Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Natsuki
DOR! DOR! DUAARRR!
Rei dan Rin menghancurkan bagian lain rumah Kirihito, setengah dari rumahnya sudah hancur. Ruang tamu VIP tempat Natsuki berada juga hancur terkena roket Amunisi.
DUARR! Tembok ruang tamu VIP hancur berantakan dan berterbangan menghujani Natsuki.
"Apa?!" Natsuki berteriak panik ditengah-tengah hujan puing rumah Kirihito, "Kirihito! Apa yang terjadi? Serangan mafia!?"
DOR! DOR! BLARR!
Rei dan Rin terus menembak hancur rumah Kirihito... Puing-puing berjatuhan dalam kamar Kirihito.
Kirihito jatuh ke lantai dengan perut berlubang, berlumuran darah karena tembakkan pistol Smith and Wesson Model 29 Revolver 44 Magnum.
"Akira..." Ucap Kirihito sambil memegang perutnya yang tertembak, "Baru kali ini kau menyakitiku..."
Kirihito tersenyum pada Akira yang menatap kosong sambil terus menodongkan pistolnya, membidik Kirihito.
Presdir Akira tetap diam dalam kekosongan pikirannya...
"Dia luka... Dia berdarah... Kaoru..."
Pikirannya terus meneriakkan kalimat itu...
DOR! Presdir Akira kembali menembak Kirihito, tapi meleset beberapa inci dari kepalanya.
Presdir Akira menggertak gigi, berusaha menahan perasaan kalapnya, berjalan ke arah Kaoru dengan tatapan kosong, mengeluarkan alat las seukuran pulpen dari dalam sakunya.
CRANGK!
Lalu memotong rantai yang mengikat Kaoru... Kaoru jatuh dalam pelukan Presdir Akira, tubuhnya panas, dan nafasnya sudah semakin lemah.
Presdir Akira menatapnya dengan sangat lembut, mendekapnya sangat erat. Dia membuka jasnya dan mengenakannya pada Kaoru.
Brett! Presdir Akira merobek rompinya, menjilat luka Kaoru, menutup, mengikat dan menghentikan pendarahan di pergelangan tangannya.
Presdir Akira menggendong Kaoru dan membawanya pergi dari kamar Kirihito... Tak peduli lagi apa yang terjadi pada Kirihito dan apapun disekitarnya, baginya Kaoru yang paling utama, dan pikirannya hanya di isi Kaoru.
DOR! Punggung Presdir Akira ditembak saat akan membawa Kaoru keluar dari kamar Kirihito...
"Kau kira bisa pergi hidup-hidup dari sini? Rambut merah?" Celetuk Natsuki, muncul dari pintu kamar Kirihito, dia langsung mencari Kirihito ketika ruang tamu VIP hancur.
"Ck..." Presdir Akira berlutut dengan menekuk sebelah lututnya, lagi-lagi punggungnya berlubang terkena tembakan pistol.
"Rambut merah?" Tanya Kirihito bingung, menoleh ke arah Natsuki.
"Ya, keluarga Sakaki identik dengan rambut merah, 'kan? Kalian benar-benar mirip Ichimaru, rambut merah menjijikan..." Jawab Natsuki, melirik sekilas Kirihito yang terduduk dilantai, dan kembali ke Presdir Akira.
Ckrek! Natsuki kembali mengokang pistolnya, lalu mengarahkan pistol itu pada kepala Presdir Akira.
"Jangan bergerak kalau tidak mau mati, jadilah sandera untuk mengumpan Ichimaru..." Ucap Natsuki pada Presdir Akira dengan nada sinis.
"... Kalian para penjahat selalu mengeluarkan ancaman yang sama, ya?"
Presdir Akira menoleh ke arah Natsuki dengan tatapan tajam merah darah yang terlihat sangat kejam dan jahat, terasa aura membunuh yang kuat dari Presdir Akira.
Seketika Natsuki gentar, tubuhnya gemetar ketika menatap mata merah Presdir Akira, sangat takut bertatapan dengan mata itu. Namun Natsuki segera mendapatkan kembali keberaniannya, tentu saja karena Presdir Akira tidak membawa senjata... Sayangnya, senjata Presdir Akira sudah tersimpan, Natsuki tidak melihatnya.
DOR!
"Banyak omong kau!" Seru Natsuki, menembak sekali lagi punggung Presdir Akira.
Presdir Akira tidak menghindar karena ada Kaoru dalam dekapannya, satu lubang lagi pada punggungnya, darah yang dikeluarkan Presdir Akira lebih banyak dari Kirihito.
Presdir Akira menggertak gigi, sedikit meringis menahan sakit, rasa panas peluru timah membakar seluruh tubuhnya, dia mendekap Kaoru lebih erat.
