NovelToon NovelToon
Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: dheselsa

Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikhtiar Cinta

Warna jingga dari senja telah pergi bersama berlalunya hari ini. Beberapa bintang

mulai menampakkan cahaya mereka, dan sang rembulan mengintip malu dibalik peraduan. Malam ini terasa cukup sunyi, hingga punggukpun enggan bersuara seperti biasanya.

Angin malam ini berhembus semilir membelai dedaunan dan gemirisik tarian ranting kering membelah kesunyian. Suara katak melantunkan melodi kerinduan serta menyuarakan tangisan keputusasaan dalam kalbuku.

Hatiku terombang-ambing oleh kenyataan dan, dan sialnya keputusanku telah bulat. Ingin segera kukikis perasaan ini agar tidak tumbuh semakin subur seperti benalu yang kian menggerogoti inangnya. Takdir bahkan telah mempermainkan hidupku dengan setiap rencana-Nya. Ingin kutuang semua perasaan pada semua orang, ternyata aku tak mampu.

Dan Rindu ini juga begitu hebat, hingga kita tak mungkin bersatu. Betapa tidak,

bersamamu ternyata cukup menguras setiap emosiku.

"Ayah dan ibumu akan tinggal di sini hingga kamu benar-benar pulih Dell!" Suara ayah begitu menggugah lamunan panjang diriku.

Hingga tanpa kusadari ayah telah lama mengamati diriku yang sejak tadi duduk termenung memandang langit malam dari sebuah jendela kaca dalam kamar pribadiku.

Iya, sore tadi dokter mengizinkan aku pulang ke rumah. Tentu saja setelah melewati proses panjang serta perdebatan di antara kami berdua, pria berkacamata kala ia bekerja itupun akhirnya mengibarkan bendera putihnya tanda mengalah padaku. Ayahku pun juga telah menyerah karena aku merengek meminta pulang. Rasa bosan menjadi penyebab utama permintaan pulangku ini.

Meski dokter syaraf itu telah mengizinkan aku pulang, namun aku masih merasa sedikit kesal padanya. Pasalnya sebelum aku keluar dari rumah sakit, ia tak berhenti mengoceh serta menceramahi aku untuk tetap menjaga kesehatan selama tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Tak boleh lupa meminum obat serta yang paling membuatku jengkel adalah permintaan terkonyolnya yakni tak boleh mengabaikan setiap ada panggilan telepon darinya.

Menjengkelkan bukan? Aku merasa di bukan seorang Dokter, melainkan Debt Collector yang akan menagih janji membayar hutang dari kreditur. Konyol sekali bukan? Tapi, bagaimanapun juga aku juga sangat berterimakasih padanya yang telah merawat aku selama di rumah sakit. Meski sifat ketus serta sok tahunya sangat menggangguku, aku yakin pria itu tulus melakukan semua ini untukku.

Bahkan bila kuingat pagi tadi, kala seorang perawat membantuku merawat diri ini, ada sebuah benda yang kuyakin milik pria menyebalkan itu tertinggal tepat di samping bantal tempat aku membaringkan kepala ini.

Aku begitu terkejut kala perawat ini menemukan sebuah jam tangan pria tergeletak di samping bantal. Lalu mengapa aku begitu yakin jam tangan tersebut milik pria brengsek itu? Yang jelas benda mahal itu bukan milik ayah. Aku tahu seperti apa tipe ayahku. Lalu Andrian? Bukan! Andrian menyatakan padaku bahwa ia akan mengantar adiknya mencari kampus terbaik untuk pendidikan lanjutannya.

"Della sudah pulih ayah, ayah dan ibu jangan mengkhawatirkan Della." Sebagai putrinya, aku harus selalu membahagiakan ayah serta ibuku. Aku tak ingin mereka berdua mengkhawatirkan aku. Di tempat terpisah, Nadine sangat membutuhkan mereka. Ah si bungsu itu memang tak terbiasa jauh dari ayah serta ibuku.

"Jangan seperti itu Dell, bagi ibu kamu itu sama berharga seperti Nadine! meski kamu bukan putri kandungku." Ucapan dari ibuku cukup melegakan dahaga kegetiran diri ini. Aku bersyukur ibu masih menganggapku sebagai putrinya sendiri.

"Della menyayangi Ibu dan Ayah!" seruku dengan memeluk kedua orang tua yang telah membesarkan diri ini layaknya anak mereka sendiri.

"Lalu bagaimana dengan Syadam? Maafkan ayahmu ini Nak karena dulu ayah sempat tak merestui kalian begitu ayah tahu pria itu anak tiri mamamu."

"Sudah Della bilang bukan? Bahwa Della telah memiliki calon sendiri?" kutitikberatkan pernyataan yang pernah terucap dari mulut ini agar ayah tidak serta merta membahas Syadam lagi dan Syadam lagi. Sungguh pening kepala ini!

"Ya sudah, ibu dan ayah hanya bisa mendukung keputusan dari Della. Semua demi kebaikan Della saja, ibu ingin kebahagian putri kami yang utama." Tak kusangka kata-kata ibu cukup melegakan diri ini. Ibu adalah tempat paling tepat untuk aku berlari, aku sayang padamu ibu!

