"Ketika pengorbanan seorang istri dibalas dengan penghinaan, takdir akan mengirimkan tangan lain untuk mengangkatnya menjadi ratu."
Nirmala diperlakukan seperti babu oleh suami dan keluarganya.
Perlakuan suaminya Nirmala, Antoni pada Nirmala disebuah acara kantor, secara tidak sengaja terlihat oleh Theo, seorang duda pengusaha kaya yang disegani didunia bisnis.
Merasa kasihan pada Nirmala dan diam-diam mengaguminya, Theo secara diam-diam selalu jadi penolong bagi Nirmala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pintu kaca setinggi tiga meter di Restoran Grand Sapphire terbuka otomatis, menyambut Antoni, Bu Yuli, dan Sinta dengan aroma kemewahan dan alunan musik klasik yang lembut. Sepanjang area parkir khusus VIP, Antoni sudah dibuat berdecak kagum. Barisan mobil-mobil mewah berkelas dunia, mulai dari Sedan Eropa terbaru hingga SUV seharga miliaran rupiah, berderet rapi di bawah kilauan lampu sorot.
Bu Yuli berjalan dengan dada membusung, mengarahkan pandangannya ke sekeliling area parkir dengan mata berbinar-binar. "Lihat itu, Ton! Mobil-mobilnya berkelas semua! Ibu sampai silau lihatnya," bisik Bu Yuli dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
Antoni mengancingkan jasnya, membenarkan posisi jam tangannya dengan gaya sok gagah. "Jelas, Bu. Restoran ini kan cuma buat kalangan atas. Nah, sekarang kita ini sudah masuk kelas itu. Berada di antara mobil-mobil mahal ini bikin aku makin yakin, posisi Direktur Pemasaran memang pantas buat Antoni."
"Iya, Mas!" sahut Sinta penuh semangat, sibuk merapikan gaun dan merias wajahnya lewat pantulan kaca mobil di dekatnya. "Nanti kalau bonus pertama Mas Antoni cair, langsung ganti mobil kita, ya? Mobil yang Mas pakai sekarang rasanya sudah kurang berkelas kalau dibandingin sama mobil-mobil yang parkir di sini."
Antoni terkekeh bangga, melambaikan tangannya seolah hal itu perkara kecil. "Gampang itu, Sin! Bulan depan kita cari yang terbaru. Biar orang-orang di kompleks dan kantor makin segan sama kita. Lagian, tidak lucu kan Direktur Pemasaran mobilnya masih standar?"
"Aduh, anak Ibu memang luar biasa!" puji Bu Yuli sambil mengelus lengan Antoni penuh kebanggaan. "Coba kalau si Nirmala ikut, pasti kelakuannya bikin malu dan merusak pemandangan di tempat sebagus ini. Memang sudah paling benar dia kita tinggal di rumah!"
Mereka bertiga tertawa bersama, merasa berada di puncak kesuksesan. Saat melangkah menuju area indoor yang dipenuhi lampu kristal gantung, seorang pelayan berseragam rapi menyambut mereka.
"Selamat malam, Pak. Atas nama siapa reservasi mejanya?" tanya pelayan tersebut dengan ramah.
"Saya Antoni, Direktur Pemasaran perusahaan besar di kota ini," jawab Antoni dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan agar pengunjung di sekitar mendengar jabatannya. "Tolong kasih meja terbaik untuk saya dan keluarga saya."
Pelayan itu tersenyum sopan. "Baik, Pak Antoni. Silakan ikut saya ke area meja makan keluarga."
Saat menyusuri lorong utama restoran, mata Bu Yuli dan Sinta tak henti-hentinya menatap kagum pada dekorasi interior yang serba mewah. Namun, langkah Antoni melambat ketika pandangannya tertuju ke arah VIP Lounge utama yang dibatasi tirai transparan dan karpet merah.
“Wah ramai sekali, sepertinya sedan gada acara,” ucap Antoni.
“Memang ada yang sedang ulangtahun.”
“Ooh ….”
Sinta langsung mencolek Antoni. “Kak mau dong kalau Sinta ulangtahun dirayakan juga.”
“Tenang saja, itu soal gampang. Nanti mas mu ini akan banyak uang. Apalgi kalau penjualan tercapai target pasti bonusnya juga besar.”
“Senangnya ….” Sinta berseru dengan wajah yang ceria, diapun langsung mengatur jalannya supaya lebih elegant karena sekarang dia dari keluarga kalangan atas.
Ternyata tempat duduk mereka tidak jauh dari ruangan VIP, sesekali mereka melirik kearah sana saat berdatangan tamu undangan dengan pakaiannya yang mewah.
