Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Di bioskop tadi, Salsa keluar tidak lama saat film baru diputar. Ia turun dari lantai lima menuju lantai dua tempat toko handphone. Ia membeli merek, seri dan warna yang sama persis dengan milik Rania sekarang. Setelah itu, ia turun lagi ke basement untuk menyimpan ponsel tersebut di dalam mobil. Setelah selesai melakukan permintaan Rania, ia kembali lagi ke bioskop untuk lanjut menonton sisa film tersebut.
Sekarang Rania sudah memegang ponsel baru yang bisa ia gunakan untuk aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. Sementara ponsel satunya cukup aktif saja agar Arya tidak curiga. Dengan begitu ia juga bisa mengatur kemana saja pemuda itu berhak mengetahuinya. Sementara untuk penyadap suara, ia meminta Gavin untuk memanipulasinya agar tidak semua aktivitasnya di dalam kamar tidak terekam.
"apa kamu akan memberitahu orang tuamu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Salsa membuatnya kembali bimbang.
Arya adalah anak yang tumbuh di depan mata orang tuanya. Statusnya di hati mereka hampir setara seperti anak kandung. Tapi kalau tidak diberitahukan, ia juga takut orang tuanya akan membiarkannya terus keluar masuk dengan bebas ke rumah ini. Sekarang saja dia berani memasang penyadap suara di kamarnya, tidak menutup kemungkinan di masa depan dia bisa lebih nekat memasang kamera pengintai atau mungkin melakukan tindakan yang lebih ekstrim lagi.
"aku akan memikirkannya lagi."
"ya sudah, aku pulang dulu ya."
"hati-hati di jalan, Gavin untuk bayarannya nanti Salsa yang transfer. Aku belum buat rekening baru hehe."
Aplikasi bank miliknya terpasang di ponsel Arya, kalau ada transaksi di luar kebiasannya, dia pasti akan langsung mengetahuinya. Meskipun keuntungannya adalah saldo rekeningnya selalu bertambah setiap minggu, tapi ia tidak bisa bebas menggunakannya.
"dasar bucin, sampe bank dikasih ke dia segala," ucap Salsa.
"hehe, maklum lah. Besok aku bawa cash ya."
"okee."
Setelah mengantar mereka keluar, Rania masuk lagi lalu menutup pintunya. Sementara itu, Salsa masih di halaman rumah Rania bersama dengan Gavin untuk menunggu taksi pesanannya.
"sedang apa kalian di sini?"
Suara itu membuat Salsa langsung kaku di tempat. Tiba-tiba keringat mulai muncul dan jantungnya berdebar kencang. Kaki dan tangannya gemetar dengan wajah yang terlihat semakin pucat. Gavin melihat reaksi kakak sepupunya pun merasa curiga dengan pria itu.
"kakakku temannya kak Rania, tadi habis main. Kakak siapa ya?" jelasnya sambil berpindah posisi ke sebelah kanan kakak sepupunya. Agar Arya dan kakak sepupunya ada jarak aman, yaitu terhalang oleh dirinya.
"kamu siapa?" Arya balik bertanya kepada Gavin tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.
"oh, aku Gavin sepupunya kak Salsa. Tadi ikut ke sini sekalian pinjam laptopnya kak Rania buat ngerjain tugas."
Arya memicingkan matanya merasa curiga dengan ucapan anak di depannya.
"memangnya kamu nggak punya laptop?"
"laptopku rusak."
Sebuah mobil taksi berhenti di depan mereka dan dengan sigap Gavin langsung menarik Salsa ke mobil.
"sudah dulu ya om, om tanya tanya terus kayak polisi."
Arya sedikit tersinggung dengan panggilan om yang dilontarkan oleh anak itu. Tapi ia tidak bisa gegabah hanya untuk anak kecil sepertinya. Lagipula Salsa sekarang menjadi salah satu teman baik Rani, jadi ia tidak bisa menyinggungnya sembarangan.
Setelah mobil tersebut melaju pergi, Arya menatap sekilas ke arah rumah Rania lalu ia juga pulang ke rumahnya.
Sementara itu di dalam mobil, Salsa hampir saja menangis di depan adik sepupunya. Meskipun ia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja, tapi trauma itu nyata adanya. Iblis berwujud manusia yang pernah menyiksanya hingga menjemput kematian, bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa saja.
"dia kan orangnya?"
Pertanyaan Gavin langsung membuat Salsa kembali ke dunia nyata. Bayangan masa lalunya lenyap seketika meskipun jantungnya masih berdebar keras.
