Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Jangan pernah memaksakan kehendak karena ego, dan jangan memaksakan keinginan karena napsu.
Ahn Yoo keluar dari ruangan Hyun In dan menarikku pergi bersamanya.
"Lepas! Jangan biarkan Hyun In seperti itu, dia membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya," kataku sambil melepaskan genggaman Ahn Yoo.
"Apa kau menyuruhku untuk mencintainya?"
"Bukan, aku hanya menyarankanmu untuk menenangkan Hyun In sementara, setidaknya sampai dia merasa baikan," sambungku.
"Aku tidak akan melakukannya," tolak Ahn Yoo.
"Baiklah, biar aku yang menenangkannya. Aku akan membiarkan Hyun In mencakarku atau melukaiku nanti," bentakku kepada Ahn Yoo.
Aku pergi ke ruangan Hyun In lagi dan mencoba menenangkannya.
"Hyun In," kataku dengan suara lirih.
"Jane Soo? Apa yang Jiyu katakan kepadamu? Apa dia akan meninggalkanku di sini?"
"Tidak, dia hanya tidak menyangka kamu mencoba bunuh diri semalam di hotel. Jadi dia merasa sangat kecewa padamu, tapi itu hanya sementara."
"Benarkah? Tapi dia tadi tidak peduli denganku, sama sekali tidak khawatir tentangku," jawab Hyun In dengan lirih.
"Kamu tidak tahu, hari ini Ahn Yoo ada rapat penting, tapi ketika mendengar kamu masuk rumah sakit, Ahn Yoo membatalkannya untukmu. Bukankah itu sudah menjadi bukti kalau dia sangat mengkhwatirkan mu," lanjutku mencoba menenangkannya.
"Tentu saja Jiyu khawatir denganku, aku tahu itu. Jane Soo, mendekatlah denganku," panggil Hyun In untuk mendekati dia yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.
Aku mendekatinya dan memasang wajah senang karena Hyun In sudah tampak lebih tenang sekarang.
Namun apa yang terjadi, Hyun In malah menampar pipiku dengan keras.
Plaaak!
"Dasar wanita murahan, kamu sudah menggoda Jiyu ku. Dan sekarang kamu bilang dia menghawatirkanku, apa menurutmu aku akan percaya begitu saja. Aku sudah mengenal Jiyu sejak kecil, kalau dia bilang tidak peduli, artinya tidak peduli," kata Hyun In menyenggakku.
"Apa barusan kamu bilang aku wanita murahan? Kamu tahu, aku sangat benci disebut seperti itu," kataku penuh kemarahan kepada Hyun In karena lancang menampar dan menyebutku wanita murahan.
"Yah, kamu adalah ****** penggoda Jiyu. Aku tidak tahu cara apa yang kamu lakukan sampai Jiyu menyukaimu. Bahkan tamparan itu tidak cukup untuk menghukummu," kata Hyun In menghinaku.
Pantas saja Ahn Yoo tidak pernah menyukai Hyun In, itu karena semua yang dilakukannya adalah palsu, semua yang dilakukannya hanya drama. Sikapnya yang terlihat manis, periang, dan lugu, itu semua bukan sifat sesunguhnya. Hyun In adalah orang yang keras kepala dan egois.
"Aku menyuruhmu untuk menarik kata-katamu tadi," timpalku mengingatkan Hyun In.
"Apa menurutmu aku akan takut? Dasar wanita murahan," sambung Hyun In tidak mendengarkanku.
Aku mendekati Hyun In dan memegang rambutnya dengan kuat, sampai dia menjerit kesakitan.
"Apa menurutmu aku akan bertindak bodoh sepertimu? Aku ini bisa lebih licik dari pada ular kecil sepertimu, jadi jangan pernah memancingku untuk menyakitimu," bisikku ketelinganya sambil menggertakkan gigi.
"Ahhh! Lepaskan aku, aku akan laporkan kamu kepolisi!"
"Laporkan saja, aku tidak takut sama sekali. Lagi pula kamu tidak punya bukti untuk melaporkanku," balasku membangkang.
"Di ruangan ini ada CCTV, semua perbuatanmu akan terekam," ancam Hyun In sambil memegang tanganku.
Aku sengaja membelakangi CCTV ruangan ini dan menarik rambutnya dari ujung kepalanya, agar terlihat seperti sedang mengelus .
"Aku tidak takut, tapi aku khawatir kalau kamu yang masuk penjara karena menamparku lebih dulu. Lagi pula rekaman CCTV akan menunjukkan kalau aku sedang membelai kepalamu, bukan menariknya," kataku dengan suara licik.
