Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
William Anderson?
satu minggu setelah kejadian di hutan, Patma semakin posesif terhadap Reyhan. Bukan tanpa alasan Patma seperti itu.
"Mulai dari sekarang. Lu harus bener-bener nurut sama mak, lu kagak boleh ada acara nongkrong-nongkrong sama temen lu lagi, apalagi sama para duda itu. Lu diem di rumah, atau mak yang minggat dari rumah. Mau lu?" Ancam Patma kepada anaknya yang tidak mau menuruti keinginannya.
"Lu jangan bikin mak khawatir terus napa Rey.... Lu anak mak satu-satunya. Cuma elu yang mak punya. Cuma elu orang yang paling berharga buat mak, elu anak emak, masa mak harus khawatirin anak orang sih."
Reyhan hanya diam, menatap kedua bola mata Patma yang berkaca kaca, lalu beranjak dari kursi mendekati Patma dan memeluknya dari belakang.
"Aku janji bakal nurutin apa mau makk, tapi hari ini aku harus bekerja karena pemilik perusahaan akan datang dan ke perusahaan." Jelas Rey.
Patma tengadahkan wajahnya menatap Reyhan. "Loh? bukankah pemilik perusahaan itu si Hasby?" tanya Patma.
"Iya, tapi Hasby hanya memiliki 20% saja. Sementara pendiri dan pemilik perusahaan terbesar itu...-?" Reyhan terdiam mencoba mengingat nama pemilik perusahaan itu.
"Siapa? Sardi? Juki? Suhendar?" tanya Patma menyebutkan beberapa nama lalu tertawa terkekeh.
"William Anderson, makk. Kalau aku tidak salah." Kata Rey lalu melepas pelukannya.
"William Anderson? kok, gue kaya familiar ntu nama," ucap Patma dalam hati.
"Makk aku berangkat kerja dulu." Reyhan menarik tangan Patma lalu menciumnya, setelah itu bergegas keluar rumah karena sudah di tunggu Nur di atas sepeda motornya.
"A, ayo cepat nanti terlambat masuk kantor!" seru Nur sambil menyodorkan helm.
"Maaf Nur, tadi makk ceramah dulu." Sahut Rey mengambil helm dari tangan Nur lalu memakainya.
'Ayo naik, Nur antar sampai kantor!"
"Oke Nur!" Reyhan naik ke atas motor.
"Peluk A!" perintah Nur.
"Oalah nih bocah tau saja ada kesempatan," sungut Rey
"Kagak mau jangan salain Nur ya?" Kemudian Nur menyalakan mesin, lalu tancap gas membuat Rey terkejut spontan saja memeluk pinggang Nur dengan erat. Nur tertawa terbahak bahak mendengar semua umpatan yang keluar dari mulut Rey, namun di tengah perjalanan tidak lagi terdengar umpatan dari mulut Rey. Nur merasa kalau ia telah berhasil mencuri perhatian Rey. Apalagi sejak kejadian di gunung salak, sikap Rey lebih menuruti mau Nur ketimbang menghinanya seperti dulu.
Sementara di tempat lain, Hasby juga sibuk mempersiapkan semua file lalu di masukkan ke dalam tas. Pagi ini Hasby melewati sarapannha lalu bergegas pergi ke kantor di jemput Nanda dan Baron yang sudah menunggu di dalam mobil. Sementara Dera, selalu berangkat sendiri karena letak rumahnya agak jauh dari rumah kawan kawannya.
"Baron, bagaimana hubungan lu sama Rini?" tanya Nanda menoleh ke belakang sesaat.
"Gue pasti perjuangkan si Rini, lagipula gue gak bakal terima kalau si Rini kawin sama si Khai." Sungut Baron.
"Gue setuju, pasti dukung lu. Pokoknya lu harus luluhin hatinya pak Dion yang super galak itu." Timpal Hasby. "Lalu? bagaimana lu sendiri?" tanya Hasby melirik Nanda sekilas.
"Gue..?" Nanda terdiam cukup lama. "Ngapain gue pikirin, kalau memang jodoh ya sudahlah. Tapi kalau bukan ngapain gue pusing."
"Hahhahahaha, gue suka gaya lo!" ucap Baron dan Hasby serempak.
"Kalian jangan senang dulu, kita harus berhadapan dengan pak William. Kalian tahu bukan? selama ini kita tidak pernah tahu pak William itu seperti apa, gue dengar kalau dia itu arogan dan tidak punya hati." Hasby mengingatkan.
"Gampang!" Baron menepuk bahu Hasby dari belakang. "Jangan di lawan serius, bagaimana kalau kita ajak ngopi di bawah pohon beringin?"
"Hahahaha ide bagus!" sahut Nanda.
"Terus kita jodohin sama si Mince cewek jadi jadian. Hahahahah!" usul Hasby di akhiri ketawa lebar.
"Tapi bagaimana kalau dia beli sebagian perusahaan lu Ga?" tanya Nanda.
"Gampang, kita ringkus terus bawa ke empang biar otaknya adem." Celoteh Hasby santai.
"Berani lu?" tanya Baron.
"Gak juga!" sahut Hasby.
Nanda dan Baron menepuk keningnya masing masing.
"Ya Tuhan, kenapa gue punya kawan otaknya pada lemot begini." Rutuk Nanda.
"Hahahahaha!"
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