NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ruang putih itu hening. Terlalu hening.

Di tengah kehampaan itu, berdiri sebuah boneka.

Tingginya sama dengan Raka. Bentuknya menyerupai manusia, tapi terbuat dari material hitam pekat yang menyerap cahaya. Tidak ada wajah. Tidak ada mata. Hanya permukaan halus yang memantulkan bayangan Raka yang terlihat lelah.

[!] Lawan: Boneka Level 1.

[!] Tujuan: Bertahan selama 60 detik.

[!] Catatan: Rasa sakit di simulasi adalah 50% dari realita. Gunakan untuk melatih refleks, bukan ketahanan nyeri.

Raka menarik napas dalam. Di dunia nyata, tubuhnya duduk bersila di teras gubuk. Tapi di sini, di dalam kepalanya, dia berdiri siap tempur. Otot-ototnya tegang. Matanya menatap kosong ke arah boneka itu.

Mulai.

Boneka itu tidak bergerak seperti manusia. Gerakannya patah-patah, cepat, dan tidak terduga. Tangan kanannya melesat lurus ke arah leher Raka.

Raka menepis. Telapak tangannya bertemu dengan lengan boneka yang terasa dingin dan keras seperti besi. Dampaknya membuat lengannya mati rasa. Sebelum dia bisa bereaksi, kaki boneka sudah menyapu betisnya.

Raka jatuh. Pandangannya kabur sejenak.

[!] Gagal. Waktu: 3 detik.

Dunia putih menghilang. Raka tersentak kembali ke kenyataan. Napasnya berat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang seolah baru saja lari sprint.

"Sial," gumamnya. Dia mengusap wajahnya yang basah. "Hanya tiga detik."

Di sampingnya, Laras sedang mengasah parangnya dengan batu asah. Srek. Srek. Srek. Suaranya ritmis, menenangkan, tapi juga mengintimidasi.

"Kau terlihat seperti orang kesurupan," kata Laras tanpa menoleh. "Mataku melotot. Mulutmu menggerutu. Apa yang kau lihat di sana? Hantu mantan pacar?"

"Latihan," jawab Raka singkat. Dia berdiri, kakinya masih gemetar sedikit. "Aku butuh gerakan dasar. Cara menangkis serangan cepat."

Laras berhenti mengasah. Dia menatap Raka dari ujung kepala sampai kaki. Lalu dia berdiri, melemparkan parangnya ke udara dan menangkapnya kembali dengan satu tangan. Gerakan itu mulus, mematikan, dan elegan.

"Dasar pertama," ucap Laras. "Jangan lihat matanya. Karena musuh yang baik tidak punya mata. Lihat bahunya. Bahu akan bergerak sebelum tangan memukul. Kaki akan bergeser sebelum tendangan keluar."

Dia melangkah maju. Tiba-tiba, tangannya mencengkeram kerah baju Raka. Cepat. Tak terduga.

Raka terkejut. Refleksnya terlambat.

"Kalau ini serangan nyata," bisik Laras dekat sekali di telinga Raka, "tenggorokanmu sudah robek. Kau mati."

Dia melepaskan cengkeramannya dan mundur. "Coba lagi. Serang aku."

Raka mengerutkan kening. "Aku lemah. Rusukku masih sakit."

"Musuh tidak peduli rusukmu sakit. Serang!" bentak Laras.

Raka menggertakkan gigi. Dia mengumpulkan sisa tenaganya. Mengingat petunjuk Laras: Lihat bahu.

Dia melayangkan pukulan kanan. Lambat. Terprediksi.

Laras hanya perlu menggeser kepala sedikit. Pukulan Raka melewati udara kosong. Dengan gerakan efisien, Laras menepuk pergelangan tangan Raka ke bawah, lalu menyikut perutnya—pelan, tapi cukup untuk mengingatkan Raka pada lukanya.

Raka meringis, mundur sambil memegang perut.

"Lemah," komentar Laras dingin. "Kau terlalu banyak berpikir. Kau menghitung jarak, menghitung kekuatan, menghitung risiko. Di pertarungan sesungguhnya, tidak ada waktu untuk menghitung. Hanya ada insting."

Raka menghela napas. Dia tahu Laras benar. Di simulasi Sistem, boneka itu menyerang tanpa pola. Jika dia terus berpikir, dia akan kalah selamanya.

"Aku akan coba lagi," kata Raka.

"Baik. Tapi kali ini, jangan pakai pikiran. Pakai tubuhmu. Biarkan ototmu yang mengingat, bukan otakmu."

Raka menutup mata. Masuk kembali ke ruang putih.

Klik.

Boneka hitam itu berdiri di sana. Menunggu.

Raka tidak mengambil sikap kuda-kuda sempurna. Dia rileks. Matanya tidak fokus pada wajah boneka, tapi pada area bahu dan pinggulnya.

Boneka menyerang. Tinju kiri.

Raka tidak menepis. Dia memiringkan badan. Tinju itu meleset tipis di samping telinganya. Anginnya terasa dingin.

Sebelum boneka bisa menarik kembali tangannya, Raka sudah melangkah maju. Bukan untuk memukul balik. Tapi untuk mengganggu keseimbangan. Dia mendorong bahu boneka.

Boneka itu terhuyung sesaat.

[!] Berhasil Menghindari Serangan Pertama.

[!] Waktu Tersisa: 55 detik.

Raka tidak berhenti. Dia terus bergerak. Menghindar. Memiringkan badan. Melangkah mundur. Dia tidak mencoba menang. Dia hanya mencoba tidak mati.

Setiap kali boneka menyerang, Raka membaca gerakan bahunya. Awalnya sulit. Tapi setelah beberapa kali gagal dan restart, polanya mulai terbentuk. Otaknya merekam. Ototnya menyesuaikan.

40 detik.

30 detik.

20 detik.

Keringat di dunia nyata membasahi seluruh tubuh Raka. Napasnya tersengal-sengal. Tapi di dalam simulasi, dia merasa tenang. Dingin. Fokus.

10 detik.

Boneka melakukan serangan kombinasi. Tinju, tendangan, sapuan. Raka menghindar semuanya dengan gerakan minimal. Efisien. Hemat energi.

3... 2... 1...

[!] Simulasi Selesai.

[!] Hasil: Bertahan 60 Detik.

[!] Hadiah: +1 Poin Refleks Dasar.

Raka membuka matanya di dunia nyata. Dia ambruk ke lantai teras. Dadanya naik turun drastis. Tapi ada senyuman puas di wajahnya.

Laras melihatnya. Dia tidak bertepuk tangan. Tidak memuji. Dia hanya mengangguk sekali.

"Tidak buruk," katanya. "Untuk orang yang hampir mati kemarin."

Dia melemparkan botol air minum ke arah Raka. Raka menangkapnya dengan tangan gemetar.

"Minum. Lalu tidur. Besok kita ulangi. Dan kalau kau masih lambat, aku akan gunakan sisi tumpul parang ini untuk memukul kepalamu agar sadar."

Raka tertawa kecil. Rasa sakit di tubuhnya masih ada. Tapi sekarang, rasa sakit itu terasa berbeda. Bukan lagi tanda kelemahan. Tapi tanda progres.

Dia meneguk airnya. Matanya menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang.

Jauh di sana, di luar desa, sesuatu sedang bergerak. Sesuatu yang lebih besar dari Keluarga Bima. Lebih gelap dari wanita misterius △404.

Tapi untuk malam ini, Raka cukup puas dengan kemenangannya kecil atas sebuah boneka hitam.

Karena setiap langkah besar dimulai dari langkah kecil yang menyakitkan.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!