**

Malam kian larut, hanya menyisakan sajak-sajak kecil dari sebuah kerinduan. Mengapa kusebut kerinduan? Karena entah mengapa sejak tadi aku bolak-balik mengecek layar pada ponselku serta sesekali menengok penunjuk waktu yang terletak di atas nakasku.

Aku menunggu kehadiran dan perhatian dari seseorang. Lalu siapakah seseorang itu? Jujur saja hatiku masih diliputi kegamangan dalam menelan keadaan. Siapa sesungguhnya sosok yang menjadi tujuanku berlari ini?

Malam telah hadir berbalut sepi, dingin sang angin telah merayu hati ini. Dengan ditemani oleh cahaya bulan yang ikut menghiasi dan menjadi saksi tentang nuansa misteri yang kini menusuk serta menyelimuti hati.

Pada sunyinya malam ini, kutitipan sebait sajak penuh arti. Siapakah yang telah menduduki hati ini. Pada buaian angin yang menyelimuti, ku haturkan rindu ini pada siapa gerangan pria yang mampu menggetarkan raga ini.

Lalu ku teringat akan sebuah petuah dari kedua orang tuaku, jika berada di ambang dua pilihan segera minta petunjuk pada Sang Pemberi Hati. Mungkin dengan memanjatkan serta bermunajat, hati ini akan terasa lebih tenang dan mampu menentukan sikap terbaik.

Tak perlu menunggu terlalu lama, aku segera beranjak menuju kamar mandi yang berada satu ruangan dalam kamar tidurku. Segera ku nyalakan kran air bersih untuk membasuh bagian-bagian tubuhku yang menjadi sumber maksiat. Gemercik air wudhu ini terasa syahdu, mungkin karena kegundahan inilah aku jadi merasa sensitif.

Segera kutunaikan ikhtiar sunah dua rakaat ini agar keputusan yang kuambil benar-benar diridhai oleh Tuhan. Agar hati ini merasa tenang serta mendapatkan jalan keluar dari Yang Maha Tahu.

Tak terasa air mata ini menetes, kala kulantunkan doa-doa yang berasal dari hati ini. Aku tahu, Tuhan pasti akan memberi jalan keluar yang terbaik untuk hamba-Nya yang masih mengingat serta masih mau bersimpuh di hadapan-Nya.

Semuanya kupanjatkan pada Tuhanku, setiap hal yang mengganjal di hati ini tanpa terlewatkan sekecil apapun ku serahkan pada-Nya. Karena hakikatnya, aku hanya sebuah makhluk lemah yang tak bisa melakukan apa-apa tanpa kuasa-Nya.

Malam ini saat bulan bertemu dengan sudut bintang. Saat bintang menggenggam rembulan,

Saat ribuan kunang kunang membelah belantara rimba. Saat ini aku menangis hingga di hadapan Tuhanku. Saat malam menemani hati yang rapuh, saat sunyi memanjakan telinga yang gersang. Terbesit sebuah harapan serta pilihan. Aku berharap inilah hasil dari doa yang telah kupanjatkan.

Tepat ketika selesai ku gulung tempatku bermunajat ini, Tuhan memberiku sebuah petunjuk. Deringan dari ponselku menjadi sebuah isyarat atas apa yang telah Sang Maha Sempurna berikan padaku.

"Terimakasih Tuhan, akhirnya Engkau jawab doa-doaku."

Tak ingin menunggu lama lagi, segera ku raih benda canggih itu dari atas nakas. Nama itu tertera dan sangat jelas menghubungi aku. Aku tak bisa lagi berkutik atas takdir ini. Takdir yang telah digariskan oleh Tuhan untukku.

...****...

1
Ersa
Luar biasa
Ридван Касид 💞
bagus akak ceritanya
Nurhartiningsih
sukaaaa sm yg melow2
Tio
b
Ivanka Anata
puitis bgt, cukup berat kalau tidak suka mapel bahasa jaman sekolah dulu, untungnya sy suja bahasa 😁😁😁😁
dheselsa: Kamsia, Kak.
Ikuti semua novel saya ya
total 1 replies
Hasni Jaya Almahdaly
kuu menangis membayangkan betapa sakitnya hati ku padamuu
Hasni Jaya Almahdaly
masih menerawang jauh dii ujung timur 🤔🙄😅😅

akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻
Amin Tohari
tuh kan sultan syahdam🤣
Amin Tohari
muke gile si syadam
Amin Tohari
wih dokter opo sultan ...
Amin Tohari
tersentuh oleh bang syat,🤣
Amin Tohari
thor apa itu anaknya shadam??
Amin Tohari
aih si shadam😈
Jess ♛⃝꙰𓆊
next
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
semangat Della, g usah ragu2 lanjutkan aja, toh selama ini terbukti syadam masih terus menunggu kamu
Risfa
mangat Della 💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
baper akut😎😎😎😎
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
emang bajunya kamu taruh dimana Della 😂😂😂 apa jatuh dan basah 😂😂😂
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
jatuh cinta untuk ke 2 kali dengan pria yg sama tp dalam rentang waktu yg berbeda 🥰🥰🥰
Risfa
lahh, bajunya ketinggalan dimanaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!