NovelToon NovelToon
Impoten Sang Singa Madrid

Impoten Sang Singa Madrid

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Action
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar emas dan posesi

Tiga hari setelah keberangkatan orang tuanya ke Inggris, Olivia merasa seolah dinding mansion De Luca mulai menghimpitnya. Leonardo benar-benar menepati ucapannya. Pria itu tidak membiarkan Olivia meninggalkan area sayap utama. Pelayan mengantarkan makanan ke depan pintu, dan Leonardo sendiri yang membawa nampan itu masuk.

Leonardo seolah sedang merayakan kemenangannya atas kutukan sepuluh tahun itu dengan cara yang paling primitif. Ia menuntut kehadiran Olivia setiap saat. Jika ia harus bekerja di ruang kerjanya yang berada di lantai yang sama, ia memaksa Olivia duduk di sofa ruangan itu, membaca buku atau sekadar berada dalam jangkauan pandangannya.

"Leonardo, aku butuh udara segar. Rumah kaca itu hanya berjarak seratus meter dari sini," ucap Olivia suatu sore, meletakkan bukunya dengan kasar.

Leonardo tidak mendongak dari tumpukan berkas logistik pelabuhan di mejanya. "Udara di sini sudah cukup bersih, Olivia. Sistem filtrasi di mansion ini adalah yang terbaik."

"Ini bukan soal filtrasi! Ini soal kewarasan!" Olivia berdiri, melangkah mendekati meja kerja suaminya. "Kau memperlakukanku seperti pajangan. Aku sudah lemas karena kau tidak membiarkanku tidur dengan tenang, dan sekarang kau melarangku menyentuh bungaku sendiri?"

Leonardo meletakkan penanya. Ia bersandar pada kursi kulitnya, menatap Olivia dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang selalu membuat Olivia merasa sedang diperiksa oleh pemangsa. Pria itu bangkit, berjalan mengitari meja, dan berdiri tepat di depan Olivia.

"Kau masih pucat," Leonardo menyentuh pipi Olivia dengan punggung tangannya. Gerakannya posesif, seolah ia sedang memeriksa aset berharganya. "Dan kau masih gemetar setiap kali aku menyentuhmu. Itu artinya kau belum cukup kuat untuk bekerja."

"Aku gemetar karena aku kesal!" balas Olivia lugas.

"Atau karena kau masih merasakan jejakku di tubuhmu," bisik Leonardo rendah. Ia menarik pinggang Olivia, merapatkan tubuh mereka. "Dengar, Olivia. Klan Navarro mungkin sudah hancur, tapi tikus-tikus kecil selalu mencari celah. Selama aku belum yakin Madrid benar-benar bersih, tempat teramanmu adalah di sampingku. Di dalam kamar ini, atau di ruangan ini."

"Sampai kapan?"

"Sampai aku merasa cukup," jawab Leonardo tanpa kompromi.

Ketegangan itu pecah saat pintu ruang kerja diketuk. Marco masuk dengan wajah tegang. Ia melirik Olivia sebentar sebelum menatap tuannya.

"Tuan, ada masalah di perbatasan Utara. Salah satu gudang kita disabotase. Mereka tidak mencuri barang, mereka hanya membakar setengahnya. Ini pesan, Tuan," lapor Marco.

Mata Leonardo seketika berubah menjadi sedingin es. Aura posesifnya terhadap Olivia seketika berganti menjadi aura pembunuh yang mematikan. Ia melepaskan pelukannya pada Olivia dan meraih jas hitamnya yang tersampir di kursi.

"Siapkan mobil baja. Aku sendiri yang akan turun," perintah Leonardo. Ia menoleh ke arah Olivia. "Masuk ke kamar. Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar sampai aku kembali."

"Leonardo—"

"Jangan membantah, Olivia! Ini soal keamanan," gertak Leonardo. Ia mencium kening Olivia dengan keras, sebuah kecupan yang lebih mirip segel kepemilikan daripada kasih sayang, lalu melangkah keluar diikuti oleh Marco dan empat pengawal bersenjata.

Olivia berdiri sendirian di ruang kerja yang mendadak terasa dingin. Ia mendengar deru mesin mobil-mobil besar yang meninggalkan pelataran. Bukannya masuk ke kamar seperti yang diperintahkan, Olivia justru melihat ini sebagai kesempatan.

Ia berlari menuruni tangga menuju dapur. Ia menemukan Donna Isabella sedang memberikan instruksi pada koki.

"Isabella, tolong aku. Aku harus ke rumah kaca sekarang. Jika aku tidak melihat tanaman-tanamanku, aku akan gila," mohon Olivia.

Isabella menatap menantunya dengan iba. Ia tahu betapa menyesakkannya menjadi wanita kesayangan seorang De Luca. "Leonardo akan sangat marah jika dia tahu, Nak."

"Dia sedang di perbatasan Utara. Dia tidak akan tahu jika aku hanya di sana satu jam," desak Olivia.

Isabella menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan menyuruh dua pengawal pribadi lamaku untuk menjagamu di pintu rumah kaca. Tapi ingat, hanya satu jam. Jika kau tidak kembali sebelum Leonardo pulang, aku tidak bisa menjamin apa yang akan dia lakukan padamu."

Olivia tidak membuang waktu. Ia berlari menuju rumah kaca raksasa di sayap barat. Begitu mencium aroma tanah basah dan wangi mawar, ia merasa jiwanya kembali. Ia mulai menyiram, memotong dahan yang layu, dan berbicara pada bunga-bunganya.

Namun, kegembiraannya hanya bertahan empat puluh menit. Suara helikopter terdengar sangat rendah di atas mansion. Tak lama kemudian, pintu kaca rumah kaca itu terbanting terbuka.

Leonardo berdiri di sana. Ia masih mengenakan jasnya, namun ada noda jelaga di wajahnya. Matanya merah karena amarah yang luar biasa saat melihat Olivia tidak ada di kamar yang ia perintahkan.

"Apa yang kubilang soal tetap di kamar, Olivia?" suara Leonardo bergetar karena emosi yang tertahan.

Olivia menjatuhkan gunting bunganya. "Aku hanya butuh bernapas, Leonardo!"

Leonardo melangkah maju, mencengkeram lengan Olivia dan menyeretnya keluar dari sana menuju mansion. Ia tidak peduli dengan protes Olivia atau tatapan para pelayan. Ia membawa Olivia kembali ke kamar utama, menguncinya, dan melempar jasnya ke lantai.

"Kau melanggar perintahku di saat nyawamu sedang dipertaruhkan!" teriak Leonardo. "Kau pikir aku bercanda? Gudang itu dibakar sebagai pengalih perhatian agar aku meninggalkanmu sendirian!"

Leonardo memojokkan Olivia ke dinding, kedua tangannya mengunci sisi kepala istrinya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah bibir Olivia. Amarah dan gairah bercampur menjadi satu dalam dirinya.

"Karena kau tidak bisa patuh," bisik Leonardo dengan nada yang sangat berbahaya, "aku akan memastikan kau benar-benar tidak akan bisa berjalan keluar dari kamar ini besok pagi. Itu satu-satunya cara agar aku tahu kau aman di tempat yang aku mau."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Ani Jumadi
terlalu berlebihan sih bisa ga jangan terlalu mengekang
chiara azmi fauziah
aku kasih gift ya thor😍
Isti Mariella Ahmad: makasih😍
total 1 replies
chiara azmi fauziah
mantap thor ceritanya mau dong di cintai ugal-ugalan 🤣🤣🤣
falea sezi
lanjut q ksih bunga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!