Aku melepaskan tanganku dan pergi meninggalkan ruangannya.
"Dasar jal*ng licik, beraninya mengancamku!" teriak Hyun In menghinaku.
Aku berbalik menoleh ke arahnya dan menjawab hinaannya dengan muka tebal.
"Meskipun aku ini jal*ng, tapi aku bisa menarik hati Ahn Yoo. Sedangkan kamu, sama sekali tidak dilirik Ahn Yoo. Secara tidak langsung kamu lebih rendah dari seorang jal*ng, Hyun In."
Hyun In berteriak histeris seperti orang gila, dan memukul ranjangnya dengan keras. Mungkin dia tidak terima dengan hinaanku tadi.
Aku sudah berbaik hati ingin menenangkannya, tapi apa balasannya? Hyun In malah menamparku dan menghinaku sebagai wanita penggoda. Jadi jangan salahkan aku bersikap kejam juga terhadapnya. Batas kesabaran seseorang itu pasti ada, kalau dipancing siapa yang akan tahan. Lagi pula, Hyun In tidak mengetahui kalau aku ini bukan orang yang lemah, dia tidak tahu kalau aku bisa lebih licik dari seekor rubah.
Aku menelepon Ahn Yoo dan menanyakan keberadaannya.
"Halo!" kataku saat dia sudah mengangkat panggilanku.
"Dimana kau sekarang?"
"Aku masih di rumah sakit," jawabku.
"Apa kau belum siap membujuk Hyun In?" tanya Ahn Yoo dengan suara agak menyenggak.
"Tidak, aku sudah keluar dari ruangannya."
"Cepatlah keluar dari sana, aku sudah membatu menunggumu di sini," decak Ahn Yoo memerintahku.
"Apa kamu memungguku? Aku pikir kamu sudah pulang lebih dulu."
"Jadi maksudmu aku bukan orang yang bertanggung jawab," kata Ahn Yoo yang merasa tersindir.
"Hahahaha, tentu saja tidak," sahutku sambil tertawa kaku.
Aku berjalan keluar dari pintu rumah sakit, dan mencari Ahn Yoo di sekitar sini. Memang benar, dia menungguku sejak dari tadi. Tampak dari wajahnya yang sudah ditekuk saat aku masuk ke dalam mobil.
"Apa Hyun In menyakitimu?" tanya Ahn Yoo kepadaku.
"Tidak, justru aku yang menyakitinya," jawabku datar.
"Aku sudah yakin," cetus Ahn Yoo.
"Yakin? Yakin apa maksudmu?"
"Kemana kita hari ini?" tanya Ahn Yoo yang menyimpang dari pembahasan.
"Pulang," jawabku datar.
"Aku sudah membatalkan rapat penting hari ini."
"Jadi? Lagi pula kamu batalkan rapat karena Hyun In, kalau begitu pergilah dengan Hyun In," kataku dengan nada menyindir.
"Apa kau sedang cemburu?"
"A-A-Aku? Hahahahah, aku tidak cemburu. Apalagi dengan Hyun In. Tentu saja aku tidak bisa dibandingkan dengan dia, Hyun In terlalu berkelas," jawabku menyangkal dengan terbata-bata.
"Owh," angguk Ahn Yoo singkat.
Suasana dalam mobil ini sangat hening, apa aku salah bicara. Tidak, aku sama sekali tidak menyinggungnya. Lebih baik aku diam saja dan menunggu Ahn Yoo dulu yang berbicara denganku.
Bukannya pulang, Ahn Yoo malah membawaku ke pusat perbelanjaan. Aku tidak tahu tujuan dia membawaku ke sini. Entah itu akan berbisnis atau berbelanja, aku tidak tahu.
"Kenapa kita ke sini?" tanyaku kebingungan.
"Jangan banyak tanya, cepatlah turun."
Aku mengikuti Ahn Yoo masuk ke pusat perbelanjaan.
Saat kami tiba semua pegawai di sebuah toko pakaian yang elit menunduk kepada kami. Aku heran melihat mereka, sangat sopan. Mungkin tatakrama mereka kepada pelanggan memang seperti ini, ramah kepada pelanggan.
"Pilih baju yang kau suka," kata Ahn Yoo.
"Ha? Bukannya bajuku masih banyak di rumah?" sambungku.
Ahn Yoo tidak menghiraukanku dan menyuruh pegawai toko untuk memilihkan baju yang cocok untukku.
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter