Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - back
Regan : See, gimana perasaan lo? Sedih?
Selamat bersedih-sedih Langit.
Langit menggenggam ponselnya dengan kuat merasa kesal dengan Regan. Lala sudah berada di ruang inap tapi cewek itu belum juga mau membuka matanya membuat Langit kembali merasa bersalah.
“Mik, tungguin Lala sebentar. Gue ada urusan, sebenatar lagi Bunda gue kesini sama Ayah gue.”
Mikko hanya mengangguk, setelah Langit keluar dari ruangan Lala, Mikko mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan
kepada Adista.
Mikko : Dis, Langit udah pergi. Kalo lo mau kesini, buruan.
Langit segera melanjukan motornya menuju basecamp karena Bayu telah mengabarinya kalau Regan sedang berada di basecamp setelah lama tidak kesana.
“Selamat datang Langit,” seru Regan sambil merentangkan tangannya dan terkekeh. “Bagaimana kabar lo saat ini? Nangis?”
“Bangsat!” Langit langsung meninju Regan membuat Regan tersungkur. Regan bangkit dan mengelap luka di bibirnya. “Lo itu ada masalah sama gue, kenapa lo harus melibatkan Lala yang sama sekali gak ada sangkut-pautnya?”
“Lala orang yang lo sayang, jadinya gue harus membuat lo nangis,” seru Regan sambil terkekeh.
“Lo marah karena lo masuk penjara atau lo marah karena gue ngelapor ke polisi kalo lo makai narkoba?” tanya Langit mencoba untuk tenang dan tidak tersulut emosi saat berbicara dengan Regan.
“Dua-duanya! Lo gak tahu gimana gue disana, gue kesakitan! Gue sakit—”
“Bukan lo aja yang masuk penjara!” seru Langit. “Gue juga masuk penjara! Lo tahu, gue kena juga padahal gue gak makai, tiba-tiba aja semua narkoba itu ada di tas gue.”
Regan terdiam, dia sama sekali tidak tahu kalau Langit pernah masuk penjara. Regan hanya tersulut emosi karena Langit menjauhinya dan melaporkannya karena Regan memakai narkoba.
“Sekarang lo puas? Lo udah tertawa lebar kan tadi? Selamat tertawa lebih keras karena lo udah tahu kebenarannya,” kata Langit pergi dari basecamp meninggalkan Regan yang masih di tempatnya.
“Regan,” panggil Geandra, Regan berbalik dan menatap cewek itu. “Gue tahu semuanya tentang Langit, maaf gue gak ngasih tahu lo.”
“Lo seharusnya bilang supaya gue gak buat masalah fatal kayak gini!” seru Regan marah dan pergi meninggalkan Geandra.
Gendra dan Regan, mereka dekat setelah Regan keluar dari penjara dan juga setelah Geandra pulang dari Lampung. Awalnya Geandra tidak tahu kalau Regan masih marah kepada Langit dan juga Geandra masa bodoh dengan Regan mau melakukan apa. Karena mereka hanya dekat, dan hati Geandra masih untuk cowok yang tidak menyukainya lagi, Langit.
* * *
Adista terkejut saat pintu ruang inap kamar Lala terbuka dan menampilkan Langit yang sama terkejutnya seperti Adista. Selama beberapa hari ini Adista bisa menghindari Langit, dia selalu menjenguk Lala setiap hari saat Langit tidak berada disini.
“Adis.”
Adista hanya diam mengambil tasnya dan hendak pergi dari sana, baru saja Adista ingin pergi, Langit menahan tangan Adista membuat Adista membalikkan kepalanya.
“Kamu mau kemana?” tanya Langit.
“Pulang, karena kamu udah datang aku harus pulang. Tante Vivin lagi beli makanan di kantin, nanti dia kesini.”
“Kenapa kamu gak ngasih tahu aku kalo kamu selalu kesini?”
“Memangnya kenapa kalo aku ngasih tahu kamu?” tanya Adista mencoba melepaskan tangannya yang masih digenggam oleh Langit.
Sungguh, Adista rindu dengan Langit. Segalanya, semuanya. Adista rindu.
“Gak apa-apa,”ucap Langit setelah terdiam beberapa saat.
“Aku mau pulang dulu.”
“Aku anterin,” kata Langit cepat, Adista menggeleng.
“Gak usah, kasihan Lala sendirian.”
“Tunggu sampe Bunda kesini, baru kita pulang.”
Adista terdiam, kita. Adista menatap Langit kemudian mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Suasana menjadi sangat canggung, Langit melirik ke arah Lala yang masih tetap tertidur kemudian dia tersenyum tipis, kalau Lala lihat Adista dan Langit saat ini mungkin saja cewek itu telah mengolok-olok Langit.
“Kamu udah makan?” tanya Langit, Adista yang hanya diam langusung mengangguk tanpa mengucapkan apapun. “Maaf kalo kemarin aku ngomongnya kasar.”
Adista menatap Langit dan menggeleng. “Enggak kok, malahan ucapan kamu udah buat aku sadar.”
Langit diam menatap lekat Adista yang juga menatapnya, Langit menghembuskan napasnya mengatur detak jantungnya yang sedang menggila saat ini. Bibirnya kelu ingin mengucapkan kata yang pikiran setiap harinya.
