Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Sebuah Kejanggalan (2)
Di malam yang dingin, Arya melihat Rania yang tersenyum lebar. Matanya terus menatap lekat ke arah Rania tidak peduli kemanapun gadis itu pergi. Ia terlihat seperti putri yang selalu menjadi pusat perhatian dalam hidupnya. Sorakan dari sekitar membuat Rania semakin terlihat bersemangat malam ini.
"happy birthday to you, happy birthday to you."
Nyanyian ulang tahun terdengar begitu ramai di telinga. Lilin yang menyala di atas kue, ditiup oleh Rania setelah ia memejamkan matanya untuk membuat sebuah permohonan.
Tapi suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Dirinya berada di tempat gelap seorang diri. Di depannya ada sebuah cahaya dan kakinya bergerak sendiri mengikuti cahaya tersebut. Setiap langkahnya mengeluarkan suara ketukan antara sepatu formal yang ia kenakan dengan lantai keramik. Menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Setelah ia mencapai cahaya tersebut, ia mendengar suara tangisan seseorang yang dikenalnya.
Di depannya ada Rania yang sedang bersimpuh di lantai dengan wajah ketakutan dan sudah penuh air mata.
"bukan aku yang mendorongnya," ucapnya di tengah isakan tangisnya.
Arya merasakan beban cukup berat di kedua tangannya lalu ia menunduk dan melihat ada sosok wanita di dalam gendongannya. Gaunnya yang basah ikut membuat jas yang dikenakannya juga basah. Lalu ia kembali menatap ke arah Rania tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan dingin ia berjalan meninggalkannya sendirian di tepi kolam dan di tengah cuaca yang semakin dingin.
Lalu lokasinya kembali berubah menjadi di sebuah rumah sakit. Ia berdiri di depan sebuah kamar rawat bersama dengan seorang asistennya. Asistennya khusus di kantor yang menangani urusan perusahaan saja, tapi kini berdiri di depannya.
"tuan muda, CCTV sekitar vila yang mengarah ke kolam sudah rusak semua dan tidak ada satupun yang terekam hari ini."
"bagaimana bisa kebetulan?"
"kalau nona Salsa dan keluarganya bersikeras untuk menyalahkan nona Rania, akan sulit untuk bebas dari tuduhan. Apalagi nyawa nona Salsa hampir saja melayang."
Arya menoleh ke sampingnya. Berdiri seorang pengacara pribadinya dan menjelaskan seluruh kemungkinan situasi yang akan menimpa Rania.
Lalu dia orang paruh baya terlihat berlari di lorong rumah sakit dan semakin dekat ke arah ruangannya. Wajah keduanya terlihat sangat panik dan dibelakangnya ada Dona, salah satu sahabat dekat Rania.
"dimana putriku? dimana Salsa? bagaimana kondisinya?" tanya wanita paruh baya itu dengan begitu panik. Ia menggenggam lengan Arya dan mengguncangnya pelan.
"tante tenang ya, Salsa ada di dalam, ayo masuk."
Dona meraih tangan wanita paruh baya itu lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat kondisi Salsa.
Sedangkan pria paruh baya itu tidak bergerak dari tempatnya. Ia menatap tajam ke arah Arya dengan wajah penuh amarah.
"bagaimana bisa putriku jatuh ke kolam? dia tidak bisa berenang!"
"tenang pak, kami sedang menyelidikinya," ucap asisten Arya menjawab pertanyaan dari ayahnya Salsa.
Lalu tiba-tiba suasana hening. Dirinya masih berdiri di tempat yang sama namun orang-orang yang tadi berasa di sekitarnya sudah tidak ada. Arya melangkah masuk ke dalam ruang rawat dan melihat Salsa yang tertidur di atas ranjang rumah sakit. Orang tuanya yang tadi datang pun sekarang tidak terlihat sama sekali.
Dering telfon yang cukup nyaring memecah keheningan malam itu. Arya melihat tulisan ayah di layar ponselnya. Hanya satu ayah yang ia miliki di hidup ini yaitu ayahnya Rania. Jempolnya menekan tombol hijau lalu suara panik dari seberang sana langsung terdengar.
"Arya, apa Rania bersama denganmu? dia belum pulang dan tidak bisa dihubungi sampai sekarang."
