NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Kembali Pulang

Angin sore berembus pelan, membawa hawa sejuk yang tak memampukan menyapu rasa sesak di dada Nara.

Setelah melangkah keluar dari kedai kopi dengan perasaan hancur, Nara tidak lantas melangkahkan kakinya pulang. Ia melangkah tanpa arah, menyusuri trotoar jalanan kota yang ramai oleh lalu lalang kendaraan.

Langkah kakinya berat, seolah menyeret beban tak kasat mata yang teramat parah. Pikiran Nara melayang.

Bayangan kertas perjanjian gila dari Devino, tatapan dingin Zaid tadi pagi, hingga keputusan orang tuanya yang menjodohkannya, semuanya berputar-putar menciptakan pusaran depresi yang memekakkan telinga.

Lapar tak lagi terasa walau waktu makan siang telah lama lewat. Ponsel di dalam tasnya sudah ia matikan total, enggan menerima getaran atau panggilan dari siapa pun. Terutama Devino yang mungkin masih mencarinya.

Hari ini, Nara hanya ingin menghilang. Ia ingin menenangkan kepalanya yang serasa mau pecah.

Setelah menyusuri jalanan hingga kakinya terasa pegal, langkah Nara terhenti di depan sebuah gerbang besi berukir indah.

Di balik gerbang itu, berdiri sebuah masjid di sudut kota dengan halaman rindang dan pepohonan hijau yang menyejukkan. Suasananya begitu tenang dan damai.

Beberapa jemaah tampak baru saja berlalu keluar dari pintu utama masjid, menandakan ibadah shalat Dzuhur berjemaah baru saja usai.

Nara mematung di pinggir jalan. Matanya yang memerah menatap bangunan megah namun menentramkan itu.

Di saat ia merasa tak lagi memiliki tempat untuk bersandar, di saat manusia yang ia percayai justru menjadikannya seperti boneka, tempat ini seolah memanggilnya pulang. Ini adalah jawaban atas keputusasaannya.

Tempat terbaik untuk mengadukan segala keluh kesah kepada sang Pemilik Skenario Kehidupan yang sesungguhnya.

Nara melangkah masuk. Ia berjalan menuju tempat wudu. Kucuran air dingin yang membasahi wajah, tangan, hingga kakinya seolah membasuh sedikit demi sedikit kepenatan yang membakar jiwanya.

Dengan mukena yang ia pinjam dari lemari perlengkapan masjid, Nara membentang sajadah di area belakang pembatas wanita.

Ia menegakkan tubuhnya, mengangkat kedua tangan, dan mengagungkan nama Sang Pencipta.

Saat dahi mulusnya menyentuh lantai dalam sujud terakhir, benteng pertahanan yang Nara tahan seharian akhirnya runtuh total.

Isak tangis yang begitu dalam dan tertahan meluncur tanpa sanggup ia cegah. Di dalam sujud yang panjang itu, Nara mencurahkan segalanya tanpa sisa.

"Ya Allah..." bisik hati Nara di sela-sela sedu-sedannya. "Hamba lelah. Hamba lelah diatur dan dipermainkan oleh jalan pikiran orang-orang yang hamba sayangi. Jika pernikahan ini adalah jalan yang Engkau takdirkan, tunjukkanlah hamba arahnya. Berikan hamba kekuatan untuk berdiri di atas kaki hamba sendiri, agar hamba tak lagi menjadi boneka bagi siapa pun..."

Air matanya menetes meresap ke dalam kain sajadah. Namun anehnya, seiring dengan doa-doa yang meluncur samar dari bibirnya, dada Nara yang semula sesak mendadak terasa sedikit lebih lapang.

Ada kehangatan ajaib yang menjalar, memberi rasa tenang yang tak pernah ia dapatkan dari manusia mana pun.

Usai berdoa dan menenangkan diri sejenak hingga sore menjelang, Nara bersiap untuk pulang. Namun, kepanikan kecil kembali menghampirinya ketika ia menyalakan ponselnya dan menyadari daya baterainya telah mati total.

Lebih buruknya lagi, Nara sadar ia belum menghafal nomor rumah atau alamat lengkap rumah baru Zaid.

Satu-satunya hal yang melekat di ingatannya hanyalah nama kompleks perumahan tempat Zaid tinggal.

Dengan sisa keberanian dan uang tunai secukupnya di dalam dompet, Nara menaiki angkutan umum. Perjalanan menuju perumahan terasa cukup panjang di tengah kemacetan sore.

Ketika angkutan umum itu memiringkan badan dan menurunkannya di depan gerbang utama perumahan, matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang redup.

Nara melangkah menyusuri trotoar jalan kompleks. Pemandangan ini begitu familiar. Persis seperti hari pertama ia memberanikan diri keluar rumah untuk membeli bahan makanan. Bedanya, kali ini hatinya tak lagi selabil tadi siang, meski rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya dan matanya sembab tak bisa disembunyikan.

Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyapu tubuh Nara dari arah depan. Sebuah mobil SUV hitam yang amat ia kenali melaju pelan, hendak keluar dari area kompleks.

Zaid, yang bermaksud keluar untuk mencari makan malam sekaligus menenangkan pikirannya yang kalut sejak pagi karena banyaknya pekerjaan yang menyita pikirannya.

Saat mobil itu berpapasan dengan sosok wanita yang berjalan menunduk di tepi jalan, langkah Zaid mendadak terhenti di atas pedal rem.

Mata tajam Zaid membelalak pelan melalui kaca depan. Ia mengenali pakaian itu. Ia mengenali cara berjalan itu.

Tanpa berpikir panjang, Zaid memutar balik mobilnya secara mendadak di tengah jalan kompleks yang lengang, lalu perlahan menghentikan kendaraan tepat di samping Nara.

Kaca mobil turun secara otomatis. Zaid menatap Nara dari kursi kemudi.

"Nara?" suara Zaid terdengar rendah, bernada antara terkejut dan cemas yang berusaha disembunyikan.

Nara terperanjat kecil, menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Zaid sedang menatapnya dalam-dalam.

Zaid bisa melihat jelas betapa pucatnya bibir Nara, kerudung instannya yang sedikit berantakan disapu angin, serta matanya yang bengkak dan sembab sisa bekas menangis tadi.

Zaid dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar. Ia berdiri di hadapan Nara, memangkas jarak di antara mereka. Bau harum parfum khas Zaid beradu dengan angin sore.

"Kamu dari mana saja?" tanya Zaid pelan, namun mengandung penekanan yang tak bisa dibantah. "Ponsel kamu tidak bisa dihubungi."

Nara menunduk, menghindari tatapan mata Zaid yang terlampau intimidatif untuk kondisinya yang sedang rapuh. "Aku... aku cuma jalan-jalan sebentar. Baterai ponselku habis."

Zaid menghela napas pendek. Ia bisa membaca keletihan yang teramat sangat dari helaan napas Nara. Tanpa mencecar lebih jauh tentang siapa yang ditemuinya siang tadi, Zaid membukakan pintu penumpang sebelah kemudi.

"Masuk. Kita pulang," ujar Zaid singkat.

"Tidak usah, Zaid... ini sudah dekat. Aku bisa jalan kaki saja," tolak Nara halus, merasa sungkan sekaligus takut canggung berada di dalam ruang tertutup bersama Zaid setelah kejadian semalam dan tadi pagi.

Zaid tidak bergeming. Tangannya tetap memegang gagang pintu mobil yang terbuka. Pandangannya tak lepas dari wajah sembab Nara.

"Jalan kaki dalam kondisi kamu yang seperti ini cuma akan buat kamu pingsan sebelum sampai rumah," potong Zaid datar namun bernada tegas. "Masuk, Nara. Jangan membantah."

Nara menelan ludah. Nada suara Zaid yang tidak menerima penolakan, namun tersirat perhatian samar di dalamnya. Membuat pertahanan Nara melemah. Lagipula, kakinya memang sudah terasa sangat pegal dan kepalanya mulai menyengat nyeri.

Dengan hembusan napas pasrah, Nara akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah... terima kasih."

Nara melangkah masuk dan duduk di kursi penumpang. Zaid menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu berjalan mengitari kap depan untuk kembali ke kursi kemudi.

Mobil hitam itu kembali melaju membelah jalanan kompleks yang mulai gelap. Di dalam kabin mobil yang hening, tak ada kata yang terucap.

Namun keheningan kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi rasa panik yang mencekat, melainkan sebuah kepasrahan yang hangat—sebuah awal baru bagi Nara untuk belajar menerima takdirnya sendiri.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!