NovelToon NovelToon
Kebangkitan Di Zaman Modern

Kebangkitan Di Zaman Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.

Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.

Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.

Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Jarak Jauh

Suasana di dalam ruangan remang itu tampak semakin mencekam, menyedot setiap aliran udara hingga terasa berat untuk dihirup.

Di atas batu besar yang memancarkan aura dingin, terlihat seorang pria yang tampak masih muda meskipun usia aslinya telah melewati hitungan ratusan tahun.

Guru Bai duduk bersilang, matanya terpejam rapat, namun dahinya berkerut dalam saat pikirannya mencoba menerobos batasan waktu, mencoba mencari tau insiden berdarah yang menewaskan lima anak buah kepercayaannya.

Sementara di sampingnya, atmosfer terasa begitu menekan. Jia Ren dan Wang Len hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menahan napas agar tidak menciptakan suara yang dapat mengganggu sang guru.

"Sampai kapan kita mau menunggu seperti ini? Kita sudah menunggu selama lima jam," bisik Wang Len dengan nada mendesis, matanya melirik gelisah ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi secuil cahaya lilin.

Jia Ren menyenggol lengan istrinya dengan keras dan melotot tajam, berusaha meredam kepanikan yang tidak pada tempatnya.

"Diam, jangan banyak mengeluh! Kau tahu sendiri Guru sangat tidak suka dengan orang yang tidak sabaran." bisiknya setengah mengancam.

Wang Len hanya bisa mendengus kesal, melipat tangannya di dada sembari memalingkan wajah, meski tak berani membantah lebih jauh.

Di tengah perdebatan sunyi itu, fokus Guru Bai sama sekali tidak goyah. Bibirnya bergerak samar, menggumamkan perintah yang bergaung rendah di dalam ruangan, "Keluarlah... tunjukkan diri kalian yang sebenarnya."

Namun, seolah ada dinding tak kasat mata yang terbuat dari sihir tingkat tinggi, wajah kedua pria misterius dalam penglihatannya tetap buram.

Tangan Guru Bai mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menolak untuk menyerah pada kegelapan. Ia memaksakan batinnya melompati ruang dan waktu--- untuk menemukan posisi kedua pria itu.

Seolah-olah seluruh dunia ini terbentang di balik kelopak matanya yang terpejam. Keringat dingin mulai menetes deras membasahi pelipisnya, menandakan benturan energi yang luar biasa besar sedang terjadi.

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari jangkauan indra Guru Bai—tepatnya di dalam apartemen minimalis milik Jia Li yang terletak di pusat kota. Ruangan yang dari luar tampak biasa saja itu telah diubah menjadi sebuah lapangan luas tak berujung yang tidak lain adalah ruang dimensi khusus.

Di tengah lapangan luas buatan itu, Yun Shadom sedang duduk bersila melakukan meditasi spiritual.

Ini yang selalu ia lakukan jika emosinya sedang berada di puncak tertinggi. Napasnya masih memburu berat; ia benar-benar masih dirundung kekesalan dan amarah hanya karena melihat adik perempuan tercintanya telah dicium oleh seorang pria asing antah-berantah.

Ruang dimensi luas ini sendiri bukanlah ruangan biasa, melainkan ruang khusus yang dibeli oleh Jia Li dari sistem rahasianya seharga 100.000 koin emas.

Karena ukuran apartemen fisiknya terlalu kecil dan sempit untuk menampung energi mereka, Jia Li membeli ruang dimensi itu untuk kedua kakaknya agar bisa berlatih dengan bebas---- tanpa takut akan merubuhkan gedung apartemen itu.

Tepat di samping Yun Shadom, sang adik, Yun Sharam, tampak sangat fokus menggerakkan pedangnya.

Setiap tebasan pedangnya membelah udara dengan suara mendesing yang tajam, menciptakan gelombang angin yang berputar di ruang dimensi tersebut.

Di sela-sela latihannya yang intens, ia sesekali melirik ke arah sang kakak. Meski wajah Yun Shadom tampak luar biasa tenang dari luar, Yun Sharam tahu betul bahwa di balik topeng ketenangan itu, hati kakaknya sedang membara oleh badai kemarahan yang siap meledak kapan saja.

Tiba-tiba—DUAR!

Sebuah ledakan dahsyat mengguncang langit-langit ruang dimensi. Seketika, bentangan langit buatan di atas mereka berganti warna, menggelap bagai ditelan badai hitam.

Gerakan pedang Yun Sharam langsung terhenti. Ia menurunkan senjatanya, lalu mendongak menatap langit dengan kening berkerut.

Di sampingnya, Yun Shadom perlahan membuka kelopak matanya. Sorot matanya begitu tenang, namun memancarkan aura dingin yang membekukan. Kedua mata pria itu menyipit tajam, menganalisis situasi yang baru saja terjadi.

"Apa yang terjadi?" gumam Yun Sharam, meraba hawa aneh yang mendadak memenuhi ruangan.