Mendengar pertanyaan seperti itu, dirinya tidak tau harus menjawab apa. Namun bibirnya bergerak sendiri seolah inilah yang harus ia katakan.
"iya Rania masih ada di vila seorang diri, ada insiden kecil tadi jadi aku sekarang berada di rumah sakit."
Setelah itu, matahari terlihat mulai menampakkan diri. Cahayanya menembus celah gorden membuat Arya merasa sedikit terganggu karena silau. Tapi kemudian kabar tidak baik harus menjadi pembuka hari ini.
"tuan muda, nona Salsa sekarang sedang dirawat di rumah sakit karena demam tinggi sejak semalam."
Arya melebarkan kedua matanya karena terkejut. Lalu kamar gelap miliknya lah yang ia lihat. Arya melihat sekeliling dan menyadari bahwa kejadian barusan semuanya adalah mimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata seolah pernah benar-benar terjadi.
Ia mengambil gelas berisi air di meja nakas lalu menenggaknya hingga tandas. Tubuhnya ia bawa bangun dari ranjang menuju ke arah sofa kecil di dekat jendela. Mengambil laptopnya lalu memutar video rekaman di malam pesta ulang tahun Rania di vila kemarin.
Semua hal terjadi sama namun berbeda dengan mimpinya. Rania datang bersama dengannya, bernyanyi, meniup lilin, lalu berpesta ria di halaman belakang. Semuanya sama persis, tapi yang membuat beda adalah Salsa sekarang menjadi sahabat dekat Rania. Di mimpinya sahabat Rania adalah Dona. Lalu orang yang tercebur ke kolam kemarin bukanlah Salsa melainkan salah satu teman Dona.
Arya tiba-tiba menyadari sesuatu, satu-satunya hal yang sama adalah orang yang menjebak Rania adalah teman Dona. Di mimpinya Salsa adalah teman Dona, tapi yang benar-benar terjadi adalah bukan Salsa melainkan temannya yang lain. Karena sekarang Salsa sudah menjadi sahabat dekat Rania.
Ia mengurut kepalanya yang terasa pening akibat hal aneh yang terjadi. Ia mencoba menyusun benang merah yang kusut namun selalu tidak berhasil.
"kalau mimpi itu benar, apakah itu akan terjadi tahun depan?" gumamnya sambil bertanya pada dirinya sendiri. Ia hanya merasa kalau mimpi itu adalah sebuah petunjuk, seharusnya menunjukkan hal yang akan terjadi. Ulang tahun Rania sudah lewat kemarin, itu artinya di ulang tahunnya yang selanjutnya.
"tapi lokasi, tanggal, orang-orang, pakaian semua sama persis dengan kemarin," gumamnya mencoba menganalisis semuanya. Namun semakin dianalisis semakin tidak masuk akal untuknya.
Sementara itu, di rumah lain di waktu yang sama. Bagas menatap dirinya sendiri di cermin. Ia merasa hal janggal tentang dirinya semakin kuat. Setelah bertemu dengan Rania, Salsa dan Arya siang tadi, ia tiba-tiba mendapat sebuah telfon dari seseorang bernama Dona. Lalu wanita itu dengan yakin memberikan sebuah penawaran dengan harga tinggi.
"aku tau kamu suka Rania, dekati dia dan kalau berhasil aku akan memberikan seratus juta untukmu," ucapnya melalui telfon.
"kamu gila ya?" hanya itu yang Bagas katakan sebelum akhirnya menutup panggilan tersebut.
Ia terus mencoba mengingat hal yang terlupakan. Hal yang orang-orang itu katakan tentang dirinya beberapa hari terakhir. Namun ia tidak bisa mengingat apapun.
"bagaimana aku bisa mengejar orang yang tidak aku kenal?" tanyanya pada dirinya sendiri saat sedang sendirian di kamar mandi.
Dirinya memang tidak ingat pernah mengenal Rania apalagi mengejarnya. Tapi orang-orang itu bilang dirinya mengejar Rania selama beberapa hari berturut-turut dan seluruh warga kampus mengetahui kejadian itu. Ia pun sempat bertanya kepada salah satu teman kelasnya dan dijawab dengan kata iya oleh temannya. Itu artinya dirinya memang benar-benar melakukan hal itu, namun ia tidak ingat sama sekali.
"apa aku amnesia ya?"