Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Leon tak sabar menunggu hingga malam untuk menemui Georgina.
*
Georgina kembali mendapat telepon dari Leon. Untungnya saat ini ia sudah selesai melayani pasien, waktu pun cukup senggang.
Georgina lantas menjangkau ponselnya dan menerima panggilan telepon dari Leon.
"Ada apa lagi? Apa kamu sudah sangat merindukan aku sampai-sampai tidak sabar menunggu hingga malam nanti."
"Aku tidak sedang ingin bercanda, Geo. Aku baru saja tiba di rumah sakit, sepuluh menit lagi aku akan sampai ke ruanganmu."
Geo menatap ponselnya saat Leon memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Sesuai dengan ucapannya, kurang lebih sepuluh menit kemudian, Leon memasuki ruangan praktik Georgina, setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Georgina menatap Leon yang kini melangkah mendekat. Mimik wajah pria itu terlihat begitu serius, hingga Georgina tak lagi melontarkan kalimat beraroma candaan.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu tidak sabar ingin bertemu denganku?."
"Apa benar kau sedang hamil?." Leon balik bertanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Georgina sebelumnya.
Georgina menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Ia tidak menyangka berita itu akan secepat itu sampai pada Leon.
"Apa tujuanmu menanyakan hal itu?." Ada jeda sejenak. "Aku tahu kamu datang ke sini bukan karena kecewa mendengar wanita yang dijodohkan denganmu sedang mengandung anak dari pria lain, melainkan karena hal lain, iya kan?."
Leon mengangguk. Rasanya tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan dari wanita itu.
Georgina mengukir senyum melihat anggukan Leon.
"Sekarang jawab! Apa benar kamu sedang hamil?." Desak Leon.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin kamu lebih dulu menjawab pertanyaanku dengan jujur!."
"Jangan memutar balikkan keadaan Geo! Aku ke sini hanya ingin jawaban pasti darimu, bukannya untuk menjawab pertanyaan darimu."
"Kamu jawab saja dulu pertanyaanku dengan jujur, dengan begitu aku juga akan menjawab pertanyaanmu!."
Selama mengenal sosok wanita yang usianya sebaya dengan dirinya tersebut, baru kali ini Leon merasa sikap Georgina sulit ditebak.
"Baiklah?." Leon akhirnya mengalah. "Katakan, apa yang ingin kamu ketahui dariku?."
Georgina menatap Leon dengan intens lalu bertanya. "Apa kamu masih mencintai Reka?."
"Jangan mencari tahu pertanyaan yang kau sendiri sudah tahu jawabannya."
"Aku ingin jawaban pasti Leon, iya atau tidak?." Desak Georgina.
"Ya, aku masih sangat mencintainya. Apa kamu puas sekarang?." Lugas Leon.
Georgina tersenyum, sebuah senyuman yang menunjukkan kepuasan. Ia puas mendengar jawaban itu langsung dari mulut Leon, sehingga ia tak perlu menyesali tindakannya dikemudikan hari nanti.
"Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku! Apa benar kamu sedang hamil?."
Dengan santainya Georgina menggelengkan kepala.
"Sepertinya kamu memang sudah tidak waras, Geo. Bisa-bisanya kamu mengaku sedang hamil. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aunty Tika, hah?." Leon tidak habis pikir dengan kegilaan yang diciptakan oleh wanita itu.
"Aku akan menyampaikan kebenaran ini pada aunty Tika. Aku tidak tega melihatnya bersedih karena kegilaanmu ini."
"Pergilah! Dan setelah mommy tahu kebohonganku, maka kamu pun tidak akan pernah bisa kembali pada wanita yang kamu cintai." Balas Georgina. Jika sampai mommy-nya tahu ia hanya berbohong tentang kehamilannya, tentu saja pernikahannya dengan Leon akan tetap dilanjutkan.
Deg.
Leon terpaku. Kini ia baru menyadari bahwa Georgina melakukan semua ini demi kebersamaannya dengan Reka. Sungguh, Leon tidak pernah berpikir bila Georgina akan berkorban sampai sejauh ini. Entah untuk dirinya atau Reka, yang jelas pengorbanan Georgina begitu nyata. Kini Leon pun yakin, kedatangan kedua orang tuanya di apartemen semalam ada campur tangan Georgina di dalamnya.
"Jaga Reka dengan sepenuh hatimu! Jangan sia-siakan dia! Sudah begitu banyak penderitaan yang Reka lalui selama ini, jangan lagi membuatnya menangis karena hal apapun, terutama karena merindukanmu! Dan tolong, tetap rahasiakan ini dari Reka!." Pesan Georgina dengan tatapan penuh ketulusan.
