Follow Ig me :@Thalindalena
"Jangan sok suci. Kamu sama halnya dengan wanita murahan di luaran sana !" Hina Doni.
Citra tidak menanggapinya,ia memilih bangkit dari tempat dan berjalan ke kamar mandi dengan keadaan tertatih dengan melilitkan selimut di tubuhnya. Tidak lupa sebelum itu ia mengambil pakaiannya yang berserak dilantai.
Apa yang terjadi ? Diantara mereka berdua ?
Penasaran ? Yuk simak terus kisah nya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak bisa
Leon menatap wajah Ana yang terlihat damai dalam tidurnya. Ana tertidur miring dan tak sengaja menghadap Leon.
Dan sudah tiga hari Ana terkurung di dalam Apartement Leon.
"Cantik." Gumam Leon, tersenyum tipis.
Senyuman langka yang hampir tidak pernah ada orang yang melihatnya.
"Eughh." Ana menggeliat dalam tidurnya. Perlahan Ana mulai menerjabkan kedua matanya.
"Ya!!" Teriak Ana, ketika ia melihat manik mata berwarna biru tengah menatapnya dengan tajam dengan posisi tertelungkup.
Ana segera mendudukan diri dan menatap Leon dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Ana, sambil memperhatikan pakaiannya. Dirinya takut jika Leon mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Tadi malam kedua manusia berbeda Gender itu memmutuskan untuk berbagi ranjang.
Lebih tepatnya Ana, yang menyuruh Leon untuk tidur diatas tempat tidur. Karena gadis itu merasa kasihan kepada Leon yang harus tidur diatas sofa sempit setiap malam.
Masih utuh. Batin Ana.
"Hei! Aku ini pria bermoral dan tidak mungkin aku mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ucap Leon, lalu beranjak dari tempat tidur.
"Bisa jadikan! Kau memanfaatkan keadaan, apa lagi kau tidak memakai baju." Ucap Ana, terdengar masih curiga.
Ya, wajar jika Ana mempunyai pemikiran seperti itu, karena Kondisi Leon sedang tak memakai bajunya, pria itu hanya mengenakan celana pendek saja.
"Ck! Jika aku ingin, untuk apa aku tidak melakukannya sejak kemarin!" Kesal Leon.
Benar juga ya. Batin Ana.
Leon tersenyum penuh arti ketika melihat wajah polos Ana.
"Sudahlah, lebih baik kau segera mandi dan setelah itu buatkan aku sarapan dan juga kopi." Ucap Leon kepada Ana, membuat gadis itu mendengus kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mie lagi?" Ucap Leon, ketika melihat semangkok mie yang ada di hadapannya.
"Dilarang protes!!" Kesal Ana. "Hanya itu yang tersisa di kulkas! Aku rasa kita akan mati bersama di sini karena kelaparan!" Lanjut Ana lagi, sambil membuang nafasnya dengan kasar.
"Ah, aku ikhlas jika mati bersamamu." Ucap Leon, mengullum senyum.
"Cih! Aku yang ogah!" Ketus Ana, lalu mulai memakan mienya dengan perasaan kesal.
"Aku curiga denganmu! Apa jangan-jangan kau memang merencanakan semua ini?" Tanya Ana penuh selidik.
"Yang benar saja! Apa kau tidak lihat, kita terkurung disini sudah tiga hari, dari mana aku merencanakan ini semua." Jawab Leon dengan begitu tenang.
Ana menyipitkan matanya dan menatap Leon dengan tajam.
"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Leon, lalu memakan mienya.
"Aku tidak percaya dengan mu!!" Ana menunjuk Leon dengan garpu yang ia pegang.
"Jika kau ketahuan berbohong! Awas saja aku akan mencincang habis tubuhmu itu!" Ucap Ana, sambil menatap tajam Leon.
Glek
Leon menelan mie yang ada di tenggorokannya dengan susah payah, baru kali ini Leon merasa takut kepada seseorang dan sialnya orang tersebut adalah Ana.
"Kau takut!"
"Cih! Seorang Leon tidak pernah takut terhadap apapun dan kau tahukan siapa diriku sebenarnya." Ucap Leon.
"Aku lupa jika aku adalah ketua Mafia Black Devil." Ucap Ana dengan santai.
"Jadi, seharusnya kau yang takut padaku!" Ucap Leon kepada Ana.
"Kau tidak akan pernah menyakitiku. Jadi untuk apa aku takut." Jawab Ana.
"Percaya diri sekali!" Cibir Leon.
"Jelas! Karena kau mencintaiku." Ucap Ana keceplosan.
"Maka dari itu terima cinta ku!" Balas Leon, dengan menatap Ana dengan tajam.
"Aku tidak bisa." Jawab Ana dengan cepat.
"Kenapa?!"
"Karena—"
Dukung terus karya othor dengan cara like, vote dan kasih hadiah 😘
tuh pRT tar mupeng denger desahan kalian berdua /Facepalm//Facepalm/