NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Sebelum meninggalkan ruangan itu, Kael menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya menyapu botol-botol cairan medis yang sebelumnya telah ia pecahkan hingga isinya menggenangi lantai. Tanpa ragu, ia mengarahkan pistol ke bawah.

Dor!

Percikan api muncul sesaat ketika peluru menghantam permukaan lantai. Dalam hitungan detik, cairan kimia yang mudah terbakar itu tersulut, menjalar begitu cepat hingga kobaran api memenuhi sudut-sudut ruangan.

Panas menyergap seketika.

Dokter dan asistennya yang masih terluka hanya mampu menjerit histeris. Mereka berusaha menjauh, tetapi kaki yang cedera membuat tubuh mereka tak lagi sanggup menopang beban sendiri. Setiap usaha untuk merangkak justru berakhir dengan rasa sakit yang menusuk.

Api terus membesar, mengepung mereka tanpa memberi banyak ruang untuk meloloskan diri.

Kael tak menoleh lagi.

Dengan Aurora yang masih terkulai tak sadarkan diri dalam gendongannya, ia melangkah keluar meninggalkan lorong itu. Dari kejauhan, jeritan putus asa kedua wanita tersebut masih terdengar samar, lalu perlahan tenggelam di balik raungan kobaran api.

Wajah Kael tetap dingin, tetapi pelukannya pada Aurora semakin erat. Saat ini hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya—membawa gadis itu keluar dengan selamat.

Sementara itu, di bagian lain klinik, orang-orang kepercayaan Kael telah bergerak sesuai rencana. Operasi mereka berlangsung cepat, rapi, dan nyaris tanpa meninggalkan jejak. Kepanikan yang terjadi di dalam gedung akan tampak seperti musibah yang datang secara tiba-tiba.

Asap mulai membumbung ke langit ketika Kael mencapai area parkir. Beberapa orang berlarian menjauh dari bangunan yang mulai dilalap api, sementara suara alarm menggema bersahut-sahutan.

Tak seorang pun menyadari apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding klinik itu.

Yang mereka lihat hanyalah sebuah kebakaran.

Namun bagi Kael, malam itu adalah akhir dari sebuah tempat yang selama ini menyembunyikan terlalu banyak dosa. Satu-satunya hal yang masih penting baginya sekarang hanyalah memastikan Aurora membuka mata kembali.

Kobaran api yang mulai membesar memaksa seluruh orang di dalam klinik berhamburan keluar. Anak buah Kael telah memastikan tidak ada orang yang tidak bersalah menjadi korban. Target mereka hanya satu—mengakhiri keberadaan tempat yang selama ini menyimpan begitu banyak rahasia kelam.

Sayangnya, pemilik klinik tak berada di lokasi. Kael mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Orang yang paling pantas mempertanggungjawabkan semuanya berhasil lolos dari hadapannya.

Kael merasa tubuh Aurora begitu ringan dalam gendongannya, membuat dadanya kembali dihantam rasa bersalah. Seandainya ia datang beberapa menit lebih lambat, ia tak sanggup membayangkan apa yang mungkin terjadi.

Ia membuka pintu mobil, lalu merebahkan Aurora dengan sangat hati-hati di kursi penumpang. Saat tubuh gadis itu bergeser, gaun yang dikenakannya sedikit kusut. Kael sempat terdiam sepersekian detik.

Tatapannya membeku.

Kenangan tentang malam yang telah mengikat takdir mereka berdua melintas begitu saja di benaknya, membangkitkan gejolak yang selama ini berusaha ia tekan sedalam mungkin.

"Sial..." desisnya lirih.

Kael segera mengalihkan pandangan. Dengan gerakan tenang, ia merapikan gaun Aurora agar kembali rapi, lalu melepaskan jas hitam yang dikenakannya dan menyelimutkannya ke tubuh gadis itu.

Wajah Aurora yang pucat menyadarkannya pada satu hal—gadis itu sedang membutuhkan perlindungan, bukan menjadi sasaran gejolak hasratnya.

"Dasar gadis gila... kau selalu membuatku kehilangan kendali." gumam Kael pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Ia menutup pintu mobil, lalu bersandar sejenak sambil menarik napas panjang. Amarah, rasa bersalah, hasrat dan kerinduan yang bergejolak berputar menjadi satu, namun semuanya ia paksa tenggelam jauh di dalam hati.

Kini hanya ada satu tujuan.