“Adis,” panggil Langit. “Kamu mau gak jadi pa—”
Pintu terbuka membuat Langit harus menelan ucapannya kembali dan melihat Vivin sudah membawa kantong plastik yang berisi makanan.
“Adis pulang dulu Tan,” ucap Adista sambil mencium punggung tangan Vivin. Adista sudah hampir jantungan menunggu Langit berbicara, Adista melirik Langit yang terus saja menghembuskan napasnya membuat Adista tersenyum tipis.
“Udah mau pulang aja. Lang, anterin Adis pulang,” ucap Vivin, Langit langsung berdiri dan pergi meninggalkan Adista yang masih di dalam ruangan Lala dan Vivin menatap Langit heran. “Langit kenapa?” tanya Vivin, Adista hanya menggeleng tidak tahu.
Adista berlari kecil-kecil untuk segera sampai di parkiran rumah sakit, Langit sudah berada di sana dan menunggu Adista.
“Lama,” ucap Langit sambil memberikan helm untuk Adista. “Buruan naik.”
Adista segera naik mengabaikan Langit yang entah kenapa mood-nya berubah menjadi buruk.
Langit mengendarai motornya dengan kecepatan biasa membuat perjalanan ke rumah Adista begitu sangat lama dan Adista sudah sangat lelah dengan jantungnya yangterus berdetak dengan cepat.
“By ....”
Adista terdiam, apakah Langit baru saja memanggil Adista?
“Adis,” panggil Langit lagi.
“Ha? Kenapa?”
Tiba-tiba saja motor Langit berhenti membuat Adista mengernyit bingung, kemudian dia melihat di sisi kirinya terdapat kedai es krim yang biasa mereka kunjungi.
“Aku butuh pendingin kepala,” ucap Langit. “Butuh kamu sama es krim,” Langit pergi meninggalkan Adista yang terdiam sambil menahan senyumnya.
Adista sudah memesan es krim vanila begitu juga dengan Langit, semenjak melihat Adista yang sering membeli es krim rasa vanila serta memakan es krim rasa vanila punya Adista membuat Langit menjadikan es krim rasa vanila es krim kesukaannya.
Langit memperhatikan Adista sambil memakan es krim, sedangkan Adista yang merasa diperhatikan oleh Langit hanya menundukkan kepalanya sambil memakan es krim. Dia merasa sangat canggung diperhatikan seperti itu.
“Adis,” panggil Langit, Adista mendongakkan kepalanya menatap Langit. “Balikan yuk.”
Adista diam sambil mengerjapkan matanya berulang kali dan membenarkan pendengarannya barusan.
“Kamu bilang apa?” tanya Adista membuat Langit berdecak.
“Balikan yuk, aku ngajak kamu balikan.”
Adista masih diam, Adista mengulum senyumnya membuat Langit terkekeh.
“Kalo mau senyum, senyum aja. Kan udah dibilangin,” ujar Langit tertawa renyah dan mengacak rambut Adista. “Selamat datang jadi pacar Langit lagi, Adista.”
* * *
“Pulang sana,” ujar Adista sambil mendorong bahu Langit pelan. Pasalnya, Langit masih tetap duduk di motornya sambil memperhatikan Adista membuat Adista tidak bisa bergerak untuk masuk ke dalam rumahnya. “Pulang sana.”
“Nanti By. Masih kangen nih,” ucap Langit manja membuat Adista lagi-lagi mengulum senyumnya.
“Kak Adis!”
Adista langusung menoleh saat suara Dito terdengar. Adista berdecak, habis ini pasti dia akan membicarakannya dengan Evan. Dito mendekat dan berdiri di samping Adista.
“Siapa Kak?” tanya Dito.
“Pacar Kak Adis,” jawab Langit kemudian turun dari motornya. “Kamu siapa namanya?” tanya Langit sambil berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Dito.
“Dito, kalo itu Abang Dito, namanya Bang Varo,” ucap Dito sambil menunjuk Alvaro yang berdiri di depan gerbang.
Alvaro tersenyum melihat Adista membuat Adista juga membalas senyumannya, Alvaro sudah tahu apa yang terjadi melihat senyumannya sambil menatap Langit.
“Varo, kesini aja,” panggil Adista, Alvaro mengangguk dan berjalan mendekati Adista.
“Kakak yang kemarin,” ucap Alvaro langsung, Langit mengernyit tidak mengerti. “Kakak yang kemarin berhenti disana sambil ngeliatin Kak Adis,” ucap Alvaro sambil menujuk jalan yang agak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Langit hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa kalau sudah ketahuan.
Dito diam sambil memperhatikan Langit membuat Adista mengerti apa yang akan diucapkan oleh anak cowok berbadan gempal.
“Kak Adis punya foto Kakak di kamarnya Kak—”
Adista langsung membekap mulut cerwet Dito dan segera masuk ke dalam rumah setelah menyuruh Langit pulang. Bahaya kalau Dito selalu ada di dekat Langit, bisa-bisa seluruh yang diketahui oleh Dito diberitahu kepada Langit.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