Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HEBOH
"...Begitulah ceritanya." Viana mengakhiri penjelasannya.
Ruang tamu mendadak hening.
Viana masih berdiri di tengah ruangan, sementara Aleta, Aura, Keira, dan Ravian duduk di sofa sambil mencerna yang baru saja mereka dengar.
Aura menjadi orang pertama yang memecah keheningan.
"Jadi... Selama ini kita bertiga udah satu meja dengan dua orang yang selama ini kita cari-cari?"
Semuanya mengangguk pelan.
"Kalau tahu begini... aku gak bakal capek-capek buka studio tato," keluh Viana.
"Oh, studio tato itu memang rencana kalian buat nemuin kita berdua?"
"Hmm."
Viana mendadak menepuk dahinya.
"Ah! Pantas aja!" pekiknya.
"Apa?" Ravian menoleh.
Viana langsung menunjuk Keira.
"Aku baru ingat kalau tato yang Keira minta waktu itu gambar laba-laba. Laba-laba yang persis kayak peliharaan Luna dulu."
"Astaga... Kenapa aku baru sadar? Padahal yang tahu detail laba-laba itu cuma anak-anak Dark Blood."
"Payah," ejek keira sambil menyilangkan kedua tangannya.
Ravian tertawa pelan.
"Tapi kalau bukan karena studio tato itu, aku sama Keira nggak akan bertengkar tadi pagi. Aku juga nggak mungkin ketemu Viana sore ini. Karena aku selalu mengunjungi makam tua itu setiap hari Minggu jam tujuh malam."
Viana membelalak.
"Kamu ngatain makam kita tua?" tanya Viana.
"Eumm..."
"Tunggu dulu... Apa gara-gara aku kalian terus nunda pertunangan sampai akhirnya batal?" tanya Viana lagi.
Ravian menggeleng santai.
"Itu memang rencanaku dari awal."
"Tunda."
"Tunda."
"Tunda lagi."
"Biarkan Keira terus menunggu sampai akhirnya batal." Seringai puas muncul di wajah Ravian.
Keira perlahan menoleh, dengan tatapan tajam.
"Ooooo.... Jadi... Selama ini kamu ingin balas dendam ke Keira yang asli?" tanya Keira dengan nada yang sedikit menyeramkan.
Ravian masih tersenyum, ia tidak tahu bahwa ucapannya baru saja memicu emosi seseorang.
Sedetik kemudian, Keira berdiri.
"TAPI KENAPA KAU MEMBALASKAN DENDAM RAVIAN PADAKU, ADIK SIALAAANNNN!!!" suara teriakannya menggema ke seluruh apartemen.
Ravian langsung menelan ludah. Sementara yang lainnya menutup telinga mereka.
"Ma-maaf, Kak..." ucap Ravian terbata-bata.
"Aku mana ta—"
Belum selesai Ravian berbicara, Keira sudah berlari mengejarnya.
"WOII!!" teriak Keira lagi.
"AMPUN, KAK!!" teriak Ravian yang refleks melompat dari sofa. Ia lalu berlari menuju dapur. Sementara Keira mengejarnya tanpa ampun.
"YOU MADE ME MISERABLE FOR MONTHS BECAUSE OF YOUR STUPID REVENGE!!!" teriak Keira lagi, dengan emosi yang menggebu-gebu.
"So-sorryyyyyyy!!!"
Ravian kembali kabur keluar dapur, melihat Keira yang mengejarnya sambil membawa panci untuk memukulnya.
Tanpa pikir panjang, Ia membuka pintu sebuah kamar yang paling dekat dengan dapur lalu menguncinya dari dalam.
Brak!
Pintu itu ditutup dengan keras oleh Ravian. Viana langsung melotot melihatnya.
"VIAAANNN!!"
"ITU KAMARKU!! KELUAR!!"
Viana bergegas menuju pintu sambil menarik-narik gagangnya. Sementara itu, Keira ikut menggedor pintu.
Brak! Brak! Brak!
"KELUAR ATAU KUDOBRAK??!!"
Dari ruang tamu...
Aleta hanya menyeruput teh hangatnya dengan tenang.
"Untung apartemen ini kedap suara."
Aura hanya terkekeh mendengarnya.
...****************...
Karena Ravian sama sekali tidak mau keluar dari kamar Viana, malam itu pun akhirnya ditutup dengan sebuah keputusan sederhana.
Tidur.
Aleta dan Aura kembali ke kamar mereka. Sementara Viana dan Keira menempati kamar yang baru saja dibersihkan Aura siang tadi. Kamar yang semula kosong dan berdebu itu kini resmi menjadi tempat tinggal baru Keira, setelah ia meninggalkan Mansion keluarga Lee.