"Akira!" Seru Kirihito panik, "Paman Natsuki, jangan bunuh dia..."
DOR!
Natsuki menembak punggung Kirihito, "Ugh!" Kirihito meringis menahan sakit, tembakan kedua.
"Kau sudah tak berguna lagi Kirihito, aku bisa membunuhmu kapan saja..." Desis Natsuki, berbalik, dan berjalan ke arah Kirihito, ia menarik rambut merah Kirihito dan menodongkan senjata di kepalanya.
DOR! DOR!
Presdir Akira menembak tangan Natsuki yang memegang senjata dan juga punggungnya.
"Uagh!!" Natsuki berteriak dan melepas pistolnya, dengan cepat Kirihito meraih pistol itu dan mengokang-nya. Presdir Akira dan Kirihito membidik Natsuki bersama-sama.
DUARR! DOR! DOR! BLARR! BUM! DUARR!
Rei dan Rin masih menghancurkan rumah Kirihito dari halaman. Bagunan itu hampir runtuh, para pelayan dan beberapa orang wanita yang merupakan artis berlari keluar meninggalkan rumah itu.
Begitupun dengan kamar Kirihito, atap bangunannya sudah mulai hancur dan berjatuhan menghujani mereka. Mereka bertiga patah-patah menghindari puing bangunan yang jatuh.
DOR!
Presdir Akira kembali menembak Natsuki dengan pistol Smith and Wesson Model 29 Revolver 44 magnum, peluru itu menggores bahu kiri Natsuki.
"Tunggu Akira... Jangan dibunuh..." Bisik Kirihito, menghentikan Presdir Akira yang ingin menembak mati Natsuki, "Aku tahu sifat-mu yang tak kenal ampun itu, tapi mari kita beradu argumen secara baik-baik... Kita serahkan dia pada polisi..." Lanjut Kirihito, sudah mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk berdiri.
"Kak Hito..." Suara Presdir Akira begitu dingin dan sengaja di lambatkan, "Dia akan menjadi pengganggu kalau dibiarkan hidup... Biarkan dia mati..." Presdir Akira menatap tajam dengan mata merah darah-nya.
Kirihito dan Presdir Akira bertatapan dalam diam, Kirihito menghela nafas, "Baiklah, terserah padamu..."
DOR! DOR!
Natsuki menembak tangan kanan Presdir Akira dan Kirihito ketika mereka sedang bertatapan. Natsuki menembak menggunakan tangan kirinya yang tak terluka, pistol itu disimpan dalam celana panjangnya.
Pistol yang dipegang Presdir Akira dan Kirihito terlepas dari genggaman, tangan kanan mereka berdarah.
"Kirihito, kau memang anak yang baik... Bisa juga mengampuni musuh, berkatmu aku dapat membunuh kalian berdua," Celetuk Natsuki, mengarahkan pistol pada Presdir Akira, "Karena kau baik, biarkan kubunuh adikmu dan kau ku-jadikan sandera, ya?"
BLARR! DOR! DOR! DUARR! Rumah Kirihito sudah hampir hancur seluruhnya karena tembakan Amunisi roket senjata Rei dan Rin.
"Hei, papa sialan itu sama sekali tidak keluar, apakah kita hentikan dulu?" Tanya Rei pada Rin sambil terus menembak.
DOR! DOR! DUARR!
"Tidak, tugas kita menghancurkan rumahnya. Kalau papa tidak menyuruh kita berhenti, maka kita harus terus menembak." DOR! DOR! BLARR! Rin menjawab pertanyaan Rei sambil terus menembak rumah Kirihito.
Ditengah hujan tembakan Amunisi, ada seorang manusia bertudung yang berlari masuk kedalam rumah Kirihito.
"Rin, berhenti! Ada orang yang menerobos masuk ke dalam rumah itu, kalau dibiarkan pasti dia mati tertimbun puing bangunan!" Seru Rei, mengentikan tangan Rin yang terus menembak hancur rumah Kirihito.
Rin berpikir cepat, dia mengerutkan keningnya.
"Ayo susul," Sahut Rin, menarik tangan Rei dan mereka berlari masuk ke dalam rumah Kirihito.
"Apa ada kata-kata terakhir, rambut merah?" Tanya Natsuki pada Presdir Akira.
"Penjahat bajingan..." Jawab Presdir Akira dengan dingin, masih menatap tajam Natsuki.
"Bagus, aku senang dapat kalimat itu," Ucap Natsuki, balas menatap sinis Presdir Akira, "Kau tahu, rambut merah? Penjahat selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, selalu menduduki puncak kejayaan yang tertinggi."