Leon tertegun dengan kata-kata Georgina.
Sesaat kemudian, Leon pun mengangguk.
"Tanpa diminta sekalipun, aku pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati karena aku sangat mencintainya."
"Pergilah, temui Reka! Satu jam mendatang, aku akan tiba di apartemen kalian." Ujar Georgina.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Georgina nanti di apartemennya, Leon tak lagi terlalu memikirkannya karena pastinya apa yang akan dilakukan oleh Georgina nanti tidak akan sampai menyakiti wanita yang dicintainya.
Beberapa saat kemudian, Leon pun berpamitan.
*
"Baby Richard mana, mas?."
Saking leganya usai bertemu dengan Georgina, Leon sampai lupa bila tadinya ia berpamitan pada Reka untuk menjemput baby Richard.
"Astaga..... bagaimana aku bisa lupa." Batin Leon.
"Baby Richard sedang tidur sewaktu mas datang tadi, dan mas tidak tega membangunkannya." Demi merahasiakan pertemuannya dengan Georgina, Leon terpaksa berbohong.
"Bagaimana kalau nanti malam saja kita kembali ke sana untuk menjemput baby Richard." Lanjut Leon.
"Baiklah."
Leon menghela napas lega, Reka percaya begitu saja dengan alasannya.
"Maafkan mas, sayang.....mas terpaksa berbohong agar kamu tidak sampai berpikir yang bukan-bukan tentang pertemuan mas dengan Georgina." Leon bergumam dalam hati. Berpikir yang bukan-bukan pastinya akan menyakitkan bagi seorang wanita, dan Leon tidak mau sampai Reka merasakan hal itu.
"Mas aku ke kamar dulu...."
"Hem."
Sepeninggal Reka, Leon mendudukkan tubuhnya dengan sedikit kasar di sofa ruang tengah apartemen. Jujur, hingga detik ini Leon masih bingung mengapa Georgina begitu menyayangi Reka. Wanita itu memang tidak mengutarakannya secara langsung, namun dari sorot matanya ketika berpesan agar ia menjaga Reka dengan baik, kasih sayang itu terlihat dengan jelas. Kalau dipikir-pikir, dari seribu manusia di muka bumi ini, syukur-syukur ada satu yang seperti Georgina. Padahal ia dan Reka belum lama saling mengenal.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri, Leon sampai tak sadar bila ia sudah duduk menyendiri selama dua jam. Kalau bukan karena mendengar suara bel berbunyi, mungkin leon masih saja sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Leon melirik jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Apa mungkin itu Geo?." Gumamnya.
Sebelum Leon beranjak dari duduknya untuk memastikan, Reka nampak keluar dari kamar dan berlalu untuk membukakan pintu. Leon lantas menyusul Reka.
"Geo....." Seru Reka, sedikit kaget. "Silahkan masuk!."
"Are you okey?." Tanya Reka saat menyadari kesedihan di wajah cantik Georgina.
Bukannya menjawab, Georgina langsung memeluk Reka. "Hiks....hiks....hiks...."
Kedua bola mata Leon langsung melebar dengan sempurna ketika melihat Georgina tiba-tiba menangis sambil memeluk Reka. Jujur, Leon bertanya-tanya dalam hati, kegilaan apa lagi yang ingin dimainkan oleh wanita itu.
"Sebaiknya duduk dan tenangkan diri dulu!." Reka menuntun Georgina untuk duduk di sofa ruang tamu. Perasaan Reka berubah cemas melihat kondisi Georgina.
"Sebenarnya ada apa ini, Geo? Coba cerita!." Kata Reka.
"Aku diusir dari rumah akibat melakukan kesalahan."
"Memangnya kesalahan apa yang telah kamu perbuat sampai membuatmu di usir dari rumah?." Reka tak tega sekaligus penasaran dengan alasan hingga Georgina diusir dari rumah.
"A_aku hamil."
Duar......
Pengakuan Georgina ibarat petir yang menyambar tubuh Reka disiang bolong, begitu mengejutkan.
Berbeda dengan Reka, Leon justru langsung menganga mendengarnya. Entah tindakan apa lagi yang akan dilakukan oleh wanita dihadapannya itu, Leon sampai tak dapat menebaknya.
trimakasih Thor sudah menghibur dengan karyamu..sehat selalu.. semangat untuk berkarya 👍