...****************...
Keesokan harinya...
Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit ketika aroma sarapan mulai memenuhi apartemen.
Di dapur, Aura dan Keira sibuk menyiapkan sarapan bersama. Ravian yang baru keluar dari kamar menguap pelan sambil mengenakan jaket.
"Mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Keira sambil membolak-balik telur menggunakan spatula kayu.
"Balik ke mansion."
"Why?"
"Aku berangkatnya dari sana, Kak. Di sini kan nggak ada seragam sekolahku," jawab Ravian dengan nada lembut.
"Siapa bilang?"
Keira mengangguk ke arah sofa. Di sana, sebuah tas belanja tampak tergeletak rapi.
Ravian menghampirinya lalu membuka isi tas tersebut.
"Baju sekolahku?" tanya Ravian dengan nada tak percaya.
"Hmm."
"Dapat dari mana? Kakak bawa sendiri atau... ngambil?" tanya Ravian.
Keira terkekeh.
"Bibi Wati yang nganter," jawabnya santai.
"Jenius!" seru Ravian sambil mengacungkan jempol.
"Makan. Sarapan siap," ucap Aura yang baru saja mematikan kompor.
Keira menoleh ke arah Ravian.
"Bangunin Viana," titahnya.
"Oke!" seru Ravian senang.
Siapa yang tidak senang ketika disuruh membangunkan seseorang yang kita suka? Author rasa tidak ada. Apalagi jika belum memiliki status yang jelas seperti Ravian dan Viana.
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan. Pemandangan di dalamnya membuat sudut bibir Ravian terangkat.
Viana tidur tanpa selimut dengan posisi yang benar-benar berantakan. Satu kaki menjuntai dari ranjang. Bantalnya sudah bergeser entah ke mana. Rambut panjangnya bahkan menutupi hampir seluruh wajah.
Ravian hanya bisa tersenyum geli sambil menggeleng pelan.
"Benar-benar princess..." gumamnya.
Rasanya sangat ingin ia memeluk tubuh mungil Viana saat itu juga, saking gemesnya. Tapi, untuk saat ini ia belum berani melakukannya. Jika ia benar-benar melakukannya, sudah pasti ia mendapat amukan dari Aleta dan Keira.
Ravian kemudian membuka tirai kamar hingga cahaya pagi masuk perlahan. Lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan hati-hati, ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Viana.
"Bangun..." gumamnya lembut. Ravian sedikit mendekat.
"Wake up, my little girl..." bisiknya pelan di dekat telinga Viana.
"Five minutes more..." gumam Viana manja tanpa membuka mata. Tubuhnya bahkan refleks sedikit menghadap ke arah suara Ravian.
Ravian terkekeh pelan.
"Bangun atau aku foto," ancam Ravian.
Mata Viana seketika terbuka.
"Jangan!" serunya dengan suara serak khas baru bangun tidur yang membuat Ravian kembali tersenyum. Ia buru-buru meraba pipinya sendiri. Takut kalau-kalau masih ada bekas iler seperti saat Leo dulu sering mengerjainya.
Ravian tertawa kecil.
"Puas lihat aku sudah bangun?" tanya Viana malas.
"Hmm. Ayo." Ravian membantu Viana duduk di tepi ranjang. Setelah Viana benar-benar sadar sepenuhnya, keduanya keluar kamar bersama.
Namun, Viana langsung memasang wajah lesu saat melihat pintu kamar mandi terkunci.
"Siapa yang mandi?"
"Aura," jawab Keira.
"Aleta mana?"
"Masih siap-siap," jawab Keira lagi.
"Eh? Dia udah mandi?"
Keira mengangguk.
"Berarti tinggal aku?" tanya Keira sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Aku juga belum," ucap Ravian santai.
"Aku juga. Mau mandi bareng?" tanya Keira sambil tersenyum jahil.
"Yuk!" seru Viana semangat.
"Ravian. Ambilin dua handuk di kamar. Yang warna pink pastel dan biru," ucap Keira datar.
"Kak..." Ravian memijat pelipisnya.
"Na... Kalian ini kenapa sih suka banget mandi bareng? Nanti kalau sama-sama udah nikah gimana? Masa masih mandi berdua juga? Terus aku sama siapa dong?"
Keira menyeringai jahil mendengar ocehan Ravian.
"Sama suami kakak lah."
"Kakkk..."
Akhirnya, Aura pun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Keira dan Viana yang buru-buru masuk ke kamar mandi bersama.
Ravian hanya bisa menghela napas pasrah. Ravian pun terpaksa kembali ke kamar mengambil dua handuk sesuai permintaan mereka.
