Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 : Di bawah langit yang sama, di balik tatapan yang mengintai.
Ding.
Angka di layar lift berhenti di B2. Pintu terbuka perlahan, menyambut lorong beton yang dingin dan lembab. Bau oli, semen basah, dan hawa pengap langsung menusuk hingga ke tulang. Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, dua kali, lalu diam, memancarkan cahaya pucat yang membuat bayangan terlihat hidup.
Di ujung lorong, mobil hitam Damian sudah menunggu. Mesin menyala pelan, uap tipis keluar dari knalpot, mengambang di udara dingin.
Langkah kaki Damian terdengar berat dan tenang, menggema di sepanjang lorong kosong. Luca berjalan dua langkah di belakangnya, tangan terselip di dalam jas, matanya waspada menyapu setiap sudut ruangan.
Dari arah berlawanan, terdengar langkah lain. Lebih ringan, namun sengaja diatur tempo-nya.
Matteo.
Ia keluar dari mobilnya sendiri. Jas abu-abu mahalnya masih rapi, tapi dasi sudah dilepas, satu kancing teratas kemejanya terbuka.
Keduanya berhenti. Jarak di antara mereka tepat tiga meter. Diapit dua mobil hitam dan satu tiang beton yang kokoh.
Hening. Hanya suara tetesan air yang jatuh berirama dari pipa di atas, terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.
"Selamat ya, Kak." ucap Matteo, senyumnya ditarik lebar, terlalu lebar untuk lorong yang segelap ini.
Damian tak menjawab. Matanya menilai dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tanpa ekspresi. Dingin hingga menusuk.
Matteo menggaruk tengkuk, aktingnya terlihat begitu alami. "Valen baru cerita kemarin. Katanya Kakak sudah menikah." Ia mengangguk pelan, seolah tersentuh. "Aku sangat senang, Kak. Sumpah. Akhirnya Kakak bisa membawa istri ke hadapan Oma Rosalina."
Damian menatapnya tanpa berkedip, membuat setiap kata yang baru saja terucap terasa berat dan dipantau.
Lalu Damian mengangguk pelan, "Terima kasih."
Suaranya rendah namun menggema di seluruh lorong. Ia melangkah maju, melewati Matteo hingga mereka berdiri sejajar dengan jarak hanya setengah meter, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh kakak iparnya.
"Besok malam," ucap Damian, tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya rendah, namun berisi perintah yang tak bisa dibantah. "Jam delapan. Di Mansion." Jeda sejenak. "Undang Valen juga."
Langkah Matteo terhenti. Senyum di bibirnya perlahan retak, menyisakan kebingungan yang dipaksakan.
"Acara apa, Kak?"
Damian baru menoleh, setengah badannya. Cahaya neon membelah wajahnya, separuh terang, separuh tenggelam dalam bayangan gelap.
"Makan malam." Kata itu terjatuh pelan. Jeda dua detik yang terasa berlangsung satu jam penuh. "Perkenalan resmi istriku."
Klik.
Suara pintu mobil yang dibuka memecah keheningan. Sebelum masuk, ia melirik Matteo sekali lagi. Tatapan itu kosong, tajam, seolah melihat lurus ke dalam jiwa pria itu.
"Tidak perlu ajak Leon. Datang berdua saja."
Pintu mobil tertutup rapat. Mesin meraung pelan, ban mobil menginjak genangan air dan memercikkannya ke segala arah. Mobil hitam itu meluncur pergi, meninggalkan gema yang perlahan memudar di lorong beton yang kosong.
Matteo masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Rahangnya mengeras hingga terlihat urat-urat di lehernya.
"Perkenalan resmi..." gumamnya pelan, suara penuh ketidakpercayaan bercampur ancaman. "Jadi dia benar-benar serius dengan perempuan itu."
Luca berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Saat berpapasan, ia berbisik pelan, cukup pelan agar hanya Matteo yang mendengar, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.
"Don tidak suka mengulang dua kali." ucapnya, lalu ia pun pergi, masuk ke mobil lain yang segera menyusul kepergian Damian.
Tinggal Matteo sendirian di bawah lampu neon yang kembali berkedip pelan, menerangi wajahnya yang kini penuh perhitungan licik.
"Kesempatan..." bisiknya sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya. "Aku bisa bicara dengan wanita itu. Memberinya penawaran untuk lepas dari Damian."
-
-
-
Hujan sudah berhenti, namun aspal jalan masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang berkelip samar di permukaannya yang licin.