Yun Shadom berdiri perlahan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang dingin. "Serangan energi spiritual... serangan itu mencoba masuk." ucapnya datar, namun sarat akan intonasi meremehkan.

Mendengar hal itu, kedua kakak beradik tersebut saling berpandangan. Alih-alih merasa takut, seulas senyum menyeramkan justru terukir di wajah mereka berdua. Mereka tahu, seseorang di luar sana sedang mencari masalah dengan orang yang salah.

Sementara itu, di tempat Guru Bai.

Pria itu duduk bersila dengan mata yang masih terpejam rapat. Tangannya bergerak seirama di udara, membentuk segel-segel rumit.

Ia sedang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melakukan serangan jarak jauh, mencoba menembus ruang dan waktu guna melacak keberadaan Yun Shadom dan Yun Sharam.

"Dimana kalian...?" gumam Guru Bai dengan napas yang mulai memburu.

Keringat dingin menetes di pelipisnya saat jiwanya mencoba membongkar dinding pertahanan tak kasat mata yang melindungi kedua buruannya.

Namun, alih-alih berhasil menembus—DUAR!

Gelombang energi pembalik menghantamnya tanpa ampun. Tubuh Guru Bai tersentak hebat. Ia terpental ke belakang dengan sangat keras hingga menghantam dinding ruangan hingga retak.

Jia Ren dan Wang Len yang sejak tadi diam di sana langsung melotot horor. Pekikan tertahan lolos dari tenggorokan mereka saat melihat Guru Bai terbatuk, lalu memuntahkan darah segar berwarna hitam pekat dari mulutnya.

"Guru!" Keduanya berteriak serempak dan langsung berlari menghampiri, mencoba membantu Guru Bai yang terkulai lemas.

"Sialan..." desis Guru Bai dengan suara serak. Tangannya mencengkeram dadanya sendiri yang terasa luar biasa sakit, seolah organ dalamnya baru saja diremas oleh kekuatan raksasa.

"Guru, Anda baik-baik saja?" tanya Jia Ren dengan suara bergetar karena rasa khawatir.

Guru Bai tidak langsung menjawab. Ia menyeka darah hitam di bibirnya. Matanya yang semula layu tiba-tiba berkilat, memancarkan emosi yang meluap-luap antara murka dan tidak percaya.

"Ternyata... mereka memang sangat kuat," bisik Guru Bai dengan napas tersengal. "Seranganku dikembalikan begitu saja tanpa celah... Aku bahkan tidak bisa menembus lapisan paling luar dari pertahanan mereka."

Jia Ren dan Wang Len saling pandang. Ruangan itu mendadak diselimuti oleh firasat buruk yang mencekik.

"Guru—" Jia Ren mencoba kembali bertanya, namun kalimatnya terputus di tenggorokan. Ia tidak berani melanjutkan kata-katanya saat melihat kilatan amarah yang membakar wajah sang guru.

"Kedua pria itu..." Tangan Guru Bai terkepal amat erat hingga buku-buku jarinya memutih. "...bisa menjadi halangan besar bagi kita jika tidak segera disingkirkan!"

Kembali ke dalam ruang dimensi...

Suasana kembali tenang. Yun Shadom dan Yun Sharam berdiri tegak berdampingan. Di tangan mereka, bilah pedang mereka masih berkilat tajam, memantulkan sisa-sisa energi spiritual yang baru saja mereka hancurkan.

Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan. Wajah kedua pria itu tampak sangat berbahaya—siap memburu siapapun yang berani mengusik ketenangan mereka.

Yun Sharam berdecak kesal, memutar pedangnya dengan gusar. "Cih, serangan murahan," gerutunya. "Mengganggu saja!"

Yun Shadom hanya memejamkan mata sejenak. Ia menghirup udara dimensi yang dingin secara perlahan, mencoba merasakan pergerakan energi di sekeliling mereka sebelum akhirnya membuka mata dengan sorot yang tenang namun mematikan.

"Mereka mulai menyerang... itu artinya mereka takut," ucap Yun Shadom datar, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.

1
Thewie
pindah kemari kami bah.. kejaman modern🤭
Lee Yaa
tak kira kaisar yun shang yg dteng🤭
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
next ...
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Atik Kiswati
ada hubungan masa lalu kah....
Sekar
lanjut thor💪💪💪💪
Aeriah Kayla
tidak apa Thor better than nothing. get well soon ya thor
Sri Wulan
semoga cepat sembuh ya Thor..
Ayra Hijab
lekas sehattt thoorr 💪
Inay
semoga lekas sehat, dan semangat 💪!
Sekar
akhirnya ketemu
Anonim
Sedikit sekali updatenya
Dewiendahsetiowati
akhirnya ketemu juga
Aeriah Kayla
bagus Thor jangan di buat belibet ya kasian kkk kembarnya terlunta" . kumpulkan mereka jadi satu.
Atik Kiswati
gk sabar tgg lnjt nya.....
Ayra Hijab
asliii, karyanyaa keren skaalii thorrr
Anonim
Ditunggu bab yg banyak thor
Ayra Hijab
serruuuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!