"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendampingi Periksa
Cuaca pagi itu agak mendung. Langit kelabu menggantung sejak aku berangkat, tetapi hujan tak kunjung turun. Memang, mendung tidak selalu berarti hujan.
Pagi ini aku mengantar Ummu Aisyah ke rumah sakit besar. Beliau ingin kembali memeriksakan penyakitnya yang beberapa waktu terakhir kembali mengganggu.
Ummu cerita bahwa sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Ummu berhadapan dengan penyakit tersebut.
Beberapa tahun lalu, Ummu pernah didiagnosis menderita kanker paru-paru. Saat itu beliau menjalani kemoterapi hingga beberapa siklus. Alhamdulillah, setelah rangkaian pengobatan dan pemeriksaan, kondisi beliau membaik dan dinyatakan sudah tidak menunjukkan tanda penyakit yang aktif.
Namun, beberapa tahun kemudian, keluhan itu kembali muncul.
Sayangnya, karena di tempat tinggal Ummu tidak ada rumah sakit besar, selama ini beliau hanya mengonsumsi obat-obatan yang pernah diresepkan dokter.
Itulah yang membuatku cukup khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, aku membantu Ummu turun dari mobil. Kakak beliau juga ikut mendampingi.
"Ummu duduk dulu. Aku yang urus pendaftarannya," kataku.
Ummu mengangguk dan duduk di kursi tunggu.
Setelah proses administrasi selesai, kami diarahkan ke poli onkologi dan paru. Saat menunggu giliran, aku kembali bertanya tentang keluhan yang dirasakan Ummu.
"Ummu, sekarang yang paling sering dirasakan apa?"
"Batuk masih sering. Kadang sesak juga. Badan rasanya lebih mudah lelah."
Aku mengangguk sambil memperhatikan wajah beliau.
Aku sudah tahu riwayat penyakitnya, tetapi tetap saja rasanya berbeda ketika harus mendampingi seseorang yang kita kenal menjalani pemeriksaan kanker.
Tak lama kemudian, nama Ummu dipanggil.
Kami masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter kembali menggali riwayat penyakit Ummu secara lengkap. Mulai dari kapan pertama kali didiagnosis kanker paru-paru, pengobatan yang pernah dijalani, kemoterapi yang pernah dilakukan, hasil pemeriksaan terakhir setelah pengobatan, hingga keluhan yang muncul beberapa bulan terakhir.
"Setelah kemoterapi dulu, kontrolnya rutin, Bu?" tanya dokter.
Ummu menggeleng pelan.
"Awalnya rutin. Setelah dinyatakan membaik, lama-lama jarang kontrol. Apalagi di tempat saya tidak ada rumah sakit besar."
Dokter mengangguk, kemudian melanjutkan pemeriksaan.
Setelah pemeriksaan fisik selesai, dokter menjelaskan bahwa karena Ummu memiliki riwayat kanker paru-paru dan sekarang kembali mengalami keluhan, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
"Untuk memastikan apakah penyakitnya benar-benar kambuh dan bagaimana kondisinya sekarang, kita perlu melakukan beberapa pemeriksaan. Kita mulai dari pemeriksaan darah dan CT scan dada. Nanti dari hasilnya kita tentukan pemeriksaan berikutnya."
Aku mengangguk.
"Baik, Dok."
Kami kemudian menuju laboratorium.
Sambil menunggu, aku menemani Ummu duduk di ruang tunggu.
"Ummu takut?" tanyaku pelan.
Beliau tersenyum tipis.
"Takut, Nak. Dulu waktu pertama kali kena juga takut. Sekarang kalau harus mengingat kemoterapi lagi, rasanya..."
Ummu tidak melanjutkan kalimatnya.
Aku memahami maksudnya.
"Belum tentu harus kemoterapi lagi, Ummu. Kita belum tahu hasil pemeriksaannya. Jangan memikirkan yang terlalu jauh dulu."
Ummu mengangguk.
Setelah pemeriksaan darah selesai, kami menuju bagian radiologi untuk menjalani CT scan.
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan selesai. Namun kami masih harus menunggu hasilnya sebelum kembali menemui dokter.
Aku melihat Ummu yang duduk diam di sampingku.
Dulu beliau sudah melewati masa yang berat. Kemoterapi, rasa mual, tubuh yang lemah, rambut yang rontok, dan berbagai efek pengobatan lainnya.
Dan sekarang, setelah beberapa tahun menikmati masa ketika penyakit itu seolah telah pergi, mereka kembali harus berhadapan dengan kemungkinan yang sama.
Aku menggenggam tangan Ummu.
"Ummu..."
"Iya?"
"Yang penting sekarang kita sudah datang ke rumah sakit besar. Kita cari tahu dulu kondisinya seperti apa."
Beliau tersenyum kecil.
"Iya, Nak. Ummu juga ingin berobat dengan benar."
Setelah hasil CT scan tersedia, kami kembali ke ruang dokter.
Dokter memperhatikan hasil pemeriksaan dengan cukup lama. Kemudian beliau menjelaskan bahwa terdapat temuan pada paru-paru yang perlu dicurigai sebagai kekambuhan penyakit lama.
Namun dokter menekankan bahwa hasil CT scan saja belum cukup untuk memastikan diagnosis.
"Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah ini benar kekambuhan kanker dan menentukan jenis serta kondisinya. Setelah itu baru kita bisa menentukan pilihan pengobatan yang paling tepat."
Aku mencatat setiap penjelasan dokter.
Biopsi dan pemeriksaan jaringan kemudian direncanakan untuk memastikan diagnosis. Dokter juga menjelaskan bahwa pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana penyakit tersebut berkembang sebelum menentukan terapi.
Ummu hanya diam mendengarkan.
Aku tahu ada banyak hal yang sedang beliau pikirkan.
Setelah keluar dari ruang dokter, kami berjalan perlahan menuju ruang tunggu.
"Jadi harus kemoterapi lagi?" tanya Ummu.
Aku menoleh kepadanya.
"Belum tentu, Ummu. Kita tunggu hasil pemeriksaan lengkapnya dulu. Pengobatan nanti disesuaikan dengan kondisi Ummu."
Beliau mengangguk.
Hari itu ternyata belum selesai. Kami masih harus menyelesaikan beberapa pemeriksaan dan mengurus jadwal pemeriksaan lanjutan.
Namun setidaknya ada satu hal yang membuatku sedikit lega.
Ummu akhirnya kembali mendapatkan penanganan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Bukan lagi sekadar bertahan dengan obat-obatan ketika keluhan datang.
Kini kami sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh beliau.
Saat akhirnya kami keluar dari rumah sakit, langit masih mendung.
Aku membantu Ummu masuk ke mobil.
"Ummu, nanti kalau pemeriksaannya sudah selesai dan harus kontrol lagi, kabari aku."
"Memangnya kamu bisa terus menemani?"
Aku tersenyum.
"Kalau aku tidak sedang ada pekerjaan, insyaallah aku temani."
Ummu tersenyum.
Aku memesankan grab untuk ummu dan kakaknya. karena aku harus bekerja, jadi tidak bisa mengantar pulang.
Di dalam hati, aku kembali berdoa.
Semoga apa pun hasil pemeriksaannya nanti, Allah memberikan kekuatan kepada Ummu untuk menjalaninya.
Beliau sudah pernah melewati perjuangan itu sekali.
Dan jika kali ini harus kembali berjuang, semoga Allah memberikan kekuatan untuk melewatinya dengan lebih baik.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