"bagaimana kamu tau?"
"mana ada orang yang keluar rumah cuma buat tanya-tanya ke tamu rumah orang lain. Apalagi lingkungan tadi kan lingkungan orang elit, biasanya mereka hidup sendiri-sendiri nggak ikut campur urusan tetangganya," jelasnya.
"ya benar, dia orangnya."
"tapi reaksimu kenapa berlebihan begitu? apa dia juga pernah melakukan sesuatu yang jahat kepadamu?"
Salsa memalingkan wajahnya dari sang adik. Ia memilih melihat jalanan yang dilewati oleh taksi tersebut daripada harus menjawab pertanyaan yang tidak akan bisa ia jawab.
Melihat reaksinya yang seperti itu, Gavin pun tidak lanjut bertanya. Ia paham batasan sampai mana harus mengetahui sesuatu. Kalau dia sudah diam, maka dirinya memang tidak berhak untuk mengetahui lebih lanjut masalah tersebut.
Keesokan harinya, Rania berangkat lebih pagi dari biasanya karena ada kelas yang jadwalnya maju. Pukul setengah enam pagi ia sudah siap dan keluar dari kamar. Menemui ibunya yang berada di dapur, mencium pipi sang ibu lalu berpamitan berangkat ke kampus.
"sarapan dulu."
"enggak ah bu, aku mau beli bubur saja di jalan," jawabnya sambil celingukan melihat ke ruang makan lalu melongok ke ruang tamu. "ayah mana bu?"
"ayah kamu lagi di belakang ngurusin tanamannya."
"oh, ya sudah kalau begitu aku berangkat ya bu."
Rania langsung berjalan keluar rumah. Masih ada cukup waktu untuknya membeli sarapan di luar dan memakannya di dalam kelas. Saat membuka pintu, ia sedikit terkejut melihat sosok Arya sudah berdiri dengan pakaian rapih di depan rumahnya.
"pagi."
"pagi, kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan waspada sekaligus keheranan. Seingatnya jadwal kuliahnya ini diinformasikan dadakan tengah malam tadi. Ditambah ia juga tidak mengatakan apapun lagi sejak ditemukan penyadap suara di dalam kamar. Ia hanya menyetel musik dan bernyanyi mengikuti musik yang diputar.
"ayo berangkat, sekalian cari sarapan kan?"
Arya membukakan pintu mobil untuknya, namun Rania masih berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun.
"kok kamu bisa tau kalau hari ini aku berangkat jam segini?" tanyanya dengan penuh curiga.
"ada teman yang mengabari, sudah ayo masuk. Nanti nggak keburu beli sarapannya."
Kali ini Rania dibuat melongo lagi. Sejauh ia mengenalnya, Arya sangat jarang berbicara panjang lebar. Kecuali jika sedang marah dan mengeluarkan isi pikirannya. Tapi barusan dengan suasana hati yang biasa saja ternyata dia bisa juga berbicara panjang seperti itu.
"tumben bisa ngomong," ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Arya.
Raut wajah yang sebelumnya terlihat lembut, langsung berubah menjadi datar lagi setelah sadar dengan sikapnya yang sedikit berubah. Dengan matanya, ia mengisyaratkan Rania untuk segera naik ke mobil. Mau tidak mau akhirnya ia ikut dengannya karena waktu yang terus berjalan. Ia tidak ingin kalau sarapan yang sudah direncanakannya sejak semalam malah harus gagal gara-gara keras kepalanya sendiri.
"biar dia tidak curiga," gumamnya pelan setelah ia masuk ke dalam mobil. Sedangkan Arya masih di luar, jadi seharusnya pemuda itu tidak bisa mendengarnya sama sekali.
Selama perjalanan, keduanya diam dan tidak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Dulu Rania yang selalu antusias, tapi sekarang ia sudah tidak memiliki perasaan itu lagi. Sedangkan Arya, dia selalu menerima antusiasme dari Rania lalu menanggapi seadanya. Bahkan kadang tidak menanggapinya sedikitpun. Karena itu, di situasi seperti sekarang ini ia pun bingung harus bagaimana.
Sesampainya di tukang bubur, Rania turun dari mobil dan mengantri. Sedangkan Arya tidak turun dan terus menunggu di dalam mobil. Ia membuka ponselnya lalu mengecek aplikasi yang sudah terpasang di ponsel Rania. Tapi titik lokasinya tidak terlihat sedikitpun. Dahinya mengerut dan ia menoleh ke arah Rania yang sedang mengantri.
"ketahuan kah?"