Raisa dan Adit keduanya sudah menikah selama 2 tahun, namun sampai saat ini keduanya belum dikaruniai seorang anak.
Hingga Raisa pun mendatangi seorang dokter untuk program kehamilan, namun tanpa disangka dokter itu adalah mantan kekasihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Raisa tengah sibuk di dapur untuk memasak makanan, sedangkan Rangga sudah hampir 20 menit ia merima panggilan entah dari siapa.
Kalinini Raisa memasak udah saus Padang untuk mereka nikmati bersama, tak lupa Raisa juga membuat jeruk peras.
Rangga yang sudah selesai dengan urusannya pun menghampiri Raisa.
" Siapa yang telpon mas ? "
" Dokter Miky, beliau nanya kapan aku masuk. "
" Dia dokter apa Mas ? "
" Dokter bedah umum, kemarin dia ga bisa datang katanya"
" Hmm "
" Kamu masak apa sih ? Ko wangi banget, bikin aku tambah laper deh "
" Aku masak udang saus Padang, aku juga bikin jeruk peras buat nanti "
" Wahh, ada yang bisa aku bantu sayang ? "
" Ga ada, kamu tunggu aja disana. Sebentar lagi jadi ko "
" Yaudah, kalau butuh bantuan bilang ya "
" Iyah Mas "
Rangga mengecup kening Raisa sebelum pergi, Rangga sendiri sudah tak sabar ingin mencicipi masakan istrinya.
Sambil menunggu Rangga memainkan ponsel miliknya, namun tiba-tiba ponsel milik Raisa berdering pesan masuk.
" Mas tolong liatin ada pesan dari siapa " ucap Raisa
" Iyah sayang "
Rangga pun membuka ponsel milik Raisa, ia melihat sebuah pesan dari Adit mantan suaminya dulu.
[ Adit : Sa, selamat ya atas pernikahan kamu dan Rangga. Aku turut bahagia atas pernikahan kamu dan Rangga, semoga kalian bahagia selalu ]
Raisa menghampiri Rangga yang masih menatap ponsel milik Raisa.
" Siapa Mas ? "
" Adit "
" Ngapain dia ? "
" Kamu baca aja sayang "
Rangga memberikan ponselnya kepada Raisa, dan Raisa pun membaca pesan tersebut.
" Kemarin dia ga Dateng ya ? " tanya Adit
" Kata ibu dateng ko, tapi aku juga ga liat sih Mas "
" Mas juga ga liat, atau mungkin ga engeh ya "
" Entahlah "
Raisa kembali meletakkan ponselnya setelah membalas pesan dari Adit
Raisa duduk disamping Rangga untuk beristirahat sejenak.
" Dulu aku pikir dia itu laki-laki terbaik, ternyata aku salah banget Mas. Aku banggain dia didepan keluarga, di depan temanku. Tapi ternyata yang aku dapat justru sebaliknya "
" Karma itu pasti ada sayang, jadi yaudah biarin aja yang lalu biar berlalu "
" Iyah Mas "
" Kamu udah selesai masak sayang ? "
" Udah Mas, kamu mau makan sekarang ? "
" Mau, ayo kita makan "
" Iyah ayo Mas "
Rangga mengalihkan pembicaraan Raisa dengan mengajak makan bersama, Rangga tak mau Raisa berlarut dalam masalalunya bersama Adit.
...
Sore hari Adit pulang dengan kepala yang terasa berat, begitu sampai Adit melihat tempat tinggalnya yang sangat berantakan
Adit melihat Sherly yang sedang bersantai sambil menonton film, bahkan Adit tak melihat ada makanan yang tersaji untuk dirinya.
" Kamu ga masak lagi ? " tanya Adit
" Engga Mas, aku lemes banget "
" Terus kita makan apa ? "
" Beli aja Mas Adit, aku juga lagi pengen makan diluar Mas "
Adit menghela nafasnya kasar, ia benar benar tak habis pikir dengan istrinya itu.
" Aku akan berhenti kerja "
Sherly langsung mematikan film yang ia tonton, kemudian ia menatap Adit dengan tatapan sinis.
" Apa kamu bilang Mas ? Berhenti kerja ? "
" Hmm, aku mau cari kerja yang lebih baik dari sekarang "
" Ya kamu jangan berhenti dulu dong, kalau udah dapat baru kamu berhenti Mas "
" Ya rencanaku juga seperti itu, tapi aku udah ga tahan "
" Kamu jangan gila deh Mas Adit, pokoknya kamu harus tetap kerja. "
" Bikinin aku kopi ya, kepalaku sakit banget "
" Mas Adit bikin sendiri aja ya, sekalian cuci gelasnya itu kotor "
Adit benar-benar tak habis pikir dengan Sherly, bahkan disaat dirinya sudah lelah bekerja dirumah pun Adit belum bisa beristirahat dengan tenang.
" Aku pergi keluar aja "
Tak menunggu jawaban dari Sherly, Adit pun langsung pergi begitu saja untuk menyendiri.
...
Malam hari Rangga dan Raisa pergi ke sebuah cafe untuk sekedar bersantai, Raisa dengan wajah ceria menceritakan tentang pekerjaannya.
Rangga ia pun antusias mendengar cerita demi cerita Raisa, bahkan Rangga pun ikut berekspresi menanggapi cerita Raisa.