"Dalam sebuah komik pun, kau akan melihat bahwa penjahat itu berkuasa! Sangat kuat! Tak ada yang bisa mengusiknya!" Sambung Natsuki, tersenyum lebar seperti psikopat gila.
"... Kau hanya membaca bagian awal komiknya saja, coba kau baca chapter 3-4 dan kau akan menemukan bahwa, 'penjahat diciptakan untuk dikalahkan pada akhir cerita'..." Sahut Presdir Akira.
"Diam! Penjahit menduduki tempat tertinggi!" Sela Natsuki, "Kau minta dibunuh, ya! Selamat tinggal rambut merah!"
DOR!
Tiba-tiba Natsuki menjadi diam, darah keluar dari mulutnya. Bruk! Dia terjatuh didepan Presdir Akira. Sebuah lubang tertata dengan bagusnya di punggung Natsuki, tepat mengenai jantungnya.
Ternyata sebelum menembak Presdir Akira, dia sudah ditembak lebih dulu oleh orang bertudung itu... Orang itu membuka tudung yang menutupi kepalanya...
"Maaf papa, aku tak bisa membiarkan kau membunuh Akira dan Kirihito... Aku menyukai mereka." Terdengar suara seorang wanita, itu Hikiko.
Natsuki tak bergerak lagi, dia tetap diam, dia mati...
Hikiko, Kirihito, dan Presdir Akira saling bertatapan, Presdir Akira menatap Hikiko dengan tatapan kosong yang sangat dingin.
"Maaf Akira... Aku tidak tahu kalau perempuan ini sangat penting bagimu..." Ujar Hikiko, memalingkan matanya dari tatapan pembunuh Presdir Akira.
"Dan Kak Hito... Aku tak bermaksud memanfaatkan-mu..." Lanjut Hikiko, menoleh pada Kaoru yang ada di tengah ruangan. Presdir Akira langsung merentangkan tangan kirinya, melindungi Kaoru dari tatapan Hikiko.
"Tenang... Aku tak akan melakukan apa-apa padanya..." Celetuk Hikiko, memalingkan wajahnya dari Kaoru.
"Kenapa?" Tanya Presdir Akira dengan dingin, "Kenapa menolong kami? Tak ada untungnya bagimu..."
"Sudah kubilang beratus-ratus kali, aku menyukaimu..." Jawab Hikiko, "Sangat suka, benar-benar cinta padamu..."
"Lebih cinta aku dari pada ayahmu? Kau menjijikkan." Potong Presdir Akira, memasang tatapan kejam.
"Karena aku mencintai papa, makanya kubunuh... Kalian jangan salah paham, aku tidak membiarkan papa membunuh kalian karena aku ingin membunuh kalian dengan tanganku sendiri..." Desis Hikiko dalam nada bimbang.
"Karena aku mencintaimu Akira, aku tak dapat memiliki hatimu, maka akan kumiliki jiwamu..." Hikiko mengarahkan pistolnya pada Presdir Akira.
"Keluarga Yui benar-benar gila, kalian dapat saling membunuh sesuka hati... Kenapa kau tidak bunuh aku saat di kamarmu tadi? Bukankah tidak perlu repot-repot?" Sahut Presdir Akira.
"Aku ingin kau saling bunuh dulu dengan kakakmu... Tapi sesuai dugaan-ku, kau tidak membunuh kakak sendiri, karena kalian memiliki hubungan darah... Ja—jadi terpaksa aku datang untuk membunuh kalian." Ucap Hikiko dengan sedikit bergetar, "Berikan jiwamu padaku, Akira..."
DOR! DOR!
Tangan dan kaki Hikiko ditembak oleh Kirihito, "Ahh!" Teriak Hikiko, langsung terjatuh ke lantai.
"Lebih baik kau yang mati dari pada Akira," Kata Kirihito seraya menodongkan pistol yang diambilnya dari Natsuki.
"Sayangnya Akira memang terlalu baik, pada saudara, tapi aku tidak. Aku bisa membunuhmu... Penghianat, padahal sudah kulakukan dan kuberikan segalanya untuk menolong-mu, keluarga Yui memang seorang bajingan, tak ada yang bisa dipercaya." Kirihito menatap kejam dengan mata oranye-nya yang seperti binatang buas.
"Tidak..."
Presdir Akira mengambil pistol Smith and Wesson Model 29 Revolver 44 magnum dengan tangan kirinya, lalu menodongkan pistol itu pada Hikiko.
"Aku sudah sering membunuh orang, tanpa terkecuali, mau dia saudara atau apapun... Mau coba rasa peluru yang menembus kepala?"
To be continued...
Gubrak!