"Kalau aku nggak tahu kalian berdua itu lurus, aku pasti ngira kalian lesbian," gerutu Ravian yang kemudian memasuki kamar Keira.
Ucapan itu kebetulan terdengar oleh Aura dan Aleta yang kebetulan berpapasan di depan pintu kamar Aleta. Keduanya saling berpandangan.
"Dia lagi gosipin kita?" Aura mengernyit.
Aleta menggeleng pelan.
"Kurasa tidak."
...****************...
Setelah sarapan bersama, mereka pun bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Di parkiran bawah apartemen, tiga motor telah berjajar rapi. Aleta menaiki motor sport hitam miliknya seorang diri. Aura berboncengan dengan Keira. Sementara Ravian membawa Viana.
Semalam, Ravian memang tidak membawa mobilnya ke apartemen. Ia memilih pulang bersama Viana menggunakan motornya, sedangkan mobil Ravian telah lebih dulu dibawa kembali ke Mansion keluarga Lee oleh salah seorang anak buahnya.
Bruuummm......
Bruuummm.....
Bruummm....
Deru mesin ketiga motor itu pun memecah suasana pagi, melaju beriringan menuju SMA Alexander School.
Seperti biasa, kedatangan mereka langsung menjadi pusat perhatian.
"Eh, itu Aleta!"
"Cantik banget..."
"Kenapa sih dia makin hari makin kelihatan elegan?"
"Aura juga cantik banget hari ini..."
Tatapan para siswa hampir seluruhnya tertuju pada Aleta dan Aura yang baru saja melepas helm.
Namun beberapa detik kemudian... perhatian mereka beralih.
"Loh... Itu Ravian?"
"Kok datang bareng mereka?"
"Keira juga ada."
Semua masih menganggap hal itu wajar... Sampai Keira melepas helm yang dikenakannya.
"Hah?"
"Keira sama Aura?"
"Kok bukan sama Ravian?"
"Lah... Terus yang dibonceng Ravian siapa?"
"Nggak kelihatan. Dia pakai helm full face juga."
"Jangan-jangan..."
"...Viana?"
"Ah, nggak mungkin."
Tepat saat gadis yang dibonceng Ravian melepas helmnya, rambut panjangnya terurai pelan tertiup angin. Semua mata langsung membelalak.
"V-VIANA?!"
"WHAT?!"
"SERIUS ITU VIANA?!"
"KENAPA DIA YANG DIBONCENG RAVIAN?!"
Suasana parkiran mendadak ricuh. Berbagai dugaan mulai bermunculan.
"Pantasan akhir-akhir ini hubungan Ravian sama Keira kelihatan renggang."
"Iya."
"Biasanya Ravian nempel terus sama Keira."
"Sekarang malah sering ngobrol sama Viana."
"Jangan-jangan mereka putus?"
"Katanya pertunangannya juga ditunda terus."
"Eh, bukannya udah batal ya?"
Ucapan itu membuat gosip semakin liar. Para siswa pun mulai terbagi menjadi dua kubu.
"Kalau menurutku sih wajar Ravian lebih milih Viana."
"Iya. Soalnya Viana nggak pernah nyakitin perasaan Ravian."
"Sedangkan Keira, dia dulu sering nolak Ravian mentah-mentah."
"Bahkan pernah bikin Ravian malu di depan banyak orang."
"Kalau aku jadi Ravian juga capek."
Namun tak sedikit pula yang langsung membela Keira.
"Eh, jangan gitu juga. Namanya juga orang bisa berubah."
"Lagipula Keira sekarang udah baik sama Ravian."
"Yang salah jelas Viana. Dia kan tahu Ravian dulu calon tunangan Keira."
"Ih... Perebut pacar orang."
"Padahal kelihatannya baik."
"Mana dekat banget lagi."
Perdebatan kecil itu terus berlanjut. Sementara orang-orang yang sedang digosipkan, sama sekali tidak peduli.
"Semalam kamu beneran ngorok nggak sih?" tanya Ravian sambil terkekeh.
"Hah?" Viana langsung melotot.
"Aku nggak ngorok!" teriaknya kesal.
"Kak Keira yang bilang."
"Heh!" Viana reflek memukul pelan lengan Ravian. "Kamu jangan bongkar aib ku di sekolah ini dong!"
Di sisi lain...
Keira justru asyik mengobrol dengan Aura dan Aleta.
Kelimanya berjalan santai memasuki gedung sekolah. Sementara gosip di belakang mereka semakin menjadi-jadi.
mana dipanggil honey lagi /Doge/