" Tapi Mas Rangga, aku boleh nanya satu hal ga "
" Boleh dong, mau nanya apa ? "
" Mas bakal nyuruh aku berhenti bekerja atau engga ? "
" Engga, Mas ikuti apa mau kamu aja. Asalkan kamu itu senang. "
" Jujur aja Mas Rangga, Mas Rangga mau aku tetap kerja atau engga "
" Ya sebenarnya Mas cuma ingin kalau memang nanti kamu hamil, kamu berhenti bekerja. Lagipula Mas bisa ko penuhin semuanya, tapi balik lagi ke kamu bagaimana "
" Hmm kalau setelah lahiran aja gimana Mas ? Aku yakin ko selama hamil aku masih sanggup kerja "
" Aku ikut aja baiknya, asalkan kamu cerita kalau ada apa apa ya "
" Siap pak dokter "
Rangga mencubit pelan pipi Raisa, saat Rangga melihat kelain arah ia melihat Adit yang duduk sendirian
Bisa Rangga lihat jika penampilan Adit yang nampak kusut, bahkan sangat berbeda dari pertama ia bertemu.
" Mas liatin siapa ? "
" Bukan siapa siapa sayang "
" Oohh "
Rangga tak mau jika Raisa tau ada Adit disana, ia pun terpaksa berbohong kepada istrinya itu.
" Sayang, kita pulang yuk "
" Sekarang nih ? "
" Iyah, yuk "
" Yaudah ayo Mas "
Rangga menggandeng tangan Raisa keluar dari cafe, segera ia mengajak Raisa untuk masuk kedalam mobilnya.
" Dompet aku dimana ya Mas " Raisa tengah sibuk dengan tasnya
" Ketinggalan dirumah mungkin " ucap Rangga
" Mungkin sih "
" Sayang "
" Ya mas Rangga, kenapa ? "
Tak ada jawaban dari Rangga, melainkan Rangga yang langsung mencium bibir Raisa.
" Mas nanti ada yang liat "
" Sebentar aja sayang, ga ada yang liat. Lagian kita juga suami istri "
Raisa pun mengangguk, dan Rangga kembali mencium bibir Raisa.
" Nanti aja dirumah ah Mas, ga enak disini "
" Yaudah ayo pulang "
Rangga tersenyum sinis, kemudian ia pun segera pergi dari sana.
...
Adit menghisap rokok miliknya dalam-dalam, entah sudah berapa batang ia habiskan dalam sekejap.
Entah mengapa ia merasa hatinya sangat sakit melihat Raisa dan Rangga ber Mesraan didalam mobil.
" Sial.. " Adit melempar Putung rokok miliknya
Adit tak mengira jika hidupnya akan berantakan seperti ini, bahkan ia sendiri tak suka melihat Rangga.
...
Malam ini Raisa menggunakan lingeri berwarna merah, Rangga yang tengah menatap ponselnya pun beralih menatap sang istri yang tampil menggoda dihadapan dirinya.
Raisa naik keatas tubuh Rangga yang tengah berbaring diatas ranjang.
" Kucing nakal " ucap Rangga sambil memikul pelan bokong Raisa
Rangga yang tak tahan pun langsung melumat bibir Raisa, begitu juga dengan Raisa yang tengah menggesekkan miliknya pada milik Rangga yang masih tertutup.
Rangga mendorong tubuh Raisa hingga terlentang diatas ranjang, ia pun melebarkan kedua paha Raisa.
" Mas ahh " desah Raisa begitu ibu jari Rangga memainkan daging kecil milik Raisa
Tubuh Raisa terus menggeliat, ia terus meracau memanggil nama suaminya.
" Mas Rangga ahh mmmhhpp "
Rangga pun mulai menjilati dengan lidahnya, Raisa pun semakin bergairah dan terus menggeliat.
Belum juga Raisa bernafas sempurna, Rangga kembali mencium bibir Raisa.
Rangga melepaskan seluruh pakaiannya, melihat milik Rangga yang nampak keras Raisa pun langsung meraihnya.
Raisa memasukan benda itu kedalam mulutnya, ia menikmati benda itu seperti ia menikmati sebuah ice cream.
" Shit.. Ahh fuck "
Rangga tak percaya jika Raisa bisa memainkan dengan senikmat ini, bahkan tanpa ia sadar ia terus menahan kepala Raisa.
" Sa.. Ahh pintar kamu sayang ahh "
Mendapatkan pujian seperti itu membuat Raisa terus memanas, ia pun memainkan ujung dari benda itu dengan lidahnya.
" Ahh gila ahh enak sayang terus "
Puas dengan mulutnya, Raisa pun berpindah untuk duduk diatas pangkuan Rangga.
Milik Rangga pun berhasil masuk kedalam milik Raisa,. perlahan Raisa menggoyangkan tubuhnya yang berada diatas tubuh Rangga.
" Mas Rangga ahh enak mas "
" Ahh terus sayang terus ahh "
Rangga meremas dua bola itu, ia pun juga memainkan dua bola kecil berwarna coklat itu.
Permainan tangan Rangga seperti ini membuat Raisa semakin gila, begitu juga dengan Rangga.
Dua pengantin baru itu terus menikmati permainan mereka, bahkan rasanya Rangga pun tak ingin segera berakhir