Sama seperti pagi tadi, mobil hitam Damian berhenti tepat sepuluh meter dari pintu kafe agar keberadaannya tidak mencolok.
Celine melangkah keluar dari pintu kafe. Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih hidup, masih menyisakan cahaya yang tak kunjung padam. Ia berhenti di samping jendela mobil, mengetuk kaca pelan.
Tok, tok.
Jendela turun perlahan, hanya setengah jalan. Wajah Damian tampak di baliknya. Datar, tenang dan tak terbaca.
"Ayo pulang," ajaknya pelan, membuka pintu mobil dari dalam.
Celine mengangguk kecil, bergegas masuk dan duduk di kursi penumpang. Ia menoleh ke arah Damian, tangannya meremas tali tas di pangkuan. "Boleh... mampir dulu? Sepuluh menit saja. Ke atas. Ke parkiran gedung seberang."
Alis Damian sedikit menyipit. "Untuk apa?"
Celine mendongak menatap langit melalui kaca jendela yang terbuka. Awan gelap mulai pecah, menyisakan kelabu tipis di ufuk barat. Satu dua bintang mulai terlihat samar, berjuang menembus cahaya kota.
"Aku capek, Damian." Suaranya lembut, penuh kelelahan yang tulus. "Aku cuma mau lihat langit sebentar."
Damian menghela napas pelan, hampir tak terdengar. Perlahan ia mulai menyalakan mesin mobil.
"Baik."
--
Atap parkiran gedung tujuh lantai itu sepi senyap. Hanya suara angin malam yang berdesir pelan, dan dengungan kota yang terdengar samar, jauh di bawah sana.
Mereka berdiri di tepi pagar pembatas. Berjarak satu jengkal. Tak saling bersentuhan. Dua sosok yang berbeda dunia, namun berdiri sama tinggi menatap ke arah yang sama.
Celine menghembuskan napas panjang, seolah melepaskan segala beban yang menyesakkan dadanya akhir-akhir ini.
"Ini pertama kalinya dalam setahun aku bisa melihat bintang..." gumamnya pelan, matanya tak berkedip menatap langit. "...tanpa memikirkan tagihan listrik, biaya obat, operasi Ibu."
Damian tak menjawab, namun ia juga mendongak. Menatap langit yang gelap dan luas itu. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun hidupnya, di benaknya tak ada bayangan neraka, tak ada bau darah, tak ada wajah pengkhianatan.
Hanya langit, dan wanita di sampingnya.
"Besok kau tetap bekerja?" tanyanya pelan, memecah keheningan lembut itu.
"Iya." Celine mengangguk. "Tapi terima kasih. Karena mau antar jemput aku."
"Itu kesepakatan."
Celine tersenyum kecil, senyum yang begitu murni dan lembut di bawah cahaya bintang. "Tahu tidak? Bintang yang paling terang itu..." Ia menunjuk satu titik cahaya yang berkilau paling cerah di langit. "...namanya Arcturus. Dulu Ayah bilang, kalau nanti aku kangen beliau, cari bintang paling terang. Itu Ayah yang sedang menjagaku dari atas sana."
Rahang Damian perlahan mengeras. Ia melirik sekilas ke arah Celine. Bukan tatapan seorang Don, bukan tatapan penguasa dunia gelap. Tapi tatapan seorang manusia yang sedang merasakan sesuatu yang asing di hatinya.
"Arcturus..." ulangnya pelan, seolah menyimpan nama itu di dalam ingatannya.
Klik.
Suara kecil. Halus. Hampir tak terdengar.
Otot di leher Damian seketika menegang. Instingnya berteriak lebih dulu. Telinganya menangkap sesuatu yang bahkan angin pun tak bisa bawa. Baru kemudian, suara Luca masuk pelan lewat earpiece tersembunyi di telinganya — rendah, cepat, dan tegas.
"Don. Atap gedung seberang. Lantai delapan. Satu orang. Lensa scope aktif. Arah Anda dan Nyonya."
Waktu seakan berhenti. Tanpa berpikir dua kali, tangan Damian bergerak. Ia meraih bahu Celine, memutar tubuh wanita itu dengan lembut namun pasti, lalu menariknya erat hingga punggung Celine menempel penuh ke dadanya. Tubuhnya yang besar dan kokoh langsung menutupi seluruh tubuh Celine.
Buk.
Dor!
"Damian!"
--
--
--
Bersambung...