“Ton, ibu benar-benar bangga padamu. Kalau tahu kamu akan jadi Direktur Pemasaran, Ibu akan menetang habis-habisan pada ayahmu soal perjodohanmu dengan Nirmala,” ucap Bu Yuli sambil melihat menu.
“Benar Mas, dengan posisi Mas seperti sekarang, sudah cocok menikah dengan wanita kelas atas.”
“Kalau bukan soal warisan ayahmu itu, sudah lama sejak kau jadi manager, ingin menendang Nirmala dari rumah. Dia benar-benar tidak pantas untukmu. Semua gara-gara ayahmu yang ngotot balas budi karena ayahnya Nirmala bangkrut. Dia pikir bisa enak menikah denganmu, foya-foya, shoping, cih, tidak semudah itu.”
“Ibu benar, aku sebenarnya sudah muak tiap pulang melihat wanita berdaster. Diluar banyak wanita cantik Bu.” Antoni mengeluh, sambil matanya melirik lagi kearah Vip. Dia baru tersadar kalau banyak anak kecil juga yang datang.
Saat pelayan datang mencatat menu, diapun bertanya, “Memangnya ada acara apa disana? Kok banyak anak kecil.”
“Ulangtahun Nona Naura, putranya Pak Theodore.”
“Pak Theodorer?” Antoni terkejut. “Maksudmu … Pak Theo pengusaha kaya … investor ….”
Belum sempat melanjutkan pelayan sudah langsung mengangguk saja seolah tahu apa yang akan diucapkan Antoni.
“Benar, Pak. Namanya sudah sangat familiar di dunia bisnis.”
Antoni sampai terbelalak menatap kearah VIP itu.
“Permisi, pesanan Bapak Ibu akan segera disiapkan.” Pelayan itupun pergi tanpa ada jawaban dari Antoni.
Mulut pria itu ternganga tidak menyangka Pak Theo membuat acara ulangtahun putrinya disana, tempat yang dekat dengannya duduk sekarang.
“Pak Theo investor itu bukan?” tanya Bu Yuli memastikan.
“Pak Theo mana lagi? Tidak disangka ada acara disini juga.”
Sinta mencolek tangan Antoni sampai pria itu kaget dan menoleh.
“Ada apa?”
“Kalau memang acaranya Pak Theo, kita bisa gabung tidak? Disana terlihat banyak orang-orang kaya kelas atas, siapa tahu ada yang bujangan disana, bisa jadi pacarnya Sinta. Atau adiknya mungkin.”
Bu Yuli langsung merespon. “Nah benar, coba kita pindah saja kesana, Ibu juga ingin mulai mengenal sosialita kelas atas. Ini juga bagus untuk karirmu.”
Antoni terdiam sejenak, lalu dia mengangguk. “Baiklah, kalian tunggu sebentar disini.”
Antoni merapikan kembali kerah jasnya, lalu melangkah percaya diri menuju area VIP Lounge. Dengan senyum penuh kepatutan dan dada terbusung bangga, dia merasa sudah sangat sejajar dengan para tamu elite di dalam sana.
Namun, baru saja kakinya hendak menapak di atas karpet merah yang tergelar di depan pintu tirai transparan, dua orang petugas keamanan berbadan tegap dengan setelan jas hitam memotong langkahnya.
"Mohon maaf, Pak. Area ini khusus untuk tamu undangan Private Birthday Party Miss Naura," ujar salah satu petugas dengan nada tegas namun sangat sopan, sambil merentangkan sebelah tangannya menghalangi Antoni.
Antoni tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan seolah sedang menghadapi kekeliruan kecil.
"Mas, Mas... tolong diperhatikan baik-baik," kata Antoni sambil menepuk dadanya pelan. "Saya ini Antoni. Saya Direktur Pemasaran dari anak perusahaan rekanan Pak Theo. Saya di sini bukan mau bikin ricuh, tapi mau memberi selamat secara langsung pada Pak Theo dan putrinya. Tolong buka jalannya."
Petugas itu tidak bergeming di tempatnya, matanya menatap Antoni dengan dingin. "Mohon maaf sekali lagi, Pak Antoni. Aturan dari Pak Theo sangat ketat. Hanya mereka yang membawa undangan digital atau terdaftar di daftar tamu VIP yang boleh masuk. Bisa ditunjukkan QR Code atau kartu undangannya?"
Wajah Antoni mulai terasa sedikit panas. Di meja tempat Bu Yuli dan Sinta duduk, kedua wanita itu sedang memperhatikannya dengan senyum bangga yang menanti kemenangan. Antoni tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri di depan ibu dan adiknya.
*****