Membawa Aurora pulang dengan selamat.

Kael menyalakan mesin mobil. Tatapannya lurus ke depan, sementara kobaran api yang melalap klinik perlahan memudar di kaca spion. Malam itu, ia berjanji dalam hati bahwa tak seorang pun akan menyentuh Aurora lagi selama ia masih bernapas.

Kael menghentikan mobilnya sejenak di sisi jalan yang menuju kediamannya. Mesin masih menyala, tetapi pikirannya terasa begitu riuh hingga ia tak sanggup langsung melanjutkan perjalanan.

Ia menoleh ke arah Aurora.

Gadis itu masih terlelap akibat pengaruh obat penenang. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat, sementara napasnya terdengar pelan dan teratur. Melihat keadaan itu, dada Kael kembali diremas rasa bersalah.

Perlahan ia mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Aurora. Sentuhannya begitu hati-hati, seolah takut merusak keelokan yang sejak tadi mengusik kewarasannya. Sorot matanya tak mampu berpaling. Semakin lama menatap, semakin kuat hasrat untuk memiliki gadis itu menggerogoti setiap sudut pikirannya.

Sudut bibir Kael terangkat tipis. Tatapannya dipenuhi obsesi yang nyaris tak bisa lagi disembunyikan.

"Apa yang kau lakukan padaku, Aurora?" gumamnya lirih. "Wajahmu... cukup untuk membuatku kehilangan akal."

Kael menatap wajah Aurora cukup lama. Berbagai kenangan berkelebat di benaknya—pertemuan pertama mereka, pertengkaran demi pertengkaran, hingga semua kesalahan yang kini menjadi penyesalan.

Ia mengembuskan napas panjang.

Dengan penuh kehati-hatian, Kael membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu mengecup lembut kening Aurora. Bukan karena dorongan sesaat, melainkan sebagai ungkapan syukur karena ia masih sempat menyelamatkannya.

"Aku berjanji," ucapnya nyaris tak terdengar, "tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu lagi."

Aurora tetap terdiam, tenggelam dalam ketidaksadarannya.

Kael menarik selimut tipis yang ada di kursi belakang dan menyelimutkannya hingga ke bahu gadis itu. Setelah memastikan Aurora tetap nyaman, ia kembali duduk tegak di balik kemudi.

Tatapannya berubah tajam.

Amarah yang sebelumnya membakar dirinya kini berubah menjadi tekad. Ia akan menuntaskan semua persoalan yang mengancam Aurora, tetapi bukan hari ini. Hari ini, satu-satunya hal yang penting adalah membawa Aurora pulang dengan selamat.

Mobil itu pun kembali melaju, meninggalkan kepulan asap di kejauhan menuju rumah yang telah dipersiapkan Kael sebagai tempat paling aman bagi Aurora.

...----------------...

Beberapa menit berlalu, matahari berdiri tepat di atas kepala, membakar aspal hingga udara bergetar. Namun panas itu masih kalah dibanding kekacauan yang memenuhi kepala Kael.

Ia melirik Aurora yang masih terbaring lemah di kursi penumpang. Napas gadis itu terdengar pelan, wajahnya pucat, beberapa helai rambut menutupi pipinya.

Kael mengepalkan kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sial..." desisnya lirih.

Kenangan tentang malam yang pernah menghubungkan mereka kembali menyeruak tanpa diundang. Bayangan itu mengusik pikirannya, membuat dadanya sesak oleh campuran rindu, marah, dan penyesalan.

Mobil melambat hingga akhirnya berhenti di bahu jalan yang sepi. Kael memejamkan mata beberapa detik, menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak yang hampir menguasainya.

Tatapannya kembali jatuh kepada Aurora.

Dengan gerakan hati-hati, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu. Jemarinya hanya menyentuh sekilas, memastikan Aurora masih bernapas dengan tenang.

"Kau benar-benar membuatku kehilangan kendali..." gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Aurora.

Untuk sesaat ia menundukkan kepala. Bibirnya mengecup lembut bibir Aurora—membasahi dahaga hasrat di dalam dadanya.

Kael segera menarik diri. Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali menggenggam kemudi.

"Bertahanlah. Setelah kau sadar, kita akan menyelesaikan semua ini."

Mesin mobil kembali menyala. Kali ini Kael memusatkan seluruh perhatiannya ke jalan, meninggalkan gejolak di dalam dadanya demi membawa Aurora ke tempat yang aman.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!