah luar rumah..
Semua orang berhamburan keluar karena ingin melihat hal itu, bahkan baru kali ini mereka mendengar ada suara tembakan di daerah itu.
hanya Marwah yang terkejut dengan kedatangan orang asing bersenjata itu, karena Marwah sangat hafal siapa mereka dan apa tujuan mereka datang kemari.
"gus Adam aku takut" ucap Marwah pada Adam.
"kau tenang Ning, kita akan baik baik saja" ucap Adam.
"dasar Bod*h untuk apa dia datang kemari, apa dia ingin mengagalkan acara pernikahan aku, rupanya dia tak takut kalau anak ini aku gugurkan" batin Marwah marah pada penjahat yang datang itu..
Bersambung...
ngeriah kalo ngidam gitu
mudan cepat terbongkar si rosa itu geregetan aku loh thor
aku juga jurusan bhs inggris
dan aku sekarang mengikuti pengajian tasaup jadi aku rasa thor juga sama dengan ku
kalo gk salah tebak 🥰
aku juga pernah mengalami itu jika dengan tidak ada cobaan kita tidak tau seberapa kuatnya kita menghadapi masalah
tuhan tidak tidur saro